
Adelia tersenyum lebar menanggapi kedua orang tuanya yang sedang bertanya padanya. Dengan cepatnya dia berjalan melewati celah antara mama dan papanya, kemudian dia membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
Adelio terkekeh melihatnya. Dia pun berjalan melewati orang tuanya dan masuk ke dalam mobil. Dia duduk di kursi pengemudi dan segera menyalakan mesinnya.
Rafael melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil mereka. Duduklah mereka di kursi belakang, hanya berdua saja, tanpa gangguan dari siapa pun.
"Lia, apa kamu benar-benar menyetujui perjodohan ini?" tanya Ayana dengan serius pada putrinya.
Adelia menoleh ke arah belakang, tepatnya di mana kedua orang tuanya sedang duduk. Kemudian dia berkata,
"Apa Mama dan Papa bahagia jika Lia menikah dengan Kenzo?"
Ayana dan Rafael saling memandang. Wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu, menghela nafasnya.
"Sayang, Mama dan Papa cuma ingin kamu bahagia. Kebahagiaan kalian berdua, sama saja kebahagiaan kami berdua," tutur Ayana sambil tersenyum menenangkan.
Raut wajah Adelia pun berubah. Tiba-tiba dia merasa sedih dan helaan nafasnya terdengar layaknya orang yang sedang menghadapi masalah besar.
"Princess kesayangan Papa kenapa? Lagi bingung ya?" tanya Rafael ketika melihat kegelisahan dari wajah putrinya.
"Adelia bingung Pa," sahut Adelio sambil fokus pada jalanan yang ada di depannya.
"Arion?" tanya Ayana, mencoba untuk menerka.
"Atau Kenzo?" timpal Rafael dengan tatapan menyelidik.
"Kalau aku lihat sih Pa, sepertinya si Princess kesayangan Papa ini lebih menyukai Kenzo," sahut Adelio sambil terkekeh di akhir ucapannya.
"Isss... Nyahut aja! Fokus aja tuh sama jalanan," tukas Adelia kesal sambil memukul lengan saudara kembarnya.
"Terserah aku dong. Mulut aku sendiri," sewot Adelio sambil menahan senyumnya.
Rafael dan Ayana terkekeh melihat tingkah kedua anaknya. Suasana seperti inilah yang sangat mereka rindukan.
"Lia, Sayang... Ikuti kata hatimu. Kamu lebih suka menjalin hubungan dengan siapa?" tanya Ayana dengan lembut.
"Jangan karena merasa kasihan, lalu kamu menerima hatinya," sahut kembali Adelio yang masih fokus pada kemudinya.
"Kakak!" seru Adelia seraya tangannya dengan reflek memukul lengan saudara kembarnya itu.
__ADS_1
Adelio tertawa tanpa melihat ke arah adiknya. Dia sudah bisa memastikan jika saat ini saudara kembarnya itu sedang sangat kesal padanya.
"Kasihan? Maksudnya kasihan bagaimana?" tanya Ayana dengan rasa ingin tahunya.
Mendengar pertanyaan dari mamanya, seketika tangan Adelia berhenti memukul kakaknya.
"Tanyakan saja pada Tuan Putri yang terhormat ini, Ma," jawab Adelio dengan entengnya.
Sontak saja Adelia menatap tajam pada kakaknya, meskipun sudah bisa dipastikan jika Adelio tidak melihatnya. Paling tidak dia bisa merasakan tatapan dari saudara kembarnya itu.
"Adelia, jawab pertanyaan Mama," tukas Rafael dengan tegas.
Adelia menghela nafasnya yang terdengar begitu berat di telinga orang yang mendengarnya. Kemudian dia berkata,
"Lia belum tau, Ma, Pa. Lia hanya...."
Perkataan Adelia tidak bisa dilanjutkannya. Dia merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Kenyamanan yang dirasakannya pada saat pertama kali bersama dengan Arion, kini tidak lagi terasa. Dia merasa ada yang mengganjal dalam hatinya.
"Trial?!" sahut Adelio tanpa menoleh ke arah adiknya.
"Kakak!" seru Adelia kembali sambil memukul lengan kakaknya bertubi-tubi.
"Kenapa, Sayang? Apa kamu benar-benar menerima Arion jadi pacar kamu karena kasihan padanya?" tanya Ayana dengan lembutnya.
Seketika Adelia menghentikan pukulannya. Dia bingung menjawab pertanyaan mamanya.
"Lia belum tau Ma," jawab Adelia disertai helaan nafasnya.
"Segera cari tau dan putuskan siapa yang dipilih oleh hatimu," tutur Rafael dengan tegas pada putrinya.
Rafael tidak ingin jika putrinya akan terjebak dengan perasaan yang semu, seperti dirinya waktu dulu. Rafael yang masih muda waktu itu dengan mudahnya menerima pengakuan cinta Ruby, yang ternyata adalah palsu.
Adelia mengangguk lemah. Jujur saja dia sangat bingung dengan hatinya. Perasaannya pada Arion, berbeda dengan perasaannya pada Kenzo. Mereka punya porsi berbeda dalam hatinya.
