Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 91 Pembalasan Dendam


__ADS_3

"Apa? Kak Lio gak bisa jemput? Lalu, Lia pulangnya gimana? Jangan bilang kalau Lia harus naik taksi. Males bener kalau akhirnya harus nyari taksi juga. Tau gini, mending Lia bawa mobil sendiri tadi," omel Adelia pada Adelio yang sedang berbicara melalui telepon dengannya.


Sayang, kamu tenang saja. Kak Lio sudah memberitahu Kenzo. Dia yang akan menjemputmu. Jadi, kamu tunggu saja dia datang. Jangan ke mana-mana tanpa Kenzo, tutur Adelio dari seberang sana.


"Benarkah, Kak? Kalau gitu, Lia tunggu Kenzo di depan kantor saja, biar nanti gak kelamaan," ujar Adelia dengan mata yang berbinar.


Lia! Lia!


Seruan Adelio serasa tidak berarti bagi Adelia. Adik kembarnya itu, dengan entengnya menyudahi panggilan telepon tersebut tanpa mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh kakaknya.


Beberapa detik kemudian, Adelia menerima pesan dari Adelio yang mengatakan bahwa dia menyuruh Adelia agar menunggu Kenzo di depan pintu kantor saja, seperti biasanya.


Namun, kali ini Adelia tidak mematuhi perintah kakaknya. Dengan santainya dia meneruskan jalannya, dan berkata,


"Sudah kepalang tanggung, Kak. Lia sudah berjalan sampai sini. Masa' iya sudah sampai pagar, Lia harus balik masuk ke kantor lagi? Lebih baik Lia tunggu Kenzo di sini saja, biar cepat dan gak buang waktu."


Berdirilah Adelia di pinggir jalan, tepatnya di luar pagar wilayah kantornya. Dia memperhatikan layar ponselnya, sambil mengirim pesan pada Kenzo, bahwa dia menunggunya di depan pagar.


Tiba-tiba ada sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan Adelia. Mobil tersebut menggunakan kaca hitam pekat yang tidak bisa dilihat dari luar. Dari mobil itu, keluarlah seorang laki-laki tua, menghampiri Adelia.


"Maaf Mbak, saya mau bertanya. Apa Mbak tahu alamat ini?" tanya pria tua tersebut pada Adelia, sambil memperlihatkan selembar kertas yang bertuliskan sebuah alamat.


Adelia mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya pada pria yang sudah berdiri di sebelahnya.


"Iya, Kek. Saya lihat dulu alamatnya ya, Kek," tutur Adelia sambil tersenyum manis.


Pria tua tersebut pun memberikan kertas yang dibawanya pada Adelia. Gadis cantik itu menerima secarik kertas tersebut dan membacanya.


Secepat kilat pria tersebut membungkam hidung dan mulut Adelia menggunakan sapu tangan yang sudah diberi obat tidur, sehingga hanya dalam hitungan detik saja, Adelia sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu, pria tua tersebut dibantu oleh beberapa pria yang keluar dari mobil hitam itu, mengangkat tubuh Adelia ke dalam mobil tersebut. Setelah itu, mereka dengan cepatnya meninggalkan tempat tersebut.


Tubuh Adelia yang lemas dan tidak sadarkan diri dapat dengan mudah mereka angkut ke dalam mobil tersebut. Mereka sangat profesional, sehingga gerakan mereka sangat cepat dan tidak ada yang mencurigainya.


...****************...


Pikiran Arion dihantui rasa bersalah. Dia tidak bisa menerima fakta tentang Intan, ibu kandungnya dan apa yang dilakukan oleh Intan saat ini pada Adelia.


Dengan segera dia keluar dari rumahnya, tanpa mengatakan apa pun pada Intan. Bahkan dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, layaknya orang yang sedang kesetanan.


Pesan-pesan yang baru saja dibacanya, membuat bayangan adegan-adegan itu berputar di kepalanya.


"Adelia, maafkan aku. Kamu tenang saja, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu. Aku akan menolong mu, Sayang," gumam Arion sambil mengemudikan motornya.


