
Seketika Adelia, Adelio dan Arion menoleh ke arah sumber suara. Adelia terkesiap melihat Kenzo sudah berdiri di sana dengan memasang wajah marahnya.
"Cepat lepaskan tangannya!" seru Kenzo sambil berjalan ke arah Adelia.
Melihat kemarahan di wajah Kenzo, saat itu juga Adelia berusaha melepaskan tangannya dari tangan Arion. Sayangnya itu tidak mudah. Tangan Arion memegang erat tangannya, sehingga pergelangan tangannya terasa sangat sakit saat ini.
Tangan Kenzo meraih tangan Arion, bermaksud untuk membebaskan tangan Adelia dari cengkeraman tangan Arion.
"Sialan! Lepaskan tangan Adelia!" ujar Kenzo dengan tegas.
Adelio segera menghampiri mereka dan membantu Kenzo melepaskan tangan Adelia dari cengkraman Arion. Saat itu juga tangan Adelia terlepas. Adelio segera melindungi saudara kembarnya, agar bersembunyi di balik punggungnya.
Tatapan Adelio menghunus pada Arion yang juga sedang menatapnya. Bahkan Arion berusaha untuk melihat Adelia yang berada di belakang Adelio.
Adelio membalikkan badannya, menghadap Adelia untuk melihat keadaannya. Terlihat kemarahan dalam mata Adelio saat ini, tatkala melihat pergelangan tangan saudara kembarnya yang putih mulus, kini terlihat merah dan meringis kesakitan.
"Sialan! Beraninya kamu melukai Adelia! Urusan kita belum selesai. Jika kamu kembali melukainya lagi, akan aku pastikan hal buruk akan menimpamu! Camkan itu!" ujar Adelio dengan tatapan penuh amarah pada Arion.
Adelio merangkul pundak Adelia, dan membawanya pergi dari hadapan Arion. Tentu saja Arion tidak terima. Dia pun beranjak dari tempatnya untuk mengikuti Adelia.
Namun, gerakan Arion dapat dibaca dengan mudah oleh Kenzo, sehingga dia menghadang Arion dengan berdiri tepat di depannya dan berkata,
"Mau ke mana? Masih belum menyerah? Harusnya kamu tahu malu! Tidak ada yang bisa memaksakan cintanya pada Adelia, karena ada kami yang selalu melindunginya! Ingat itu!"
Emosi Arion terpancing. Tangannya yang sedari tadi mengepal, kini bergerak menuju wajah Kenzo. Sayangnya Kenzo bisa menangkap tangan Arion, sehingga bogeman mentah yang sudah disiapkan oleh Arion, tidak bisa mengenai wajahnya.
Arion menatap penuh amarah pada Kenzo yang berhasil menghalau pukulannya. Bahkan kebencian itu terlihat jelas pada mata Arion saat ini. Sedangkan Kenzo, dia menyeringai melihat kemarahan dari Arion padanya.
"Kenapa? Apa kamu masih punya nyali berhadapan dengan aku dan Adelio?" tanya Kenzo sambil terkekeh, seolah menertawakan Arion yang seolah menjadi pecundang saat ini.
"Ken! Cepatlah! Tinggalkan dia!" teriak Adelio dari dalam mobilnya.
Kenzo menatap Arion dengan tatapan yang seolah meremehkannya. Bahkan seringainya membuat Arion semakin marah padanya.
__ADS_1
"Ingat! jauhi Adelia atau kau akan merasakan akibatnya!" ancam Kenzo dengan tegas pada Arion.
Tanpa menunggu jawaban dari Arion, Kenzo pergi meninggalkannya dengan menorehkan kemarahan yang seolah mencabik-cabik hatinya. Tatapan kemarahan Arion tidak lepas pada mobil Kenzo dan mobil Adelio yang membawa pergi Adelia.
Kemarahannya sangat menyesakkan dadanya. Ingin dia mengumpat dan berteriak pada Kenzo dan Adelio, tapi tidak bisa dilakukannya. Dia masih sadar dan tahu jika kini dia berada di wilayah tempat kerjanya.
Indera pendengarannya menangkap suara orang yang berkasak-kusuk, ketika melihat pertikaian mereka. Malu? Tidak. Arion tidak merasa malu saat ini. Bahkan dia ingin memberitahukan pada semuanya, jika Adelia adalah pacarnya.
Namun, ketika dia akan melakukannya, pundak Arion dipegang oleh seseorang, dan terdengar sedang berbicara lirih padanya.
