Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 78 Kesabaran Fabian


__ADS_3

"Ayah, Ibu, Arion lelah. Arion ingin istirahat sekarang. Bisakah Ayah dan Ibu keluar dari kamar Arion?" tanya Arion sambil menatap Fabian dan Intan secara bergantian.


Fabian segera beranjak dari duduknya. Dia menggandeng lengan istrinya, dan menariknya agar berjalan keluar dari kamar tersebut, seraya berkata,


"Ayo kita keluar. Biarkan Arion beristirahat."


Intan masih saja bertahan di tempatnya. Bahkan Fabian yang menarik tangannya, tidak berhasil membuat goyah Intan. Istrinya itu masih tetap bertahan, seraya berkata,


"Tapi kita belum selesai bicara. Kita harus menyelesaikan pembicaraan ini."


"Arion lelah. Biarkan dia beristirahat terlebih dahulu. Nanti saja kita berbicara lagi," tutur Fabian sambil berusaha menarik istrinya, agar mau keluar dari kamar itu bersamanya.


Tidak bisa dipungkiri jika tenaga Intan kalah dengan Fabian. Dengan berat hati dia berhasil ditarik keluar dari kamar Arion oleh Fabian. Akan tetapi, dia tidak berhenti mengomel.


Arion segera menutup pintu kamarnya, sehingga suara omelan Intan tidak lagi terdengar di telinganya. Dia menghela nafasnya mengingat perkataan ayahnya. Bayangan akan ayahnya yang selalu bersikap manis dan mengalah pada Intan, membuat Arion merasa jika ucapan Fabian benar adanya.


Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Tatapan matanya lurus menatap langit-langit kamarnya. Dia masih saja memikirkan Adelia dan berkata lirih,


"Sepertinya aku harus meniru Ayah. Aku harus bersikap seperti Ayah, agar Adelia menurut padaku, sama seperti Ibu yang menurut pada Ayah."


Setelah itu, dia memejamkan matanya, mencoba untuk mengingat kembali semua sikapnya selama ini. Dalam hubungan singkatnya bersama dengan Adelia, tidak ada banyak hal terjadi, dan hanya beberapa kali saja mereka jalan bersama.


Di ruangan yang berbeda, Intan masih saja mengomel pada Fabian. Dia tidak terima jika Arion harus mengalah pada Adelia. Baginya Arion harus bisa membuat Adelia bertekuk lutut dan menurut padanya, karena Arion adalah anaknya, anak seorang Intan yang dulunya adalah Ruby, mantan pacar Rafael.


Tidak bisa kubiarkan. Arion harus bisa menjadi pemimpin dari keluarga itu, sebab dia adalah anakku, penerusku. Tidak ada ceritanya seorang Ruby kalah dengan wanita sialan itu. Aku adalah Ruby, hanya aku yang bisa menaklukan Rafael, seperti aku menaklukan laki-laki lainnya, Intan berkata dalam hatinya.


"Sayang, jangan marah. Arion masih lelah, jadi percuma saja kita nasehati dia sekarang. Lebih baik kita biarkan saja dulu, agar dia bisa beristirahat, dan besok kita akan membicarakan masalah ini lagi," tutur Fabian sambil memeluk istrinya.

__ADS_1


Fabian berusaha keras untuk merayu istrinya. Hal yang paling berbahaya baginya adalah ketika istrinya sedang kesal padanya, terlebih lagi jika istrinya marah padanya. Oleh karena itulah dia harus selalu mengalah dan menuruti semua permintaan istrinya. Alasannya hanya satu, dia ingin rumah tangganya tentram, damai dan sejahtera.


Intan mendorong tubuh suaminya yang sedang memeluknya. Kemudian dia berkata,


"Aku tuh kesal sama kamu, Mas. Pokoknya aku tidak setuju kalau Arion harus mengalah pada Adelia. Arion itu laki-laki. Dia harus percaya diri untuk memimpin keluarganya. Jadi, jangan suruh dia mengalah, karena nantinya dia akan diinjak-injak oleh keluarga Adelia."


"Iya, aku mengerti. Tadi aku hanya mencoba menenangkannya saja. Jadi, kamu jangan marah ya, jangan kesal lagi," ujar Fabian disertai helaan nafasnya.


Intan menatap kesal pada suaminya. Hidungnya kembang kempis menahan kemarahannya. Fabian berusaha keras untuk membujuknya, tapi Intan masih tetap dengan kekesalannya. Berkali-kali Fabian berusaha membujuk Intan agar berhenti marah padanya. Akan tetapi, sifat Intan yang sangat keras dan egois itu, membuat Fabian kewalahan untuk membujuknya.


