
Adelio menatap lurus ke depan, mengeratkan gigi-giginya, dan berkata,
"Teror? Gila! Beraninya dia mengganggu Adelia seperti itu. Ini gak bisa dibiarkan. Aku harus memperingatkan dia, agar berhenti mengganggu Adelia."
Dia berpikir, mencari cara agar Arion tidak bisa mendekati Adelia, meskipun berada di tempat kerja yang sama.
Tiba-tiba terdengar suara dering telpon dari ponsel Adelio. Dahinya mengernyit ketika melihat nomor telepon yang tidak dikenalnya pada layar ponselnya. Kemudian dia berkata,
"Nomor siapa ini?"
Suara dering telepon itupun berhenti, sebelum Adelio sempat mengangkatnya. Dia meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya, dan kembali memikirkan tentang Adelia.
Namun, suara dering telepon itu kembali terdengar. Layar ponsel Adelio menyala, dan bergetar. Dilihatnya layar ponsel tersebut oleh Adelio.
"Kenapa dia telepon lagi? Siapa sih sebenarnya yang telepon?" tanya Adelio sembari meraih ponselnya, dan menekan tombol hijau.
"Halo. Siapa ini?" tanya Adelio dengan tegas.
Aku Rania. Apa kita bisa bertemu? Rania menjawab dan bertanya balik pada Adelio dengan ragu-ragu.
Kemarahan akan gangguan telepon tersebut pun musnah sudah, ketika mendengar bahwa si penelepon adalah Rania.
"Bisa. Nanti akan aku beri tahu waktu dan tempatnya," jawab Adelio dengan santainya.
Hari ini. Nanti sore. Apa kamu bisa menjemput ku di rumah? sahut Rania dengan cepatnya, seolah dia sedang memaksa.
Dahi Adelio mengernyit, mendengar permintaan dari Rania yang terdengar aneh di telinganya. Kemudian dia berkata,
"Kebetulan nanti sore aku gak bisa. Ada sesuatu yang harus aku urus, dan itu sangat penting."
Apa itu lebih penting dari permintaan kedua orang tuaku? tanya Rania dari seberang sana.
__ADS_1
Seketika Adelio menghela nafasnya mendengar perkataan Rania yang seolah memojokkannya. Dalam hatinya mengumpat kasar, karena sejatinya seorang Adelio tidak suka jika dipaksa.
"Bukan itu maksudku. Maaf, ini urusan pekerjaan yang gak bisa aku tunda. Lain kali saja kita bertemu," jawab Adelio dengan hati-hati.
Baiklah. Aku mengerti. Besok, aku nantikan kehadiranmu di rumahku. Sampai jumpa Adelio.
Setelah mengatakan hal itu, Rania mengakhiri panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Adelio.
"Kenapa dia memaksa sekali? Apalagi membawa nama kedua orang tuanya, pasti nantinya mereka akan mengatakan pada orang tuaku. Ck! Aku paling gak suka dipaksa. Apalagi aku sedang mengurus Adelia. Keselamatan Adelia lebih penting daripada pertemuan ini," omel Adelio dengan kesalnya pada layar ponselnya yang masih memperlihatkan nomor telepon Rania.
Dia memang sudah sepakat dengan Rania untuk mengenal lebih dekat lagi, tapi tidak dengan cara seperti itu. Apalagi Adelio saat ini sedang dalam misinya melindungi saudara kembarnya dari laki-laki yang mengganggunya. Baginya melindungi Adelia lebih penting daripada proses mengenal dekat Rania, yang akan dijodohkan dengannya.
Tepat kurang dari tiga puluh lima menit jam kepulangan Adelia, sang kakak bergegas pamit pada rekan-rekannya untuk pulang terlebih dahulu. Tanpa membuang-buang waktu, Adelio segera melesat menuju kantor adiknya.
Hanya dalam beberapa menit saja, mobil Adelio sudah terparkir di depan kantor Adelia. Dia memantau dari jarak yang menurutnya aman untuk mengamati kepulangan adiknya.
"Aku ingin tahu, seberapa besar nyalimu untuk bisa mengganggu Adelia," gumam Adelio dengan tatapan tajamnya, menatap ke arah pintu kantor tersebut.
Benarlah firasat dari Adelio. Mata tajamnya memicing penuh dengan emosi, ketika melihat Adelia yang berjalan keluar dari kantornya sedang dihadang oleh Arion di area parkiran kantor tersebut.
