Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 21 Kencan Pertama


__ADS_3

Weekend pun tiba. Hari ini Arion mengajak Adelia untuk jalan bersama layaknya orang berpacaran. Pagi-pagi sekali Arion menjemput Adelia di rumahnya. Dia disambut hangat oleh Rafael dan Ayana.


Berbeda dengan Adelio, dia hanya melewati Arion saja yang sedang duduk di ruang tamu setelah dia menyapanya. Adelio memang cuek padanya, itu semua karena dia merasakan tidak nyaman dan merasa harus menjauhinya.


Arion senang dengan sambutan hangat dari keluarga Adelia. Kini dia merasakan percaya dirinya sudah kembali lagi.


"Ma, Pa, Lia berangkat dulu ya," pamit Adelia pada Ayana dan Rafael sambil bergantian mencium punggung tangan mereka.


Arion pun mengikuti Adelia. Dia berpamitan pada Ayana dan Rafael dengan mencium punggung tangan mereka berdua secara bergantian.


"Ya sudah, hati-hati ya kalian berdua. Pulangnya jangan terlalu malam," tutur Ayana pada Adelia.


"Tolong jaga Adelia ya," ucap Ayana pada Arion sambil tersenyum pada Arion.


"Tentu saja Tante. Saya akan menjaga Adelia tanpa harus diminta oleh Tante atau Om, karena saya sangat mencintai Adelia," ujar Arion dengan penuh keyakinan.


Ayana dan Rafael saling menatap. Mereka tersenyum lega mendengar perkataan Arion yang terlihat sangat mencintai Adelia.


Rona merah tersirat pada wajah Adelia. Dia merasa malu mendengar perkataan Arion pada kedua orang tuanya mengenai dirinya.


Dia berjalan terlebih dahulu menuju halaman tanpa mengajak Arion yang masih berdiri di hadapan orang tua Adelia.


Ayana dan Rafael memandang Arion dan Adelia dengan senyum bahagia mereka. Baru kali ini putri mereka menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Terlebih lagi pemuda tersebut bisa meyakinkan mereka akan besarnya perasaan cintanya pada Adelia.


Senyuman Arion tidak pernah pudar sejak dia berangkat dari rumahnya. Apalagi sekarang, dia merasa sangat bahagia karena sudah berkenalan dengan kedua orang tua Adelia.


"Arion, kita mau ke mana?" tanya Adelia sambil memasang telinganya untuk mendengarkan jawaban dari kekasihnya itu.


"Apa kamu mempunyai tempat yang ingin kita kunjungi?" tanya Arion sambil mengemudikan motornya.


Motor itu dilajukan olehnya secara perlahan menyusuri jalan yang masih sedikit lenggang pagi itu.


"Enggak ada. Terserah kamu saja," jawab Adelia sambil menjaga jarak agar bagian dadanya tidak menempel pada punggung Arion.


Arion melajukan motornya menuju suatu tempat yang ada dalam pikirannya. Setelah beberapa saat, motor tersebut berhenti di sebuah tempat yang sangat banyak pengunjungnya.

__ADS_1


"Arion, kenapa kita ke sini? Apa kamu ingin membeli sesuatu?" tanya Adelia sambil menatap heran pada sekitarnya.


Arion turun dari motornya dan melepaskan helm yang dipakainya. Kemudian dia melepaskan helm yang dipakai oleh Adelia sambil tersenyum menatapnya.


"Ayo Sayang, kita beli sesuatu untuk dimasak di rumahku bersama dengan ibuku," ujar Arion sambil menggandeng tangan Adelia.


"Hah?! Memasak? Tapi aku--"


"Bukan kamu yang memasak, tapi ibuku. Kita hanya membantunya saja nanti," sahut Arion sambil tersenyum dan berjalan sambil menggandengnya masuk ke dalam sebuah pasar tradisional yang ada di dekat rumahnya.


Bagaimana ini? Aku memang bisa memasak, tapi aku gak yakin jika orang tua Arion menyukai masakan buatanku, Adelia berkata dalam hatinya.


Arion mengajak Adelia berbelanja beberapa bahan makanan. Dia membeli beberapa sayuran, daging, ikan, ayam serta buah-buahan.


Adelia hanya bisa pasrah mengikuti Arion berbelanja sambil memaksakan senyumnya ketika Arion tersenyum padanya.


