
Arion marah. Dia tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Adelia padanya. Semua perkataan Adelia yang menolak untuk dipegangnya, membuat Arion sakit hati. Terlebih lagi Adelia meludahi wajahnya, sehingga Arion merasa sangat terhina olehnya.
Kini, Arion seolah hilang akal sehatnya. Yang ada dalam hatinya hanya kemarahan dan rasa ingin memiliki Adelia sepenuhnya. Dia memegang erat dan mengunci tubuh Adelia, sehingga gadis itu tidak bisa melarikan diri darinya.
"Kamu harus menjadi milikku, Sayang," ucap Arion dengan geramnya, sambil menyeringai.
Adelia sangat takut saat ini dengan Arion. Dari matanya terlihat kilatan yang membuat Adelia ketakutan.
"Jangan. Jangan sentuh aku. Aku mohon," ucap lirih Adelia dengan diiringi tetesan air matanya.
Sesaat Arion berhenti, ketika melihat air mata Adelia yang menetes di pipinya. Sayangnya, hati Arion seolah sudah dirasuki oleh iblis, sehingga dia masa bodoh dengan air mata gadis yang selama ini diinginkannya.
Dia kembali menindih tubuh Adelia, meskipun Adelia berteriak memakinya dan memohon padanya agar tidak menyakitinya. Akan tetapi, Arion malah menjadi bangga ketika Adelia memohon padanya. Bahkan lengan baju Adelia terkoyak, karena ditarik dengan kuatnya oleh Arion. Tidak hanya itu saja, kancing kemeja kerja Adelia pun dilepas paksa oleh Arion.
Gadis yang selama ini tidak pernah memohon padanya, kini dengan linangan air matanya, gadis itu memohon serta mengiba padanya.
Namun, itu semua membuat Arion semakin tertantang dan bangga pada dirinya. Dia semakin memaksa Adelia agar mau menyerahkan mahkotanya.
Tiba-tiba saja badan Arion terlepas dari badan Adelia, dan terhuyung jatuh ke lantai. Dia menatap nyalang pada seseorang yang mampu menggagalkannya.
"Sialan! Siapa kamu?!" teriak Arion dengan emosinya.
Laki-laki tersebut menyeringai dan berjalan selangkah demi selangkah mendekatinya, seraya berkata,
"Kenapa? Takut? Mana nyalimu? Jangan cuma beraninya sama cewek saja!"
"Kurang ajar!" seru Arion sambil beranjak berdiri.
Secepat kilat dia bergerak melayangkan bogeman mentahnya. Sayangnya, gerakan Arion dapat terbaca dengan mudah oleh laki-laki tersebut, sehingga laki-laki tersebut hanya bergerak menghindar, dan Arion yang tidak bisa mengontrol tenaganya, seketika tersungkur di lantai.
__ADS_1
Laki-laki tersebut tertawa melihat wajah Arion yang meringis kesakitan. Dengan ekspresinya dan gerakan tubuhnya, dia berhasil memprovokasi Arion agar melawannya.
Arion kembali berdiri. Dari raut wajahnya saat ini, dia terlihat sangat marah dan dendam pada laki-laki tersebut. Tanpa menunggu lama, Arion kembali menghantamkan bogemannya ke arah laki-laki yang ada di depannya.
Meskipun gerakan Arion mudah sekali dibaca olehnya, laki-laki tersebut tidak lagi menghindar. Kali ini dia lebih memilih untuk meladeni Arion, dengan tujuan memberikannya pelajaran sebagai balasan perbuatannya pada gadis yang sedang dilecehkannya.
Arion tidak beruntung kali ini. Laki-laki yang sedang dilawannya tidak bisa dengan mudah dikalahkannya. Bahkan terkesan dialah yang sedang dipermainkan oleh laki-laki itu, sehingga dia kelelahan dan tenaganya terkuras habis tanpa dapat menyentuh sedikit pun bagian tubuh lawannya.
Dia terduduk di lantai dengan nafasnya yang terengah-engah. Tatapan matanya menghunus pada laki-laki yang sedang tertawa melihatnya. Laki-laki itu benar-benar menginjak-injak harga dirinya di hadapan Adelia. Tidak ada kesan hebat di mata Adelia, karena kekalahannya melawan laki-laki itu.
Namun, pikiran itu tidak ada sama sekali di mata Adelia. Gadis cantik itu sedang ketakutan, dan menangis memeluk tubuhnya sendiri. Bahkan tubuhnya gemetar ketakutan ketika melihat mata Arion yang berkabut hasrat, disertai seringainya.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan berpakaian casual mendekati laki-laki yang menjadi lawan Arion, dan berbisik padanya,
"Semuanya sudah tertangkap."
