
Adelia berangkat bekerja dengan perasaan was-was. Dia merasa jika Arion akan menanyakan tentang pesan-pesannya dan panggilan teleponnya.
Gadis cantik itu melihat ke sekitarnya, ketika dia masih berada di dalam mobilnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah sedang waspada, agar keberadaannya tidak diketahui oleh orang lain.
Perlahan dia membuka pintu mobilnya, kemudian dia keluar dari dalam mobil tersebut secara perlahan. Bahkan dia menutup pintu mobil tersebut dengan sangat pelan dan hati-hati sekali, agar tidak menimbulkan bunyi.
Huuufffttt...
Gadis cantik itu menghela nafasnya yang terasa lega. Bibirnya melengkung ke atas, setelah melihat daerah sekitarnya masih sepi. Kakinya melangkah sangat hati-hati sekali. Dengan sangat pelan dia melangkahkan kakinya, layaknya seorang pencuri yang takut ketahuan.
"Apa kamu sedang mencari sesuatu?"
Suara seorang laki-laki yang berada di belakangnya, membuat langkah Adelia terhenti. Dia menelan ludahnya dan memejamkan matanya, seolah sedang tertangkap basah melakukan sesuatu.
Waduh... gawat. Sepertinya akan panjang masalahnya. Aku harus bagaimana? Apa aku harus lari saja? Adelia bertanya-tanya dalam hatinya.
Namun, saat itu juga dia teringat akan nasehat Adelio, ketika mereka akan berangkat bekerja.
Jangan lari dari kenyataan, Sayang. Kamu bukan bocah, kamu sudah dewasa. Hadapi masalahnya, dan selesaikanlah. Jika memang harus diakhiri, akhiri saja tanpa ragu. Tidak usah merasa bersalah, karena rasa bersalah kamu itu nantinya akan membuatmu menderita.
Adelia yang masih memejamkan matanya, dia menghirup nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Kemudian dia membuka matanya, siap untuk menghadapi laki-laki yang saat ini sudah menjadi pacarnya.
Tiba-tiba dia terkejut, ketika melihat wajah seorang laki-laki yang berniat dihindarinya, kini malah berada tepat di hadapannya. Bahkan wajah tampan tersebut berjarak sangat dekat dengan wajahnya.
"Arion?!" celetuk Adelia dengan gugupnya.
Arion tersenyum manis padanya. Dia menggerakkan wajahnya, tepat di samping telinga Adelia dna berbisik,
"Apa ada yang terjadi padamu?"
Seketika mata Adelia terbelalak mendengar bisikan dari Arion. Pemuda tampan itu tersenyum tipis melihat ekspresi wajah gadis pujaannya. Dia menjauhkan wajahnya dari wajahnya gadisnya itu, dan menatap intens padanya.
"Enggak. Gak terjadi apa-apa. Aku hanya sedikit mengantuk saja," jawab Adelia dengan melihat ke arah lain untuk menghindari tatapan mata Arion.
"Mengantuk? Semalam tidur jam berapa?" tanya Arion dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Semalam diajak Papa menghadiri jamuan makan malam dengan rekan-rekan bisnisnya. Kita sekeluarga pulang larut sekali. Jadi, aku sekarang masih mengantuk," jawab Adelia dengan lancarnya.
Arion menghela nafasnya mendengar alasan dari gadis yang sudah mencuri hatinya. Kemudian dia kembali bertanya,
"Apa kamu gak baca semua pesanku?"
Mampus! Ternyata tujuannya memang menanyakan tentang pesan dan telponnya, Adelia mengomel dalam hatinya.
Adelia menatap pemuda tampan yang berada di hadapannya dan dengan tegasnya berkata,
"Maaf, aku baru tahu tadi pagi. Aku memang tidak membalasnya ketika tahu tadi, karena aku pikir kita akan bertemu di kantor."
"Lalu, bagaimana dengan teleponku?" tanya Arion dengan rasa ingin tahunya.
"Maaf, HP ku berada di dalam clutch. Aku gak tau jika ada telepon darimu," jawab Adelia dengan jujur, sehingga kejujuran itu tersampaikan dari matanya saat ini.
Arion tersenyum getir mendengar jawaban dari kekasih hatinya. Dia merasa jika gadis cantik yang selalu ada di hatinya itu, tidak mempunyai rasa yang sama dengannya. Bahkan dia merasa jika dirinya tidak ada artinya di hati Adelia.
