Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 53 Curiga


__ADS_3

Ekspresi kaget dari Kenzo, membuat duo kembar semakin penasaran. Apa lagi pertanyaan Adelia pada Kenzo yang mempertanyakan tentang panggilan telepon tersebut, membuatnya semakin bingung saat ini.


Adelia menatapnya dengan penuh tanda tanya, menantikan jawaban dari Kenzo. Hal itu membuat Kenzo menjadi serba salah. Dia merasa bimbang saat ini, antara jujur atau tidak pada Adelia yang merupakan calon tunangannya saat ini.


"Ken? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Adelia kembali.


Seketika Kenzo tersadar dan menatap duo kembar itu, secara bergantian. Dia menghela nafasnya dan berkata,


"Aku baik-baik saja. Maaf telah membuat kalian menunggu. Ayo kita masuk, pasti Om dan Tante sudah menunggu."


Bukan hanya Adelia saja yang menatapnya seperti itu. Adelio pun menatapnya dengan tatapan curiga. Hal itu membuat Kenzo merasa gugup. Dia menggandeng tangan Adelia, seraya berkata,


"Ayo, Sayang, kita masuk ke dalam."


Adelia pun menurut. Dia berjalan bergandengan tangan bersama dengan Kenzo, masuk ke dalam rumah. Sedangkan Adelio, dia berjalan di belakang mereka berdua dengan pikirannya yang masih tertuju pada Kenzo.


Sepertinya aku harus mencari tahu lebih banyak lagi tentang Kenzo. Aku gak mau adikku terluka karenanya, Adelio berkata dalam hatinya, sambil melihat punggung Kenzo yang berada tepat di hadapannya.


"Selamat malam Om, Tante," sapa Kenzo pada Rafael dan Ayana, ketika sudah berada di ruang makan.


Ayana dan Rafael menoleh ke arah sumber suara. Mereka tersenyum hangat menyambut kedatangan Kenzo di antara anak kembar mereka.


"Kenzo, kapan datang?" tanya Ayana menyapa Kenzo.


"Bareng sama Lia dan Lio, Tante," jawab Kenzo sambil tersenyum.


"Duduklah, Ken. Anggap rumah sendiri. Kita makan malam bersama sekarang," tutur Rafael dengan ramah pada Kenzo.


Adelio terlebih dahulu duduk di kursinya. Setelah itu Adelia duduk di samping Adelio, tempat yang biasanya digunakannya. Sedangkan Kenzo, dia terpaksa duduk di ujung meja, yang kursinya masih kosong.


Kenzo menatap Adelia, seolah dia tidak rela jauh darinya. Adelio masih saja memperhatikannya. Dia tersenyum tipis dan berkata,


"Duduklah di sebelah Lia, Ken. Bawalah kursi itu ke sini."


Kenzo terkesiap mendengar perkataan dari Adelio. Dia tidak mengira jika saudara kembar dari gadis yang dicintainya itu, sedari tadi memperhatikannya.


Bahkan Rafael dan Ayana pun melihat ke arahnya, seolah mereka bertanya melalui tatapan mata mereka.

__ADS_1


Kenzo tersenyum lebar, menutupi rasa canggung dan malunya. Dia bergerak memindahkan kursi tersebut di sebelah kursi yang diduduki Adelia, setelah Adelio memberi kode pada Kenzo dengan menggerakkan dagunya ke arah Adelia.


Ayana dan Rafael menahan senyumnya, ketika Kenzo sudah duduk di hadapan mereka. Sedangkan Kenzo dan Adelia merasa malu pada kedua orang tua yang ada di depan mereka.


Adelio mencairkan suasana yang hening dengan candaannya. Biasanya disahuti oleh Adelia, tapi kali ini Adelia malu-malu di depan Kenzo. Dia hanya tersenyum menanggapi candaan dari kakaknya.


"Tumben Princess kesayangan kita diam saja? Apa sedang sakit gigi?" tanya Rafael sambil terkekeh.


Ayana pun melihat ke arah Adelia, memperhatikan dengan seksama apa yang terjadi dengan putri kesayangannya.


"Apa benar yang dikatakan Papa, Sayang?" tanya Ayana dengan tatapan ingin tahunya.


Seketika Adelia terhenyak dan melihat ke arah depan, tepat di mana mama dan papanya sedang duduk di sana. Kemudian dia berkata,


"Lia baik-baik saja Ma, Pa. Lia hanya--"


"Jaga image di depan Kenzo. Benar kan, Sayang?" sahut Adelio sambil terkekeh.


