
Adelio dan Adelia saling menatap ketika Rafael mengatakan jika dia akan mengenalkannya pada putri dari temannya. Mereka berdua seolah saling bertanya melalui tatapan matanya.
Bagaimana dengan Mia, jika Kak Lio dijodohkan dengan putri dari teman Papa? Adelia berkata dalam hatinya.
Adelio mengerti arti tatapan dari saudara kembarnya. Akan tetapi dia juga tidak bisa menolak keinginan dari papanya. Kini dirinya sedang merasakan dilema.
"Boy, bagaimana? Kamu mau kan?" tanya Rafael kembali yang sedang menunggu jawaban dari putranya.
Melihat reaksi kedua anak kembarnya, Ayana pun berkata,
"Kalian duduklah di sini. Kita mengobrol santai seperti biasanya."
Adelia dan Adelio tidak bisa menolak keinginan mamanya. Mereka berdua duduk bersebelahan di tempat duduk mereka biasanya, dan bersiap untuk mendengarkan perkataan kedua orang tuanya.
Mereka memang anak kesayangan Ayana dan Rafael, dan duo luar biasa itu pun tau kewajiban mereka sebagai seorang anak pada orang tuanya. Adelia dan Adelio tidak pernah membantah ataupun mengecewakan mama dan papanya. Mereka juga tidak pernah membantah perintah kedua orang tuanya.
Tentu saja Adelia dan Adelio yang merupakan duo luar biasa itu, menjadi anak kebanggaan Ayana dan Rafael. Mereka patut dibanggakan dengan prestasi, sopan santun mereka, sikap baik mereka dan juga wajah keduanya yang memang rupawan.
"Boy, Sayang, kamu berhak menolak jika tidak ingin berkenalan dengan putri dari teman Papa. Hanya saja Papa ingin memperkenalkan kalian berdua. Hanya berkenalan saja, tidak ada salahnya kan? Mama dan Papa tidak pernah memaksakan apa pun pada kalian berdua. Kalian tahu itu kan?" tanya Ayana sambil tersenyum, membuat hati duo kembar tersebut sangat tenang.
"Benar kata Mama. Papa hanya ingin memperkenalkan kalian saja. Lagi pula, teman Papa itu yang ingin terlebih dahulu memperkenalkan putrinya pada anak Papa yang ganteng ini. Papa tidak bisa menolaknya, sama seperti pada saat papanya Kenzo ingin menjodohkan Adelia dengan Kenzo. Bedanya, teman Papa yang sekarang ini tidak meminta perjodohan. Dia hanya ingin kalian berkenalan saja. Setelah itu, terserah kalian berdua, bagaimana nantinya. Entah kalian mau berkenalan lebih dekat atau hanya sekedar berteman saja. Papa yakin jika teman Papa berharap lebih dari itu," tutur Rafael sambil terkekeh di akhir ucapannya.
Sontak saja Ayana menepuk lengan suaminya, seraya berkata,
"Papa! Biarkan itu menjadi keputusan Adelio."
Rafael menghela nafasnya dan menoleh ke arah sampingnya, di mana istrinya sedang duduk di sana. Kemudian dia berkata,
"Iya, Ma. Papa tadi kan sudah bilang begitu. Hanya saja Papa menyampaikan apa yang Papa lihat dari niatan teman Papa tadi. Papa yakin jika dia ingin menjodohkan putrinya dengan My Boy. Hanya saja dia sungkan mengatakannya pada Papa. Pasti Mama juga berpikiran seperti itu, bukan?"
"Udah, pokoknya semua kita kembalikan pada anak-anak kita. Ingat, kita berdua tidak mau jika kedua anak-anak hebat ini tidak bahagia sepanjang hidup mereka," tutur Ayana dengan tegasnya.
__ADS_1
"Tentu saja. Papa tidak mau kedua anak luar biasa Papa ini mengalami kesedihan dalam hidup mereka. Pasti kalian semua tahu, bagaimana usaha Papa agar Mama, My Princess dan My Boy selalu mendapatkan kebahagiaan. Papa tidak mau kalian sedih ataupun kekurangan," ujar Rafael dengan serius.
Adelio menatap papanya sambil tersenyum padanya. Kemudian dia berkata,
"Lio percaya sama Papa. Bahkan Lio tidak pernah meragukan Papa. Lio yakin jika apa yang diperintahkan oleh Papa pada Lio, pasti sudah dipikirkan Papa dengan baik. Lio juga yakin semua itu untuk kebaikan Lio."
