
Fabian terkejut dengan nominal harga ponsel yang harus dibayarnya. Matanya terbelalak mendengar si penjaga toko mengatakan harga ponsel tersebut.
"Empat belas juta?" celetuk Fabian, seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Benar Pak. Handphone ini keluaran terbaru. Bapak membayarnya dengan tunai atau menggunakan kartu kredit, Pak?" tanya si penjaga toko tersebut sambil tersenyum.
Fabian terdiam dan tidak bisa berkata-kata saat ini. Dalam hatinya berkata,
Empat belas juta? Bagaimana aku membayarnya?
"Bagaimana, Pak? Apa Bapak membayarnya dengan menggunakan kartu kredit saja?" tanya kembali penjaga toko tersebut pada Fabian.
Fabian masih saja terdiam. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan penjaga toko tersebut masih menatapnya, untuk menunggu jawaban darinya. Melihat suaminya tetap diam dan tidak bergeming ketika ditanya oleh penjaga toko tersebut, Intan pun menggerak-gerakkan tangan Fabian, seraya berkata,
"Sayang, itu ditanya sama masnya, bayarnya pakai apa? Cash atau kredit?"
"Kredit," jawab Fabian tanpa sadar mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Baik, Pak. Sebaiknya Bapak urus dulu untuk pengajuan kreditnya di sana," tutur penjaga toko tersebut, sambil menunjuk ke arah bagian pengajuan kredit.
Intan melongo mendengar jawaban dari suaminya. Dalam hati dia berkata,
Aku kira dia punya banyak tabungan yang bisa buat membayar HP ini. Ternyata bayarnya kredit. Malu-maluin aja sih. Tapi lumayan juga, aku bisa punya HP canggih keluaran terbaru.
Wajah bahagia Intan berangsur hilang dan berganti menjadi kesal. Dia mengikuti suaminya untuk mengajukan kredit ponsel yang akan dibelinya. Setelah beberapa saat kemudian, proses pengajuan kredit itu sudah berhasil.
Fabian menghela nafasnya dengan berat. Terlihat jelas sekali dari raut wajahnya, jika dia sedang syok saat ini. Pikirannya tertuju pada cicilan yang tiap bulannya harus dibayar olehnya. Dalam hatinya berkata,
Satu juta lima ratus ribu rupiah? Aku harus menyisihkan uang sebanyak itu setiap bulannya selama satu tahun? Apa aku bisa? Tidak, mulai sekarang aku tidak boleh banyak pengeluaran. Aku harus bisa mengontrol keuangan, agar bisa membayarnya.
Fabian mengeluarkan kartu debit miliknya dari dalam dompetnya untuk membayar pada saat pengambilan barang. Setelah menyelesaikan pembayarannya, ponsel itu diberikan oleh penjaga toko pada Intan.
Binar kebahagiaan terlihat jelas di wajah Intan saat ini. Mereka keluar dari toko tersebut dengan wajah yang berbeda. Fabian terlihat sangat lesu dan banyak pikiran. Berbeda dengan Intan yang terlihat sangat bahagia.
Tangan Intan bergelayut manja pada lengan Fabian. Dia begitu manja saat ini, hingga membuat Fabian tidak bisa kesal ataupun marah padanya.
__ADS_1
"Sekarang kita pergi ke mana, Mas?" tanya Intan sambil bermanja pada Fabian ketika berjalan menuju parkiran.
"Kita pulang saja ya. HP nya kan sudah terbeli," jawab Fabian sambil tersenyum pada istrinya.
"Pulang? Jarang-jarang loh Mas kita keluar dari rumah berdua seperti ini. Kenapa cuma sebentar saja? Lagi pula biasanya juga kalau kita keluar, pasti makan dulu di luar. Kenapa sekarang langsung pulang?" tanya Intan sambil mengernyitkan dahinya.
Biasanya juga tidak keluar uang sebanyak ini. Kenapa dia tidak sadar juga sih? Apa mungkin selama ini tidak pernah dibelikan barang semahal ini, jadi dia memintanya sekarang? Ah, bagaimanapun juga dia istriku. Aku tidak bisa menyalahkannya, Fabian berkata dalam hatinya.
"Sayang, kok diam sih? Ditanya bukannya jawab, malah diam saja," rengek Intan dengan nada manjanya.
Fabian tersadar dari pikirannya. Dia menatap istrinya dan tersenyum padanya, seraya berkata dengan lembut,
"Sebelum berangkat tadi, kita kan sudah makan, Sayang."
"Kan beda makan di rumah sama di luar. Lagi pula kita makan di luar juga tidak setiap hari," omel Intan.