Sontak saja Adelia menoleh ke arah kakaknya yang berada di sampingnya. Dia menatapnya dengan kesal dan berkata,


"Kakak harusnya diam saja kalau sudah tahu."


Suasana di meja makan yang tadinya hening, kini menjadi lebih santai dengan candaan dari mereka. Bahkan Ayana dan Rafael pun ikut larut dalam candaan kedua anak kembar mereka.


Tiba-tiba saja terdengar kembali dering telepon dari ponsel Kenzo. Semua mara mengarah padanya. Sumber suara itu begitu jelas dari arah Kenzo berada.


Wajah Kenzo saat ini terlihat sedikit ketakutan. Bahkan dia enggan sekali mengambil ponsel dari saku celananya.


"Telepon kanu kan, Kenzo?" tanya Rafael pada Kenzo.


"Iya, Om. Punya Kenzo," jawab Kenzo yang terlihat sungkan pada Rafael dan Ayana.


"Angkatlah terlebih dahulu. Siapa tahu itu telepon penting," tutur Rafael pada Kenzo.


Adelio dan Adelia kembali menatap Kenzo, seperti tatapan mereka pada saat telepon Kenzo berdering sebelum masuk ke dalam rumah. Tatapan penuh tanda tanya itu, kembali membuat Kenzo merasa tidak tenang


"Angkat Ken. Itu teleponnya berbunyi lagi," ujar Ayana, bermaksud mengingatkan Kenzo agar segera mengangkatnya.

__ADS_1


Kenzo mengambil ponselnya dari dalam sakunya. Dia merasa sangat gugup saat ini. Apa lagi Adelia duduk di dekatnya.


Gawat, bagaimana jika Adelia tau? Bagaimana jika dia melihat namanya? Kenzo bertanya-tanya dalam hatinya.


"Ken, angkat teleponnya!" ujar Adelia seraya menggerak-gerakkan tangan Kenzo yang sedari tadi hanya merogoh saku celananya, tanpa mengeluarkan ponselnya.


Terpaksa Kenzo mengeluarkan ponselnya yang masih saja berbunyi. Kegugupan Kenzo terlihat dengan jelas saat ini. Bahkan dia tidak berani melihat layar ponselnya.


"Ken!" tukas Adelia kembali, seolah menyuruh Kenzo agar segera mengangkat telepon tersebut.


Sontak saja Kenzo melihat layar ponselnya. Begitu pula dengan Adelia yang tanpa sengaja ikut melihatnya.


Namun, seketika Kenzo membalikkan layar ponselnya dan mengantongi kembali ponsel tersebut. Bukan hanya itu saja, bahkan dia menekan tombol untuk mematikan ponselnya, ketika berada di dalam saku celananya.


Adelia terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Kenzo saat ini. Dia merasa jika calon tunangannya telah menyembunyikan sesuatu darinya.


Adelio pun melihat hal yang sama. Dia semakin yakin jika Kenzo sedang merahasiakan sesuatu dari mereka. Dalam hatinya berkata,


Sepertinya aku benar-benar harus menyelidikinya.


Rafael dan Ayana juga menaruh curiga pada sikap Kenzo saat ini. Merasa tidak bisa menahan rasa ingin tahunya, Ayana pun bertanya,


"Dari siapa Ken?"


"Dari Mama, Tan," jawab Kenzo sedikit gugup.


"Mamamu?" tanya Ayana kembali sambil mengernyitkan dahinya.


"Iya, Tan," jawab Kenzo diiringi anggukan kepalanya.


"Lalu, kenapa tidak kamu angkat?" tanya Ayana kembali dengan tatapan menyelidik.


Kenzo gugup saat ini, sehingga dia terlihat salah tingkah. Kemudian dia tersenyum lebar untuk menutupi kegugupannya dan berkata,


"Biasanya Mama hanya menanyakan keberadaan saya saja, Tan."


"Harusnya kamu angkat, Ken. Pasti Mamamu sedang cemas saat ini. Tidak baik menolak panggilan telepon dari orang tua, jika kamu tidak sedang sibuk. Biar Tante yang menghubungi mamamu," tutur Ayana disertai helaan nafasnya, seolah sedang kecewa pada sikap Kenzo.

__ADS_1


"Jangan!" seru Kenzo dengan cepatnya.


__ADS_2