
"Tunggu!" seruan dari Adelia, membuat Adelio dan Rafael menghentikan niatnya untuk keluar dari mobil.
Adelio dan Rafael menatap ke arah Adelia. Ayah dan putranya itu sedang bertanya dengan tatapan mata mereka yang seolah sedang mempertanyakan sesuatu pada Adelia.
"Aku hanya ingin memperingatkannya agar tidak melakukan hal ini lagi. Jadi, Lia harus menemuinya dan berbicara empat mata dengannya," ujar Adelia dengan sungguh-sungguh.
Rafael dan Adelio melihat keseriusan dari Adelia. Bukan hanya itu saja, Ayana pun memperhatikan putri kesayangannya itu. Kemudian dia bertanya,
"Apa perlu didampingi kakakmu?"
"Tidak Ma, Lia sudah dewasa. Lia sudah tahu harus bagaimana menghadapi laki-laki yang nekat sepertinya," jawab Adelia dengan serius.
"Karena itulah Kakak harus menemanimu. Kamu lupa jika sudah berkali-kali tidak bisa memutuskannya karena kasihan? Bahkan kamu menyetujui permintaannya untuk berpacaran dengannya karena kasihan dan tidak ada cara untuk menolaknya, bukan?" tanya Adelio dengan tegasnya.
"Kakak! Kenapa masih ingat? Kenapa Kakak ngomongin itu di depan Mama dan Papa?" protes Adelia sambil merengek pada kakaknya.
Adelio terkekeh mendengar perkataan adiknya. Dia pun berkata,
"It's real. So, gak ada yang perlu ditutup-tutupi. Bahkan Mama dan Papa saja sudah tahu itu. Jangan lupa, kamu yang memberitahu Mama dan Papa sendiri. Jadi, jangan tuduh aku yang memberitahukannya pada mereka."
Seketika wajah manyun Adelia pudar, berganti dengan ekspresinya yang sedang tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya. Kemudian dia berkata,
"Oh iya, ya. Lia lupa."
"Adelia! Adelia! Tolong keluar sebentar! Aku ingin bicara denganmu!" seru Arion seraya mengetuk jendela kaca mobil yang ditumpangi keluarga Atmaja.
Adelia menghela nafasnya seraya tangannya memegang dadanya. Dia menyiapkan kalimat yang akan disampaikan pada Arion.
Namun, sedetik kemudian dia terkesiap ketika ponsel dalam sakunya berdering. Segeralah tangannya merogoh sakunya dan mengambil ponsel tersebut. Sedangkan Adelio dan Rafael, menatap tajam ke arah Arion yang berada di luar pintu mobil Adelia.
Gadis cantik yang dipanggil dengan sebutan my princess oleh keluarga Atmaja, kini menghela nafasnya ketika melihat layar ponselnya. Kemudian dia menoleh ke arah Arion dan menatap kesal padanya.
"Lia keluar dulu," ucap Adelio yang bermaksud pamit pada keluarganya, sebelum keluar dari mobil tersebut.
"Kakak ikut," timpal Adelio sambil bergerak untuk membuka pintu mobilnya.
"Gak perlu, Kak. Lia akan berusaha menyelesaikannya sendiri, agar dia benar-benar bisa mengerti jika aku sangat terganggu dengannya," ucap Adelia dengan tatapan memohon pada kakaknya.
__ADS_1
Ponsel Adelia kembali berdering. Adelio menatap curiga pada Arion yang kini sedang meletakkan ponsel di telinganya, sambil berusaha melihat ke dalam mobil untuk mencari Adelia.
"Sialan! Pasti laki-laki gak tau diri itu yang menghubungimu," tukas Adelio dengan geram.
"Lia keluar sekarang agar dia gak ribut lagi," ujar Adelia yang terlihat sangat kesal saat ini.
Adelio bergerak cepat memegang tangan adiknya untuk mencegahnya. Akan tetapi dia segera melepaskannya ketika melihat tatapan mata Adelia yang memohon padanya.
"Hati-hati. Kakak akan tetap stand by di sini," tutur Adelio sembari melepaskan tangan saudara kembarnya.
Adelia tersenyum pada kakaknya. Kemudian dia menoleh ke belakang, di mana mama dan papanya sedang menatap cemas padanya.
"Mama dan Papa tidak usah cemas. Lia bisa kok menghadapi dia," ucap Adelia sambil tersenyum pada kedua orang tuanya.
