
Suara Adelio mengagetkan Adelia yang sedang melamun saat ini. Dia menoleh ke arah sumber suara yang terdapat saudara kembarnya sedang berdiri di belakangnya.
Adelia menghela nafasnya menanggapi ledekan dari Adelio. Kemudian dia berkata,
"Masih trial kak...."
Seketika Adelio tertawa mendengar jawaban dari saudara kembarnya. Dia berjalan mendekatinya dan mencubit gemas hidungnya seraya berkata,
"Trial... Kayak lagi beli sesuatu aja."
Adelia melepaskan tangan kakaknya yang berada di hidungnya. Dia mencebik kesal dan berkata,
"Ck! Ini semua gara-gara...."
Adelio mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Adelia yang menggantung di udara.
"Gara-gara kasihan?" tanya Adelio sambil tersenyum getir pada saudara kembarnya.
Adelia menghela nafasnya, kemudian dia menganggukkan kepalanya secara perlahan.
Adelio meletakkan kedua tangannya pada pundak Adelia dan berkata,
"Tanpa kamu bicara pun Kakak sudah tau. Dalam waktu yang ditentukan, sebaiknya kamu bisa menjaga dirimu. Kamu mengerti maksudnya kan?"
Seketika mata Adelia terbelalak. Dia kaget mendengar kakaknya yang mengetahui tentang permintaan Arion padanya.
"Kakak tau dari mana?" tanya Adelia tanpa sadar pada Adelio.
Adelio tersenyum dan mengacak-acak rambut saudara kembarnya itu seraya berkata,
"Kamu lupa ya siapa Kakak? Saudara kembarmu ini pasti tau di mana kamu berada."
Adelia menghela nafasnya. Dia menatap saudara kembarnya itu dengan tatapan penuh rasa bersalah seraya berkata,
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Aku gak bisa jawab. Ikuti saja kata hatimu. Aku cuma bisa mengingatkan saja. Kamu harus tetap hati-hati sama dia, meskipun dia sudah jadi pacarmu. Bahkan jika kamu sudah mencintainya, kamu harus tetap waspada," tutur Adelio dengan tatapan serius pada Adelia.
"Memangnya kenapa Kak? Ada apa? Apa dia orang yang mencurigakan?" tanya Adelia menyelidik.
__ADS_1
Adelio menghela nafasnya. Dia menatap saudara kembarnya itu sambil tersenyum agar Adelia tidak khawatir. Kemudian dia berkata,
"Aku hanya tidak nyaman. Aku merasakan ada sesuatu yang akan terjadi nanti."
"Kak... Bagaimana dong? Apa aku ralat aja ya jawabanku tadi?" tanya Adelia dengan memperlihatkan puppy eyes nya.
Adelio terkekeh mendengar pertanyaan Adelia, apalagi melihat ekspresi wajahnya saat ini. Tangannya kembali meraih rambut Adelia dan mengacak-acak rambutnya dengan gemas seraya berkata,
"Kamu ini ada-ada saja. Mana ada jawaban untuk pernyataan perasaan cowok bisa diralat?"
Adelia menghela nafasnya. Dia menatap jari-jarinya yang sedang memainkan ujung bajunya. Kemudian dia berkata,
"Terus gimana dong?"
Adelio merapikan rambut adiknya dengan penuh kelembutan dan berkata,
"Ya seperti yang aku katakan tadi. Jika kamu ingin melakukannya, lakukan saja. Akan tetapi kamu harus berhati-hati. Mengerti?"
Adelia menganggukkan kepalanya. Kemudian dia tersenyum lebar dan berkata,
"Aku yakin Kakak gak bakalan melepaskan Lia gitu aja. Kakak pasti akan memantau Lia."
Adelia tersenyum lebar menampakkan deretan giginya tanpa menjawab pertanyaan dari saudara kembarnya.
Adelio terkekeh sambil mengacak-acak gemas rambut Adelia, kemudian dia berjalan keluar dari ruangan tersebut tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Ikatan batin antara keduanya sangat kuat. Terutama Adelio, dia mengambil alih peran orang tuanya untuk menjadi pelindung saudara kembarnya.
Setelah malam berlalu, pagi pun menyapa Adelia yang sedang gundah akan perasaannya.
Adelia menatap bayangan dirinya pada cermin yang ada di hadapannya. Terlihat jelas kegundahan hatinya saat ini. Dia menghela nafasnya dan berkata,
"Nanti kalau bertemu dengan Arion bagaimana ya? Apa dia akan bersikap seperti kemarin di hadapan semua orang?"
