
"Arion?" tanya kembali wanita pemilik warung tersebut.
"Iya Bu. Apa Ibu mengenalnya?" tanya Adelio kembali pada pemilik warung tersebut.
"Apa Mas sedang mencari Arion yang bekerja sebagai security di salah satu bank swasta itu?" tanya kembali pemilik warung tadi pada Adelio.
Pemuda tampan tersebut tersenyum dan menganggukkan kepalanya, membenarkan pertanyaan si pemilik warung tersebut seraya berkata,
"Iya, benar Bu. Dia Arion yang saya cari. Apa Ibu mengenalnya?"
"Sudah pasti saya kenal Mas. Dia itu anaknya Pak Fabian dengan istrinya yang pertama. Akan tetapi, pada hari kematiannya, ada seorang wanita yang menggendong Arion layaknya bayinya sendiri. Dia juga tinggal di rumah itu. Beberapa hari setelah pemakaman bundanya Arion, wanita itu menikah dengan Pak Fabian. Jadilah wanita itu sekarang menjadi ibunya," jawab pemilik warung tersebut secara mendetail.
Adelio tersenyum kaku mendengar cerita si pemilik warung tersebut. Dalam hatinya berkata,
Ternyata keluarganya bermasalah. Semoga saja Adelia gak mempunyai masalah dengan mereka nantinya. Apa mungkin ini yang menggangguku selama ini? Apa wanita yang menjadi ibunya saat ini ada hubungannya dengan kematian ibu kandungnya Arion?
"Mas ganteng ini apanya Arion? Temannya?" tanya si pemilik warung sambil tersenyum genit pada Adelio.
"Emmm... Bukan Bu. Saya hanya ingin mencari--"
"Apa Arion membawa lari barangnya Mas ganteng?" tanya wanita si pemilik warung tersebut.
"Emmm... Itu, dia--"
"Pasti motor barunya ya? Lagi pula dia dapat uang dari mana beli motor bagus seperti itu? Bahkan mereka saja tidak pernah bergaul dengan tetangga. Apalagi ibunya Arion, sepertinya dia takut ditanya macam-macam sama ibu-ibu di sini. Sejak datangnya dia di tempat ini, dia tidak pernah keluar dari rumah sendirian. Dia selalu bersama suaminya. Sebenarnya mereka juga menikah karena warga yang mengancam akan mengusirnya jika mereka tidak menikah, sedangkan mereka sudah hidup serumah," sahut wanita tersebut layaknya memberi informasi gosip di tempatnya tinggal.
Adelio menghela nafasnya. Dia tidak mengira jika akan mendapatkan informasi lebih lengkap tentang keluarga Arion dari tetangganya. Bahkan kini ada banyak wanita yang menimpali perkataan pemilik warung tersebut. Kini, Adelio mirip sekali seperti ibu-ibu yang sedang bergosip di warung tersebut.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, dia melihat pergerakan saudara kembarnya dari layar ponselnya. Segera dia membayar makanannya dan berpamitan pada para wanita yang mengajaknya bergosip. Dengan kecepatannya, Adelio segera meninggalkan warung tersebut dan bersembunyi di suatu tempat yang dirasa aman olehnya.
Benar sekali dugaan Adelio. Saat ini dia melihat Arion sedang membonceng Adelia melewati tempat persembunyiannya. Setelah dirasa aman, dengan segera Adelio keluar dari persembunyiannya dan mengendarai motornya untuk mengejar Arion.
Seperti biasa, dari jarak yang aman Adelio mengikuti mereka. Dengan kemampuannya dan pengalamannya, dia mampu merasakan sesuatu sesuai dengan apa yang dirasakan oleh hatinya. Terlebih lagi saat ini menyangkut saudara kembarnya. Dia akan turun tangan sendiri untuk menjaganya.
Motor Arion melaju dengan kecepatan lambat. Sepertinya dia memang sengaja melakukannya agar bisa lebih lama bersama dengan Adelia. Bahkan kedua tangan Adelia dipaksa olehnya untuk melingkar di pinggangnya.
Adelio menghela nafasnya melihat Arion yang mengambil paksa tangan Adelia dan diletakkan di pinggangnya. Adelia memang melepas kembali tangannya dari pinggang Arion, tapi pada saat itu juga, Arion membuat motornya tersendat, sehingga bagian depan badan Adelia menempel sempurna pada punggungnya. Tidak hanya itu saja, Adelia secara reflek memeluk erat pinggang Arion.
