
Badan Intan terkulai lemas dalam dekapan Fabian. Dia benar-benar dibuat habis-habisan oleh Fabian untuk menurutinya menuntaskan hasratnya.
Intan mencebik kesal dalam dekapan suaminya. Pasalnya Fabian membuatnya kewalahan untuk meladeninya. Dia memukul-mukul dada suaminya, seraya berkata,
"Mas jahat! Aku capek, lelah gara-gara kamu."
Fabian terkekeh di sela nafasnya yang terengah-engah. Terlihat jelas dari wajahnya jika dia sangat senang saat ini.
Namun, kesenangan Fabian membuat Intan menjadi sangat lelah dan kewalahan, sehingga Intan menjadi kesal padanya.
"Maaf, Sayang. Dari tadi aku menunggumu, tapi kamu malah asik dengan HP barumu. Dan akhirnya, aku tidak bisa menahannya lagi," ujar Fabian sambil memeluk erat tubuh istrinya.
Intan yang sudah terlanjur kesal, tidak mau dipeluk oleh suaminya. Dia mencoba dengan sekuat tenaganya untuk mendorong tubuh Fabian, agar tidak memeluknya. Akan tetapi, Fabian tidak membiarkannya begitu saja. Dia semakin erat memeluk Intan, hingga istrinya itu menyerah dan tidak berusaha melepaskan dirinya dari pelukannya.
Setelah beberapa saat kemudian, terdengar suara dengkuran halus dari mulut Intan. Dia tertidur di dalam dekapan suaminya. Fabian tersenyum mendengar dengkuran halus istrinya. Dia kembali mengeratkan pelukannya, seolah tidak ingin kehilangan istrinya.
Intan merasakan pelukan Fabian yang semakin erat. Dia tersenyum tipis dan bersorak dalam hatinya. Tidak bisa dipungkiri jika Intan adalah Ruby, yang selalu senang jika dibutuhkan laki-laki. Apalagi laki-laki yang sellau membutuhkannya dan tidak ingin kehilangannya. Dia merasa bangga akan dirinya sendiri. Dalam hatinya berkata,
Meskipun kamu tidak kaya, Mas, tapi aku yakin kamu tidak mau kehilangan aku, dan tentunya kamu akan selalu mau menuruti semua keinginan aku.
Di tempat lainnya, sepasang suami istri yang saling mencintai, sedang melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Fabian dan Intan. Rafael, sang suami luar biasa milik Ayana, malam ini membuktikan keluarbiasaan dirinya di ranjang malam ini. Sang istri pun terkulai lemas menuruti keinginan suaminya.
Namun, perbedaannya sangat jauh. Cinta Ayana dan Rafael begitu besar dan tidak bersyarat. Sedangkan Intan, entah dia mencintai Fabian atau tidak, yang dia tahu, dia hanya membutuhkan Fabian untuk tempat berlindung. Akan tetapi, Fabian sangat mencintainya, sehingga dia selalu mengalah dan tidak pernah menyalahkan Intan.
"Sayang, apa kamu akan benar-benar menjodohkan Adelio dengan putri dari temanmu itu?" tanya Ayana yang sedang berada dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
"Kita coba temukan mereka saja dulu. Dia gadis yang baik, pintar dan sopan. Kamu pasti akan menyukainya," jawab Rafael sambil mengusap lembut punggung istrinya.
Ayana mengurai sedikit pelukan suaminya dan berkata,
"Jika Adelio tidak menyukainya, apa kamu tidak akan menjodohkan mereka?"
"Sebenarnya sayang sekali jika Adelio tidak mau dengannya. Di samping memang gadis itu pilihan terbaik, background keluarganya pun sangat dibutuhkan oleh perusahaan kita. Jadi--"
"Ingat prinsip kita. Tidak akan memaksakan kehendak kita menyangkut masalah jodoh pada anak-anak kita," sahut Ayana dengan tegas dan menatap suaminya dengan tatapan yang seolah tidak mau dibantah.
Rafael tersenyum dan mencubit gemas hidung istrinya, seraya berkata,
"Iya, Sayang. Aku mengerti. Aku akan selalu ingat prinsip kita itu. Hanya saja aku menyayangkannya jika sampai putra kita menolaknya."
