
Adelia hanya menatap tangan Arion dengan tatapan enggan. Menjabatnya? Tentu saja dia tidak akan mau untuk menjabat tangan itu. Bahkan tidak ada keinginan sedikit pun untuk memegangnya.
Tiba-tiba saja ada tangan yang merangkul pundak Adelia dan terdengar suara yang sangat familiar di telinga mereka berdua.
"Biar Lia berangkat denganku. Kami akan mengikuti mu dari belakang," ujar Adelio sambil merangkul pundak saudara kembarnya dengan erat, seolah terlihat dia sangat posesif padanya.
Arion menghela nafasnya penuh dengan kekecewaan, ketika melihat keberadaan Adelio yang sangat tidak diharapkannya.
Lain dengan Adelia yang tersenyum lega mendapati saudara kembarnya, selalu ada untuknya dan melindunginya di setiap kesempatan.
"Katakan, di mana tempat makannya, agar jika kami kehilangan jejakmu, kita akan tiba tepat waktu di sana meskipun tanpa dirimu," tukas Adelio sambil menyeringai pada Arion.
Adelia menahan senyumnya melihat ekspresi wajah Arion saat ini. Wajah pemuda yang selalu memaksakan kehendaknya pada Adelia, membuat gadis cantik itu sangat lega. Pasalnya, selama ini dia tidak pernah melihat wajah Arion yang berekspresi penuh dengan kekecewaan, karena selama ini Adelia hanya bisa melihat kebanggaan dari diri Arion yang selalu bisa membuatnya terpaksa menuruti keinginannya.
"Kenapa diam? Keberatan karena Adelia berangkat denganku? Atau mungkin keberatan dengan kehadiranku di antara kalian?" tanya Adelio dengan seringainya.
"Bisakah kami pergi berdua saja dan menyelesaikan permasalahan kami berdua, tanpa campur tangan darimu?" tanya Arion disertai dengan helaan nafasnya.
"No! Tidak bisa! Dan tidak akan pernah bisa!" jawab Adelio dengan tegas.
"Kenapa kamu selalu ikut campur? Kenapa kamu tidak bisa sekali saja membiarkan kami berdua?" tanya kembali Arion sambil menatap kesal pada Adelio.
"Arion! Jaga ucapanmu! Kak Lio sangat penting dalam hidupku. Asal kamu tahu saja, tidak ada yang bisa memisahkan kita berdua, karena ikatan batin kami yang sangat kuat sebagai saudara kembar. Ingat itu!" seru Adelia dengan kesalnya pada Arion.
Sontak saja Arion terkesiap mendengar seruan kemarahan Adelia yang sangat tegas padanya. Ditambah lagi dengan ekspresi wajah gadis cantik itu yang terlihat sangat marah dan kesal padanya.
"Sayang, aku hanya ingin kita berdua pergi untuk--"
"Stop! Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Aku sudah memperingatkan kamu. Aku tidak akan mentolerir lagi jika kamu masih saja memanggilku dengan sebutan itu! Camkan!" sahut Adelia dengan kemarahan yang terlihat jelas di matanya.
Adelio menyeringai melihat wajah Arion yang benar-benar kaget ketika mendapatkan kemarahan dari Adelia.
"Bagaimana? Jadi atau tidak perginya?" tanya Adelio dengan santainya.
__ADS_1
Ponsel Arion yang sedang dipegangnya kembali berdering. Dia menghela nafasnya ketika melihat nama Supri pada layar ponselnya sebagai pemanggil telepon.
"Baiklah, kita pergi sekarang," jawab Arion yang terlihat sangat kecewa saat ini.
"Ingat, tepati janjimu dan jangan pernah mengingkarinya!" tutur Adelio dengan tegas memperingatkan Arion.
Adelia memegang tangan Adelio untuk menghentikan kakaknya, ketika bergerak akan meninggalkan tempat itu. Adelio menatap Adelia sambil mengernyitkan dahinya, dan berkata,
"Ada apa, Princess?"
"Dia belum mengatakan janjinya, Kak," jawab Adelia sambil menatap mata kakaknya.
Adelio kembali berdiri tegak di hadapan Arion. Dia menatapnya dengan tatapan bengisnya dan berkata,
"Cepat, katakan janjimu sekarang juga!"
"Aku sudah menyetujuinya. Apa itu tidak cukup?" tanya Arion setelah menghela nafasnya.
