Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 103 Polisi Tampan dan Banker Cantik


__ADS_3

Ayana, Rafael dan Adelio tersenyum lega melihat Adelia dan Aksa saling berpelukan. Beberapa hari setelah kejadian yang menimpa Adelia, mereka berdua menjadi semakin dekat. Bahkan Aksa seolah menjadi pengganti Adelio ketika tidak ada di sampingnya. Kini Rafael, Ayaan dan Adelio bertambah yakin jika Adelia akan bahagia jika menerima lamaran Aksa, dan menjadi istrinya.


"Princess, Sayang, duduklah. Ada yang akan ditanyakan oleh Aksa," tutur Rafael pada Adelia.


Aksa melepaskan pelukannya, dan membawa Adelia duduk di sampingnya. Sedangkan Adelio, dia duduk di kursi yang tidak jauh dari Adelia.


"Eheeemmm ... Jadi, sekarang sudah gak butuh Kakak lagi nih?" tanya Adelio menyindir Adelia.


Adelia menoleh ke arah kakaknya. Dia baru menyadari jika saat ini dia duduk lebih dekat dengan Aksa, dibandingkan dengan Adelio.


"Kak Lio, sini, duduk di sebelah Lia," ujar Adelia sambil menggerakkan tangannya, memanggil Adelio dan menunjuk kursi yang ada di sebelahnya.


Adelio tersenyum, dan beranjak dari duduknya. Dia berpindah tempat duduk di kursi sebelah adiknya.


"Adelia, Sayang, Aksa ingin memberitahukan sesuatu padamu," tutur Rafael untuk memulai pembicaraan.


Seketika Adelia menoleh ke arah Aksa yang sedang duduk di sampingnya, seolah bersiap untuk mendengarkan perkataan Aksa.


Polisi tampan itu tersenyum padanya. Dia memegang kedua tangan Adelia, dan berkata,


"Adelia Putri Atmaja , saya Aksa Putra Nareswara ingin melamar mu. Apakah kamu bersedia menerima lamaran saya?"


Adelia terdiam. Dia terkejut, dan tidak menyangka jika akan mendengar pertanyaan itu dari Aksa, sahabat dekat kakaknya, sekaligus laki-laki yang menjadi seorang pahlawan baginya.


Adelio tersenyum melihat ekspresi adiknya, tapi dia sangat yakin jika Adelia mau menerima lamaran Aksa. Selama beberapa hari setelah kejadian yang menimpanya, Adelia sama sekali tidak menanyakan tentang Kenzo. Hal itulah yang membuat Adelio menyetujui keinginan Aksa untuk melamar Adelia. Begitu pula dengan Ayana dan Rafael, mereka berdua mempunyai pemikiran yang sama, sehingga kehadiran sosok Aksa saat ini sangat dibutuhkan oleh putri mereka.


"Adelia, Sayang, bagaimana?" tanya Rafael dengan sangat lembut pada putrinya.


Adelia beralih memandang ke arah papanya. Akan tetapi, dia masih terdiam, dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Apa Lia mau menerima Aksa sebagai suami kamu, Sayang?" tanya Ayana sambil tersenyum menenangkan.


Tanpa sadar, Adelia menganggukkan kepalanya perlahan. Seketika semua orang yang ada di sana, tersenyum senang. Kini mereka mempunyai harapan baru untuk Adelia.


Aksa tersenyum menatap gadis yang sedang memberikan jawaban atas lamarannya. Anggukan kepala dari Adelia, akan merubah jalan hidup mereka berdua.


Seorang polisi tampan telah memilih seorang banker cantik untuk menjadi istrinya. Aksa, seorang polisi muda tampan dan mempunyai prestasi yang luar biasa dalam pekerjaannya, akan bersanding dengan Adelia, seorang banker muda cantik memiliki segudang prestasi.


"Selamat bergabung menjadi anggota keluarga Atmaja," ucap Adelio, sambil mengulurkan tangannya pada Aksa.


Aksa pun mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Adelio, seraya berkata,


"Terima kasih. Sebentar lagi kita bukan hanya menjadi sahabat, tetapi saudara ipar."

__ADS_1


Dua sahabat itu pun tertawa lepas, dan semakin mempererat jabatan tangan mereka. Rasa solidaritas antar sahabat yang selama ini mereka terapkan, kini akan semakin memperdalam hubungan mereka.


"Baiklah, adik ipar," ujar Adelio di sela tawanya, sambil menggerak-gerakkan jabatan tangan mereka.


"Terima kasih, kakak ipar," tukas Aksa diiringi tawa semua orang yang ada di sana.


"Jadi, kapan orang tuamu datang kemari?" tanya Rafael serius pada Aksa.


"Secepatnya, Om," jawab Aksa dengan tegas, tanpa ragu sedikit pun.


Semburat merah kini menghiasi wajah cantik Adelia. Dia tersipu malu di hadapan semua orang yang sedang berbahagia setelah mendapatkan jawaban darinya.


...****************...


Saat bahagia pun tiba. Malam ini kedua orang tua Aksa berkunjung ke kediaman keluarga Atmaja. Mereka membawa beberapa barang, beserta cincin yang dibawa oleh Aksa untuk melamar Adelia.


Dua keluarga itu berkumpul di ruang tamu, dan saling berkenalan satu sama lain. Mereka saling bersalaman dan menyebutkan nama mereka.


Ayana dan Rafael menyambut dengan baik niat Abhiyasa dan Hani sebagai orang tua Aksa, untuk melamar Adelia sebagai istri putra mereka.


