Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 65 Tidak Sengaja Mengaku


__ADS_3

Suasana hening di dalam mobil itu, kini menjadi tegang. Pasalnya, seorang pemuda tampan yang selama ini dikagumi oleh Mia, kini sedang menanyakan perasaannya pada pemuda tersebut.


"Kok diam? Apa ada yang salah?" tanya Adelio sambil fokus pada kemudinya.


Mia hanya menggelengkan kepalanya untuk menanggapi pertanyaan yang diberikan oleh Adelio padanya. Lidahnya terasa kelu, tidak bisa mengeluarkan suara. Tentu saja karena dia sedang malu pada Adelio saat ini.


Pemuda tampan yang sedang menggodanya itu, kini menahan tawanya ketika sedikit melirik ke arah Mia yang sedang tertunduk sambil menganggukkan kepalanya, seolah takut padanya.


"Apa kamu takut padaku?" tanya Adelio pada Mia tanpa melihat ke arahnya.


"Enggak," jawab lirih Mia, masih dengan menundukkan kepalanya.


"Lalu, kenapa gak jawab pertanyaanku tadi?" tanya Adelio kembali.


"Pertanyaan yang mana?" tanya Mia, mencoba mengalihkan pertanyaan pemuda tampan tersebut.


Adelio menyeringai mendengar pertanyaan yang diberikan Mia padanya. Dia tahu betul apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. Masih dengan kejahilannya, Adelio pun kembali bertanya,


"Apa benar kamu menyukaiku?"


"Hah?!" celetuk Mia yang terkejut mendengar kembali pertanyaan dari Adelio yang diberikan padanya.


Adelio terkekeh mendengarnya. Dia tidak berhenti begitu saja untuk menjahili Mia, sahabat dari saudara kembarnya.


"Adelia yang mengatakannya. Katanya kamu terpesona dan kagum padaku ketika pertama kali kita bertemu," ucap Adelio sambil mengemudikan mobilnya.


"Enak saja. Siapa yang bilang begitu?" tanya Mia dengan gugupnya.


"Kan sudah aku bilang. Adelia yang mengatakannya. Tenang saja, kamu gak perlu malu padaku," ujar Adelio kembali sambil tersenyum.


Senyuman Adelio membuat Mia menjadi kesal. Baginya, Adelio sedang mengejeknya saat ini. Seketika dia menoleh ke arah pemuda tampan itu dan berkata dengan kesalnya,


"Siapa yang menyukaimu? Jangan terlalu percaya diri, karena kagum bukan berarti suka."


Sontak saja Adelio terkekeh mendengar perkataan Mia. Dia merasa berhasil membuat gadis manis itu menjadi kesal. Apa yang dilakukan oleh Adelio saat ini, sama ketika dia bersama dengan Adelia. Dia selalu menjahili saudara kembarnya, sama dengan menjahili Mia, tak ubahnya seperti sedang memainkan mainan barunya.


"Bukankah kamu mendengarnya? Aku yang mengatakan itu padamu. Lagi pula, Adelia juga mengatakan hal yang sama padaku," jawab Adelio sambil terkekeh.


"Dasar Lia kurang ajar. Ember sekali mulutnya," ucap lirih Mia, seolah sedang mengomeli Adelia.


Adelio semakin terkekeh mendengarnya. Dia semakin bersemangat untuk menjahilinya.

__ADS_1


"Tuh kan, memang benar kalau kamu menyukai--"


"Enggak. Aku gak menyukai kamu. Aku hanya kagum padamu. Lagi pula, siapa yang gak kagum dan terpesona melihat laki-laki tampan sepertimu? Bukan hanya aku saja, pasti banyak yang merasakan hal sama sepertiku. Jadi kamu jangan berpikiran jika aku menyukaimu," sahut Mia dengan panjang lebar, seolah tidak ada jeda untuk berbicara.


Sontak saja Adelio tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Mia yang sedang meluapkan kekesalannya.


"Jadi kamu sudah mengakui jika aku tampan dan kamu kagum juga terpesona padaku?" tanya Adelio di sela tawanya.


Seketika Mia tersadar jika dia telah mengakui perasaannya pada Adelio. Kini dia kembali gugup dan salah tingkah. Dia menghadap ke arah jendela, seolah sedang memperhatikan apa yang ada di luar sana.


Adelio pun tidak membahasnya lagi. Dia lebih memilih diam dan fokus pada jalanan serta kemudinya. Sedangkan Mia, dia kini sedang merutuki kebodohannya yang dengan mudahnya mengatakan seluruh pikirannya.


