
Adelia terkesiap mendengar pernyataan dari Arion. Jujur saja, dia tidak pernah mengira jika malam ini Arion akan mengatakan perasaannya padanya.
Dia salah tingkah dan berjalan meninggalkan Arion. Sayangnya tangan Arion memegang tangan Adelia untuk menahannya agar dia tidak meninggalkan tempat itu.
Dari jarak yang tidak jauh, ada pasang mata sedang memperhatikan mereka. Bahkan orang tersebut bertindak layaknya seorang stalker saat ini. Dia bergerak hendak menghampiri Adelia dan Arion ketika Arion memegang tangan Adelia untuk menghentikan kepergiannya, akan tetapi dihentikannya ketika mendengar Arion mengatakan sesuatu pada Adelia.
"Ra, tolong dengarkan aku sebentar. Aku mohon," ucap Arion yang terdengar mengiba padanya.
Adelia menghentikan langkahnya. Dia melepaskan tangan Arion dari tangannya dan membalikkan badannya.
Adelia hanya diam tanpa berkata-kata. Lidahnya terasa kelu dan tidak bisa mengatakan apa pun saat ini. Dia hanya menyiapkan hatinya saat ini untuk mendengarkan ungkapan perasaan yang dimiliki Arion padanya.
Arion meraih kedua tangan Adelia dan memegangnya. Dia menatap intens manik mata Adelia seraya berkata,
"Adelia, aku Arion telah lancang menyimpan rasa untukmu. Maafkan aku karena aku yang hanya seorang security ini telah mencintaimu tanpa meminta ijin padamu."
Adelia menghela nafasnya. Dia menatap penuh kecewa pada Arion dan berkata,
"Memangnya kenapa dengan profesimu? Apa aku pernah mempermasalahkannya atau merendahkan kamu? Aku juga sangat kecewa padamu karena seolah-olah kamu mengganti motor kamu dengan motor yang sekarang itu karena aku menghina motor lamamu. Benar begitu bukan?"
"Bukan. Bukan begitu. Aku mengganti motor lamaku dengan motor yang sekarang karena aku melihatmu sangat senang ketika menaiki motor sport bersama dengan kakakmu. Aku ingin merasakan itu," jawab Arion yang terlihat sangat berusaha untuk menjelaskan pada Adelia.
Adelia menyeringai dan menghempaskan kedua tangan Arion yang sedang memegangnya. Dia menatap tajam padanya dan berkata,
"Kamu iri dengan Adelio? Dia kakakku. Dia saudara kembarku. Wajar saja jika kami sangat dekat dan senang jika bersama."
Arion merasa sangat bersalah mengatakan semua itu pada Adelia. Dia kembali meraih kedua tangan Adelia dan memegangnya dengan erat agar Adelia tidak bisa melepaskannya.
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Sepertinya aku telah dibutakan oleh rasa cinta, sehingga aku bertindak seperti ini. Kamu memang baik Adelia. Kamu selalu ramah dan tidak pernah membeda-bedakan siapa pun. Kamu juga tidak pernah merendahkan profesiku. Tapi aku malu, aku tidak percaya diri di hadapanmu dengan profesiku sekarang. Terlebih lagi saudara kembarmu adalah seorang polisi yang hebat. Rasanya aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya. Aku hanya ingin memperlihatkan usahaku yang sungguh-sungguh untuk mendapatkan hatimu. Meskipun aku tidak yakin jika kamu mau menerima perasaanku cintaku ini padamu," tutur Arion dengan penuh ketulusan.
__ADS_1
Adelia kembali menghela nafasnya. Dia menatap dengan tegas pada Arion dan berkata,
"Jangan menilai orang tanpa mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya. Apa kamu yakin aku akan menolakmu jika kamu menyatakan perasaanmu padaku?"
"Maaf. Aku tidak berpikir sejauh itu. Lalu... apa kamu akan menerima cintaku jika aku menyatakan perasaanku itu padamu?" tanya Arion dengan ragu-ragu.
"Tadinya aku memang simpati padamu, akan tetapi dengan perubahan sikapmu yang seperti ini membuatku jadi ragu akan penilaianku," jawab Adelia dengan tatapan kecewa pada Arion.
"Tidak. Tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan untuk memperlihatkan kesungguhanku padamu," ujar Arion dengan sungguh-sungguh.
"Kesempatan? Bagaimana caranya?" tanya Adelia disertai seringainya.