Fabian kembali menghela nafasnya. Dia tidak bisa menolak kemauan istrinya. Selama ini dia selalu memberikan semua keinginannya. Akan tetapi, baru saat inilah Intan menginginkan hal yang di luar batas kemampuan Fabian. Harga ponsel yang di luar jangkauan Fabian itu, memenuhi pikirannya.
"Ya sudah, ayo kita makan dulu sebelum kembali ke rumah," ujar Fabian diiringi dengan helaan nafasnya.
Seketika bibir Intan yang tadinya manyun, kini melengkung ke atas. Dia kembali tersenyum bahagia ketika suaminya mengabulkan keinginannya.
Lagi-lagi Fabian tidak bisa menolaknya. Dia menganggukkan kepalanya, seolah sedang terhipnotis oleh istrinya.
Motor yang dikendarai Fabian melaju ke arah jalan yang ditunjukkan oleh Intan. Istrinya itu menunjukkan arah mana yang harus mereka lewati untuk menuju tempat makan tersebut.
"Stop, Mas!" ujar Intan menghentikan suaminya.
Sontak saja Fabian menghentikan motornya. Kemudian dia membuka kaca helmnya, menoleh ke arah belakang dan berkata,
"Kenapa kita berhenti di sini, Sayang?"
"Itu tempatnya," jawab Intan sambil menunjuk sebuah restoran yang ada di depan mereka.
"Apa? Restoran itu?" tanya Fabian seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
__ADS_1
"Iya, ayo Mas ke sana. Aku sudah tidak sabar untuk makan di tempat itu. Sudah lama sekaki aku menginginkannya," jawab Intan dengan sangat antusias.
Fabian kembali merasa terjebak. Dia tidak bisa menghindar lagi. Meskipun dengan hati yang berat, Fabian menuruti keinginan istrinya. Mereka masuk ke dalam restoran tersebut.
Intan bergaya bak sosialita di dalan restoran tersebut. Dia berfoto menggunakan ponsel barunya dengan harga yang mahal itu dan bergaya layaknya sosialita yang sedang makan di restoran. Dalam hati dia berkata,
Kapan lagi aku bisa melakukan ini. Untung saja aku memakai dress terbaikku.
Dia tersenyum puas melihat hasil foto dirinya. Dia pun kembali berkata dalam hatinya,
Perfect! Setidaknya aku bisa merasakan ini kembali setelah sekian lama.
Berbeda dengan Intan, Fabian hanya bisa tersenyum getir seraya memikirkan uang-uang yang telah dikeluarkannya hanya untuk hari ini saja.
...----------------...
Di dalam kamarnya, Arion masih saja melamun sambil menyusun rencana mendapatkan kembali simpati dari Adelia. Dia membuka media sosial milik Adelia untuk mencari tahu apa yang sedang dilakukan olehnya.
Namun, dia menghela nafasnya ketika melihat media sosial milik Adelia yang masih dalam keadaan sama seperti kemarin. Tidak ada postingan terbaru dari Adelia.
"Kenapa aku gak melihat story di aplikasi chat nya saja? Dia pasti update di sana," ucap Arion lirih sambil membuka aplikasi chat tersebut.
Dibukanya aplikasi chat tersebut. Matanya fokus melihat nama Adelia pada deretan story yang ada di layar ponselnya. Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat ada nama Adelia pada deretan tersebut.
Namun, seketika matanya terbelalak ketika melihat story dari Adelia. Dia menatap kesal pada layar ponselnya dan berkata,
"Kenapa harus bersama dengan dia? Aku juga bisa seperti itu."
Arion terlihat sangat marah saat ini. Dia melihat foto Adelia bersama dengan laki-laki yang sangat dibencinya. Bahkan ada sebuah video mereka berdua yang terlihat sangat bahagia.
Selang beberapa detik berikutnya, Adelia kembali mengunggah story nya. Kali ini dia mengunggah foto bersama keluarganya dan keluarga Kenzo, pada saat acara makan malam di restoran malam itu.
Arion menatap foto tersebut dengan tatapan penuh amarah, seraya berkata,
"Sialan! Dia! Selalu saja dia! Apa karena dia memakai setelan jas dan aku tidak? Kenapa mereka semua tersenyum bahagia? Apa yang sedang mereka lakukan? Apa ini semalam?"
__ADS_1
Arion melemparkan ponselnya di atas tempat tidurnya. Dia mendengus kesal dengan apa yang dilihatnya. Setelah itu dia merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya, memandang atap kamarnya dan berkata,
"Bagaimana caranya agar aku bisa masuk ke dalam keluarga mereka? Sepertinya aku harus mencari cara agar aku bisa masuk ke dalam keluarga itu."