Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 82 Berkenalan


__ADS_3

"Kalian sudah datang?"


Terdengar suara seorang wanita yang sangat familiar di indera pendengaran Adelia dan Kenzo.


Sontak saja mereka berdua menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik dan penampilannya sangat anggun serta elegan.


"Mama?!" celetuk Adelia dengan sumringah.


"Ke sinilah. Gabung bersama kami di sini," tutur Ayana sambil tersenyum ramah memanggil mereka berdua.


Adelia berjalan menghampiri mamanya yang sudah bersama dengan papa dan kakaknya. Sedangkan Kenzo mengekor di belakangnya, mengikuti calon tunangannya.


"Mama, ini ada apa? Kenapa restoran ini sepi sekali? Apa mereka sedang tutup? Lalu, kenapa kalian semua ada di sini?" tanya Adelia bertubi-tubi pada mamanya.


Adelio, Ayana dan Rafael terkekeh mendengar pertanyaan dari Adelia. Mereka saling menatap, sehingga membuat Adelia semakin bingung dengan ekspresi mereka.


"Restoran ini sengaja ditutup untuk malam ini. Jadi, hanya keluarga kita dan tamu Papa saja yang bisa masuk ke dalam restoran ini," jawab Adelio sambil mencubit gemas pipi adiknya.


"Isss Kakak, kebiasaan deh. Lia kan udah dandan cantik, kalau make up nya ilang, gimana?" omel Adelia dengan bibirnya yang mengerucut karena kesal.


Sontak saja semua orang yang ada di sana terkekeh mendengar omelan Adelia yang sangat menggemaskan dengan ekspresinya saat ini.


Kenzo melangkah, sehingga berada tepat di sebelah Adelia. Tangannya merangkul pundak gadis cantik itu, sambil tersenyum manis padanya, dan berkata,


"Make up nya tidak akan luntur, Sayang. Percuma dong, aku bayar mahal-mahal jika kualitas make up mereka biasa saja."


"Dengar itu kata Kenzo," tukas Adelio sambil terkekeh.


"Maaf, kami agak telat."


Tiba-tiba terdengar suara berat seorang pria, yang membuat mereka semua beralih memandangnya.


Rafael tersenyum ramah dan berjalan menghampiri pria tersebut, seraya mengulurkan tangannya dan berkata,


"Selamat malam, Pak Aryo dan keluarga."

__ADS_1


Pria yang disapa dengan nama Aryo itu, menjabat tangan Rafael dan memeluknya sekilas. Kemudian melepaskan pelukan tersebut, dan berkata,


"Maaf. Harusnya kami yang datang terlebih dahulu, karena kami yang mengundang Pak Rafael dan keluarga."


"Tidak masalah Pak. Kami disambut baik oleh semuanya. Kami sangat berterima kasih malahan, karena semuanya telah dipersiapkan dengan baik hanya untuk pertemuan keluarga kita ini," tutur Rafael sambil tersenyum ramah.


"Tidak perlu sungkan, Pak. Tentu saja kita harus menyiapkan semuanya dengan sangat baik, karena tamu yang kami undang sekarang merupakan tamu kehormatan kita," ujar Aryo sambil terkekeh.


Aryo maju selangkah, mendekatkan badannya pada Rafael dan berbisik di telinganya,


"Calon besan."


Rafael ikut terkekeh menanggapi Aryo yang sedang terkekeh setelah berbisik padanya. Dalam hati, Rafael berkata,


Semoga saja Adelio menyukai putri Pak Aryo. Jadi, perjodohan ini bisa benar-benar dilaksanakan.


"Oh iya, perkenalkan, ini istri saya, dan putri saya," tukas Aryo sambil merangkul pundak seorang wanita yang berpenampilan sangat elegan.


Rafael pun menjemput istrinya yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Kemudian dia membawanya untuk berkenalan dengan keluarga Aryo.


"Wanita cantik ini, istri saya, Ayana. Sedangkan mereka berdua ini adalah anak kembar saya, Adelia dan Adelio. Dan yang di sebelah Adelia adalah calon tunangannya, Kenzo, putra dari Bapak Danu Wardani," tutur Rafael sambil menunjuk anggota keluarganya satu per satu.