Arion terdiam. Dia memikirkan sesuatu untuk menjawab pertanyaan Adelia. Setelah beberapa detik dia menjawab.
"Beri aku waktu satu bulan untuk menjadi kekasihmu. Akan aku buktikan kesungguhan cintaku padamu."
Arion meraih tubuh Adelia dan membawanya dalam pelukannya seraya berkata,
"Terima kasih. Terima kasih Adelia. Terima kasih Sayang. Terima kasih akan kesempatan ini. Aku berjanji, aku akan membuatmu mengerti betapa besarnya cintaku padamu."
Adelia mematung. Dia tidak mengira jika dirinya menyetujui permintaan Arion padanya. Dia hanya diam. Dia tidak membalas pelukan Arion ataupun mengatakan perasaannya saat ini padanya.
Adelio, orang yang sedari tadi memperhatikan dan mengikuti mereka, kini sedang dikuasai oleh amarah. Tangannya mengepal dan matanya menatap penuh amarah pada Arion. Ingin sekali dia menghampirinya dan memberikannya pelajaran dengan menghajarnya karena dia telah berani menyentuh Adelia, saudara kembarnya yang harus dilindunginya.
Namun, dia menahannya. Adelio tahu akan situasi dan kondisi saat ini. Dia tidak ingin Adelia malu dan marah padanya. Dia menahan amarahnya dan melindungi saudara kembarnya itu dengan memperhatikannya serta melindunginya dari jauh.
Adelia pulang dengan diantar oleh Arion yang sudah berstatus pacarnya saat ini. Senyum Arion merekah. Senyum itu memperlihatkan suasana hati Arion saat ini. Dia sangat bahagia telah membuat Adelia menjadi pacarnya saat ini, meskipun hanya untuk sementara dan bersyarat.
Jalanan yang sedikit lenggang itu seolah memberi kesempatan untuk mereka menikmati jalanan itu. Hal itu membuat Arion semakin yakin jika Tuhan menyetujui hubungan mereka.
__ADS_1
Arion melihat ke arah kaca spion yang memperlihatkan wajah tegang Adelia. Dalam hatinya berkata,
Sepertinya dia tidak nyaman. Apa karena ini semua membuatnya terkejut?
Arion melihat ke arah pinggangnya sebentar. Dia tersenyum dan kembali berkata dalam hatinya,
Sepertinya dia masih belum mau berpegangan pada pinggangku. Dia juga masih menjaga jarak denganku. Untuk saat ini tidak mengapa. Lihat saja, aku akan membuatmu berpegangan erat pada pinggangku dan duduk kita tidak akan berjarak seperti saat ini.
Adelio masih saja mengikuti di belakang mereka dengan jarak yang aman. Pandangan matanya tidak lepas dari Adelia, saudara kembarnya.
"Sepertinya saat ini aku harus selalu mengawasi Adelia. Aku tidak bisa percaya begitu saja dengan laki-laki yang bernama Arion itu, meskipun dia berstatus pacar Adelia. Awas saja jika dia membuat adikku menangis," ujar Adelio dari dalam helm full faced nya.
Setelah beberapa saat, motor yang dikendarai oleh Arion sampai di depan rumah Adelia. Motornya berhenti tepat di depan rumah mewah yang besar dan mewah dengan pagar besi yang mengelilinginya itu.
Adelia turun dari boncengan motor Arion dan berkata,
"Terima kasih telah mengantarkan aku pulang."
Arion tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan terima kasih dari Adelia.
Setalah itu Adelia segera membalikkan badannya dan berjalan cepat dengan setengah berlari masuk ke dalam rumahnya.
"Sepertinya aku belum begitu berarti baginya," ucap Arion sambil melihat punggung Adelia yang menghilang di balik pagar.
Setelah itu dia melihat rumah besar nan mewah itu. Dia tersenyum getir karena Adelia tidak mempersilahkannya untuk mampir ke rumahnya dan memperkenalkannya pada orang tua Adelia.
Sepeninggalan Arion dari depan rumah tersebut, Adelio masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat semuanya dan ada sedikit rasa tidak percaya pada Arion. Bukan karena pekerjaannya atau kehidupan ekonomi mereka yang berbeda, dia hanya merasa tidak nyaman serta ada rasa ragu untuk dekat dengan Arion.
"Cieee yang sudah punya pacar...."
__ADS_1