Setelah merasa apa yang dibelinya sudah lengkap, Arion segera mengajak Adelia menuju rumahnya.


Adelia merasa tidak nyaman dengan tatapan mata orang-orang di sekitar jalan menuju rumah Arion. Mereka menatap Adelia sambil berbisik-bisik membicarakannya.


Begitulah suasana kampung tempat tinggal Arion. Hampir semua penduduknya suka membicarakan orang lain. Bahkan mereka rela menghabiskan waktu mereka untuk mengurusi urusan orang lain.


"Ayo Sayang, kita masuk," ajak Arion sambil menggandeng tangan Adelia setelah melepas helmnya dan helm kekasihnya.


Ada sedikit keraguan dari dalam hati Adelia ketika melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut. Bukannya karena rumah Arion tidak sebesar rumahnya, tapi karena hatinya yang ragu untuk masuk ke dalam rumah tersebut.


"Ibu... Ayah... Arion pulang membawa calon menantu kalian," seru Arion dengan riangnya sambil menggandeng Adelia berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.


"Mana calon mantu Ayah?" tanya Fabian yang terdengar dari dalam ruang tengah berjalan menuju ruang tamu.


Intan, sang istri mengikuti Fabian yang terlihat sangat bahagia menyambut kedatangan kekasih putranya. Dia bersikap biasa saja, tidak memperlihatkan kesenangannya ataupun kebenciannya pada Adelia.


Arion merangkul pundak Adelia dan menuntunnya untuk berdiri di hadapan Fabian dan Intan. Kemudian dia berkata,


"Perkenalkan Bu, Yah, ini Adelia, pacar Arion. Cantik, bukan?"

__ADS_1


Fabian tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Adelia seraya berkata,


"Perkenalkan, saya Fabian, ayah Arion."


Adelia menerima uluran tangan Fabian sambil tersenyum dan berkata,


"Saya Adelia, Om."


Kemudian Adelia mengulurkan tangannya pada Intan setelah jabatan tangannya dilepaskan oleh Fabian. Intan menerima jabatan tangan Adelia sambil tersenyum manis dan berkata,


"Intan, ibu Arion."


"Saya Adelia, Tante," ucap Adelia sambil tersenyum manis pada Intan.


Arion memberikan dua kantong plastik yang berisi belanjaannya pada Intan seraya berkata,


"Bu, ini tadi kami berbelanja di pasar untuk makan siang kita nanti. Ibu tidak keberatan kan memasak untuk kami semua?"


Intan menerima dua kantong plastik belanjaan tersebut dan tersenyum manis pada Arion seraya berkata,


"Tentu saja Ibu mau. Ini sudah menjadi tugas Ibu untuk memasakkan anak dan suami."


"Kami berdua akan membantu Ibu," ujar Arion sambil merangkul pundak Adelia.


Adelia hanya bisa memaksakan senyumnya karena merasa sangat tidak nyaman saat ini. Entah mengapa dia merasa aneh dengan perasaannya. Biasanya dia selalu ceria dan gampang berbaur dengan orang lain meskipun orang tersebut baru saja ditemuinya.


Dia lumayan cantik juga. Sepertinya memang dia benar-benar kaya. Sudah terlihat jelas dari pakaian dan barang-barang yang dipakainya. Aku harus membuat hubungan mereka berhasil hingga pernikahan. Kapan lagi aku mempunyai menantu kaya dan cantik seperti dia, Intan berkata dalam hatinya.


Intan tersenyum dan menggandeng tangan Adelia seraya berkata,


"Lebih baik Adelia saja yang membantu Ibu. Bukankah sudah menjadi tugas wanita untuk berada di dapur?"


Tangan Adelia ditarik oleh Intan menuju dapur. Dia sangat bersemangat untuk meraih tujuannya agar Adelia sangat dekat dengannya.


"Apa Adelia bisa memasak?" tanya Intan sambil mengeluarkan barang belanjaannya dari kantong plastik yang dibawanya.

__ADS_1


"Hanya sedikit-sedikit, Tante," jawab Adelia sambil tersenyum canggung pada Intan.


"Jangan malu, Ibu akan mengajarimu. Sebenarnya dulu Ibu juga tidak bisa memasak, tapi lama-lama Ibu bisa dengan sendirinya karena belajar. Apa kamu di rumah tidak pernah memasak ya?" tanya Intan sambil tersenyum.


__ADS_2