
Seruan Adelio terdengar hingga telinga Aksa dan Adelia yang berada di ruang tunggu. Takut jika Adelio khilaf akan kemarahannya, Aksa beranjak dari duduknya, berniat akan melihat ke dalam ruangan tersebut.
Namun, Adelia semakin takut mendengar seruan dari kakaknya. Dia merasa jika saat ini kakaknya sedang marah sekali, sehingga dia tidak mau melepaskan tangan Aksa.
"Lia, aku tinggal sebentar saja, ya. Aku akan melihat Lio di dalam sana," tutur Aksa dengan lemah lembut pada Adelia.
Dengan cepatnya Adelia menggelengkan kepalanya, dan semakin mempererat pegangan tangannya pada tangan Aksa.
Aksa menatap iba pada Adelia. Dia sangat mengerti perasaan dan ketakutan yang dihadapinya saat ini. Dalam hatinya berkata,
Kelihatannya dia sangat takut sekali. Aku gak mungkin meninggalkannya sendiri di sini, meskipun hanya sebentar saja. Lebih baik aku ajak dia masuk ke dalam.
Aksa memegang kedua tangan Adelia, dan tersenyum padanya. Dia berusaha menenangkan gadis itu, sebelum nantinya diajak untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
Namun, ketika Aksa akan mengatakan niatnya itu, dia teringat akan sesuatu. Dia pun kembali berkata dalam hatinya,
Tunggu, apa dia akan baik-baik saja, jika bertemu dengan laki-laki itu?
Aksa kembali melihat ke arah ruang interogasi. Sunyi, senyap kali ini. Hal itu membuat Aksa semakin cemas pada Adelio. Tanpa berpikir ulang, dia pun membantu Adelia berdiri, seraya berkata,
"Lia ikut aku, ya."
Tanpa menunggu jawaban dari Adelia, Aksa memapahnya berjalan ke arah ruangan tersebut, dan segera masuk ke dalamnya.
"Kak Lio!"
"Lio! Hentikan!"
Seruan dari Adelia dan Aksa, mampu menghentikan gerakan tangan Adelio yang hampir mendarat pada bagian tubuh Arion.
"Hentikan, Lio! Aku rasa, kamu sudah cukup menghukumnya. Biar hukum yang akan memberikan hukuman untuknya. Kita akan membuatnya menerima hukuman yang seberat-beratnya," ujar Aksa kembali memperingatkan Adelio.
Mendengar perkataan Aksa, seketika Adelio tersadar. Dia melepaskan kerah baju Arion yang sedang dipegangnya, dengan menghempaskannya sekuat mungkin, sehingga Arion tersungkur di lantai.
"Lio!" seru Aksa untuk memanggil Adelio.
__ADS_1
Adelio menoleh ke arah Aksa. Dagu Aksa bergerak ke arah Adelia, untuk memberikan kode pada Adelio. Saat itu juga Adelio tersadar, jika adiknya sedang menatapnya dengan ketakutan. Tangannya mencengkeram kuat pada lengan Aksa, sehingga dapat terlihat dengan jelas ketakutannya saat ini.
Dia berjalan cepat ke arah Adelia, dan segera memeluknya. Pelukan itu semakin erat, sehingga membuat perasaan Adelio tersampaikan padanya. Dia pun berbisik di telinga Adelia,
"Maaf. Maafkan Kakak telah membuatmu takut. Kakak sudah menghukumnya. Sekarang kita pulang, ya."
Adelia mengangguk lemah diiringi dengan air matanya yang menetes tanpa suara tangisnya. Dia merasa sangat bersalah pada kakaknya, karena membuatnya sangat marah, hingga menghajar Arion dengan ganasnya.
"Maaf," ucap lirih Adelia yang masih dalam posisi memeluk kakaknya.
"Ini bukan salahmu, Sayang. Semua salah laki-laki b*jing*n itu," tutur Adelio dengan sangat lembut dan hati-hati.
Kedua tangannya memegang pipi adiknya, dan mengusap lembut air mata yang menetes di pipinya, seraya menatapnya dengan sangat lembut, mencoba untuk menenangkannya.
"Bawa dia keluar, Lio. Aku akan mengurusnya. Setelah itu, aku akan mengantarkan kalian pulang," ujar Aksa sambil menepuk lirih pundak Adelio.
"Ayo, Sayang, kita keluar," tukas Adelio, sambil menggerakkan tubuh Adelia, berusaha mengajaknya keluar dari tempat itu.
