
Seorang perempuan cantik sedang berdiri di tepi jalan, tepatnya di depan kantor bank swasta. Dia sedang sibuk dengan ponselnya tanpa melihat di sekitarnya.
"Sedang menunggu seseorang ya?"
Suara seorang laki-laki mengagetkan Adelia sehingga dia mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang sedari tadi dimainkannya.
"Eh Arion, sudah mau pulang?" tanya Adelia tanpa menjawab dahulu pertanyaan yang diajukan oleh Arion padanya.
"Iya, ini baru saja aku akan pulang. Apa kamu sedang menunggu seseorang?" tanya Arion balik pada Adelia setelah menjawab pertanyaannya.
Adelia tersenyum getir sambil menyimpan ponselnya ke dalam tasnya. Kemudian dia berkata,
"Aku sedang menunggu taksi."
"Menunggu taksi? Apa gak ada yang menjemputmu?" tanya Arion kembali.
Adelia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tadinya aku akan dijemput oleh Kakakku, tapi dia sedang ada tugas dadakan, jadi aku disuruh meminta jemput Papa. Ternyata Papa sedang ada rapat dan belum selesai, aku disuruh naik taksi sama Papa."
Arion memandang iba pada Adelia. Ingin sekali dia mengantarkan pulang gadis cantik itu, akan tetapi dia tidak percaya diri dengan motor yang digunakannya.
Arion melihat motornya dan berkata dalam hatinya,
Apa dia mau menaiki motor butut ini? Aku ragu, biasanya dia kan naik mobil mewah.
Adelia bergerak gelisah seolah memperlihatkan bahwa dirinya sedang lelah berdiri menunggu taksi yang sudah dipesannya.
"Apa taksinya sudah dipesan?" tanya Arion dengan ragu-ragu.
Adelia mengambil ponselnya dari dalam tasnya, dia melihat layar ponselnya dan berkata,
"Tadi sudah pesan, tapi ternyata taksinya baru saja mengirim pesan, katanya bannya bocor. Apes bener dah hari ini."
Seketika Adelia terlihat lemas dan tidak bersemangat. Dia merutuki kebodohannya yang pagi ini tidak membawa mobil sendiri seperti biasanya.
"Emmm... Apa kamu mau memesan taksi lagi?" tanya Arion ragu-ragu.
"Entahlah, aku masih mencarinya. Semoga saja ada taksi yang ada di sekitar sini," jawab Adelia disertai helaan nafasnya.
__ADS_1
Dia masih saja memperhatikan layar ponselnya, mencoba untuk mencari taksi yang bisa dipesannya.
"Aku heran, biasanya taksi pada banyak berseliweran, kenapa pada saat aku butuh malah mereka gak nongol satu pun?" omel Adelia tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar ponselnya.
Arion tersenyum melihat gadis pujaan hatinya sedang mengomel saat ini. Sungguh pemandangan yang sangat langka tidak pernah dilihat olehnya, mungkin juga tidak pernah dilihat oleh orang lain yang ada di kantor itu.
"Apa kamu mau aku antar pulang? Jujur saja, aku gak tega meninggalkanmu sendirian di tempat ini," tanya Arion dengan sedikit ragu.
Seketika Adelia mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya. Dia menatap Arion dengan senyumnya yang mengembang. Kemudian dia berkata,
"Apa kamu gak keberatan mengantarkan aku pulang?"
"Suatu kehormatan bagiku untuk mengantarkan pulang seorang gadis cantik," jawab Arion sambil tersenyum manis pada Adelia.
Adelia terkekeh mendengar jawaban dari Arion. Kemudian dia berkata,
"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan untuk mengantarkan aku pulang."
Arion menyalakan kembali mesin motornya. Setelah itu dia mempersilahkan Adelia untuk naik ke atas boncengan motornya.
Adelia masih menggunakan seragamnya dengan rok pendeknya itu, dia duduk menyamping dan tangan kanannya berpegangan pada pundak Arion, sedangkan tangan kirinya berpegangan pada ujung jok motor tersebut.
Mungkin sekarang kamu berpegangan pada pundakku, tapi nanti, suatu saat kamu akan memeluk pinggangku ketika dalam keadaan yang sama seperti sekarang ini.
Tiba-tiba ada klakson mobil yang menghentikan motor Arion ketika akan dilajukannya. Arion dan Adelia menoleh ke arah mobil yang ada di sampingnya.