Prosesi lamaran itu pun berjalan dengan sangat menyenangkan. Adelia terlihat begitu cantik dan elegan menggunakan gaun berwarna putih yang terbalut indah di badannya. Sedangkan Aksa, dia pun terlihat begitu tampan menggunakan setelan jas warna senada dengan gaun yang dipakai oleh Adelia. Mereka berdua terlihat sangat serasi pada saat prosesi tukar cincin.


"Lihatlah. Mereka berdua sangat serasi," tutur Ayana, sambil menunjukkan layar kamera yang dipegangnya pada Hani.


"Semoga mereka berdua selalu diberi kebahagiaan," ucap Hani sambil tersenyum bahagia melihat foto tersebut.


"Semoga cinta mereka berdua semakin hari, semakin bertambah," ujar Ayana menambahkan ucapan Hani.


Di sisi lain, Rafael dan Abhiyasa yang baru saja selesai mengobrol berdua, kini mereka berjalan menghampiri istri mereka.


"Bagaimana? Apa sudah ditentukan tanggal pernikahan mereka?" tanya Rafael yang baru saja datang bersama dengan Abhiyasa.


Ayana dan Hani saling memandang, kemudian mereka saling tersenyum, seolah memperlihatkan kekompakan mereka berdua.


"Kami sepakat akan mengurusnya. Paling tidak, satu bulan lagi pernikahan itu bisa diadakan," jawab Ayana memberitahukan kesepakatannya dengan Hani.


"Kenapa lama sekali? Apa tidak bisa satu minggu lagi?" tanya Rafael, memprotes keputusan istrinya


"Pa, saya dan Ibu Hani, menginginkan yang spesial untuk pernikahan mereka berdua. Jadi, kami berharap pernikahan mereka akan menjadi momen yang sangat indah dan tidak dapat mereka lupakan, sampai kapan pun," jawab Ayana dengan sangat percaya diri.


Keputusan para istri tidak dapat diganggu gugat. Rafael dan Abhiyasa hanya bisa menyetujui, serta mendukung keputusan istri mereka.


...****************...

__ADS_1


Sebulan sudah acara lamaran itu digelar. Kini, pesta pernikahan Aksa dan Adelia diadakan di sebuah hotel bintang lama yang berada di pusat kota.


Perjalanan sepasang pengantin itu tidaklah mudah. Aksa harus sabar menemani Adelia di saat trauma itu kembali. Terlebih lagi di saat dia harus datang di persidangan Arion. Trauma Adelia begitu dalam, sehingga dia histeris dan menangis memeluk Aksa sebagai pelindungnya, ketika melihat wajah Arion. Beruntungnya, Aksa bisa menenangkannya, sehingga Adelia bisa kembali tenang, dan duduk untuk memberikan keterangan dalam sidang tersebut.


Adelia memang masih rutin melakukan pengobatan pada dokter psikiater, dan keadaannya hari demi hari semakin membaik. Sayangnya, dia harus kembali menghadapi rasa traumanya kembali. Dokter memang mengijinkannya, dan dia meyakinkan Adelia, bahwa Adelia harus berani dan bisa melawan traumanya itu ketika bertemu dengan Arion.


Namun, ketenangan Adelia semakin memudar. Traumanya kembali datang ketika reka adegan itu dimulai. Bayangan Arion yang sedang memaksanya untuk mau melakukan keinginannya, membuatnya semakin histeris.


Aksa segera membawa Adelia keluar dari ruangan tersebut, dan berusaha untuk menenangkannya kembali di ruangan lainnya.


Kini, masa itu pun sudah mereka lalui. Arion dan Intan sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka. Aksa dan Adelia hanya mengharapkan kebahagiaan dalam kehidupan pernikahan mereka.


Setelah usainya pesta pernikahan mereka berdua yang digelar dengan begitu meriah, kedua keluarga berkumpul di ruangan mereka untuk makan malam bersama. Adelio, Ayana, Rafael, Abhiyasa dan Hani berdiri di dekat pintu, untuk menyambut kedatangan Adelia dan Aksa ke dalam ruangan tersebut.


"Selamat atas pernikahan kalian berdua!"


Mereka semua berseru dan bertepuk tangan menyertai langkah kaki sepasang pengantin tersebut hingga duduk di meja yang sudah disediakan.


Adelia dan Aksa merasa heran, karena ditatap oleh kedua orang tua mereka. Adelia pun menyenggol tangan Aksa, dan memberi tanda agar suaminya itu bertanya pada mereka.


"Kenapa kalian semua menatap kami seperti itu?" tanya Aksa sambil menatap bergantian, pada dua pasang suami istri yang masih saja menatap mereka berdua.


"Kami segera menginginkan cucu dari kalian berdua," jawab Ayana dengan tegasnya, disertai anggukan kepala dari Rafael, Abhiyasa dan Hani.


Adelia dan Aksa saling menatap. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka berdua saat ini.


Adelio beranjak dari duduknya. Dia berdiri di antara Sepasang pengantin yang sedang duduk itu, dan merangkul pundak mereka. Dia menggerakkan kepala Adelia dan Aksa sehingga terlihat mengangguk, dan berkata,


"Kami berdua siap melakukannya, Ma, Pa."


Tawa mereka semua menjadi awal dari kebahagiaan dua keluarga yang kini mempunyai hubungan dekat. Dua keluarga itu pun siap membantu dan menjaga sepasang pengantin baru tersebut, agar selalu merasakan kebahagiaan.


...END...


...****************...


Note :


Nantikan kelanjutan kisah cinta Adelio dan pasangannya, serta kisah Adelia dan Aksa setelah pernikahan mereka.


Untuk kisah kehidupan Aksa sebelum bertemu dengan Adelia, bisa kalian baca di buku yang berjudul:


Polisi Tampan dan Banker Cantik

__ADS_1


Polisi Tampan dan Banker Cantik 2


__ADS_2