"Kenapa aku jadi begini? Aku gak pernah merasa seperti ini meskipun sedang ujian. Apa mungkin yang dikatakan oleh Kak Lio benar?"
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja di benak Adelia. Benar yang dikatakan oleh Adelio, saudara kembarnya. Ada rasa tidak nyaman pada dirinya saat ini.
Namun, dia yakin jika Adelio, saudara kembarnya itu pasti akan melindunginya. Dia menghela nafasnya dan melihat cermin sambil tersenyum dan berkata,
__ADS_1
"Semangat Adelia. Itu sudah menjadi keputusanmu. Lakukan saja dan lihatlah apa yang akan terjadi nanti."
Adelia beranjak dari duduknya dan merapikan pakaiannya di depan cermin. Dia menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Kemudian dia menganggukkan kepalanya seolah sudah bersiap untuk memulai harinya.
Hari ini Adelia berangkat bekerja sendiri, tanpa Adelio yang mengantarkannya ataupun mengikutinya. Biasanya saudara kembarnya itu selalu mengikutinya di belakang kendaraan Adelia tanpa sepengetahuannya.
Namun, hari ini Adelio berangkat terlebih dahulu karena tugas pentingnya. Oleh karena itulah Adelia sedikit sedih tanpa bertemu dengan saudara kembarnya terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja.
Setelah beberapa saat dia mengendarai mobilnya, kini mobil Adelia sudah terparkir di tempat parkiran kantornya. Dia menatap bangunan kantor tersebut dengan helaan nafasnya serta keraguan untuk berjalan masuk ke dalam sana.
Tiba-tiba mata Adelia terbelalak ketika melihat seseorang berdiri di samping pintu mobilnya dan tersenyum padanya seraya tangannya membuka pintu mobil Adelia.
Senyuman itu membuat Adelia teringat akan pagi yang membuat mereka pertama kali berbicara. Arion, dialah laki-laki yang sedang membukakan pintu mobil Adelia, seolah sedang memperlakukannya seperti seorang laki-laki pada pasangannya.
Adelia keluar dari mobilnya dan memaksakan senyumnya pada Arion, laki-laki yang semalam sudah menyatakan perasaan cinta padanya.
"Pagi Sayang," sapa Arion sambil tersenyum manis dan terlihat sangat bahagia saat ini.
"Sssst... Jangan memanggil aku seperti itu," ucap Adelia sambil menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri.
Arion mengernyitkan dahinya. Senyumnya seketika hilang ketika melihat wajah Adelia yang serius saat ini.
"Kenapa? Apa kamu malu denganku?" tanya Arion yang juga tidak kalah serius dengan Adelia.
Adelia menghela nafasnya. Kemudian dia berkata,
"Bukan begitu. Ini kantor. Lebih baik kita tidak membuat gosip di sini. Kamu tau sendiri kan, betapa mengerikannya mulut karyawan jika ada gosip tentang karyawan di kantor ini?"
Arion berpikir sejenak. Dia berpikir jika apa yang dikatakan oleh Adelia memang benar adanya. Akan tetapi rasa egoisnya timbul. Dia ingin sekali menyombongkan hubungannya pada semua orang yang selama ini mengagumi dan menginginkan Adelia sebagai pasangan mereka, terutama Dion.
Namun, dia tidak mau Adelia marah padanya. Terlebih lagi dia mengingat tentang pembicaraan mereka semalam. Adelia kecewa pada sikap Arion yang berubah karena egois dan rasa irinya. Oleh karena itulah Arion mengalah untuk saat ini.
Baiklah, untuk sekarang aku akan merahasiakan hubungan kita. Akan tetapi setelah ini aku akan membuat semua orang tau akan hubungan kita. Aku akan membuat mereka berhenti merendahkan aku dan mengatakan aku gak pantas untukmu, Arion berkata dalam hatinya.
Arion tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk menyetujui permintaan Adelia. Dia berjalan di samping Adelia dan tidak berhenti tersenyum sambil menatap pujaan hatinya.
Adelia merasa tidak nyaman dengan sikap Arion yang seperti itu. Memang baru kali ini Adelia menjalin hubungan dengan laki-laki. Akan tetapi perkataan Adelio membuatnya berpikir ulang dan akan berhati-hati sesuai dengan apa yang diperintahkan Adelio padanya.
"Kenapa kalian berjalan bersama?"
__ADS_1