
Seorang perempuan muda dengan memakai seragam yang sama dengan Adelia sedang berdiri di depan Adelia sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya seraya berkata,
"Kenapa kalian berjalan bersama?"
Seketika mata Adelia terbelalak. Dia terkesiap melihat Mia, sahabatnya sedang memergokinya berjalan bersama dengan Arion.
Dengan cepatnya Adelia menghampiri Mia dan mengajaknya untuk berjalan masuk ke dalam kantor, tanpa berpamitan atau mengatakan sepatah kata pun pada Arion.
Arion hanya bisa mematung. Dia merasa jika Adelia tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Dia menatap nanar pada punggung Adelia yang berjalan menjauhinya. Dalam hati dia berkata,
Sepertinya perasaan kamu berbeda denganku Lia. Lalu, kenapa kemarin malam kamu menerima cintaku?
Arion menghela nafasnya yang memperlihatkan betapa besarnya kekecewaannya pada Adelia. Kemudian di membalikkan badannya dan berjalan menuju tempatnya bertugas seraya berkata lirih,
"Lihat saja Adelia, tidak lama lagi kamu akan mencintaiku, sama seperti aku mencintaimu."
Tekad Arion begitu kuat untuk menaklukan hati Adelia agar tidak bisa lepas darinya meskipun waktu perjanjian mereka sudah usai. Dia ingin tetap memiliki Adelia selamanya, hingga mereka berpisah karena kematian.
Di dalam ruangannya, Adelia mendapatkan tatapan tajam dari Mia. Dia berdiri tepat di depan meja Adelia yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Katakan, ada hubungan apa antara kamu dengan security itu," tukas Mia menyelidik.
Adelia menghela nafasnya mendengar pertanyaan yang diberikan Mia padanya. Dia menatap mata sahabatnya itu dengan sungguh-sungguh dan berkata,
"Sudah berapa kali aku bilang Mia... Kami hanya berjalan bersama saja. Dia akan masuk ke dalam kantor dan kebetulan aku baru datang dan akan masuk ke dalam kantor juga. Apa aku harus mengatakan hal lain agar kamu percaya?"
Mia membungkukkan badannya hingga melewati batas meja untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Adelia seraya berkata,
"Aku mencium ada bau-bau aneh dengan kalian berdua. Sepertinya ada sesuatu antara kamu dengan security itu."
Adelia mendengus kesal mendengar kecurigaan dari Mia. Sahabatnya itu memang terkenal sangat teliti dan ingin tahu urusan orang lain, sehingga Adelia menyembunyikan tentang hubungannya dengan Arion dari Mia.
__ADS_1
"Kamu gak kerja Mia? Atau kamu mau aku laporkan, jika kamu menyia-nyiakan waktu bekerja mu sekarang?" tanya Adelia yang bermaksud mengancam Mia.
"Ck! Kamu bisanya cuma ngancam saja Lia. Pokoknya kamu punya hutang penjelasan padaku. Untuk sekarang kamu bisa menghindar, tapi nanti kamu gak bisa menghindar lagi. Aku akan bekerja sekarang. Bye!" ujar Mia disertai ancamannya pada Adelia.
Dia keluar dari ruangan Adelia tanpa senyuman seperti biasanya. Adelia terkekeh melihat sikap sahabatnya. Kemudian dia berkata,
"Mia... Mia... Kamu itu lucu sekali. Kalau misalnya kamu jadi kakak iparku, aku gak tau Kak Lio bisa menangani kamu apa enggak."
Setelah itu Adelia mengerjakan pekerjaan yang sudah menantikannya. Selang beberapa saat kemudian, suara notifikasi pesan mengagetkannya.
Adelia mengernyitkan dahinya melihat nama Arion yang tertera pada layar ponselnya sebagai pengirim pesan tersebut. Dengan segera Adelia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya dan membacanya.
Jari lentik Adelia bergerak lincah di atas layar ponsel tersebut. Dia membalas pesan yang dikirimkan oleh Arion padanya.
"Baiklah, mungkin nanti saat yang tepat untuk mengatakannya," ucap Adelia disertai helaan nafasnya melihat pesan mereka berdua pada layar ponselnya.
