
Apa yang dirasakan oleh Arion berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Adelia. Perasaan mereka saat ini saling bertolak belakang.
Arion sangat sedih karena Adelia menginginkan perpisahan di antara mereka. Berbeda dengan Arion, kini Adelia sedang bahagia karena hubungannya dengan Kenzo berjalan dengan lancar.
Kedua orang tua Kenzo sedang sibuk menyiapkan kedatangan mereka ke rumah keluarga Atmaja, untuk melamar Adelia. Begitu pula dengan keluarga Atmaja. Mereka sibuk mempersiapkan jamuan untuk keluarga Kenzo, setelah hari kedatangan mereka telah ditentukan.
Binar kebahagiaan pada wajah Adelia terlihat dengan jelas. Seharian ini dia selalu tersenyum, seolah memperlihatkan kebahagiaan dalam hatinya.
"Lia, apa telah terjadi sesuatu?" tanya Mia yang sedang makan siang bersama dengan Adelia saat ini.
Adelia menghentikan makannya. Dia menoleh ke samping, di mana tempat Mia duduk saat ini. Dahinya mengernyit dan berkata,
"Terjadi sesuatu? Terjadi apa?"
"Ya mana aku tahu? Aku bertanya sama kamu, Lia. Kenapa kamu bertanya balik padaku?" tanya Mia disertai helaan nafasnya.
"Karena aku gak tahu dengan apa yang kamu tanyakan. Lagi pula kenapa kamu menanyakan itu padaku?" tanya Adelia balik pada Mia.
Mia kembali menghela nafasnya. Kemudian dia menatap lekat sahabatnya itu dan berkata,
"Seharian ini kamu senyum-senyum terus. Sepertinya kamu sedang bahagia."
"Benarkah?" tanya Adelia sambil menahan senyumnya.
Mia memperhatikan dengan seksama wajah dari sahabatnya. Wajah cantik itu memancarkan binar kebahagiaan yang tidak dapat disembunyikan dari siapa pun. Kemudian dia berkata,
"Wajahmu mengatakan semuanya. Kamu sangat bahagia saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi, hingga kamu sebahagia ini? Kamu tahu gak? Kamu ini seperti seorang perempuan yang akan segera dilamar."
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Adelia dengan sangat antusias.
Seketika mata Mia terbelalak mendengar pertanyaan dari Adelia. Merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya, dia pun bertanya,
"Jadi, kamu benar-benar telah dilamar?"
Adelia menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Lebih tepatnya akan dilamar."
__ADS_1
"Benarkah? Dilamar siapa? Apa laki-laki tampan yang waktu itu?" tanya Mia dengan rasa ingin tahunya.
"Laki-laki tampan yang waktu itu? Siapa? Yang mana?" tanya balik Adelia sambil mengernyitkan dahinya.
"Laki-laki yang bertemu dengan kita di tempat makan waktu itu. Dia juga sering mengantar jemput kamu, bukan? Apa dia yang akan melamar kamu? Lagi pula apa ada laki-laki lain yang sedang dekat denganmu?" tanya Mia menyelidik.
Adelia terkekeh mendengar perkataan sahabatnya. Dia lupa jika Mia mengira Adelio adalah pacarnya. Kemudian dia berkata,
"Aku lupa Mia. Laki-laki yang mana ya?"
"Ck! Dasar playgirl! Itu ada di story kamu fotonya. Apa momen itu, momen lamaran kamu? Eh tapi bukannya tadi kamu bilang jika akan dilamar, ya? Berarti foto itu ketika kalian tunangan? Eh benar gak sih? Atau kalian dijodohkan? Eh gak mungkin banget ya, kalian sudah sangat dekat dari karin-kemarin. Lalu, foto itu diambil pada saat momen apa, Lia?" tanya Mia yang merasa kebingungan sendiri dengan banyaknya pertanyaan yang ada di dalam kepalanya.
Adelia kembali terkekeh mendengar semua pertanyaan dari sahabatnya itu. Dia sangat menikmati kebingungan Mia saat ini, sama dengan biasanya. Memang sahabatnya itu selalu bisa membuatnya tertawa dengan tingkahnya. Kemudian dia berkata,
"Itu pada saat kami makan malam dengan keluarga kami berdua. Nanti deh, aku akan perkenalkan kamu dengan calon suamiku."