Arion menambah kecepatan laju motornya. Dia berusaha tidak membuang-buang waktu untuk bisa segera sampai di tempat yang sudah diketahui letaknya.


...****************...


"Letakkan saja dia di situ. Biarkan dia sadar terlebih dahulu. Setelah itu, barulah kita lakukan tugas yang diberikan pada kita," tutur pria tua yang tadinya berpura-pura menanyakan alamat pada Adelia.


Tiga orang yang membawa tubuh Adelia, meletakkannya di atas lantai yang kotor dan menyeringai melihat tubuh putih nan mulus milik Adelia, dengan roknya yang sedikit tersibak.


"Sebentar lagi kita akan merasakannya," ucap salah datu dari pria tersebut, seraya menatap lapar pada Adelia yang dalam keadaan terbujur lemas tidak sadarkan diri.


Tawa mereka semua memenuhi gudang tersebut. Mata dan hasrat mereka untuk merasakan tubuh molek Adelia, seakan terpenuhi sudah. Mereka hanya tinggal menunggu waktu itu tiba. Dan itu tidak lama lagi akan terwujud.


"Lebih baik kita tinggalkan dia. Kita lakukan dulu pekerjaan kita. Duit sudah menanti di depan mata. Jangan sampai kita sia-siakan begitu saja," ujar pria tua yang menjadi pimpinan mereka.


Ketiga pria itu pun mengikuti perintah si pria tua tersebut. Mereka keluar dari gudang itu, dan berjaga di depan gedung tersebut, untuk menunggu salah satu pembeli barang haram mereka. Tempat itu memang sudah lama menjadi markas, sekaligus tempat penyimpanan barang dagangan mereka. Bahkan mereka sering melakukan transaksi di tempat tersebut dengan pembeli mereka yang sudah dipercaya.

__ADS_1


"Kapan orang itu akan datang?" tanya pria tua tersebut, pada anak buahnya yang ada di dekatnya.


"Menurut informasi terakhir, dia sedang perjalanan menuju kemari, Bos," jawab salah satu pria berbadan kekar dan berwajah garang.


"Dia orang baru, bukan?" tanya pria tua tadi pada mereka semua.


"Benar, Bos. Dia baru pertama kali membeli barang itu pada kita," jawab pria lainnya.


"Apa bisa kalian pastikan, jika orang ini aman, tidak membawa aparat atau bukan aparat?" tanya pria tua itu, sambil menatap satu per satu pada anak buahnya.


Mereka saling menatap, seolah saling mencari tahu di antara mereka. Dan salah satu di antara mereka pun menjawab,


"Beres, Bos. Semua sudah kita selidiki. Dia pengguna baru yang baru jadi ketagihan karena dicicipi temannya."


"Apa kamu yakin?" tanya pria tua itu menyelidik.


"Sangat yakin, Bos. Dia berani bayar mahal. Bahkan kami mencoba menawarinya dengan harga tiga kali lipat, dan dia langsung setuju, karena dia ingin segera menggunakannya," jawab salah satu di antara mereka.


"Bagus. Aku jadi ingin tahu, siapa dia sebenarnya," ujar pria tua tadi sambil terkekeh.


Di dalam gudang tersebut, mata Adelia perlahan-lahan terbuka. Matanya mengerjap-ngerjap, menyesuaikan binar cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Dia melenguh dan terbatuk, karena debu yang menerobos masuk ke dalam indera penciumannya.


"Di mana aku?" gumam Adelia sambil berusaha bangun.


Tangannya memegang kepalanya sambil mengeluh merasakan kepalanya yang terasa berat. Matanya berkeliling seluruh ruangan tersebut. Debu dan bau tembok serta lantai yang lembab, membuatnya sedikit kesusahan bernafas.


Namun, dia mencoba menyesuaikan diri, agar dia bisa berpikir saat ini. Sayangnya kepalanya masih terasa sangat berat, hingga dia tidak bisa memikirkan apa yang sudah terjadi padanya sebelum dia berada di tempat tersebut.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganku?"

__ADS_1


"Ternyata kamu sudah bangun, Sayang. Bersiap-siaplah untuk bermain dengan kami!"


__ADS_2