"Apa kamu gak sedikit pun memikirkan aku?" tanya Arion sambil tersenyum getir menatap Adelia.
"Jika kamu memang selalu memikirkan aku, pasti semalam kamu akan selalu memberikan kabar padaku di setiap detik, menit ataupun jam. Biasanya orang yang berpacaran seperti itu. Aku rasa kamu gak seperti itu. Apa di sini hanya aku saja yang berharap lebih dengan hubungan kita?" tanya Arion dengan tatapan penuh luka.
Adelia menangkap kesedihan dalam mata Arion. Dia menghela nafasnya dan berkata,
"Kamu tahu bukan, jika jamuan makan malam dengan keluarga rekan bisnis Papa itu sangat penting. Aku gak mungkin membuat malu Papaku dengan sibuk bermain HP ketika bersama mereka."
Arion kembali tersenyum getir. Dia kini merasa dunia mereka terlalu berbeda. Bahkan dia tidak pernah merasakan bagaimana acara makan malam resmi dengan orang-orang berkelas.
"Bukankah semalam kamu sempat mengunggah foto di story kamu? Apa kamu gak melihat semua pesanku? Aoa kamu juga gak melihat berapa kali aku menghubungimu?" tanya Arion kembali dengan rasa ingin tahunya.
"Lia! Adelia!"
Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang berseru memanggil nama Adelia.
Adelia dan Arion pun menoleh ke arah sumber suara. Adelia tersenyum pada gadis yang memakai seragam sama dengannya, sedang melambaikan tangannya ke arahnya, disertai dengan senyumannya.
__ADS_1
"Ngapain di situ? Ayo masuk!" seru perempuan itu kembali pada Adelia.
Adelia menganggukkan kepalanya pada perempuan tersebut. Kemudian dia menoleh ke arah Arion dan berkata,
"Semalam sudah sangat larut, aku mengantuk dan aku langsung tertidur setelah mengunggah foto itu."
Setelah mengatakan hal itu, Adelia berjalan meninggalkan Arion yang masih berdiri menatapnya. Gadis cantik itu berjalan sambil tersenyum pada perempuan yang sedang menunggunya dan berkata,
"Tunggu aku Mia!"
Arion menatap nanar dan penuh kecewa pada punggung gadis pujaannya itu. Saat ini dia belum bisa menanyakan semuanya pada gadisnya itu. Dia menghela nafasnya yang terasa berat dalam dadanya, ketika teringat kata-kata yang diucapkan oleh ibunya, sebelum dia berangkat bekerja.
Langkah kaki Arion sangat berat. Dia mencoba berpikir untuk mempertahankan hubungannya dengan Adelia.
"Aku tidak boleh melepaskan Adelia. Susah payah aku mendapatkannya. Aku harus tetap mempertahankan hubungan ini," ucap lirih Arion seiring dengan langkah kakinya.
Di sisi lain, Adelia sedang dicerca pertanyaan oleh Mia. Sahabat bawelnya itu memberikan banyak pertanyaan tentang kebersamaannya dengan Arion tadi pagi.
"Katakan! Sebenarnya ada apa sih antara kalian berdua? Kenapa aku sering mendapati kalian bersama?" tanya Mia seolah sedang menyelidik.
"Kita hanya mengobrol biasa saja. Apa butuh alasan jika dua orang sedang berbicara? Bisa saja salah satu dari mereka bertanya, dan yang satunya lagi menjawab. Sama seperti kita saat ini. Kamu memaksaku menjawab semua pertanyaan konyol mu itu," jawab Adelia disertai dengan helaan nafasnya.
"Ck! Beda. Aku gak seperti dia," ujar Mia dengan sewotnya.
"Sudah jelas sekali kamu beda dengannya. Kamu perempuan dan dia laki-laki," sahut Adelia sambil terkekeh.
"Bukan itu Lia... Tatapan matanya itu beda ketika berbicara denganmu. Tatapan mataku gak seperti itu," tukas Mia yang masih saja dengan pemikirannya.
Adelia terkekeh mendengar perkataan sahabatnya itu. Kemudian dia berkata,
"Memangnya kamu bisa melihat tatapan kamu sendiri?"
Seketika wajah Mia berubah kesal. Dengan sewotnya dia berkata,
"Apa kalian berdua sedang berpacaran?"
__ADS_1