
Adelia tidak bisa lepas dari pelukan kakaknya. Dia mencengkeram erat baju kakaknya, sehingga terlihat betapa takutnya dia saat ini.
"Aksa, apa aku bisa minta tolong?" tanya Adelio sambil menatapnya dengan tatapan permohonan.
Aksa mengerti isyarat permohonan yang dikirimkan oleh Adelio padanya. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seraya berkata,
"Tentu saja. Berikan padaku kunci mobilmu. Biar mobilku dibawa mereka kembali ke kantor."
Adelio memberikan kunci mobilnya pada Aksa, dan dia menerima kunci mobil tersebut, seraya berkata,
"Jangan khawatir, aku akan mengemudikan mobil ini dengan aman. Jadi, Nona dan Tuan Muda santai saja di belakang. Saya jamin, perjalanan kalian akan sangat nyaman."
Adelio terkekeh mendengar perkataan Aksa. Rekan kerjanya itu memang selalu bisa membuatnya tertawa. Mereka berdua rekan seangkatan, dan menjadi akrab sejak saat itu.
Tidak dipungkiri jika Adelia sedikit tenang karena candaan dari Aksa. Hanya saja dia masih belum bisa tersenyum atau pun tertawa seperti biasanya. Dia hanya tersenyum tipis, tapi bisa dilihat oleh Adelio.
Sang kakak membawanya duduk di kursi belakang, dan memeluknya. Sedangkan Aksa duduk di kursi pengemudi yang siap mengantarkan duo kembar itu ke mana saja. Dia melihat kakak beradik itu dari kaca spion yang ada di tengah. Bibirnya melengkung ke atas menyaksikan mereka berdua. Dalam hatinya berkata,
Mereka kakak adik yang saling menyayangi. Aku salut pada mereka. Tidak semua saudara mempunyai hubungan yang seindah mereka.
Tiba-tiba Aksa teringat akan sesuatu. Dia melihat Adelio dari spion tengah, untuk memastikan bahwa Adelio bisa diajak berbicara saat ini.
"Lio, kita harus ke kantor sekarang. Bagaimana?" tanya Aksa meminta persetujuan dari Adelio.
Adelio menatap Adelia, dan memikirkan sesuatu, seraya berkata dalam hatinya,
Jika kita ke sana sekarang, Adelia pasti akan sangat ketakutan bertemu dengan Arion, tapi jika tidak ke sana sekarang, maka masalah ini akan berlarut-larut dan akan menunda hukuman mereka.
Seolah tahu akan apa yang dipikirkan oleh Adelio, Aksa pun berkata,
"Jangan khawatir, Lio. Ada aku."
Iya, benar juga. Adelia tadi juga bisa tenang ketika bersama dengan Aksa. Jadi, lebih baik menyelesaikan masalah ini secepatnya, Adelio berkata dalam hatinya.
__ADS_1
"Baiklah, kita ke sana sekarang juga," ujar Adelio, menyetujui perkataan Aksa.
Aksa pun melajukan mobilnya menuju kantor polisi, di mana Arion dan para pelaku penculikan Adelia sedang diamankan.
Selang beberapa saat kemudian, mobil tersebut sudah berhenti di parkiran sebuah kantor polisi.
"Princess, kita turun ya. Kita masuk dulu ke dalam," tutur Adelio sambil memegang lembut kedua tangan Adelia.
Namun, ketakutan Adelia dapat terlihat dengan jelas. Tangannya mencengkeram kuat tangan kakaknya, serta kepalanya menggeleng sebagai tanda bahwa dia tidak mau masuk ke dalam sana.
"Lia Sayang. Kakak akan selalu bersamamu. Kakak gak akan meninggalkan kamu. Jadi, kamu gak perlu khawatir," ujar Adelio dengan sangat lembut dan menenangkan.
"Lia, kamu gak perlu takut. Selain kakakmu, ada aku juga yang akan menjagamu. Jadi, hilangkan rasa takutmu. Bukankah tadi kamu sudah menyaksikan kehebatanku ketika melawan semua manusia-manusia gak berguna itu? Bagaimana, hebat kan?" tanya Aksa dengan gaya menyombongkan dirinya.
Adelia kembali tersenyum tipis, dan tanpa sadar kepalanya mengangguk, menyetujui perkataan Aksa. Melihat reaksi saudara kembarnya, Adelio tersenyum senang. Dia merasa jika sekarang bisa tenang menitipkan adiknya pada Aksa.