"Lalu, mana janji kamu untuk mengenalkan aku dengan laki-laki tampan waktu itu?" tanya Mia dengan ekspresi kecewanya.
"Nanti sekalian akan aku perkenalkan dengan laki-laki yang sudah aku janjikan padamu. Tenang saja," jawab Adelia sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Mia.
Gadis cantik kembaran dari Adelio itu hanya terkekeh mendapatkan pukulan dari sahabatnya. Dia tidak menghindar ataupun membalasnya.
Setelah makan siang itu selesai, mereka pun kembali ke kantor dan mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
Mata Adelia sempat mencari sosok Arion ketika akan masuk ke dalam kantornya. Dia memasuki kantornya, seraya berkata dalam hatinya,
Sepertinya dia tidak ada. Mungkin dia libur atau masuk kerja malam. Eh, kenapa aku mencari dia? Rasanya memang aneh, tapi nyaman juga tidak diganggu olehnya.
...----------------...
Di lain tempat, Arion sudah menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan Adelia. Jauh sebelum jam pulang kantor, Arion telah bersiap-siap untuk datang ke kantor dengan tujuan menjemput Adelia.
Pemuda yang sedang galau itu, kini berdiri di depan cermin dan memperhatikan penampilannya. Dia mencari pakaian yang sebagus mungkin untuk bertemu dengan Adelia.
"Aku memang gak punya setelan jas seperti laki-laki itu, tapi paling tidak aku juga bisa terlihat keren memakai pakaian selain seragam kerjaku," ujar Arion sambil menatap gambaran dirinya pada cermin yang ada di hadapannya.
Rambutnya ditata semenarik mungkin, berharap agar Adelia bisa tertarik padanya. Dia tersenyum melihat penampilannya saat ini pada cermin yang ada di depannya, seraya berkata,
__ADS_1
"Sempurna. Sudah keren begini, gak mungkin Adelia menolak aku."
Setelah merasa penampilannya sesuai dengan yang diharapkan, Arion segera keluar dari kamarnya.
"Arion! Mau ke mana?" tanya Intan yang baru saja datang bersama dengan Fabian.
"Mau menjemput Adelia, Bu," jawab Arion sambil menatap heran pada ayahnya.
"Apa kalian sudah baikan?" tanya Intan dengan sangat antusias.
Arion masih saja menatap Fabian dengan tatapan penuh tanda tanya. Pasalnya Arion tidak pernah melihat ayahnya berwajah seperti itu.
"Ayah, apa ada masalah?" tanya Arion pada Fabian, tanpa menjawab pertanyaan Intan terlebih dahulu.
Intan menoleh ke arah suaminya. Dia memperhatikan suaminya dengan seksama. Merasa sedang diperhatikan oleh istrinya, Fabian memaksakan senyumnya dan berkata,
"Tidak, Ayah baik-baik saja. Ayah hanya sedang kelelahan saja."
"Lelah? Apa Mas lelah karena kita baru saja pulang jalan-jalan?" tanya Intan dengan tatapan menyelidik pada Fabian.
Fabian segera menggelengkan kepalanya setelah mendengar pertanyaan dari istrinya. Dia tidak ingin istrinya mengetahui apa yang sedang dipikirkannya. Dia pun berkata,
"Tidak, Sayang. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah. Tolong buatkan aku minuman hangat dan pijat aku seperti biasanya."
Intan menganggukkan kepalanya dengan sedikit enggan. Dalam hatinya berkata,
Aku juga capek kalau harus pijat kamu, tapi gak apa-apa lah. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena telah membelikan aku HP yang mahal ini dan mengajakku makan di restoran tadi.
"Ya sudah kalau memang Ayah baik-baik saja. Arion berangkat dulu Ayah, Ibu," ucap Arion sambil mencium tangan Fabian dan Intan secara bergantian.
"Arion!" ujar Intan pada Arion yang sedang memakai helmnya.
Arion menoleh ke arah ibunya dan menatapnya, seolah bertanya melalui tatapan matanya, tanpa mengatakan apa pun.
"Ibu mau tanya tentang--"
"Bu, nanti saja tanyanya. Biarkan Arion pergi sekarang untuk bertemu pujaan hatinya," sahut Fabian sambil memegang pundak istrinya.
__ADS_1