Dalam mobil itu pun, kini suasana menjadi hening, sangat tenang. Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing, hingga tidak terasa mobil itu pun sampai di depan rumah Mia.


Mobil itu berhenti tepat di depan bangunan mewah dan besar yang tidak kalah dengan rumah keluarga Atmaja serta rumah keluarga Kenzo. Adelio menoleh ke arah Mia dan berkata,


"Apa benar ini rumahmu?"


Mia menganggukkan kepalanya sambil melepaskan sabuk pengamannya. Kemudian dia menghadap ke Adelio dan berkata,


"Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang."


"Gak disuruh mampir dulu nih?" tanya Adelio sambil tersenyum manis pada Mia.


Senyuman Adelio memang sangat memikat. Itulah salah satu penyebab Mia terpesona padanya. Sejak awal melihatnya, dia tidak bisa berkedip menatap senyuman manis pemuda tampan itu yang sangat memikat hatinya dan menyita semua perhatiannya.


"Mia! Apa kamu sedang terpesona padaku?" tanya Adelio diiringi dengan senyumannya.


Seketika Mia tersadar dari lamunannya. Dia menatap ke arah lainnya dan berkata,


"Terima kasih."


"Kok aku gak disuruh mampir?" tanya Adelio kembali, berniat menjahili Mia.


Gerakan tangan Mia yang sedang membuka pintu mobil, seketika terhenti saat mendengar pertanyaan dari Adelio. Kemudian dia berkata,


"Untuk apa kamu mampir ke rumahku?"


"Biasanya kalau orang mengantar pulang ke rumah, pasti diajakin mampir. Kok kamu gak ajakin aku mampir ke dalam rumahmu?" tanya Adelio sambil menahan tawanya melihat Mia yang tidak berani menghadap ke arahnya.


"Ngapain mampir?" balas tanya Mia dengan sewotnya.

__ADS_1


"Apa kamu gak ingin memperkenalkan aku dengan kedua orang tuamu?" tanya Adelio pada Mia sambil menahan tawanya.


Sontak saja Mia menoleh ke arah Adelio yang sedang tersenyum padanya, seraya berkata,


"Apa kamu harus berkenalan dengan kedua orang tuaku?"


"Pasti mereka senang bertemu denganku," jawab Adelio dengan bangganya.


Dahi Mia mengernyit mendengar jawaban dari Adelio. Kemudian dia bertanya,


"Kenapa mereka bisa senang jika bertemu denganmu?"


"Sudah pasti mereka senang bertemu dengan calon menantu yang sangat tampan ini," jawab Adelio dengan sangat percaya diri.


"Calon menantu? Siapa?" tanya Mia, seolah memperjelas pengakuan Adelio.


Adelio memajukan badannya, sehingga Mia memundurkan badannya untuk menghindari Adelio yang badannya semakin mendekatinya.


Mia merasa tidak bisa bergerak saat Ini. Wajah Adelio berada tepat di hadapannya, sehingga dia merasa terpaku di sana. Mata mereka berdua beradu, hingga beberapa detik kemudian, Mia tersadar dan kembali memalingkan wajahnya, seraya berkata,


"Aku rasa orang tuaku gak senang kamu datang menemui mereka."


Setelah mengatakan itu, Mia segera membuka pintu mobil tersebut dan dengan cepatnya dia bergerak keluar dari mobil itu.


Adelio segera keluar dari mobilnya dan berseru,


"Mia, tunggu! Apa maksudmu tadi? Kenapa kedua orang tuamu tidak akan suka bertemu denganku?"


Seruan Adelio berhasil menghentikan langkah Mia. Tanpa menoleh ke arah belakang, Mia pun berkata,


"Sepertinya mereka gak suka punya menantu tampan."


Seketika Adelio terkesiap mendengar jawaban dari Mia. Merasa aneh dengan jawaban tersebut, dia pun kembali bertanya,


"Kenapa gak suka? Bukankah setiap orang tua suka mempunyai menantu yang tampan?"


"Kata siapa?" tanya Mia tanpa membalikkan badannya ke arah Adelio yang berada beberapa langkah di belakangnya.


"Bukankah semua orang seperti itu?" tanya Adelio kembali dengan rasa penasarannya.


Mia membalikkan badannya dan tersenyum mengejek pada pemuda tampan tersebut, seraya berkata,

__ADS_1


"Buktinya ada yang gak seperti itu."


"Kenapa?" tanya Adelio dengan sangat antusias.


__ADS_2