Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 89 Mengungkap Kebenaran


__ADS_3

Mata Bu Sarofah membelalak kaget mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut putranya. Kini dia bingung untuk menjawabnya.


Bagaimana ini? Aku jawab sebenarnya sesuai yang aku tahu atau aku pura-pura tidak tahu? Ah, Dimas malah bikin aku pusing saja. Kenapa juga dia bilang ke Arion masalah ini, menyusahkan saja, Bu Sarofah berkata dalam hatinya.


Arion dan Dimas menatap Bu Sarofah dengan tatapan mengharap. Mereka berdua tidak mengalihkan perhatiannya dari Bu Sarofah, seolah sedang menantikan jawaban darinya.


Bu Sarofah menghela nafasnya. Ditatapnya Arion dan Dimas bergantian, kemudian dia mulai menceritakan apa saja yang diketahuinya, mulai dari awal Intan berada di rumah Arion dan kematian ibu kandung Arion.


Dua orang pemuda tersebut mendengarkan dengan seksama. Mereka berdua terdiam, sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


Hati Arion bergejolak. Dia berusaha keras untuk tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Sayangnya hati kecil Arion menolaknya. Dia tidak terima jika dipisahkan dengan ibu kandungnya yang seharusnya menemaninya sejak kecil, mengajarinya banyak hal dan menjadi saksi pertumbuhannya hingga menjadi dewasa seperti saat ini.


Kedua tangan Arion mengepal kuat. Amarahnya berkecamuk dalam hatinya. Bahkan kini dia tidak bisa berpikir jernih untuk memikirkan apa yang harus dilakukannya. Dalam pikirannya hanya menyalahkan Intan, ibu sambung yang selama ini disayanginya dan dianggap sebagai ibu kandungnya sendiri.


Arion beranjak dari duduknya. Tanpa mengatakan apa pun, dia keluar dari tempat itu, meninggalkan Dimas dan ibunya yang masih duduk serta menatap iba padanya.


Terdengar suara motor Arion yang dengan kencangnya dilajukan olehnya, seolah memperlihatkan suasana hatinya saat ini.


"Dim, apa dia akan baik-baik saja?" tanya Bu Sarofah yang terlihat cemas setelah mendengar suara motor Arion, berlalu pergi dari depan rumahnya.


"Entahlah, Bu. Sepertinya Arion terlihat sangat marah sekarang. Semoga saja dia tidak emosi dan bertindak bodoh," jawab Dimas sambil menggelengkan kepalanya, menanggapi pertanyaan dari ibunya.


Tiba-tiba saja tangan Bu Sarofah memukul-mukul ringan lengan putranya, seraya berkata,


"Ini gara-gara kamu. Kenapa kamu katakan pada Arion tentang ibunya? Sekarang, bagaimana? Bagaimana jika dia marah pada ibu tirinya?"


"Dimas rasa Arion punya hak untuk tahu, Bu. Dia harus tahu jika mempunyai ibu kandung yang melahirkannya, bukan ibu yang selama ini mengasuhnya," ujar Dimas sambil berusaha menangkis tangan ibunya yang berusaha memukulnya.

__ADS_1


Bu Sarofah menghentikan pukulannya. Dia memikirkan perkataan Dimas yang memang benar adanya. Dia menatap putranya, dan berkata,


"Kamu benar, Dim. Hanya saja Ibu khawatir pada Arion. Bagaimana jika dia berakhir membunuh ibu tirinya karena marah dan ingin membalas dendam padanya, sedangkan di rumahnya tidak ada Pak Fabian."


"Benar juga, Bu. Jam segini, Pak Fabian kan masih bekerja. Apa Dimas susul ke sana saja ya, Bu?"


"Ya sudah, kamu cepat berangkat sekarang, takutnya nanti ada apa-apa dengan mereka," tutur Bu Sarofah sembari memegang lengan Dimas dan sedikit mengangkatnya.


Dimas segera beranjak dari duduknya, tapi ketika dia akan berjalan, Bu Sarofah menarik lengannya. Dimas pun menoleh pada ibunya, dan berkata,


"Ada apa, Bu?"


"Dim, tidak usah ke sana. Lebih baik kamu tetap di rumah saja," jawab Bu Sarofah dengan tatapan mengiba pada putranya.


