
Adelia pulang bersama dengan saudara kembarnya, Adelio, menggunakan mobil mereka sendiri-sendiri. Arion hanya bisa melepas kepergian Adelia dengan perasaan sedih dan tidak bisa mengantarkannya pulang.
Hanya sebentar saja, akan tetapi membuat hati Arion sangat bahagia. Dalam benaknya kini masih tersimpan wajah Adelia yang cantik dengan keramahannya dan tidak pernah menyinggung hati orang lain. Bahkan senyuman manis Adelia mampu membuat Arion tanpa sadar tersenyum saat mengingatnya.
Motor Arion membelah jalanan malam menuju rumahnya yang berada di suatu perkampungan. Wilayah kampung itu tidak pernah sepi walaupun sudah larut malam. Berbeda dengan wilayah rumah Adelia yang berada di sebuah perumahan wilayah tengah kota, di mana keadaannya sangat sepi di malam hari.
Arion membuka pintu rumahnya, kemudian dia memasukkan motornya ke dalam rumahnya. Seperti masyarakat daerah itu pada umumnya, motor mereka dimasukkan ke dalam rumah agar tidak diambil oleh pencuri.
"Baru pulang?" tanya seorang wanita paruh baya yang memakai daster berwarna merah sedang duduk sambil memakan snack dan menonton televisi.
Arion menoleh ke arah sumber suara. Dia berjalan menghampiri wanita itu, mencium punggung tangannya serta tersenyum dan berkata,
"Ditraktir sama teman Bu. Ayah mana Bu? Apa Ibu dan Ayah sudah makan?"
Wanita tersebut memandang wajah Arion, putranya yang menurutnya tampan itu seraya berkata,
"Mana bisa Ayah makan tanpa menunggu anaknya yang ganteng ini."
Arion tersenyum dan duduk di samping kiri ibunya. Dia ingin bercerita pada ibunya tentang Adelia, gadis cantik primadona di tempat kerjanya yang mentraktirnya malam ini. Sayangnya dia malu mengatakannya pada ibunya, sehingga dia hanya bisa senyum-senyum sendiri ketika mengingat senyuman manis Adelia yang menghiasi wajah cantiknya.
"Ada apa kok senyum-senyum sendiri gitu? Ada yang lucu ya dari penampilan Ibu? Atau ada kerutan di wajah Ibu? Atau Ibu sudah gak cantik lagi?" tanya wanita tersebut dengan paniknya.
"Padahal Ibu sudah berusaha untuk menjaga kecantikan Ibu agar tetap awet muda. Ck! Ini semua karena keterbatasan dana. Coba saja Ayahmu memberi Ibu uang lebih untuk perawatan di klinik, pasti wajah Ibu akan tetap awet muda seperti dulu," sambung wanita paruh baya tersebut disertai helaan nafasnya.
Arion memegang kedua tangan ibunya seraya berkata,
"Ibu, asal Ibu tau saja, Ibu adalah ibu-ibu yang paling cantik di kampung sini. Ibu tau itu kan? Ibu selalu jadi omongan mereka semua. Mereka iri sama Ibu. Arion bangga mempunyai Ibu yang cantik sebagai ibunya Arion."
"Ayah juga bangga mempunyai istri cantik yang sedari dulu tidak pernah menuntut kemewahan. Berbeda sekali dengan wanita cantik di luaran sana."
Tiba-tiba terdengar suara pria paruh baya yang berjalan ke arah mereka. Dia adalah ayah Arion. Dia duduk di sebelah kanan istrinya dan merangkul pundaknya. Kemudian dia mencium mesra kening istrinya itu seolah menumpahkan semua rasa cinta yang dimilikinya pada istrinya.
Siapa juga yang gak mau kemewahan? Aku suka kemewahan, bahkan gak suka hidup menderita. Tapi, jika aku berjalan-jalan di luar sana, aku takut akan ada yang mengenaliku nanti. Jadi, istrimu yang cantik ini terpaksa berdiam diri di rumah seolah menjadi istri penurut yang gak suka belanja di luaran sana. Ahhh... Aku kangen shopping, wanita tersebut mengomel dalam hatinya.
__ADS_1
"Ck! Ayah dan Ibu selalu membuat Arion ingin cepat menikah," Arion mencebik kesal melihat ayahnya yang sedang mencium kening Istrinya.
