Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 77 Introspeksi Diri


__ADS_3

Seorang pemuda mengendarai motornya dengan ugal-ugalan di jalan. Arion, dia melampiaskan kemarahannya pada jalanan malam yang sedang dilewatinya.


Dalam helm full faced nya, dia mengumpat kesal sepuasnya. Dia tidak ingin orang tuanya mengetahui kemarahannya saat dia pulang ke rumah, sehingga dia lebih memilih untuk mengeluarkan kemarahannya saat ini, di jalanan.


Beragam umpatan dikeluarkannya, seiring dengan laju kendaraannya yang semakin cepat. Kecepatan motornya yang sangat tinggi itu, membuat pemakai jalan lainnya merasa terancam keselamatannya. Mereka mengumpat kasar pada Arion yang tentu saja tidak akan mendengarnya.


Hanya beberapa saat saja, motor Arion sudah sampai di rumahnya. Dia segera memasukkan motornya ke dalam rumah, tanpa mengucap salam terlebih dahulu.


"Arion, sudah pulang?" tanya Fabian yang sedang duduk bersama dengan Intan di ruang tamu.


"Iya, Yah," jawab Arion tanpa menghadap pada ayahnya.


"Kenapa lagi kamu, Arion?" tanya Intan dengan suara agak meninggi.


Arion tidak menjawab pertanyaan dari ibu sambungnya. Dia lebih memilih berjalan masuk ke dalam kamarnya, tanpa mengatakan apa pun pada kedua orang tuanya.


"Ck! Kenapa dia selalu pulang dengan marah-marah?" gerutu Intan dengan sewotnya melihat Arion berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Fabian menghela nafasnya melihat putranya terlihat tidak baik-baik saja. Kemudian dia beranjak dari duduknya dan berkata,


"Aku akan berbicara dengannya."


"Aku ikut," ujar Intan sambil beranjak dari duduknya.


"Jangan. Sebaiknya kamu menunggu di sini saja. Biar aku yang berbicara berdua dengan Arion sebagai sesama laki-laki," tutur Fabian, mencegah istrinya agar tidak ikut dengannya.


"Tapi aku--"


"Sayang, biasanya kan kamu yang berbicara dengannya. Sekarang biarkan aku yang berbicara dengannya," sahut Fabian dengan tatapan memohon pada istrinya.


Intan kembali duduk di tempatnya. Dia menghela nafasnya dan berkata dengan sewot,


"Tanyai yang betul, kenapa dia selalu pulang dengan wajah yang seperti itu."


Fabian tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia berjalan menuju kamar putranya. Diketuknya pintu kamar putranya itu, seraya berseru,


"Arion! Tolong buka pintunya!"

__ADS_1


Berkali-kali Fabian mengetuk pintu tersebut dan berseru memanggil nama Arion, agar membukakan pintu untuknya.


"Arion! Buka pintunya! Ayah ingin bicara denganmu!" seru Fabian kembali, sambil mengetuk pintu tersebut.


Di dalam kamarnya, Arion yang sedang berbaring di tempat tidurnya, kini merasa terganggu dengan suara ketukan dan seruan dari ayahnya.


Dia beranjak dari tidurnya, dan berjalan dengan langkah yang terasa sangat berat. Perlahan dia membuka pintu kamarnya. Tampak Fabian yang berdiri, tepat di depan pintu kamar tersebut.


Tanpa berkata apa pun pada ayahnya, Arion segera masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Fabian masih berdiri di tempatnya.


Pria yang berstatus sebagai ayah Arion itu pun berjalan masuk mengikuti putranya, dan menutup pintu kamar tersebut, agar mereka lebih nyaman untuk berbicara.


Fabian duduk di dekat Arion yang duduk di tempat tidurnya. Mereka hanya diam membisu. Selang beberapa saat kemudian, Fabian mulai bersuara.


"Arion, ada apa? Kenapa Ayah selalu melihatmu marah-marah ketika kamu pulang bekerja?" tanya Fabian dengan perlahan.


Arion hanya menunduk dan diam saja. Dia enggan mengatakan apa pun pada ayahnya. Dia masih mencoba meresapi perkataan Adelia.


"Bukankah tadi kamu bilang akan bertemu dengan Adelia?" tanya kembali Fabian, seolah sedang menyelidik.


Bukannya jawaban yang diberikan oleh Arion pada ayahnya. Dia menghela nafasnya yang terasa sangat berat di dalam dadanya, ketika mendengar nama gadis yang sangat diinginkannya.


Arion kembali menghela nafasnya. Dia menoleh ke arah ayahnya dan berkata,


"Kacau, Yah. Kami bertengkar."