Berbagai macam daya dan upaya telah dilakukan Fabian untuk membujuk serta merayu istrinya. Hingga Fabian kehabisan cara untuk membujuknya.


"Sayang, sudah dong marahnya. Tadi kan sudah aku turuti semua keinginan kamu. HP baru, dan juga makan di restoran mewah. Harusnya kamu tidak marah lagi seperti ini," ucap Fabian disertai helaan nafasnya.


Sontak saja Intan teringat akan ponsel barunya. Bibirnya melengkung ke atas, dan tangannya merogoh saku dress rumahannya, untuk mengambil ponsel baru miliknya.


Tangannya bergerak lincah mengusap layar ponselnya. Bibirnya tersenyum dan wajahnya memancarkan kebahagiaan. Tanpa sadar Fabian pun tersenyum melihat kebahagiaan istrinya. Dia mengusap lembut rambut istrinya dan bertanya,


Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya, Intan menganggukkan kepalanya, tanpa melihat ke arah suaminya.


"Apa kamu bahagia, Sayang?" tanya Fabian kembali pada istrinya.


Intan kembali menganggukkan kepalanya, tanpa menatap wajah suaminya. Saat ini, layar ponsel lebih menarik baginya.


"Kalau begitu, kamu sudah tidak marah lagi, bukan?" tanya Fabian dengan sangat lembut, serta tangannya mengusap lembut rambut istrinya.


Seketika Intan teringat akan kekesalannya. Dia menatap suaminya dan berkata,

__ADS_1


"Sekarang aku maafkan, tapi nanti aku tidak akan memaafkan lagi."


"Iya, aku mengerti. Sekarang kita tidur ya. Sudah malam," ujar Fabian dengan sangat lembut, sambil merangkul pundak istrinya.


Intan tidak bisa menolak ajakan suaminya. Dia mengikuti suaminya yang mengajaknya ke tempat tidur mereka.


"Mas Fabian tidur saja dulu. Aku masih mau memainkan HP ku," ujar Intan sambil memainkan ponselnya.


Fabian menghela nafasnya melihat istrinya yang lebih sibuk dengan ponselnya, daripada melayani suaminya. Dalam hatinya berkata,


Padahal aku ingin mendapatkan hadiah darinya malam ini, setelah aku menuruti semua keinginannya.


Namun, semua itu hanya keinginannya semata. Nyatanya kini istrinya tidak mengingatnya. Bahkan dia tidak menyatakan rasa terima kasihnya pada suaminya yang telah mengorbankan banyak uang untuknya.


Fabian berinisiatif menunggunya. Dia tetap pada keinginannya, yaitu menginginkan istrinya malam ini. Ditahannya rasa kantuk yang luar biasa, demi menuntaskan hasratnya pada istrinya malam ini. Rasa yang sudah ditahannya, dan ingin segera dituntaskannya.


Sedangkan Intan, dia tidak mengetahui jika suaminya berusaha menahan kantuk untuk menunggunya. Dia masih saja sibuk dengan ponselnya.


Ponsel barunya yang tergolong canggih itu, membuatnya lupa segalanya. Lupa akan waktu dan juga lupa akan kewajiban sebagai seorang istri.


"Sayang, ayo tidur. Sekarang sudah sangat larut. Besok saja memainkan HP nya lagi," tutur Fabian sambil memeluk pinggang istrinya, mencoba mengganggunya dan berharap agar istrinya mau menurutinya.


"Aduh Mas, sebentar deh. Ini nanggung banget. Aku masih edit-edit fotoku," rengek Intan pada suaminya.


Fabian kembali menghela nafasnya. Dia tidak bisa menahan kembali rasa kantuknya yang semakin berat. Akan tetapi, yang paling terberat baginya saat ini adalah menahan keinginannya untuk menuntaskan hasratnya pada istrinya.


Selama beberapa saat dia masih menunggu istrinya, tapi kesabarannya sudah menipis. Fabian meraih tubuh Intan dan menindihnya, hingga istrinya itu merintih dan berusaha menyingkirkan tubuh suaminya.

__ADS_1


"Mas kenapa sih? Rasanya pengap. Aku gak bisa nafas," rengek Intan sambil berusaha mendorong dada suaminya, menjauh darinya.


"Aaaaaawwww!"


__ADS_2