...----------------...
Saat ini dia sudah memiliki beberapa hal yang diketahuinya tentang Arion. Hanya saja semua informasi tersebut masih belum lengkap.
"Ok. Untuk saat ini mungkin hanya ini yang bisa aku dapatkan, sebentar lagi aku akan mendapatkan lebih lengkap lagi," ujar Adelio sambil melihat beberapa kertas yang ada di tangannya.
"Tidak ada yang penting. Hanya informasi biasa saja, tapi dengan semua ini aku bisa mengetahui ke mana saja langkahnya bergerak," sambung Adelio sambil menyeringai melihat informasi yang didapatkannya tentang Arion.
Sebenarnya Adelio tidak begitu sibuk hari ini. Dia sengaja berangkat sangat pagi agar menghindari Adelia dan tidak berangkat bersamanya. Akan tetapi Adelio mengikuti saudara kembarnya itu tanpa ketahuan olehnya.
...----------------...
Jam pulang kerja Adelia pun tiba. Kini Arion telah bersiap di atas motor sport yang dibelinya kemarin. Dia menunggu Adelia di parkiran, tepatnya di dekat mobil Adelia yang masih terparkir di sana.
Adelia menghela nafas besarnya ketika melihat Arion telah menunggunya. Kemudian dia menyemangati dirinya sendiri dengan berkata lirih,
__ADS_1
"Ayo Lia, kamu bisa. Katakan padanya dengan tegas saat ini juga."
Adelia berjalan ke arah mobilnya yang berarti juga menghampiri Arion yang berada di sebelah mobilnya. Senyum Arion merekah menyambut kedatangan Adelia yang juga membalas senyumnya.
Melihat senyum Adelia membuat Arion melupakan segalanya. Dia lupa akan keingintahuannya tentang sikap Adelia pagi tadi.
"Mau makan di mana?" tanya Adelia sambil membuka pintu mobilnya.
"Bagaimana jika kita makan di tempat pertama kali kamu traktir saya?" tanya Arion balik pada Adelia.
"Ok," jawab Adelia singkat seiring dengan gerakannya yang masuk ke dalam mobilnya.
Arion kembali menatap nanar pada mobil kekasihnya itu. Dia merasakan hubungan mereka yang hambar saat ini.
"Padahal aku sudah mengganti motorku dengan motor sport, tapi kenapa Adelia masih saja bersikap seperti itu?" tanya Arion disertai helaan nafasnya sambil memakai helmnya.
Motor Arion berada tepat di belakang Adelia. Akan tetapi ada kalanya dia berada di samping mobil tersebut.
Namun, tanpa mereka berdua ketahui, Adelio mengikuti ke mana pun mereka pergi. Dia sangat bersyukur pada hari ini tidak ada tugas penting yang membuatnya sibuk, sehingga dia bisa melakukan rencananya.
Mobil Adelia berbelok pada cafe tempat mereka makan malam untuk pertama kalinya. Arion pun memarkir motornya tepat di samping mobil Adelia. Sedangkan Adelio, dia tetap pada rencananya untuk menjadi pengintai mereka berdua.
Arion membukakan pintu mobil Adelia dan mengulurkan tangannya untuk membantunya turun dari mobil tersebut. Adelia pun menyambut uluran tangan tersebut dan turun dari mobilnya.
Arion tersenyum senang karena Adelia tidak menolaknya. Dia menggandeng tangan Adelia untuk berjalan masuk ke dalam cafe tersebut.
Kebetulan sekali tempat yang mereka duduki malam itu belum ada yang menempati, sehingga mereka berdua kembali menempati tempat duduk itu.
Menu makanan dan minuman yang mereka pesan pun sama seperti malam itu. Semuanya masih sama, hanya status mereka saja yang kini berbeda. Malam itu mereka hanya sebatas teman, sedangkan malam ini mereka sudah berstatus pacaran, meskipun hubungan mereka bersyarat.
"Sayang, aku mau tanya. Aku harap kamu menjawabnya jujur dan tidak marah padaku," ucap Arion sambil menatap lekat manik mata Adelia.
__ADS_1
"Apa?" tanya Adelia ragu-ragu.