Ayana melepaskan tangan Rafael dari hidungnya, kemudian dia berkata dengan tegas,
Merasa istrinya yang sudah mulai kesal padanya, Rafael pun diam. Dia membawa kembali tubuh istrinya dalam pelukannya dan berkata,
"Aku akan selalu menuruti keinginanmu, apa pun itu, karena aku tidak mau kamu jauh dariku, apalagi memusuhiku."
Semburat merah tersirat pada wajah Ayana. Kata-kata Rafael selalu saja berhasil membuatnya tersipu malu. Sampai detik ini pun tidak ada yang berubah dari mereka. Perasaan mereka, sikap mereka satu sama lain dan cinta yang mereka miliki.
Namun, cinta mereka semakin hari semakin bertambah, sehingga rasa tidak ingin kehilangan satu sama lain membuat mereka saling menginginkan hingga detik ini. Tidak hanya itu saja, keharmonisan keluarga mereka pun semakin hari semakin membahagiakan, sehingga mereka saling merindukan meskipun hanya berpisah sebentar saja.
Kedua anak kembar mereka pun merasakannya. Adelia dan Adelio yang tumbuh di tengah-tengah pasangan harmonis dan penuh cinta, membuat mereka berdua berlimpah kasih sayang dan selalu berbuat baik pada orang lain. Sebab itulah, Adelia selama ini tidak bisa menolak keinginan Arion.
__ADS_1
"Sudahlah, lebih baik sekarang kita beristirahat. Kita akan membahasnya besok bersama dengan Adelio," tutur Rafael sambil memeluk erat tubuh istrinya.
Ayana pun bergerak, mencari tempat ternyaman pada dada bidang suaminya. Setelah itu matanya terpejam dan mencoba terlelap dalam dekapan pria yang menjadi teman hidupnya selama ini.
Rafael mendaratkan bibirnya pada dahi istrinya. Dia menciumnya dengan sangat lembut dan penuh perasaan, seolah sedang memberitahukan rasa cintanya yang mendalam pada istrinya. Setelah itu, dia pun ikut memejamkan matanya, berharap akan hari esok akan lebih baik dan membahagiakan bagi keluarga mereka.
Dua sejoli tersebut larut dalam heningnya malam. Pelukan mereka saling memberi kehangatan dan perlindungan akan cinta kasih mereka berdua.
Malam pun semakin larut, sehingga membuat semua orang mengistirahatkan tubuhnya. Akan tetapi, untuk malam ini Adelio tidak dapat dengan nyenyak memejamkan matanya. Dia memikirkan tentang ucapan papanya.
Adelio menatap langit-langit kamarnya dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada nantinya. Kemudian dia berkata lirih,
"Aku yakin jika Papa menginginkan aku untuk bisa menikah dengan gadis itu. Apa aku harus menyetujuinya? Apa aku bisa menolaknya, jika nantinya aku merasa gak nyaman dengannya?"
Tiba-tiba Adelio beranjak duduk dari tidurnya. Dia menatap lurus ke depan dan berkata,
"Bagaimanapun aku harus menjadi anak berbakti bagi mereka, tapi aku yakin mereka tidak akan memaksaku. Sebaiknya aku tenang saja dan tidak terlalu mengkhawatirkan tentang perjodohan ini. Sekarang aku harus fokus pada Adelia. Aku mempunyai firasat buruk yang akan menimpa Adelia. Aku gak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan menjaganya, meskipun dengan mempertaruhkan nyawaku,"
Kemudian dia merebahkan kembali tubuhnya pada tempat tidur kesayangannya. Selang beberapa saat setelah dia memejamkan matanya, dia kembali membuka matanya dan beranjak duduk kembali.
"Aku akan melihatnya," ucap Adelio sambil beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan keluar kamarnya.
Tanpa mengetuk pintu kamar yang ada di sebelahnya, Adelio berhasil masuk ke dalam kar tersebut. Dia berjalan menghampiri tempat tidur yang terdapat Adelia sedang berbaring di sana.
Bibirnya melengkung ke atas melihat sosok kembarannya yang sedang mendengkur halus saat ini. Dia duduk di sebelah adiknya, dan mengusap lembut pipi Adelia, seraya tersenyum melihat wajah damai dari saudara kembarnya.
__ADS_1
"Emmm ... Jangan! Jangan lakukan itu! Tolong! Tolong aku!"