
Arion sedikit kecewa pada Adelia. Pasalnya dia mengajak kekasih hatinya itu untuk makan siang, tapi gadis cantik pemilik hatinya itu menolaknya dengan alasan banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikannya. Bahkan ketika dia menawarkan untuk membelikannya makanan untuk makan siangnya, dengan tegasnya Adelia menolaknya. Kekasihnya itu mengatakan jika dia sudah dibelikan makanan oleh Mia, sahabatnya yang pagi tadi memergoki mereka sedang bersama.
Namun, Arion masih tetap mencoba untuk bersabar. Dia hanya menuruti kemauan Adelia agar kekasihnya itu tidak marah padanya.
Sedangkan di lain tempat, tepatnya di dalam ruangan Adelia, Mia duduk manis sambil menatap dengan penuh harap pada sahabatnya itu. Gadis cantik pemilik ruangan tersebut masih saja makan dengan tenangnya, meskipun sahabatnya itu berada tepat di hadapannya, sambil menatapnya tanpa berkedip sedikit pun.
"Adelia," panggil Mia dengan suara manjanya pada Adelia yang sedang menikmati makanannya.
"Apa? Mau tanya apa?" tukas Adelia setelah menelan makanannya.
Mia tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya. Kemudian dia berkata,
"Syaratnya apa?"
"Syarat? Syarat apa?" tanya balik Adelia pada Mia yang masih tersenyum lebar padanya.
"Syarat yang tadi, Lia... Kamu gak mungkin lupa kan?" rengek Mia dengan memperlihatkan puppy eyes nya.
"Ngenalin kamu sama cowok ganteng?" tanya Adelia sambil menahan senyumnya.
Dengan cepatnya Mia mengangguk antusias dan matanya berbinar, seolah sedang mendapatkan door prize yang sangat besar.
"Nanti. Sekarang masih belum saatnya," tukas Adelia di sela kunyahan makannya.
"Ck! Ngomong kek dari tadi. Tau gitu aku gak bakal nungguin kamu makan!" ujar Mia sambil memajukan bibirnya.
"Gak usah ngambek gitu, tambah jelek tuh muka," tutur Adelia sambil terkekeh.
"Biarin! Pokoknya kamu punya hutang, buat ngenalin cowok ganteng ke aku!" ujar Mia dengan kesalnya, sambil beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan tersebut.
Sontak saja Adelia tertawa melihat sikap sahabatnya yang masih saja belum berubah, tapi justru itulah yang membuat Adelia menyukai persahabatannya dengan Mia.
Waktu berjalan dengan cepatnya. Tumpukan map yang ada di atas mejanya pun sudah benyak berkurang.
Adelia melihat jam yang melingkar pada tangan kirinya, kemudian dia berkata,
"Sepertinya sudah cukup untuk hari ini."
"Kalian besok saja ya. Mommy mau pulang dulu, mau ketemu sama Daddy kalian," ujar Adelia sambil tersenyum melihat tumpukan map yang tersisa di atas mejanya.
Dengan riangnya Adelia membereskan meja kerjanya. Setelah itu dia memasukkan barang-barang miliknya ke dalam tasnya.
__ADS_1
"Ok, waktunya pulang...," ucap Adelia dengan riangnya.
Gadis cantik itu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar ruangannya dengan senyumannya yang merekah, memperlihatkan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh hatinya.
"Lia!" seru seorang perempuan, yang memanggil nama Adelia.
Adelia menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah belakang dan memutar badannya, ketika melihat seorang perempuan yang telah menjadi sahabatnya sejak lama. Dia tersenyum mengingat saat sahabatnya itu kesal padanya, ketika makan siang tadi.
"Cari makan dulu yuk... Sudah lama kita gak makan bareng sepulang kerja," tukas Mia sambil berjalan menghampiri Adelia.
"Lain kali saja ya Mia. Aku sudah ada janji," ucap Adelia sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya.
Seketika senyum Mia pudar. Wajahnya berubah menjadi murung. Dia berjalan menghampiri sahabatnya itu, dengan memperlihatkan wajahnya yang ditekuk.
"Janji? Janji dengan siapa?" tanya Mia sambil mengernyitkan dahinya.
"Rahasia!" ujar Adelia sambil tersenyum lebar.
Setelah mengatakan hal itu, Adelia segera berjalan cepat meninggalkan Mia yang terlihat tidak terima dengan penolakannya.
Benar saja, saat itu juga Mia berlari kecil mengejarnya. Adelia tersenyum mendengar langkah kaki sahabatnya itu, yang semakin dekat dengannya.
"Lia! Kenapa kamu gak jawab pertanyaanku?" tanya Mia sambil menghentikan langkah Adelia, dengan memegang pundaknya.
Mia semakin tidak terima. Dia menarik lengan Adelia, matanya berkaca-kaca, seraya berkata,
"Lia jahat!"
