Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 24 Galau


__ADS_3

Foto Adelia masih saja dipandangi oleh Intan. Dia merasa sangat familiar dengan wajah wajah gadis yang menjadi pacar anaknya.


"Kenapa aku merasa tidak asing dengan wajah ini?" tanya Intan lirih sambil menggerakkan jari tangannya untuk memperbesar wajah calon menantunya.


"Ah... Mungkin hanya perasaanku saja. Gadis ini memang cantik, pantas saja Arion sangat menyukainya," sambung kembali Intan sambil tersenyum melihat foto Adelia yang bersama dirinya.


Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Intan terkesiap dan reflek menoleh ke arah pintu tersebut. Masuklah seorang pemuda tampan dengan membawa motor sport dengan lesu.


"Ada apa Arion? Apa ada masalah?" tanya Intan sambil mengernyitkan dahinya.


Arion menoleh ke arah ibunya dan tersenyum getir padanya. Kemudian dia berkata,


"Tidak ada apa-apa Bu. Hanya saja Arion sedikit sedih karena Adelia sudah pulang sekarang."


Intan tersenyum mendengar jawaban dari Arion. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati putranya seraya berkata,


"Baru juga ditinggal sebentar, kamu sudah galau kayak gini. Bagaimana kalau kalian dipingit nantinya."


Arion menunduk dan tersenyum malu mendengar sindiran dari ibunya. Bahkan dia tidak bisa berkata-kata untuk menimpali perkataan ibunya.


"Oiya Arion, tadi Ibu menyuruh Adelia untuk memposting foto-foto kita di media sosialnya, tapi kok belum juga diunggah sih sama pacarmu itu? Apa dia lupa ya?" tanya Intan sambil memperhatikan layar ponselnya.


"Sepertinya dia kelelahan Bu. Tadi saja, dia minta langsung pulang. Katanya dia mau langsung istirahat," jawab Arion sambil tersenyum getir pengingat penolakan dari Adelia selama beberapa kali ketika dia mengajaknya jalan-jalan.


Intan menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari putranya. Kini dia yang tersenyum getir, merasa kecewa dan galau karena seorang Adelia.


Bagaimanapun juga dia sadar jika tidak bisa memaksa Adelia untuk melakukan perintahnya. Di samping dia bukan ibunya Adelia, dia juga harus menjaga sikap sebagai calon ibu mertuanya. Dia hanya bisa menunggu Adelia mengunggah foto-foto mereka di media sosialnya.


Padahal aku cuma ingin melihat semua foto-fotonya Adelia di media sosialnya. Siapa tahu ada foto-foto keluarganya dan tempat tinggalnya, Intan berkata dalam hatinya disertai helaan nafasnya.


Di lain tempat, tepatnya di rumah mewah keluarga Atmaja, Adelia sedang bersantai dalam bathtub kamar mandinya. Badannya ditutupi oleh busa sabun dengan aromaterapi yang sangat menenangkan.


Gadis cantik itu memejamkan matanya, sambil mendendangkan sebuah lagu kesukaannya. Suara merdunya memenuhi seisi ruangan tersebut.


Dia tersenyum manis mengiringi setiap bait lagu yang diucapkannya. Sepertinya aromaterapi yang dipakainya sangat menenangkan hatinya, sehingga rasa kesal yang sebelumnya dirasanya pada saat bersama dengan Arion, kini hilang sudah.


Bahkan gadis cantik itu sudah lupa akan janjinya pada Intan, ibu Arion yang menyuruhnya untuk mengunggah foto-foto mereka di media sosial.


Tok... Tok... Tok...


"Lia... Sayang... Cepat keluar...!" seru seorang wanita dari depan pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar Adelia.


Adelia terkesiap mendengar seruan dari luar pintu kamar mandinya. Sekali lagi wanita yang ada di luar pintu itu berseru memanggil nama Adelia.

__ADS_1


"Iya Ma... Sebentar...!" seru Adelia sambil beranjak keluar dari dalam bathub.


Pintu kamar mandi itu pun terbuka. Keluarlah seorang gadis cantik berkulit putih mulus dengan memakai handuk yang menutupi bagian dada hingga atas pahanya.


"Ada apa Ma? Kenapa sepertinya penting sekali?" tanya Adelia sambil menatap heran pada mamanya.


"Ayo cepat bersiap-siap. Papa mengajak kita untuk makan di luar," jawab Ayana sambil menarik tangan Adelia dan menuntunnya berjalan menuju lemari pakaiannya.


Adelia membuka lemari pakaiannya. Dia melihat-lihat untuk memilih baju yang akan dipakainya, seraya berkata,


"Ada acara apa Ma? Kok mendadak? Biasanya Papa sama Mama ngasih taunya pagi."


Ayana menarik tangan Adelia dan membawanya menuju walk in closet dan berkata,


"Pakailah dress yang cantik. Pilih yang ada di sini saja. Dress code kita malam ini pakaian resmi berwarna hitam."


Seketika dahi Adelia mengernyit. Dia kembali menatap heran pada mamanya dan berkata,


"Pakaian resmi? Apa kita akan pergi ke acara makan malam dengan klien Papa, Ma?"


Ayana sedang memilih dress yang akan digunakan oleh putri kesayangannya. Dia mengambil salah satu dress yang sudah dipilihnya dan memberikan pada gadis cantik yang ada di sampingnya, seraya berkata,


"Mama juga kurang tahu, Sayang. Papa cuma memberitahukan Mama seperti itu. Jadi lebih baik kita menurut saja. Kamu tahu kan bagaimana Papa jika tidak dituruti kemauannya?"


