
Arion pulang dengan tidak bersemangat. Meskipun dia sudah menyemangati dirinya sendiri, tetap saja dia masih merasa tidak percaya diri saat bersama dengan Adelia.
"Kenapa lemas begitu?" tanya Intan yang sedang menonton televisi bersama dengan Fabian.
Arion menghampiri ayah dan ibunya. Dia mencium punggung tangan kedua orang tuanya, setelah itu duduk di sebelah kiri ibunya. Ayahnya yang duduk di sebelah kanan ibunya itu menoleh padanya dan bertanya,
"Ada masalah Arion?"
Arion menghela nafasnya yang terdengar sangat berat di telinga yang mendengarnya. Kemudian dia tersenyum dan berkata,
"Apa aku harus menjual motor itu dan menggantinya dengan yang baru?"
Dahi Fabian mengernyit mendengar pertanyaan putranya. Kemudian dia bertanya,
"Sebenarnya ada apa Arion? Tumben sekali kamu membicarakan tentang motormu. Bukankah itu motor kesayanganmu?"
"Iya, ada apa sebenarnya Arion?" tanya Intan sambil menatap wajah Arion yang duduk di sampingnya.
"Aku minder Yah, Bu. Semua laki-laki di sekitar gadis yang aku kagumi menggunakan mobil. Sedangkan aku, hanya motor butut ini yang menemaniku ke mana pun aku pergi," jawab Arion disertai helaan nafasnya.
Intan menatap Arion yang terlihat putus asa. Kemudian dia bertanya,
"Apa gadis itu menghinamu?"
"Tidak Bu. Dia sungguh gadis yang baik. Tadi saja dia lebih memilih pulang bersama denganku daripada pulang bersama dengan rekan kerjanya yang menaiki mobil mewah, padahal mobil laki-laki tadi tidak kalah mewah dengan mobil yang biasanya dikendarai gadis itu," jawab Arion sambil tersenyum getir mengingat kembali peristiwa itu.
"Bukannya itu bagus? Lalu, kenapa kamu terlihat sedih? Bukankah itu berarti dia lebih menyukai kamu daripada laki-laki tadi?" tanya Intan dengan sangat antusias.
Arion kembali menghela nafasnya. Dia menatap ibu dan ayahnya yang sedang menatapnya sambil tersenyum getir. Kemudian dia berkata,
"Aku melihatnya Bu, dia sepertinya terpaksa pulang bersamaku karena tidak ingin mengecewakanku yang terlebih dahulu mengajaknya untuk pulang bersama. Seandainya saja aku dan laki-laki tadi bersamaan mengajak gadis itu pulang bersama dengan kami, aku yakin jika gadis itu lebih memilih laki-laki tadi untuk mengantarkannya pulang."
"Kenapa kamu yakin sekali? Belum tentu juga gadis itu tidak memilihmu," tukas Fabian yang sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan istrinya dengan putranya.
"Gadis itu menggunakan rok seragam kerjanya. Jadi aku yakin dia lebih nyaman jika naik mobil daripada naik motor butut itu bersamaku," jawab Arion yang mengingat kembali wajah bingung Adelia ketika Dion menawarinya untuk pulang bersama dengannya.
Intan menghela nafasnya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Terlihat jelas wajah Intan yang sedang kesal saat ini.
"Memangnya secantik dan sekaya apa sih gadis itu, sehingga membuat kamu jadi seperti ini?" tanya Intan dengan sewotnya.
"Dia cantik Bu. Sangat cantik. Dia juga baik hati, ramah dan tidak sombong. Semua laki-laki di kantor kagum padanya. Selain itu mereka juga menaruh hati padanya," jawab Arion sambil tersenyum membayangkan wajah cantik Adelia yang disertai senyuman manisnya.
__ADS_1
"Benarkah? Apa kamu memiliki fotonya?" tanya Intan sambil mengernyitkan dahinya.
Arion menggelengkan kepalanya seraya berkata,
"Aku tidak punya Bu."
"Sayang sekali, padahal Ibu ingin sekali melihatnya," ucap Intan yang terlihat kecewa saat ini.
"Apa Ibu sangat ingin melihatnya?" tanya Arion yang merasa tidak enak pada ibunya.
"Iya, benar. Ibu ingin tau seperti apa wajah gadis yang membuat hati anak Ibu sedih seperti sekarang ini," tukas Intan dengan kesalnya.