Fabian terkekeh dan menepuk pundak Arion, seraya berkata,


"Pacaran memang seperti itu. Dikit-dikit bertengkar, setelah itu baikan lagi."


"Masalahnya Adelia, Yah," ucap Arion disertai helaan nafasnya.


"Adelia? Ada apa dengan Adelia? Apa dia marah denganmu karena sesuatu?" tanya Fabian sambil mengernyitkan dahinya.


Arion menganggukkan kepalanya. Dia kembali menghela nafasnya yang masih terasa berat dalam dadanya. Kemudian dia berkata,


"Dia ingin mengakhiri hubungan kami, Yah."

__ADS_1


"Mengakhiri? Putus maksudmu?" tanya Fabian, seolah tidak percaya dengan apa yang dipikirkannya.


Arion kembali menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan dari ayahnya, seraya berkata,


"Arion harus bagaimana, Yah? Arion tidak rela jika harus berpisah dengan Adelia."


Kini giliran Fabian yang menghela nafasnya. Dia menatap iba pada putranya dan berkata,


"Sebenarnya kenapa dia meminta putus? Apa kamu bersalah?"


"Arion tidak tahu, Yah. Adelia bilang jika dia tidak suka dengan perubahan Arion. Dia juga bilang banyak hal tentang sikap Arion yang tidak disukainya. Arion jadi bingung, Yah," jawab Arion disertai helaan nafasnya.


Fabian kembali mengusap punggung putranya. Dia benar-benar merasa iba padanya. Akan tetapi, dia ingin putra tunggalnya mendapatkan kebahagiaan.


"Arion, coba kamu introspeksi diri kamu. Siapa tahu memang ada benarnya ucapan Adelia. Kaum wanita memang sangat sulit dimengerti. Mereka sangat perasa dan tidak mau disalahkan. Akan tetapi, bukan berarti kita, kaum pria tidak salah. Bahkan sering sekali kita sebagai kaum pria tidak sadar jika telah berbuat salah," tutur Fabian sambil tersenyum tipis.


"Jadi, ada kemungkinan jika memang Arion yang salah, Yah?" tanya Arion dengan rasa ingin tahunya.


"Iya, benar. Coba kamu ingat-ingat. Tidak ada salahnya kamu introspeksi diri kamu sendiri, " jawab Fabian sambil menganggukkan kepalanya.


Arion diam. Dia memikirkan semua sikapnya yang membuat Adelia kecewa padanya. Dalam hatinya berjanji akan merubah sikapnya, jika memang dia bersalah.


"Introspeksi diri? Tidak usah! Enak saja, tidak mungkin Arion salah. Arion selalu menurut. Dia anak yang baik. Jadi, sudah bisa dipastikan jika Adelia yang bersalah. Mungkin dia selalu merasa benar, karena Arion terlihat sangat mencintainya, sehingga dia selalu menuruti semua permintaan Adelia. Jadi, Arion tidak perlu introspeksi diri. Suruh saja si Adelia itu introspeksi dirinya sendiri. Jangan malah nyuruh anak kita untuk introspeksi diri. Tidak adil itu namanya!"


Tiba-tiba terdengar suara Intan dari arah pintu. Tanpa sepengetahuan Fabian dan Arion, dia mendengar semua percakapan ayah dan putranya.


"Ibu, kenapa Ibu ada di situ? Bukankah Ibu sedang menonton TV tadi?" tanya Fabian sambil tersenyum, berusaha untuk mencairkan ketegangan di antara mereka.


Intan berjalan masuk menghampiri Fabian dan Arion, seraya berkata,


"Ibu ingin tahu pembicaraan kalian. Apa Ibu tidak boleh mengetahuinya?"


"Boleh, Bu. Sangat boleh," jawab Fabian sambil tersenyum pada istrinya, berusaha agar istrinya tidak marah.


"Ya sudah, kalau begitu, jangan salahkan Arion. Jangan suruh dia introspeksi diri. Arion harus membuat Adelia membutuhkannya, jangan malah sebaliknya, agar Adelia tidak merasa bisa menginjak-injak harga diri Arion," tutur Intan dengan sewotnya.


"Bu, sudahlah. Pasangan harus saling mengerti satu sama lain. Jika satunya marah,aka satunya harus menenangkan. Jadi, jika satunya panas, satunya harus bisa mendinginkan. Intinya, pasangan harus saling mengerti," ujar Fabian dengan sangat lembut dan hati-hati, agar tidak menyinggung perasaan istrinya yang sedang kesal.

__ADS_1


Arion mendengarkan percakapan antara ayah dan ibunya. Dia memperhatikan ayahnya yang begitu sabar dan telaten menghadapi ibunya. Dalam hatinya berkata,


Sepertinya aku harus bisa seperti ayah.


__ADS_2