Arion pun melawan. Dia tidak ingin menyerah begitu saja. Akan tetapi, usahanya sia-sia. Dia tetap tidak bisa melawannya, sehingga dia pun berhasil dibawa bersama dengan kumpulan anak buah pria tua yang menculik Adelia.
Arion menatap satu persatu dari mereka, ketika sudah berada di dalam mobil. Sayangnya dia tidak menemukan pria tua yang menjadi bos mereka. Dalam hati dia berkata,
Sial! Dia berhasil lolos. Lalu, kenapa polisi bisa sampai datang ke tempat itu? Siapa yang memanggil mereka? Apa aku dijebak? Ibu. Apa mungkin Ibu yang menjebak aku?
Tiba-tiba pintu mobil itu terbuka. Mata Arion terbelalak, ketika melihat sosok laki-laki yang membuatnya iri dengan kedekatannya bersama Adelia. Mata laki-laki itu menatap bengis pada Arion.
Secepat kilat tangan laki-laki itu meraih kerah baju Arion dan menghantam wajahnya, seraya berkata,
"Berengseeeek! Sialan! Kamu apakan adikku?! Berani-beraninya kamu menyentuhnya!"
Adelio. Dialah laki-laki yang melampiaskan emosi dan kemarahannya pada Arion. Hanya saja, semua kemarahannya tidak dapat disalurkannya begitu saja. Beberapa anggota kepolisian yang tergabung dalam misi tersebut, melerainya. Salah satu dari mereka berbisik pada Arion,
__ADS_1
"Sabar, nanti akan ada waktunya untuk menghajarnya. Sekarang lebih baik kamu temui adikmu di dalam. Aksa yang menolongnya, dan sekarang dia ada bersamanya."
Mendengar perkataan dari rekannya, Adelio dengan segera berlari masuk ke dalam gedung tersebut. Rasa cemas, khawatir, dan panik yang sedari tadi dirasakan olehnya, kini hadir kembali saat langkah kakinya membawanya masuk mencari adiknya.
Langkah kakinya terhenti, ketika melihat Aksa, laki-laki yang diberi tugas olehnya, kini sedang tersenyum ramah dan mencoba membujuk Adelia agar mau memakai jaket miliknya. Adelio menyaksikan kesabaran dan ketelatenan seorang Aksa, polisi yang terkenal pemberani dan selalu berhasil menjalankan semua misi yang diberikan padanya.
Usaha Aksa tidak sia-sia. Adelia yang terlihat sangat ketakutan, kini dengan mudahnya mau menerima jaket yang dipakaikan oleh Aksa. Bahkan Aksa bisa membuat Adelia menjadi tenang dan mau menerima uluran tangannya.
Dengan telaten dan sabarnya, Aksa memapah Adelia berjalan. Tangan kanannya melingkar pada pundak Adelia, sedangkan tangan kirinya memegang tangan Adelia.
Gadis itu terlihat sangat ketakutan. Dia memegang erat tangan Aksa, seolah tidak mau terlepas sedikit pun darinya.
Adelio berjalan menghampiri mereka. Dia berhenti tepat di depan mereka berdua, seolah sedang menghadangnya.
"Adelia, Sayang, apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" tanya Adelio dengan cemasnya, sambil memegang kedua pipi Adelia.
Adelia menatap Adelio dengan mata yang berkaca-kaca. Bahkan air matanya menetes begitu saja dengan sendirinya.
"Kakak, Lia takut," ucapnya lirih dengan suara yang bergetar.
Dengan segera Adelio memeluk saudara kembarnya. Pelukannya begitu erat, seolah dia ingin memberitahukan pada adiknya, jika dia sedang melindunginya. Saat itu juga tangisan Adelia pecah. Bahkan punggung Adelio basah karena air mata adiknya yang tidak ada hentinya.
Aksa yang berdiri di sebelah mereka, bisa merasakan betapa besarnya kasih sayang di antara dua saudara kembar itu. Dia lebih memilih diam dan menunggu mereka selesai mengutarakan kesedihan. Bahkan dia memberi kode pada beberapa orang yang datang untuk berhenti di tempatnya, dan juga memberi kode pada mereka, agar tidak bersuara.
Setelah tangis Adelia sedikit reda, Adelio mengurai pelukannya. Tangannya mengusap lembut air mata di pipi Adelia, seraya berkata,
"Tenanglah. Semua sudah selesai. Semuanya baik-baik saja. Jangan takut."
"Lebih baik kita tinggalkan tempat ini. Mereka akan memeriksa tempat ini untuk mencari barang bukti," tutur Aksa sembari menunjuk ke arah beberapa orang yang berdiri tidak jauh dari mereka.
__ADS_1