Bagaimana ini? Apa yang harus aku putuskan, sedangkan aku saja gak tau dengan apa yang aku rasakan pada mereka. Mana tadi aku sudah berkenalan dengan keluarganya Arion. Jadi, apa yang harus aku putuskan sekarang? Adelia bertanya-tanya dalam hatinya.
Tiba-tiba dahi Adelia disentil oleh jari tangan kiri Adelio, sedangkan tangan kanannya masih memegang kemudi.
"Aaawww...," seru Adelia sambil memegangi dahinya yang sedikit terasa panas, akibat sentilan dari tangan kakaknya.
__ADS_1
"Pikirkan itu nanti saja, sambil tiduran. Di jamin sampai besok pagi kamu belum dapat jawabannya," ucap Adelio sambil terkekeh.
"Kakak iiiih.... Jahat...," rengek Adelia dengan memperlihatkan puppy eyes nya.
Lagi-lagi Rafael dan Ayana tertawa melihat keakraban dari kedua anaknya. Tangan Rafael memeluk istrinya dari samping, dan tangan Ayana melingkar pada pinggang suaminya.
Adelia duduk manis sambil menatap ke arah depan. Dia memikirkan apa yang dikatakan oleh papanya. Perasaannya yang masih samar itu membuat dia kebingungan dengan hatinya.
Adelio sedikit melirik pada adiknya. Tangan kirinya bergerak, memegang tangan Adelia yang berada di pangkuannya. Dia tersenyum tanpa menoleh ke arah saudara kembarnya, berharap dia bisa menenangkannya dan memberitahukan jika saudara kembarnya itu tidak sendirian.
Gadis cantik yang merupakan kembaran Adelio itu pun tersenyum melihat tangan kakaknya yang memegang erat tangannya. Kekesalannya pun hilang sudah. Sedari dulu, kakaknya itu memang sangat pandai menenangkannya. Bukan hanya itu saja, dia juga pandai membuat kesal adiknya. Akan tetapi, dia tidak pernah melalaikan kewajibannya sebagai seorang kakak pada adiknya.
Selang beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Adelio itu memasuki halaman rumah mereka.
Sepasang suami istri yang masih sangat mesra itu segera masuk ke dalam kamar mereka, meninggalkan kedua anak kembarnya yang sudah dewasa, sedang berdiskusi tentang perasaan mereka.
Adelio merangkul pundak Adelia sambil berjalan menaiki tangga, menuju kamar mereka.
"Sayang, pikirkan baik-baik jika gak ingin hidup kamu tersesat. Tanyakan pada hatimu yang paling dalam. Nama siapakah yang tertulis di sana," tutur Adelio sambil membukakan pintu kamar adiknya.
"Siap Kakakku yang paling ganteng dan paling baik sejagad raya. Adik kembarmu ini akan lembur malam ini untuk memikirkannya," ujar Adelia dengan sangat yakin dan percaya diri.
Adelio terkekeh mendengar jawaban dari adiknya. Dengan gerakan cepatnya, kedua tangan Adelio mengacak-acak rambut Adelia, kemudian dengan cepatnya pula dia masuk ke dalam kamarnya.
Adelia tidak membalasnya. Dia mencoba sabar saat ini. Kedua tangannya sibuk merapikan rambutnya. Nafasnya ditiupkan ke atas, sehingga mengenai poninya dan bergerak melambai-lambai.
Terdengar suara tawa Adelio yang berada di dalam kamarnya, dari tempat Adelia berdiri saat ini. Adelia hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Setelah Adelia berganti pakaian dengan piyama tidurnya, dia segera menghempaskan badannya pada ranjang kesayangannya, hingga badannya sedikit terpental-pental mengikuti gerakan pegas yang ada dalam ranjang tersebut.
Tiba-tiba Adelia teringat sesuatu. Dengan segera dia membuka aplikasi chat yang berwarna hijau tua, dia menjadikan story pada aplikasi chat tersebut, beberapa foto yang diambilnya di restoran mewah tadi bersama dengan keluarganya.
Bibirnya melengkung ke atas ketika menerima beberapa pesan, setelah dia mengunggah foto-foto tersebut. Semua pesan yang masuk mengatakan pujian untuknya dan keluarganya. Memang tidak diragukan lagi pesona dari keluarga Atmaja dengan paras indahnya dan juga kepintarannya.
Di lain tempat, tepatnya di rumah Arion, Intan sedang memainkan ponselnya. Sedari tadi dia ingin sekali menghubungi Adelia, hanya saja dia tidak melakukannya, karena larangan dari Arion. Tiba-tiba matanya terbelalak ketika melihat story dari kontak Adelia yang ada pada aplikasi chat berwarna hijau tua.
Jari lentik Intan mencoba memperbesar foto tersebut. Dahinya mengernyit seraya berkata,
"Apa ini? Kenapa Adelia bisa bersama dengan mereka?"
__ADS_1