Mereka semua saling bersalaman, memperkenalkan diri mereka masing-masing. Setelah itu mereka duduk di meja yang sudah disiapkan untuk acara makan malam kali ini.


Meja tersebut tertata rapi dan sangat elegan. Di atasnya sudah tersaji bermacam-macam hidangan mewah yang sangat menggugah selera mereka.


"Silahkan dinikmati. Kita ngobrol-ngobrolnya nanti saja, setelah makan," ujar Aryo dengan senyum ramahnya.


Mereka semua menikmati hidangan yang ada di meja dengan sangat tenang. Setelah mereka selesai menikmati hidangan utama, mereka berbincang-bincang sambil menikmati hidangan penutup yang baru saja disediakan di atas meja mereka.


Adelia mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Dia mengirimkan pesan pada kakaknya.


Bagaimana, Kak? Apa Kak Lio menyukainya?


Getaran ponsel yang ada di dalam saku jas Adelio, membuatnya sedikit kaget. Dengan segera dia mengambil ponsel tersebut, dan membuka kunci ponselnya. Dia tersenyum membaca pesan dari saudara kembarnya yang sedang duduk di sebelahnya. Kemudian dia membalas pesan tersebut dengan cepatnya.

__ADS_1


Aku belum mengenalnya, Sayang. Bagaimana aku bisa menilainya?


Adelia menatap kesal pada kakaknya setelah membaca balasan pesan yang diterimanya. Setelah itu dia kembali mengirimkan pesan pada kakaknya.


Lihat dia. Amati dia. Bukankah Kak Lio sangat pandai menilai seseorang hanya dengan melihatnya saja?


Adelio tersenyum tipis membaca pesan dari Adelia. Dengan gerakan jari cepatnya, dia pun membalas pesam tersebut.


Jika bukan untuk pasangan seumur hidup, pasti Kakak sudah memberikan penilaian Kakak sedari tadi, tapi ini untuk pasangan pendamping hidup Kakak, jadi Kakak gak bisa memberikan penilaian tanpa mengenalnya lebih dekat terlebih dahulu.


"Ah, benar juga," ucap lirih Adelia setelah membaca balasan pesan dari kakaknya.


Semua mata mengarah pada Adelia. Sayangnya gadis cantik yang menjadi kebanggaan keluarga Atmaja itu, tidak sadar jika sedang diperhatikan oleh semua orang yang berada di meja tersebut.


Kenzo yang duduk di sebelah Adelia, memegang tangannya dan berbisik di telinganya.


"Ada apa? Semuanya sedang melihatmu."


Berbeda dengan Adelio yang sedang menahan senyumnya melihat ekspresi Adelia saat ini. Semua menatap Adelia dengan tatapan seolah bertanya padanya.


Adelia menjadi salah tingkah. Dia tersenyum lebar dan menundukkan kepalanya, sambil memakan dessert miliknya.


"Sebaiknya Adelio dan Rania ngobrol berdua saja, supaya mereka bisa berkenalan lebih dekat," tutur Rafael untuk mengalihkan perhatian mereka semua dari Adelia.


"Benar. Lebih baik begitu. Nah, kalian berdua ngobrol saja di tempat lain. Kalian bisa ngobrol di taman atau ruangan VIP. Terserah kalian mau ngobrol di mana," ujar Aryo menanggapi penuturan Rafael.


Rafael memandang Adelio dan tersenyum padanya. Adelio pun beranjak dari duduknya, dia mengerti akan isyarat yang diberikan oleh papanya.


"Rania, ikutlah bersama dengan Adelio," tukas Aryo pada putrinya.


Rania pun beranjak dari duduknya. Dia berjalan di belakang Adelio untuk mengikutinya. Ternyata Adelio mengajak Rania untuk berbicara dengannya di taman yang ada di restoran tersebut. Tempat yang sama pada saat Adelia dan Kenzo sedang berkenalan malam itu.


"Kita duduk di sana," ucap Adelio sambil tersenyum pada Rania, dan menunjuk ke arah kursi taman yang terletak tidak jauh dari mereka berdiri saat ini.


Rania pun mengangguk dan tersenyum padanya. Dia berjalan menuju kursi tersebut, bersamaan dengan Adelio. Mereka pun duduk bersebelahan di kursi tersebut.

__ADS_1


"Apa kamu sudah memiliki pacar?"


__ADS_2