Tawa Adelia pun semakin pecah. Tangannya memegang perutnya, menahan rasa kram karena tawanya.
Tiba-tiba ada suara motor yang berhenti tepat di depan Adelia dan Mia berdiri. Dengan refleknya mereka berdua menoleh ke arah motor tersebut.
Terlihat seorang laki-laki yang berada di atas motornya, dengan memakai jaket dan helm yang menutupi wajahnya. Dibukanya kaca helmnya itu, dan dia tersenyum manis pada Adelia.
"Mau pulang sekarang?" tanya pemuda tersebut pada Adelia.
Sontak saja tatapan mata Mia mengarah pada Adelia yang terlihat kaget mendengar pertanyaan yang diberikan Arion padanya.
Sudah aku duga. Sepertinya di antara mereka ada sesuatu, Mia berkata dalam hatinya, sambil menatap curiga pada Adelia dan Arion secara bergantian.
Saat itu juga ada sebuah motor sport yang familiar, berhenti tepat di depan mereka. Pengendara motor tersebut membuka helm full faced nya dan menyeringai pada Arion yang sedang menatapnya.
__ADS_1
Pengendara motor tersebut mengalihkan pandangannya pada Adelia dan berkata,
"Kita pulang sekarang, Sayang?"
Seketika mata Mia bersinar melihat pengendara motor tersebut, ternyata adalah Adelio, laki-laki yang dikira oleh Mia sebagai pacar Adelia.
Arion menatap kesal pada Adelio. Dia merasa jika kakak kembar dari kekasihnya itu, tidak menyukainya.
"Emmm... Kok gak bilang sih, kalau mau jemput?" tanya Adelia gugup pada saudara kembarnya.
"Kan mau bikin surprise," jawab Adelio sambil terkekeh.
Adelia tersenyum kaku menanggapi candaan kakaknya. Dia melirik ke arah Arion yang terlihat sangat kesal pada Adelio. Dalam hatinya berkata,
Apa yang harus aku katakan padanya? Kenapa aku bisa lupa jika dia sedang jaga pagi sekarang? Lalu, bagaimana dengan Kenzo? Dia pasti sudah menungguku di tempat yang kita sepakati tadi.
Adelio menangkap kegelisahan hati saudara kembarnya. Tanpa sepengetahuan Adelia, kakaknya itu sudah mengetahui semuanya. Tentu saja karena profesinya sebagai hacker, dia bisa dengan mudah mengetahui isi ponsel saudara kembarnya. Karena itulah, Adelia saat ini berada di saat yang tepat untuk menyelamatkan Adelia, setelah dia membaca semua isi pesan Adelia bersama dengan Kenzo.
"Yuk, buruan. Bukannya kita sudah ditunggu Mama sama Papa?" tanya Adelio sambil mengulurkan helmnya pada Adelia.
Adelia bingung. Dia menoleh ke arah Mia yang menatap penuh kekaguman pada Adelio. Setelah itu dia melihat ke arah Arion yang terlihat sangat kesal saat ini pada Adelio. Kemudian dia melihat ke arah kakaknya, seolah sedang meminta bantuan padanya.
Adelio tersenyum melihat kegelisahan adiknya. Dia turun dari motornya dan berjalan menghampiri Adelia. Dengan sangat hati-hati, tangannya memakaikan helm pada kepala saudara kembarnya, sehingga terlihat sangat romantis dan menjadi salah paham di antara orang-orang yang tidak mengetahui hubungan mereka.
Setelah helm itu terpasang, Adelio tersenyum manis pada Adelia. Tangannya menggandeng tangan Adelia seraya berkata,
"Yuk, pulang sekarang."
Adelia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia duduk di boncengan motor kakaknya dan memegang pinggang saudara kembarnya itu dengan sangat erat. Setelah itu Adelio melajukan motornya, meninggalkan Arion dan Mia yang masih menatap ke arah mereka.
Tanpa mengatakan apa pun pada Mia, Arion segera melajukan motornya untuk mengikuti dua saudara kembar itu.
Namun, bukan Adelio namanya jika dia tidak mengetahui apa yang akan dilakukan Arion. Dia sudah memprediksinya. Oleh karena itu, Adelio melajukan motornya dengan kecepatan penuh, mengecohnya, setelah itu dia melalui jalan lain agar tidak bisa ditemukan oleh Arion.
"Sial!" seru Arion sambil menghentikan motornya, ketika tidak menemukan motor Adelio yang membawa pergi Adelia.
Adelio tertawa puas dari dalam helm full faced nya, ketika tidak mendapati Arion berada di belakangnya.
Tidak lama setelah itu, motor Adelio berhenti di sebuah cafe. Dia menghentikan motornya, menoleh ke belakang untuk melihat adiknya, kemudian dia membuka kaca helmnya dan berkata,
"Lain kali jangan ceroboh."
__ADS_1
"Dari mana Kakak bisa tau?" tanya Adelia sambil mengernyitkan dahinya.