Adelia menerima dress tersebut sambil merangkul pundak mamanya dan berkata,


Ayana pun terkekeh dan keluar dari ruangan tersebut. Dia menutup pintu ruangan tersebut dan berdiri di depan pintu, untuk menunggu putri kesayangannya, keluar setelah berganti pakaian.


Setelah beberapa saat, pintu ruangan tersebut terbuka. Keluarlah gadis cantik dengan memakai dress berwarna hitam yang membalut tubuh seksinya, sehingga terlihat sangat pas dan kontras dengan warna kulitnya.


Ayana terpukau melihatnya. Matanya berbinar, kagum akan kecantikan gadis yang ada di hadapannya itu.


Ayana mendekati putrinya itu dan memegang kedua lengannya seraya berkata,


"Sayang... Kamu cantik sekali."


"Siapa dulu dong mamanya...," ujar Adelia sambil terkekeh.


Ayana ikut terkekeh mendengar candaan putrinya yang juga memujinya. Dia menggandeng tangan Adelia dan berjalan menuju meja riasnya.


"Mama ingin melihat putri cantik Mama ini berhias. Siapa tahu Mama nanti jadi bisa pakai make up macam-macam begini seperti kamu," ucap Ayana sambil mendudukkan tubuh Adelia pada kursi yang ada di depan meja rias tersebut.


"Mama tidak usah berhias pun sudah cantik. Tidak mungkin Papa nempel terus sama Mama jika Mama tidak cantik luar dalam begini," ujar Adelia sambil memandang mamanya dari cermin yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Ayana mengambil kursi yang ada di dalam kamar tersebut, untuk diletakkan di dekat Adelia, seraya tersenyum dan berkata,


"Kamu itu sama seperti Papamu. Kalian sama-sama pintar merayu dan memuji Mama."


Adelia terkekeh dan mulai mengaplikasikan beberapa make up yang ada di hadapannya pada wajah cantiknya. Semua yang dilakukan Adelia membuat Ayana semakin kagum padanya. Wajah cantik putrinya, kini menjadi lebih fresh dan cantik natural mengunakan make up tersebut.


"Sini Ma, Lia pakaikan make up nya," ucap Adelia sambil menghadap ke arah mamanya yang berada di sampingnya.


Ayana pun menurut. Dia memejamkan matanya ketika Adelia memberikan sentuhan-sentuhan make up dari tangannya pada wajah cantik mamanya.


"Sudah Ma, coba Mama lihat di cermin," tukas Adelia sambil menatap kagum hasil karyanya.


Ayana pun membuka matanya. Matanya berbinar melihat wajahnya pada cermin tersebut. Dia menatap kagum dan berkata,


"Apa ini benar-benar Mama?"


Adelia tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berbisik di telinga mamanya.


"Mama sangat cantik. Pantas saja kedua anak kembar Mama sangat rupawan."


Ayana terkekeh mendengar pujian dari putrinya. Mereka berdua beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar tersebut.


Kedua laki-laki yang sedang berdiri di bawah tangga dengan setelan jas berwarna hitam, menatap kagum pada dua orang perempuan yang sedang turun dari tangga. Dua laki-laki itu terpana, mereka kagum akan penampilan cantik kedua perempuan tersebut.


"Kalian berdua sangat cantik. Rasanya Papa tidak ingin membawa kalian pergi, agar kecantikan kalian tidak dinikmati oleh laki-laki lain," ujar Rafael sambil menatap penuh minat pada istrinya.


"Lalu Papa mau ngapain di rumah?" tanya Adelio sambil mengernyitkan dahinya, menatap heran pada papanya.


"Main-mainlah di kamar berdua sama Mama," jawab Rafael sambil tersenyum genit dan mengedipkan sebelah matanya pada istrinya.


Adelia dan Adelio menggelengkan kepalanya mendengar ucapan papanya dan tingkah genitnya pada mama mereka. Adelio mengulurkan tangannya pada Adelia. Mereka berjalan terlebih dahulu keluar rumah, meninggalkan papanya yang sedang merayu mamanya.


Kedua orang paruh baya yang sudah berpenampilan sangat rapi dan berkelas itu, berjalan bergandengan tangan menyusul kedua anak kembar mereka.


Keluarga yang terdiri dari empat orang tersebut, berangkat dengan menggunakan satu mobil, yang dikendarai oleh Adelio. Sedangkan Adelia duduk di sebelahnya dan kedua orang tua mereka duduk di bagian belakang.


Mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan malam kota tersebut dengan sangat santai. Setelah beberapa saat, mobil itu masuk ke dalam parkiran sebuah restoran mewah yang terlihat sangat berkelas.


Rafael menggandeng mesra tangan istrinya. Sedangkan Adelia berjalan dengan Adelio, mereka bergandengan tangan di belakang kedua orang tuanya.


"Selamat datang Pak Rafael dan keluarga. Kami sangat senang bisa makan malam bersama dengan kalian," ujar seorang pria sambil tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya pada Rafael.


Rafael pun menerima uluran tangan pria tersebut dan membalas senyumannya.

__ADS_1


Pria tersebut melihat ke arah belakang Rafael dan berkata,


"Apa mereka anak-anak Bapak? Apa mereka si duo luar biasa itu?"


__ADS_2