
"Ada apa Bu?" tanya Arion dengan dahinya yang mengernyit.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Lebih baik kamu keluar sekarang, kita makan malam bersama," jawab Intan sambil beranjak dari duduknya.
"Arion tidak lapar Bu," tukas Arion disertai helaan nafasnya.
Intan menatap Arion, dia menghela nafasnya dan menarik tangan putranya itu, seraya berkata,
"Makanlah! Kamu perlu banyak tenaga untuk menghadapi kenyataan ini. Lagi pula kamu juga membutuhkan banyak tenaga untuk membalas orang yang menghinamu."
Mendengar ucapan ibunya, Arion menjadi sadar jika dia memang harus kuat untuk mempertahankan Adelia menjadi pacarnya. Dia pun berjalan mengikuti ibunya, menuju meja makan yang sudah ada ayahnya menunggu di sana.
Fabian tersenyum melihat istrinya bersama dengan putranya berjalan menghampirinya. Dalam hati Fabian selalu bersyukur mendapatkan Intan sebagai istrinya, meskipun tidak mengetahui asal-usul dirinya.
"Duduklah, mari kita makan bersama," tutur Fabian sambil tersenyum pada istri dan juga putranya.
Seperti biasanya, Intan duduk di kursi sebelah Fabian, sedangkan Arion duduk di kursi depan ayahnya. Dia memandang Intan yang sedang mengambilkan makanan untuk Fabian. Saat itu juga dia membayangkan Adelia sedang mengambilkan makanan untuknya.
Arion, pemuda yang memiliki senyuman manis itu, hanya tidak beruntung dalam ekonominya. Selama ini dia tidak pernah menyalahkan nasibnya yang dilahirkan dari keluarga sederhana. Ayahnya pun selalu berusaha mencukupi kebutuhannya, sehingga dia tidak pernah kekurangan.
Namun, berbeda dengan saat ini. Arion yang dewasa dan sudah mengenal cinta, dia merasa hidupnya tidak adil, ketika mencintai seorang gadis yang berlatar belakang dari keluarga kaya raya. Bahkan dia mencoba untuk menyetarakan kehidupan mereka dengan membeli motor sport bekas untuk menyamai kakak dari gadis yang dicintainya.
"Makanlah Arion."
Tiba-tiba suara Intan membuat Arion tersadar, ketika ibu sambungnya itu meletakkan piring yang berisi makanan di hadapannya.
"Terima kasih, Bu," ucap Arion sambil tersenyum.
Intan menangkap kesedihan dalam senyuman Arion. Dia mengasuh Arion sejak bayi, sehingga dia tahu semua akan ekspresi wajah putra tirinya itu.
Dia memang menganggap Arion sebagai putranya sendiri, untuk menggantikan bayi yang telah keguguran ketika masih dalam kandungannya. Semua itu masih menjadi bekas kemarahan yang mendalam di hatinya, sehingga sampai detik ini pun, dia masih saja menyalahkan Rafael dan Ayana.
__ADS_1
Obsesinya untuk bisa hidup mewah pun masih ada dalam relung hatinya, sehingga dia berniat akan membalas dendam pada Ayana yang telah mengambil Rafael darinya. Tidak hanya itu saja, dia ingin membalas kematian bayi dalam kandungannya, meskipun dengan mengenyahkan nyawa Ayana dari muka bumi ini.
Sialan kau Ayana! Aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan nyaman dan bahagia. Lihat saja, aku akan membuatmu menangis karena telah berani merebut milikku dan membuat anak-anakku menderita! Intan berkata dalam hatinya, dengan membayangkan wajah Ayana yang tersenyum pada fotonya bersama Adelia.
Kini, kemarahan Intan pada keluarga Rafael semakin bertambah. Terlebih lagi pada Ayana. Rasa balas dendam itu sudah memenuhi hatinya, hingga kemarahannya telah merajai seluruh isi hatinya.
Sepanjang malam Intan memikirkan cara untuk membalaskan dendamnya pada Ayana. Dia berjalan mondar-mandir, ke sana kemari untuk mencari cara yang tepat, agar Ayana menderita seperti dirinya yang menderita selama bertahun-tahun sembunyi dari kejaran polisi.
Tiba-tiba saja ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Intan mengetahui siapa yang sedang memeluknya dari belakang. Dia hanya tersenyum, tanpa menanyakan apa pun.
"Ada apa, Sayang? Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Fabian yang sedang memeluk istrinya dari belakang.