Ayah dan ibu Arion menoleh ke arah Arion. Mereka berdua menatap Arion. Kemudian ayah Arion pun bertanya,
"Kenapa? Kamu iri?"
"Ayah dan Ibu selalu romantis. Arion jadi ingin cepat nikah agar bisa romantis-romantisan seperti Ayah dan Ibu," jawab Arion sambil tersenyum lebar menampakkan deretan giginya.
Ayah Arion tertawa mendengar jawaban dari putranya. Dia semakin memeluk erat istrinya berniat untuk mengejek Arion, putranya agar benar-benar cepat menikah.
"Mau menikah dengan siapa? Memangnya kamu punya pacar?" tanya ibu Arion di sela tawanya.
Arion memegang kedua tangan ibunya dan berkata,
"Ibu, Arion sangat bahagia. Tadi, Arion ditraktir oleh gadis cantik. Dia kerja di bank yang sama dengan Arion. Hanya saja dia bekerja di kantornya, sedangkan Arion hanya menjadi security di luar. Tapi, gadis ini sangat baik sekali. Dia gak pernah membeda- bedakan status orang. Dia juga gak pernah menghina siapa pun. Pokoknya dia the best deh."
"Lalu... apa kalian pacaran?" tanya ibu Arion sambil mengernyitkan dahinya.
"Kami baru saja akrab dan berteman Bu," jawab Arion sambil tersenyum getir.
"Apa dia kaya, sehingga kamu terlihat sangat berhati-hati sekali?" tanya ibu Arion menyelidik.
Arion tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,
"Sebenarnya Arion minder Bu. Untuk bermimpi mendapatkannya saja Arion gak berani."
Ayah Arion melepaskan pelukannya pada istrinya. Dia menatap wajah putranya dan berkata,
"Arion putra Ayah yang paling ganteng, kamu gak perlu minder. Ayah yakin kamu akan bisa mendapatkan hatinya. Percaya pada Ayah, karena Ayah merasakannya."
Ibu Arion menoleh ke arah suaminya dan bertanya,
"Merasakan apa?"
__ADS_1
"Merasakan jika putra kita akan berhasil mendapatkan hati gadis yang ditaksirnya," jawab ayah Arion sambil tersenyum.
"Ck! Memangnya kamu ini dukun, bisa menerawang bagaimana nantinya nasib Arion?" tanya ibu Arion dengan sewotnya.
"Bukannya begitu Intan Sayang, Arion adalah putraku, jadi aku bisa merasakannya," ujar ayah Arion seolah tidak mau kalah berdebat dengan Intan, istrinya.
"Sama saja Fabian, ayah Arion Sayang...," tukas Intan yang juga tidak mau kalah dengan suaminya.
Arion menggelengkan kepalanya melihat perdebatan ayah dan ibunya. Dia beranjak dari duduknya berniat meninggalkan ayah dan ibunya yang semakin membuatnya iri dan ingin cepat menikah.
"Eh... Arion, mau ke mana?" tanya Fabian ketika Arion beranjak dari duduknya.
"Mau mandi. Ngapain di sini ngelihatin ayah sama ibu sedang mesra-mesraan," jawab Arion sambil berjalan menuju kamarnya.
Fabian terkekeh mendengar jawaban dari putranya. Dia menatap istrinya seraya berkata,
"Kata Arion kita sedang mesra-mesraan."
"Memang aneh tuh anak. Kita sedang berdebat malah katanya mesra-mesraan," ujar Intan menanggapi perkataan suaminya.
Fabian merangkul pundak istrinya dengan erat. Kemudian dia berbisik di telinga istrinya.
"Sayang... Kita ke kamar yuk."
Intan tersenyum mendengar permintaan suaminya yang sedang menginginkannya. Hanya satu tujuannya yang berhasil selama menikah dengan Fabian, membuat Fabian selalu menginginkannya dan tidak bisa lepas darinya.
Dan yang membuat Intan kecewa adalah Fabian tidak sekaya seperti semua laki-laki yang pernah dikencaninya pada saat dia masih menjadi Ruby.
Fabian menuntun istrinya masuk ke dalam kamar. Dia tersenyum dan mulai melakukan aksinya untuk membuat istrinya merasa terbuai akan semua yang diperbuatnya.
Melihat bentuk tubuh istrinya yang masih sama indahnya seperti pada saat mereka menikah membuat Fabian bertanya padanya.
"Sayang, apa kamu gak ingin mempunyai anak?"
__ADS_1