Perlahan Adelio mengajak Adelia turun dari mobil tersebut, dan memapahnya untuk berjalan masuk ke dalam kantor polisi yang ada di hadapan mereka.
Aksa berjalan dengan cepat, dan masuk ke dalam kantor polisi terlebih dahulu. Dia ingin memastikan keadaan lebih dulu, sebelum Adelia bersama dengan Adelio masuk ke dalam sana.
Dengan segera petugas tersebut membawa masuk Arion ke dalam ruangan yang diperintahkan oleh Aksa. Di dalam ruangan tersebut, Arion ditanya beberapa hal oleh Aksa. Bahkan dia tidak segan-segan membentaknya agar segera menjawab pertanyaan yang dia ajukan, tanpa berbelit-belit.
"Saya rasa, cukup untuk pertanyaan hari ini. Tunggu di sini sebentar," ujar Aksa sambil beranjak dari duduknya.
Dia berjalan keluar ruangan tersebut. Kemudian dia menemui Adelio yang sedang duduk di ruang tunggu memeluk Adelia.
"Lio, giliranmu. Dia ada di ruang interogasi," tutur Aksa yang sudah berdiri di depan Adelio.
Adelio melepaskan rangkulan tangannya pada pundak adiknya. Dia tersenyum dan berkata,
"Sayang, kamu di sini dulu ya. Kak Lio akan menyelesaikan sesuatu di dalam. Lia di sini bersama dengan Kak Aksa."
Dengan cepatnya Adelia menggelengkan kepalanya. Dia enggan melepaskan tangan kakaknya. Memahami situasi yang ada, Aksa segera memegang kedua tangan Adelia dengan sangat lembut, dan berusaha menenangkannya. Dia tersenyum manis, dan berkata,
__ADS_1
"Jangan takut, di sini ada aku yang akan selalu menjagamu."
Layaknya orang yang sedang terhipnotis, Adelia menganggukkan kepalanya begitu saja. Aksa duduk di samping Adelia, untuk menggantikan Adelio dengan tangan kanannya yang merangkul pundaknya, dan tangan kirinya menggenggam erat tangannya.
Setelah mendapatkan anggukan kepala dari Aksa, Adelio segera masuk ke dalam ruangan tersebut, dengan amarahnya yang memenuhi hatinya.
Brak!
Pintu ruangan itu ditutup dengan kerasnya oleh Adelio, sehingga membuat Arion yang ada di dalam ruangan tersebut terkejut, dan menoleh ke arahnya.
"Kita bertemu lagi b*jing*n!" sapa Adelio pada Arion, sambil menyeringai padanya.
Arion membuang mukanya, seolah memberitahukan pada Adelio, bahwa dia tidak suka bertemu dengannya.
Adelio berjalan mendekatinya. Dia menatap tajam pada Arion seolah ingin menghabisinya, dan berkata,
"Jangan kira aku menemui kamu karena keinginanku. Aku hanya ingin memberikan pelajaran padamu, brengseeeeek!"
Tidak hanya itu saja. Selain dia menyerukan kemarahannya pada Arion, dia juga melayangkan bogeman mentahnya pada wajah pemuda itu.
Namun, Arion hanya menyeringai, seolah mengejek Adelio. Dengan nafas yang memburu, Adelio kembali meraih kerah baju Arion, dan menghantamnya bertubi-tubi untuk melampiaskan kemarahannya atas perbuatan tidak senonoh Arion pada Adelia.
Hantaman Adelio begitu kuat dan cepat, sehingga Arion tidak mempunyai waktu untuk menghindar, apalagi membalasnya. Hantaman bogeman mentahnya itu, seolah menggambarkan betapa marahnya Adelio saat ini pada Arion.
Arion terkapar tidak berdaya di lantai. Dia hanya bisa bernafas, dan tubuhnya terasa lemas. Adelio kembali mendekatinya. Ditariknya rambut Arion dengan kuat, sehingga kepalanya mendongak, dan menghadap padanya.
Arion menatap Adelio tanpa berkedip sedikit pun. Dari tatapan matanya itu, Adelio bisa melihat bahwa Arion sedang menantangnya.
"Sialan! Ternyata kamu benar-benar b*jing*n!" seru Adelio sambil menarik rambut Arion dengan kuatnya.
Arion hanya meringis, menahan rasa sakitnya. Tidak ada kata maaf ataupun menyesal yang keluar dari mulutnya, sehingga membuat Adelio semakin geram padanya.
"Kak Lio!"
__ADS_1
"Lio! Hentikan!"