"Sialan! Berani-beraninya dia melakukan hal itu pada adikku. Sepertinya memang aku tidak bisa membiarkan Adelia hanya berdua saja dengannya," ucap Adelio dari dalam helm full faced nya.
Adelia akan melepas tangannya yang melingkar erat pada pinggang Arion, tapi si pemilik pinggang itu tidak membiarkannya. Tangannya memegang jari-jari tangan Adelia, sehingga gadis cantik itu tidak bisa melepaskan pelukannya.
Keterpaksaan kembali dilakukan oleh Adelia. Dia tidak melepaskan pinggang Arion yang dipeluknya erat karena gerakan refleknya.
Sedangkan Arion, dia tersenyum puas dengan apa yang dilakukannya. Dia memang sudah mengetahui kelemahan Adelia yang sangat baik hati, sehingga dia memanfaatkan hal itu untuk mengambil simpatinya dan tidak akan melepaskannya.
Adelia pun memajukan kepalanya, tepatnya bibirnya berada di sebelah helm bagian telinga Arion. Kemudian dia berkata,
"Aku mau langsung pulang saja."
"Tapi ini masih sore, Sayang. Kita bisa jalan-jalan ke tempat lain," tukas Arion yang ingin sekali mempertahankan Adelia agar tetap bersamanya.
"Justru masih sore itu, aku ingin pulang. Aku gerah, aku ingin mandi dan berganti pakaian. Lagi pula aku sangat capek, aku ingin tidur setelah ini," ujar Adelia yang berusaha menolak dengan halus keinginan Arion.
Arion tidak bisa berkata-kata lagi. Dia diam seolah menuruti kemauan Adelia. Akan tetapi, dia masih berusaha mencari akal agar Adelia tetap bersamanya untuk waktu yang lebih lama lagi.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana kalau kita ke taman?" tanya Arion pada kekasihnya.
"Ngapain? Aku mau pulang aja, gerah, aku ingin mandi," jawab Adelia dengan tegas menolaknya.
"Di taman kita bisa makan es krim dan ngobrol. Banyak orang jual makanan dan lainnya. Biasanya ramai banget di taman kalau sore begini," bujuk Arion kembali, seolah tidak lelah berusaha mengubah keputusan Adelia untuk pulang.
"Arion, aku ingin cepat pulang sekarang. Aku gak lagi ingin ke taman," ujar Adelia disertai helaan nafasnya menahan kekesalan pada pacar barunya itu.
Melihat ada kios bunga di tepi jalan yang dilewatinya, Arion berhenti tepat di depan kios bunga tersebut. Adelia mengernyitkan dahinya dan berkata,
"Ngapain berhenti di sini Arion?"
"Aku mau beli bunga buat kamu," jawab Arion sambil tersenyum manis pada kekasihnya itu.
"Buat apa? Aku gak lagi mau nyekar. Kita pulang saja, aku sudah lelah," ujar Adelia dengan sedikit kesal.
Mendengar penolakan dari Adelia, membuat Arion tidak berani kembali membujuknya. Masa perjanjian percobaan pacaran mereka hanya satu bulan saja. Dia tidak ingin jika hubungan mereka hanya berlangsung satu minggu saja.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Arion segera melajukan motornya menuju rumah Adelia. Hanya beberapa menit saja, motor tersebut sampai di depan rumah Adelia.
"Sampai sini saja Arion. Maaf ya, aku mau langsung mandi dan istirahat. Sampai jumpa besok," ucap Adelia sebelum dia berlari masuk ke dalam rumahnya.
Arion memandang nanar punggung Adelia yang sudah hilang, bagai tertelan pagar rumahnya yang sangat kokoh.
"Sudah biasa Arion, jangan menyerah. Bukankah sudah ada banyak kemajuan di antara kalian berdua? Kamu harus semangat dan pantang menyerah," ucap lirih Arion menyemangati dirinya sendiri.
Setelah itu dia kembali pulang dengan perasaan sedikit hampa yang menyertainya. Jalanan yang dilewatinya terasa berbeda. Ketika bersama dengan Adelia, jalanan tersebut terasa berwarna. Akan tetapi, kini jalanan itu terasa hampa ketika dilewatinya seorang diri.
__ADS_1
Di lain tempat, tepatnya di rumah Arion, Intan kembali melihat-lihat fotonya bersama dengan Adelia. Dia memandang foto tersebut sambil mengernyitkan dahinya dan tangannya berusaha memperbesar foto tersebut, hingga terlihat sangat jelas semua bagian wajah Adelia. Dia pun berkata,
"Sepertinya wajah Adelia mirip dengan seseorang. Tapi siapa?"