Intan menggelengkan kepalanya, tanpa menoleh ke arah suaminya, seraya berkata,
"Aku baik-baik saja."
Fabian mengurai pelukannya, tangannya bergerak untuk memutar badan istrinya, agar menghadap padanya. Dia menatap wajah istrinya dan berkata,
"Tapi aku merasa tidak begitu. Apa ada yang mengganggumu?"
"Apa kita harus melamar Adelia sekarang?"
Seketika dahi Fabian mengernyit. Dia berjalan menghampiri istrinya seraya berkata,
"Memangnya ada masalah dengan mereka berdua?"
"Sepertinya begitu," jawab Intan disertai helaan nafasnya.
"Kenapa harus melamar sekarang? Apa mereka sudah benar-benar yakin?" tanya Fabian kembali.
Intan menatap suaminya dengan penuh tanda tanya. Kemudian dia bertanya,
__ADS_1
"Apa kamu tidak menyetujuinya?"
Fabian meraih kedua tangan istrinya, serta menatap dengan intens manik matanya dan berkata,
"Bukan begitu. Aku hanya merasa jika mereka harus penjajakan terlebih dahulu. Tidak baik juga jika terlalu terburu-buru. Jika mereka nantinya gagal, kita juga yang sedih. Aku tidak mau kamu menyalahkan dirimu sendiri jika nantinya ada sesuatu yang terjadi dengan hubungan mereka."
"Apa kamu menyesal dengan pernikahan kita?" tanya Intan dengan tatapan seriusnya.
"Menyesal? Tidak. Aku sama sekali tidak pernah menyesalinya," jawab Fabian dengan cepatnya.
"Lalu, kenapa kamu menolak saranku untuk melamar Adelia secepatnya, sebagai calon menantu kita?" tanya Intan kembali dengan sedikit kesal.
"Jika kamu, aku yakin, bahkan sangat yakin, meskipun saat itu aku baru mengenalmu dalam beberapa hari. Tapi ini beda. Adelia dari keluarga kaya raya, sedangkan kita dari keluarga biasa saja. Apa kamu yakin jika Adelia mau masuk ke dalam keluarga kita yang biasa ini? Apa mungkin keluarga Adelia yang kaya raya itu, mau merestui Arion menjadi menantu mereka? Aku memikirkan semua itu, Sayang," tutur Fabian disertai helaan nafasnya yang terdengar sangar berat.
Intan memegang erat kedua tangan suaminya dan berkata,
"Jangan khawatir, Sayang. Aku akan berusaha agar hubungan mereka berdua bisa berlanjut hingga pernikahan mereka. Aku akan berusaha membuat kedua orang tua dan keluarga besar Adelia merestui hubungan mereka. Jika perlu, aku akan membuat mereka mempercepat pernikahan Adelia dan Arion."
Fabian mengernyitkan dahinya mendengar ucapan istrinya, yang sangat mengganggunya. Dia pun berkata,
"Bagaimana caranya?"
"Apa pun itu, aku akan melakukannya," jawab Intan dengan seringainya yang tercetak jelas di bibirnya.
"Sayang, apa yang akan kamu lakukan? Jangan berbuat yang aneh-aneh. Biarkan saja mereka berdua menikmati masa pacaran mereka. Jika bertengkar, itu hal yang wajar. Palingan juga besok mereka akan baikan lagi. Lebih baik kita tidak ikut campur dengan urusan mereka," tutur Fabian dengan tatapan penuh harap pada istrinya.
Membiarkan mereka berpisah? Tidak akan. Aku tidak mau jika Arion dan Adelia berpisah. Aku akan membalaskan semua rasa sakit hatiku secara perlahan pada keluarganya, Intan berkata dengan penuh dendam dalam hatinya.
"Lagi pula aku yakin jika Adelia dan Arion akan tetap bersama, hingga mereka memutuskan untuk menikah," ujar Fabian sambil tersenyum.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?" tanya Intan sambil menyipitkan matanya, menatap suaminya seolah tidak percaya padanya.
__ADS_1
"Adelia gadis yang baik. Sepertinya dia baik-baik saja berada di dalam keluarga kita yang biasa-biasa saja seperti ini. Jadi, buat apa kita mengkhawatirkan hubungan mereka?" jawab Fabian sambil terkekeh.
"Bagaimana jika kedua orang tuanya dan keluarga besarnya yang menentang hubungan mereka berdua?" tanya Intan dengan tatapan menyelidik pada suaminya.