"Ada apa, Bu? Bukannya Ibu sendiri yang menyuruh Dimas segera pergi ke rumah Arion?" tanya Dimas sambil mengernyitkan dahinya.


"Jika nanti terjadi apa-apa, maka kamu juga akan kena imbasnya. Jadi, lebih baik kamu di rumah saja."


Dimas mengerti apa yang dirasakan oleh ibunya. Dia melihat kekhawatiran yang terpancar jelas di mata ibunya. Dia meraih tangan ibunya, dan tersenyum padanya, seraya berkata,


"Baiklah, Bu. Dimas tidak akan ke sana. Dimas di rumah saja."


Namun, dalam hati Dimas sangat berbeda. Dia ingin sekali menyusul Arion ke rumahnya, karena dia sangat khawatir padanya.


Semoga kamu baik-baik saja, Arion. Semoga kamu tidak bertindak bodoh. Maafkan aku tidak bisa mendampingi mu saat ini, Dimas berkata dalam hatinya.


Di sisi lain, tepatnya di kediaman Fabian. Arion meletakkan motornya di teras rumahnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumahnya, untuk mencari Intan, ibu sambungnya yang selama ini merawatnya dan mengasihinya.

__ADS_1


Arion berusaha menahan amarah dan emosinya. Sekuat tenaga dia menahannya, agar tidak melakukan hal bodoh tanpa mengetahui cerita dari Intan dan Fabian. Dia ingin mendengar langsung pengakuan dari kedua orang tua yang merawatnya.


Dia berjalan dengan rasa amarah yang telah memenuhi hatinya, tapi sekuat tenaga ditahannya. Matanya mencari sosok ibunya ke seluruh ruangan. Tiba-tiba langkahnya berhenti ketika melihat sosok yang dicarinya.


Arion menatap Intan, sosok ibunya yang selama ini merawatnya. Tepat pada saat itu, Intan sedang berdiri membelakanginya. Dia bimbang dan ada kesedihan yang dirasakannya saat ini. Dalam hatinya berkata,


Ibu, apa benar semua yang aku dengar tentangmu? Tentang ibu kandungku, kematiannya dan hubungan kematiannya denganmu. Oh Tuhan, aku harus bagaimana? Apa aku harus membencinya, sedangkan dia yang selama ini merawat ku dengan kasih sayangnya? Sungguh aku tidak tahu, apa dia benar-benar menyayangiku dan mengasihani ku dengan tulus sebagai anaknya? Aku sungguh bingung, Tuhan.


Selama beberapa saat dia berdiam diri di situ. Berdiri mengamati punggung ibu sambungnya dari belakang. Dia merasa jika ternyata selama ini banyak sekali yang tidak diketahuinya. Dia merasa dikhianati dan disakiti.


Rasa sakit yang kini dirasakannya mengalahkan rasa sakitnya ketika Adelia mengatakan untuk mengakhiri kedekatan mereka. Guratan rasa sayangnya dan kecewanya pada sosok ibu sambungnya itu, tergambar dengan jelas di hadapannya. Punggung itu, punggung seorang wanita yang selama ini dipanggilnya dengan sebutan ibu, menorehkan luka tersendiri baginya.


Arion masih saja menatap sosok ibu sambungnya itu dari belakang, dan berkata dalam hatinya,


Bagaimanapun aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku harus mengetahui penyebab kematian ibu kandungku.


Dengan perlahan Arion melangkah mendekati wanita yang sedang berdiri memunggunginya. Ketika tepat berada di belakangnya, wanita tersebut menghadap ke belakang.


"Arion?!" ucap Intan dengan ekspresi kagetnya mendapati putranya berdiri di belakangnya.


"Kenapa kamu berdiri di belakang Ibu?" tanya Intan sambil menatap heran pada putranya.


"Kenapa kamu diam saja, Arion? Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Intan kembali sambil mengernyitkan dahinya.


Arion masih saja diam. Dia menatap wanita yang ada di hadapannya itu seolah banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan olehnya. Intan merasa aneh dengan tatapan mata Arion padanya. Kemudian dia bertanya,


"Ada apa Arion? Kenapa kamu memandang Ibu seperti itu? Apa ada yang aneh dengan Ibu?" tanya Intan kembali mencari tahu.

__ADS_1


"Ibu, apa benar Ibu bukan Ibu kandungku?" tanya Arion dengan matanya yang berkaca-kaca.


__ADS_2