Adelia menatap kakaknya. Dia tersenyum melihat kakaknya yang begitu bijak dan sangat bertanggung jawab. Dia pun berkata,
"Seandainya saja Kak Lio bukan Kakaknya Lia, sudah pasti Lia jatuh cinta pada Kak Lio. Setelah itu Lia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan hati dan cinta Kak Lio."
Perkataan Adelia mampu membuat semua orang di ruangan tersebut terkekeh. Seperti biasanya, mereka semua terhibur oleh gadis kesayangan mereka.
"Kakak pun sama. Jika kamu bukan adik kesayangan Kakak, sudah pasti Kakak akan berusaha keras untuk mendapatkan hati dan juga cintamu, Sayang," ujar Adelio sambil mengacak-acak rambut Adelia.
Ayana dan Rafael saling menatap. Mereka berdua kembali terkekeh mendengar perkataan Adelio. Dari tatapan mereka berdua, Ayana dan Rafael sangat bangga dengan kedekatan kedua anak mereka. Tidak ada lagi kecemasan untuk kedua anaknya itu. Mereka yakin jika tanpa mereka perintahkan, Adelio akan selalu menjaga Adelia.
"Mama bangga pada kalian berdua," ucap Ayana sambil tersenyum pada kedua anaknya.
"Kita berdua juga bangga punya orang tua seperti Mama dan Papa. Benar kan, Adelia?" tanya Adelio pada Adelia, untuk mendapatkan dukungannya.
"Benar sekali. Mama dan Papa adalah orang tua terhebat dan tidak ada cela sama sekali. Lia dan Kak Lio merasa sangat beruntung mendapatkan Mama dan Papa sebagai orang tua kami," jawab Adelia dengan bangganya.
Mereka berempat tersenyum bahagia mendengarkan pernyataan dari masing-masing. Situasi seperti ini selalu hadir dalam setiap kesempatan ketika mereka sedang bersama.
"Lalu, bagaimana Lio? Apa kamu bersedia bertemu dengan putri teman Papa untuk berkenalan dengannya?" tanya Rafael pada Adelio untuk memastikan keputusannya.
"Iya, Pa, Lio bersedia," jawab Adelio sambil tersenyum.
"Baiklah, nanti Papa akan memberitahumu kapan waktunya. Papa harap kamu tidak terpaksa melakukannya," tutur Rafael sambil tersenyum pada Adelio.
Setelah itu mereka membicarakan tentang persiapan lamaran Adelia dan Kenzo. Tentu saja diselingi dengan canda serta tawa dari mereka berempat, hingga waktu pun berlalu, sehingga mereka harus mengakhiri obrolan tersebut dan masuk ke dalam kamar masing-masing.
__ADS_1
Di balkon kamar mereka masing-masing, duo kembar yang selalu menyita perhatian banyak orang itu, sedang berdiri dengan menatap indahnya langit malam.
"Kak, apa Kak Lio akan setuju jika dijodohkan dengan putri teman Papa?" tanya Adelia sambil menatap kakaknya.
Adelio menoleh ke arah adiknya. Dia tersenyum dan berkata,
"Kakak belum bisa menjawabnya."
"Kenapa?" tanya Adelia sambil mengernyitkan dahinya.
"Karena Kakak belum bertemu dengannya," jawab Adelio sambil terkekeh.
Seketika Adelia tersenyum lebar, sehingga terlihat deretan giginya. Kemudian dia berkata,
"Oh iya, benar juga. Kenapa aku gak terpikirkan itu."
"Tentu saja, kamu kan ceroboh," ucap Adelio sambil terkekeh.
"Meskipun ceroboh, Lia gak bakalan khawatir dengan kecerobohan Lia," ujar Adelia dengan bangganya.
Adelio mengernyitkan dahinya, mencoba mencerna perkataan saudara kembarnya, dan dia pun berkata,
"Kenapa?"
"Lia yakin jika Kakak akan selalu menjaga Lia dan menyelesaikan masalah yang terjadi karena kecerobohan Lia," jawab Adelia dengan penuh percaya diri.
Seketika Adelio tertawa mendengar perkataan Adelia. Di sela tawanya itu, dia berkata,
"Tentu saja, kamu kan Princess kesayangan Kakak."
Adelia pun ikut tertawa mendengar pernyataan kakaknya. Saat-saat mereka seperti inilah yang selalu mereka rindukan. Tiba-tiba Adelio menghentikan tawanya dan bertanya pada adiknya.
__ADS_1
"Sayang, kakak lupa belum menanyakan hal itu padamu. Sebenarnya, bagaimana perasaan kamu pada Kenzo?"