"Sial! Dia memang gak main-main," umpat Adelio dengan kesalnya.
Dia masih berusaha mencoba menahan emosinya. Seperti rencananya, dia ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Arion terlebih jauh. Akan tetapi, dia selalu waspada dan bersiap untuk mendatangi mereka.
Arion berdiri tepat di depan Adelia, sehingga Adelia tidak bisa melanjutkan perjalanannya. Gadis yang sedang berjalan seorang diri di area parkiran itu, memandang kesal pada sosok pemuda yang sedang menghadangnya.
"Minggirlah! Aku sedang terburu-buru," ujar Adelia dengan malasnya, seolah memperlihatkan bahwa dia enggan bertemu dengan Arion.
"Adelia, tolong beri aku waktu sebentar. Aku ingin berbicara denganmu," ucap Arion yang mencoba mengiba padanya.
"Aku tidak punya banyak waktu," tukas Adelia dengan malasnya, sambil berusaha berjalan melewati Arion.
__ADS_1
Namun, Arion benar-benar tidak mau melepaskannya. Dia menghalangi setiap pergerakan Adelia, sehingga gadis cantik itu tidak bisa lepas dari hadapannya.
Merasa jengkel pada Arion, Adelia mendorong dengan sekuat tenaga, pada pemuda yang sedang berusaha menghadangnya itu. Akan tetapi, hal itu hanya menjadi sia-sia belaka. Arion lebih kuat darinya, sehingga tubuhnya tidak mudah disingkirkan begitu saja olehnya.
"Minggir! Lepaskan Adelia!"
Terdengar seruan seorang laki-laki dari arah belakang Arion. Seruan tersebut terdengar sangat keras dan penuh dengan amarah, sehingga membuat orang di sekitar mereka menoleh ke arahnya.
"Kak Lio!" seru Adelia dengan sumringah.
Arion pun menoleh ke belakang. Dia menghela nafasnya ketika melihat Adelio berdiri dengan tatapan layaknya orang yang sedang mengajaknya berperang.
Sial! Kenapa dia selalu datang di saat aku bisa berbicara dengan Adelia? Dia selalu mengganggu, Arion mengumpat dalam hatinya.
Tanpa menunggu lama, dengan cepatnya Adelia berlari menuju kakaknya. Dia memeluk erat tubuh saudara kembarnya, seolah mengatakan padanya bahwa dia sedang ketakutan saat ini.
"Kenapa kamu masih mengganggu Adelia? Bukankah kamu sudah berjanji padanya untuk tidak mengganggunya atau mendekatinya?" tanya Adelio dengan tegas, layaknya mengintrogasi seorang pelaku kejahatan.
Arion mendengus kesal mendengar perkataan Adelio. Kemudian dia menjawab pertanyaan Adelio dengan tidak kalah kesalnya.
"Aku hanya ingin berbicara hal yang sangat penting dengannya. Hanya saja aku selalu tidak punya kesempatan untuk melakukannya. Bahkan nomorku pun diblokir olehnya. Apa salah jika aku ingin meminta waktu sebentar saja padanya untuk berbicara berdua?"
Adelia merenggangkan pelukannya pada tubuh kakaknya. Dia menoleh ke arah Arion dan berkata dengan tegas,
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Aku tidak mau lagi berbicara denganmu!"
Seketika Arion merasa dunianya telah hancur mendengar perkataan gadis yang diinginkannya. Adelia, dia menolak dengan tegas untuk berbicara dengannya. Bahkan dia bisa melihat jika Adelia membencinya.
"Kamu dengar sendiri bukan? Adelia tidak ingin berbicara denganmu. Jadi, lebih baik urungkan saja niatmu untuk mencoba berbicara ataupun keinginanmu untuk mendekatinya. Jika kamu masih melakukannya, kami tidak segan-segan untuk memperlihatkan video tentang kamu yang sedang berjanji untuk tidak mengganggu Adelia lagi," tutur Adelio dengan tegas, seolah tidak ingin dibantah olehnya.
Setelah mengatakan itu, Adelio merangkul Adelia dan mengajaknya berjalan menuju mobil mereka.
__ADS_1
"Kalian ingkar! Kalian tidak menepati janji kalian!" seru Arion dengan kerasnya, berusaha menghentikan duo kembar tersebut yang sudah beberapa langkah berjalan meninggalkannya.