"Tidak bisa. Janji harus diucapkan, dan kami ingin melihatmu mengatakan janji itu dengan sungguh-sungguh," jawab Adelio dengan tegas.
Arion mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Setelah itu dia bersiap untuk mengikrarkan janjinya.
"Tunggu! Tahan sebentar!" seru Adelio, menghentikan Arion yang sudah membuka bibirnya, bersiap untuk mengatakan sesuatu.
Sontak saja Adelia menoleh ke arah kakaknya, seraya berkata,
"Ada apa, Kak?"
"Aku akan merekamnya untuk mengabadikan janji seorang laki-laki, yang tidak akan mengganggu lagi gadis cantik kesayangan kami," jawab Adelio seraya mengambil ponsel dalam saku celananya.
Adelia tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seolah mengatakan padanya jika dia bangga pada kakaknya.
Adelio mengarahkan kamera ponselnya pada Arion. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Berjanjilah seperti yang diinginkan Adelia."
Arion menatap kecewa pada Adelia, sayangnya gadis cantik yang ditatapnya itu, justru memalingkan wajahnya, sehingga Arion tidak bisa menatap wajah cantiknya.
"Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu untuk meladeni tingkah kekanak-kanakan mu ini," tutur Adelio memperingatkan dengan tegas pada Arion.
Kini Arion hanya bisa melakukan apa yang diinginkan duo kembar itu. Dia berdiri tegap di hadapan kedua saudara kembar tersebut, dan melihat ke arah kamera ponsel yang dipegang oleh Adelio.
"Saya, Arion berjanji tidak akan mengganggu Adelia lagi. Selain itu, saya juga tidak akan menemuinya lagi," ucap Arion dengan berat hati dan terlihat tidak ikhlas mengucapkannya.
Adelio tersenyum puas setelah berhasil mengabadikan janji Arion untuk tidak mengganggu Adelia. Kemudian dia memeriksa kembali hasil rekamannya, dan menyimpan ponsel itu ke dalam saku celananya.
"Ayo, Sayang, masuklah ke dalam mobil," tukas Adelio sambil merangkul pundak Adelia.
"Tunggu! Bisakah aku mempercayai kalian?" tanya Arion dengan tatapan curiga pada Adelio.
"Kamu kira kami akan melarikan diri dari janji kami? Dengar, kami tidak sepicik itu! Kami selalu menepati janji yang kami buat. Jadi, jika kamu melanggar janjimu, pasti aku tidak akan membiarkannya. Aku akan membuat perhitungan denganmu!" ujar Adelio dengan tegas dan menatap bengis padanya.
"Tidak bisakah untuk yang terkahir kalinya, kita berdua berkendara bersama?" tanya Arion dengan tatapan memohon pada Adelia.
Ingin sekali Adelio mengatakan tidak pada Arion. Akan tetapi, Adelia lah yang berhak untuk menjawabnya. Dia menatap saudara kembarnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Dia yakin jika adiknya itu tidak akan mengatakan iya, untuk menyetujui permintaan Arion padanya.
"Maaf, aku berangkat bersama dengan Kak Lio saja," jawab Adelia dengan tegas, tanpa ada keraguan sedikit pun.
Tatapan memohon Arion tidak berhasil menggerakkan hati Adelia. Dalam hatinya berkata,
Sialan! Kenapa Adelia sekarang jadi seperti ini? Kenapa sekarang dia sangat sulit ditaklukan? Aku tidak boleh kalah dan membiarkan ini. Aku harus bisa membawa Adelia berkendara denganku, sekarang. Jika tidak berhasil, maka janjiku akan sia-sia saja, karena aku tidak mendapatkan apa pun dari pengorbanan janji yang aku buat.
Arion menghela nafasnya dan menatap Adelia dengan tatapan mengiba, seraya berkata,
"Aku mohon, ikutlah bersamaku dan berkendara untuk sampai di tempat itu. Hanya sekali ini saja. Bukankah aku sudah melakukan apa yang kamu inginkan? Dan sudah seharusnya kamu juga melakukan apa yang aku inginkan, agar perjanjian ini bisa dikatakan adil, bukan?"
Adelia menoleh ke arah Adelio, seolah meminta pertolongan dan jawaban darinya. Jujur saja dia memang ingin segera menyelesaikan semua ini dengan Arion, dan tidak lagi berurusan dengannya. Akan tetapi, dia enggan untuk pergi bersama dengannya.
__ADS_1
Kak, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? tanya Adelia dalam hati pada Adelio, seraya menatap mata saudara kembarnya.