"Arion, kendalikan emosimu. Ingat, ini tempat kerja kita. Jangan sampai kamu kehilangan pekerjaan hanya karena menuruti emosimu."
Arion tersadar dari kemarahannya yang sedang membelenggunya. Dia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, selama berkali-kali, hingga dia merasa sedikit lega.
Dia menoleh ke arah sampingnya, di mana seorang laki-laki yang memakai seragam sama dengannya, berdiri merangkul pundaknya. Dia tersenyum kaku pada rekan kerjanya yang menggantikan shift nya saat ini.
"Aku pergi dulu. Selamat bertugas," ujar Arion sambil memaksakan senyumnya pada temannya itu.
Temannya itu menghentikan Arion yang sudah satu langkah meninggalkan tempatnya. Tangan Arion dipegangnya dan berkata,
"Lain kali saja," jawab Arion sambil melepaskan tangan temannya yang memegang tangannya.
"Arion, aku hanya ingin memberitahukan jika kamu tidak sendirian di sini. Kamu masih mempunyai teman yang siap untuk membantumu," ujar laki-laki tersebut sambil menatap Arion, berusaha untuk menyadarkannya.
Arion menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis pada laki-laki tersebut. Kemudian dia berkata,
"Lain kali pasti aku akan menceritakannya."
"Kapan?" tanya laki-laki tersebut seolah tidak sabar menantikannya.
"Nanti. Jangan sekarang, karena aku sedang tidak ingin membahasnya," jawab Arion disertai helaan nafasnya.
Laki-laki tersebut terpaksa membiarkan Arion pergi meninggalkannya tanpa bercerita padanya. Dia menatap iba pada sosok berbadan tegap itu. Menurutnya Arion sangat malang karena harus merasakan pahitnya jatuh cinta pada perempuan kaya, yang tidak sepadan dengannya.
__ADS_1
Tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundak laki-laki tersebut dan berkata,
"Biarkan saja dia menenangkan dirinya terlebih dahulu. Mungkin jika dia sudah tenang, dia akan menceritakannya pada kita."
"Benar. Seperti biasanya, pasti dia akan bercerita pada kita, untuk menyombongkan apa yang didapatkannya," tukas laki-laki tersebut sambil terkekeh, membenarkan perkataan temannya.
Di sisi lain, Arion masih merasakan kemarahannya. Dia mengendarai motornya dengan amarah yang sedang merajai hatinya. Kemarahannya itu dilampiaskan pada jalanan yang sedikit lenggang. Motor tersebut dilajukan dengan kecepatan tinggi olehnya, sehingga terlihat jelas amarahnya saat ini.
Motor tersebut melewati jalanan yang berlainan arah dengan rumahnya. Arion mengarahkan motornya menuju danau yang sering di datanginya ketika dia sedang bersedih.
"Aaaaarrrgggghhhh...," teriak Arion di tepi danau dengan sekuat tenaganya.
"Kenapa aku harus merasakan ini?! Kenapa?!"
"Mengapa aku tidak sekaya mereka? Mengapa?!"
Teriakan Arion memenuhi danau yang sunyi itu. Nafasnya terengah-engah setelah berteriak sekuat tenaganya, melampiaskan kemarahannya.
Dia mengambil batu yang ada di sekitarnya. Dilemparkannya batu tersebut sejauh mungkin, seolah dia melempar nasib buruknya.
Setelah lelah melempar beberapa kali, dia duduk di tepi danau tersebut. Tatapan matanya lurus ke depan, menatap kilauan pantulan sinar bulan yang terkena permukaan air danau, seraya berkata,
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mau melepaskannya. Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan dan memiliki Adelia. Benar, aku harus mendapatkannya. Selama ini aku tidak pernah gagal. Aku pasti bisa. Sekarang aku harus memikirkan caranya."
Beranjaklah Arion dari duduknya. Dia kembali melajukan motornya menyusuri jalanan yang sepi menuju rumahnya.
Braaaak!
Arion membuka pintu rumahnya dengan sangat kasar. Bahkan dia melupakan tentang tata krama masuk ke dalam rumah. Tanpa memberi salam, dia masuk ke dalam rumah dengan menuntun motornya.
Fabian dan Intan yang sedang bersantai menonton televisi pun berjingkat kaget. Mereka saling menatap, seolah saling bertanya melalui tatapan matanya.
Tanpa mencium tangan kedua orang tuanya dan tanpa mengatakan apa pun, Arion berjalan masuk ke dalam kamarnya, seolah tidak melihat mereka berdua.
__ADS_1
"Arion! Kamu kenapa?!"
"Arion! Kenapa kamu tidak sopan seperti itu?!"