"Tapi Mama rasa, kamu harus ditemani dengan kakakmu, agar--"
"Justru dia akan lebih nekat nantinya, Ma. Biar Lia saja yang menghadapi dia. Semoga saja dia mau menuruti kemauan Lia," sahut Adelia sambil memegang tangan Ayana.
Rafael pun memegang tangan istrinya dan tersenyum padanya, disertai anggukan kepalanya untuk mencoba membujuk istrinya agar mau mengijinkan Adelia menemui Arion.
"Baiklah. Hati-hati ya, Sayang," tutur Ayana sambil mengusap lembut rambut putri cantik yang menjadi kesayangannya.
Sebelum membuka pintu mobilnya, Adelia mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Setelah itu dia membuka pintu mobilnya.
Merasakan pintu mobil yang dipegangnya telah dibuka, Arion melangkah mundur, memberikan jalan untuk Adelia keluar dari mobil tersebut.
Arion tersenyum melihat Adelia yang sedang berdiri tepat di hadapannya. Dia tersenyum pada gadis cantik tersebut. Kemudian dia bergerak menghampiri Adelia seraya mencoba meraih tangannya dan berkata,
"Sayang, aku rindu."
Sontak saja Adelia melangkah mundur. Dia menghindari Arion dan merentangkan tangan sebelah kanannya ke depan untuk menghentikan Arion agar tidak mendekatinya.
Langkah kaki Arion pun terhenti. Dia menatap nanar pada sosok gadis cantik yang sangat ingin ditemuinya.
"Ada apa? Kenapa kamu sampai senekat ini datang ke rumahku?" tanya Adelia dengan sedikit sewot, sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Aku rindu sama kamu. Selain itu, ada temanku yang mengundang kita untuk makan malam bersama dengan pacarnya. Jadi dia mengadakan semacam kencan bareng. Aku harap kamu bersedia," jawab Arion dengan tatapan meminta diiringi dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
Sontak saja Adelio, Rafael dan Ayana menyeringai. Mereka mendengar dari kaca jendela yang sengaja mereka buka sedikit agar mendengar obrolan Adelia dengan Arion. Mereka bertiga saling menatap dan Adelio berkata dengan kesalnya,
"Gak tau diri, dia."
"Maaf Arion, aku tidak bisa menuruti permintaanmu," ujar Adelia dengan tegas.
"Ayolah, Sayang. Kali ini saja. Aku mohon. Aku gak enak sama temanku. Apalagi dia sudah ada di tempat janjian bersama dengan pacarnya. Aku mohon, sekali ini saja," pinta Arion dengan tatapan penuh harap.
Adelia menghela nafasnya. Jujur saja jika hatinya iba padanya. Apalagi mata Arion memperlihatkan kesedihan dan sangat mengharapkannya. Dia mencoba berpikir dan mencari jalan terbaik, sekaligus untuk meminta Arion tidak lagi mengganggunya.
Arion bergerak melangkah maju untuk mendekati Adelia. Seketika Adelia pun bergerak melangkahkan kakinya mundur, untuk menjaga jarak dengan pemuda itu.
"Tolong, jangan mendekat lagi," ujar Adelia dengan tegas sambil merentangkan kedua tangannya di hadapan Arion.
Langkah kaki Arion pun terhenti. Dia menatap nanar gadis cantik pujaan hatinya itu, seraya berkata,
"Aku mohon. Sekali ini saja."
Adelia kembali berpikir. Tidak lama setelah itu, dia pun bertanya,
"Apa kamu mau berjanji?"
"Janji? Janji apa?" tanya Arion dengan kening yang berkerut.
"Aku mau ikut denganmu, tapi ...," ucapan Adelia menggantung di udara.
"Tapi apa?" tanya Arion yang terlihat sangat penasaran.
Adelia menghela nafasnya. Setelah itu dia menatap serius pada Arion dan berkata,
"Aku ingin kamu berjanji padaku."
Seketika bibir Arion melengkung ke atas. Dia merasa ada angin segar dari Adelia untuk mengajaknya makan malam bersamanya.
"Katakan. Apa yang harus aku janjikan padamu?" tanya Arion dengan sangat antusias.
Adelia kembali menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Kemudian dia menatap Arion dan berkata dengan sungguh-sungguh,
__ADS_1
"Aku ingin kamu berjanji padaku, tidak akan lagi menggangguku."