Namun, secara tidak sengaja, mata Adelia bertatapan dengan mata Arion yang sedari tadi menatapnya. Pemuda yang mempunyai memar pada wajahnya itu, sedang tersenyum padanya, sehingga membuat Adelia teringat kembali saat Arion berusaha memaksa menyentuhnya.
"Jangan! Jangan sentuh aku!" teriak Adelia, sambil memeluk erat Adelio.
Dengan cepatnya Aksa merangkul duo kembar itu, dan mendorongnya agar berjalan keluar dari ruangan tersebut. Mereka berdua dibawa masuk oleh Aksa ke dalam ruangannya, seraya berkata,
"Ini ruanganku. Tunggulah sebentar di sini. Aku akan kembali secepatnya."
Setelah beberapa saat dia keluar dari ruangannya, dia kembali ke ruangan tersebut dengan membawa dua botol air mineral dingin, dan berjongkok di depan Adelia yang sedang duduk bersama dengan Adelio.
"Lia, minumlah ini agar lebih tenang," tutur Aksa dengan lembut, disertai senyuman manisnya yang mampu menenangkan hati Adelia.
Perlahan tangannya terulur untuk menerima botol tersebut. Adelia segera meminumnya, setelah tutup botol minuman tersebut dibukakan oleh Aksa.
"Lio, minumlah ini. Tenangkan dirimu. Jangan sampai amarah dan emosimu membawa masalah baru, dan menguntungkan b*jing*n itu," ujar Adelio sambil menyerahkan botol minuman yang dibawanya pada Adelio.
"Terima kasih, Aksa. Maaf, aku sempat hilang kendali tadi. Untung saja kamu datang tepat waktu," tukas Adelio sambil membuka tutup botol minuman tersebut.
__ADS_1
"Baiklah. Kalian tunggu di sini. Aku akan menyelesaikannya," tutur Aksa sambil beranjak dari duduknya.
Dia kembali ke dalam ruangan interogasi untuk mengurus Arion. Di dalam ruangan itu, dia melihat Arion yang sedang duduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya.
"Apa kamu sudah menyesali perbuatanmu?" tanya Aksa sambil berjalan mendekatinya.
Sontak saja Arion mendongakkan kepalanya. Dia enggan menjawab pertanyaan dari Aksa, dan hanya menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
Aksa berjongkok di depan Arion. Dia menatapnya tajam dan menyeringai padanya. Kemudian dia bertanya,
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?"
"Aku Peringatkan. Adelia adalah milikku! Jauhi dia! Jangan sentuh dia sedikit pun!" ujar Arion penuh dengan penekanan di setiap katanya.
Aksa tertawa mendengar peringatan dari Arion. Dia berdiri, dan berkata,
"Aku adalah pelindungnya. Jadi, jangan harap kamu bisa kembali menyentuhnya. Bahkan aku tidak akan membiarkanmu mendekatinya. Ingat itu!"
Mata mereka saling beradu, seolah saling menantang dan tidak mau mengalah. Sayangnya Aksa tidak mempunyai banyak waktu untuk meladeni Arion.
"Lebih baik akui semua perbuatanmu, agar prosesnya lebih cepat. Ingat, lawanmu bukan orang sembarangan. Jadi, aku dan Adelio tidak akan membiarkan kamu bebas begitu saja. Ingat itu," tutur Aksa sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
"Bagaimana jika aku tidak mengakuinya?" tanya Arion dengan lantangnya.
Aksa yang baru selangkah berjalan, kini kembali memutar badannya, dan menghadap ke arah Arion.
"Tentu saja kami akan memperberat hukumanmu," jawab Aksa sambil terkekeh.
Kemudian dia kembali berjalan keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Arion yang menatap kesal pada punggungnya. Bahkan nafasnya kini memburu, dan kedua tangannya terkepal menahan kemarahannya.
"Cepat obati dia," ucap Aksa pada petugas kepolisian yang bertugas menjaga Arion.
"Siap, laksanakan," jawab polisi tersebut dengan tegas.
Poisi itu membawa masuk kotak obat, untuk mengobati luka Arion. Akan tetapi, dengan sigapnya Arion menolaknya. Dia tidak mau disentuh oleh petugas kepolisian. Siapa pun itu.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka. Masuklah seorang petugas kepolisian, dan berkata,
"Ada yang mencarimu. Cepatlah keluar!"