"Lia, kenapa kamu boncengan sama dia?" tanya seorang laki-laki yang berpakaian rapi dan berwarna senada dengan Adelia.
"Aku mau pulang bareng dia Dion. Kenapa?" tanya Adelia pada laki-laki pengemudi mobil tersebut.
"Bukannya kamu akan dijemput dengan pacar kamu yang mengantarkan tadi pagi?" tanya laki-laki tersebut yang disapa dengan nama Dion oleh Adelia.
"Dia lagi ada tugas dadakan, jadi gak bisa jemput. Mana taksi dari tadi gak ada yang bisa dipesan. Ya sudah deh, aku mau pulang dulu, capek, gerah juga," jawab Adelia yang terlihat kesal dengan apa yang dialaminya saat ini.
"Lia, kenapa gak bareng aku saja? Memangnya kamu bisa naik motor seperti itu? Ayo aku antar kamu pulang," ujar Dion yang terlihat sedikit memaksa Adelia untuk pulang bersamanya.
Adelia melirik ke arah Arion yang terlihat kecewa mendengar perkataan Dion. Dia bisa melihat wajah sendu Arion dari kaca spion motor tersebut yang mengarah padanya.
"Lain kali saja ya Dion. Aku sudah lebih dulu menyetujui ajakan Arion. Aku duluan ya," tukas Adelia sambil tersenyum manis pada Dion.
__ADS_1
"Ayo Arion," perintah Adelia sambil menepuk pundak Arion.
Arion pun menganggukkan kepalanya pada Dion untuk berpamitan dan berkata,
"Mari Mas, kami duluan."
Dion menatap kesal pada punggung Arion yang sedang membonceng Adelia, gadis yang ditaksirnya sejak dulu.
Bukannya Adelia menolak tawaran Dion, sebenarnya dia ingin sekali pulang bersama Dion karena lebih nyaman naik mobil dengan penampilannya yang menggunakan rok saat ini.
Namun, dia tidak tega pada Arion yang terlihat sedih seolah merasa terhina karena motor yang digunakannya saat ini tidak sebanding dengan mobil yang dinaiki oleh Dion.
Malam itu Arion melajukan motornya dengan hati riang. Motor tersebut membelah jalanan malam dengan angin yang semilir mengenai wajah cantik Adelia dan membuat rambut panjang Adelia berkibar seolah sedang memanjakan rambutnya.
"Stop di sini saja Arion," perintah Adelia sambil menepuk pundak Arion layaknya penumpang menghentikan tukang ojek.
Motor Arion pun berhenti. Kemudian dia bertanya,
"Di mana rumahmu? Apa sudah sampai?"
Memang tadi Adelia hanya memberikan nama perumahannya saja pada Arion. Dia tidak memberitahukan blok dan nomor rumahnya.
Adelia menunjuk sebuah rumah mewah yang besar di hadapannya seraya berkata,
"Ini rumahku. Terima kasih ya sudah mengantarku pulang. Maaf aku gak bisa mengajakmu mampir saat ini. Lain kali saja ya."
Setelah mengatakan itu pada Arion, Adelia melambaikan tangannya dan bergegas berjalan memasuki pagar rumahnya.
Arion hanya menatap kecewa pada punggung Adelia yang kini sedang memasuki rumah tersebut. Rumah yang sangat jauh lebih besar dan mewah dibandingkan dengan rumahnya.
"Apa aku membuatnya malu sehingga tidak mengajakku mampir ke dalam rumahnya?" tanya Arion sambil menatap rumah mewah yang ada di hadapannya.
"Mungkin benar dia malu jika memperkenalkan aku pada kedua orang tuanya," ucap Arion lirih disertai helaan nafas kecewanya.
Dia menatap motor matic yang sudah berumur tahunan itu. Kemudian dia tersenyum dan berkata,
"Haruskah aku menggantimu dengan yang baru?"
Arion tersenyum menertawakan nasibnya yang tidak seberuntung teman-teman Adelia di kantor. Tiba-tiba dia teringat akan perkataan ibunya. Dia tersenyum dan berkata,
__ADS_1
"Kata Ibu, aku harus memperjuangkannya, karena aku juga tidak kalah dengan mereka. Baiklah, besok aku akan melakukan rencanaku untuk mendapatkan hati Adelia. Lihat saja nanti. Aku pasti bisa mendapatkan hatinya."