Arion tersenyum dan memegang kedua tangan ibunya. Kemudian dian berkata,
"Terima kasih Bu, Ibu selalu khawatir dan sayang pada Arion. Besok aku akan mencari tahu tentang media sosial gadis ini, agar Ibu tidak lagi penasaran padanya."
Intan tersenyum dan mengusap lembut pundak Arion seraya berkata,
"Cepat bersihkan badanmu. Setelah itu kita makan malam bersama."
Arion pun beranjak dari duduknya. Dia meninggalkan ayah dan ibunya, berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Terima kasih Sayang, kamu benar-benar ibu yang baik bagi Arion. Pilihanku sangat tepat waktu itu. Kamu memberikan semua kasih sayangmu padanya, meskipun--"
"Sssstttt... Jangan teruskan. Aku tidak mau jika Arion mendengarnya," ucap Intan lirih dengan jari telunjuknya yang diletakkan pada bibir suaminya untuk menghentikan ucapannya.
Fabian tersenyum dan memeluk kembali tubuh istrinya semakin erat seolah memberitahukan betapa besarnya cintanya pada istrinya.
...----------------...
Di lain tempat, tepatnya di sebuah rumah mewah dan sangat besar, duduklah seorang gadis di tepi kolam renang sambil menceburkan kedua kakinya dan memainkannya dalam kolam renang tersebut.
Adelia, setelah makan malam bersama dengan kedua orang tuanya, dia memilih untuk menyendiri di tempat tersebut dengan ditemani sebuah buku pemberian dari kakaknya.
"Belum tidur?"
Terdengar suara laki-laki yang familiar di indera pendengaran Adelia yang sedang menyapanya.
Adelia menoleh ke arah sumber suara. Hanya sekilas saja, kemudian dia kembali membaca bukunya sambil memainkan kakinya di dalam air kolam, seolah mengacuhkan laki-laki yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
Laki-laki tersebut berjalan menghampiri Adelia, dia duduk di sebelahnya dan berkata,
__ADS_1
"Sayang, maafkan Kakak ya. Kakak tau kamu pasti marah. Kakak gak punya pilihan lain. Tadi tugasnya benar-benar mendadak."
Laki-laki tersebut adalah Adelio. Dia berusaha meminta maa karena tidak bisa menepati janjinya untuk menjemput saudara kembarnya itu.
"My Princess kesayangan... Maafin Kakak ya... Kamu boleh deh minta apa saja sama Kakak asalkan kamu mau memaafkan Kakak," pinta Adelio dengan tatapan memohon pada saudara kembarnya.
Seketika mata Adelia berbinar. Dia menatap Adelio sambil tersenyum lebar padanya dan berkata,
"Janji harus ditepati."
Adelio terkekeh melihat ekspresi wajah saudara kembarnya itu. Apa lagi dia mendengar perkataan adiknya yang seolah sedang menagih janjinya.
"Iya aku janji," tukas Adelio sambil mengacak-acak rambut Adelia dengan gemas seperti biasanya.
Adelio mengingat sesuatu. Dia menghentikan gerakannya seraya bertanya,
"Tadi kamu jadi dijemput Papa kan?"
"Enggak. Papa ada meeting dan belum selesai. Aku disuruh Papa naik taksi," jawab Adelia sambil mengerucutkan bibirnya.
Adelio memainkan kedua pipi saudara kembarnya itu sambil tertawa. Kemudian dia berkata,
"Kasian... My Princess kesayangan akhirnya naik taksi juga...."
Adelia menyingkirkan kedua tangan saudara kembarnya itu dari pipinya dan berkata,
"Untung saja ada Arion. Aku diantar dia pulang tadi."
"Arion?" tanya Adelio sambil mengernyitkan dahinya.
Adelia menganggukkan kepalanya diiringi kakinya yang bermain air kolam. Dia menutup bukunya dan meletakkan buku tersebut di sampingnya.
"Apa Arion laki-laki yang bersamamu malam itu?" tanya Adelio menyelidik.
"Iya benar. Kenapa Kak?" tanya Adelia dengan tatapan ingin tahunya.
Adelio tersenyum dan kakinya ikut memainkan air kolam renang seperti yang dilakukan Adelia. Dia menoleh ke arah saudara kembarnya dan menatapnya seraya berkata,
"Apa kamu diantar menggunakan motornya?"
"Iya. Memangnya kenapa Kak?" tanya Adelia kembali yang merasa heran dengan pertanyaan kakaknya.
__ADS_1