Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 58 Sebuah Rencana


__ADS_3

Kata balas dendam yang diucapkan oleh Intan membuat Arion terkesiap. Pasalnya dia tidak mengira jika ibunya mempunyai pikiran seperti itu.


"Tidak, Bu. Balas dendam itu tidak baik. Lagi pula Arion benar-benar cinta padanya," ujar Arion pada ibunya.


Untungnya tidak ada Ayah kamu. Jika ada, aku pasti akan diceramahi panjang lebar olehnya, Intan berkata dalam hatinya.


Langkah kaki Arion terasa sangat berat saat ini. Dia memang merasa sangat lapar saat ini, tapi dia enggan untuk bersama dengan kedua orang tuanya, karena dia tidak ingin ditanya ataupun menjawab pertanyaan kedua orang tuanya.


Jujur saja, saat ini dia enggan membicarakan tentang Adelia. Akan tetapi, jika dia telah berhasil meluluhkan hati Adelia untuk tetap bersamanya, dia akan dengan senang hati mengatakan pada kedua orang tuanya. Bahkan dia berencana untuk segera melamarnya ketika Adelia menerima kembali cintanya.


"Baru bangun, Arion?" tanya Fabian saat Arion duduk pada kursi yang ada di depannya.


Arion tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya untuk menanggapi pertanyaan yang diberikan Fabian padanya.


"Ini nasinya, makanlah. Setelah ini kamu harus mandi, biar segar dan Ibu ingin bicara padamu," tutur Intan seraya memberikan piring yang berisi nasi beserta lauknya.


Arion menerima piring tersebut. Tanpa menanggapi perkataan ibunya, dia menyantap makanan yang ada di hadapannya itu dengan lahapnya, seolah ingin cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut.


Intan menghela nafasnya melihat Arion yang bersikap tidak biasanya. Fabian memegang tangan istrinya dan tersenyum padanya, seraya berkata,


"Setelah ini kita akan membeli keinginanmu."


Mendengar perkataan suaminya, Intan tersenyum lebar dan berkata,


"Benarkah Mas?"


Fabian menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis pada istrinya. Kemudian dia berkata,


"Iya, benar. Mana pernah suamimu ini mengecewakanmu?"


Intan tersenyum bahagia dan mengambilkan lauk kesukaan Fabian, seraya berkata,


"Ini, Mas. Makanlah."


Fabian pun terkekeh mendapat perlakuan seperti itu dari istrinya. Dia menyendok makanannya dan mengarahkan pada mulut Intan, seraya berkata,


"Ini, makanlah."


Intan menerima suapan dari suaminya dan terlihat sangat bahagia saat ini. Hal itu tidak lepas dari pengamatan Arion. Dalam hatinya berkata,


Aku akan melakukan hal yang sama dengan Adelia. Tunggu saja waktunya, aku dan Adelia akan selalu bahagia seperti mereka berdua.


Setelah menghabiskan makanannya, Arion segera beranjak dari duduknya dan berkata,


"Aku mandi dulu."

__ADS_1


Sontak saja Fabian dan Intan menoleh ke arah putra mereka yang sudah berlalu begitu saja, tanpa menunggu tanggapan dari kedua orang tuanya.


"Sudahlah, biarkan saja. Sepertinya Arion saat ini sedang butuh menyendiri," tutur Fabian pada istrinya.


Sialan memang keluarga Atmaja. Lihat saja, aku akan membalas dendam untuk diriku sendiri dan untuk Arion. Kalian nantikan saja pembalasan dendam kami, Intan berkata dalam hatinya.


"Sayang, kenapa melamun? Apa sudah selesai makannya? Jika sudah, sebaiknya kamu bersiap-siap, kita akan--"


"Berangkat sekarang saja. Aku sudah selesai makannya," sahut Intan dengan sangat antusias.


Fabian kembali terkekeh melihat reaksi istrinya. Dia beranjak dari duduknya dan menarik tangan istrinya, agar ikut bersamanya. Dia pun berkata,


"Ayo, kita berangkat sekarang."


"Tunggu Mas. Aku harus membereskan semua ini dulu sebelum pergi," ucap Intan sambil beranjak dari duduknya.


"Aku bantu, agar lebih cepat selesai," tukas Fabian sambil melepaskan tangannya dari tangan istrinya.


Mereka berdua membereskan meja makan tersebut dan membersihkannya. Semua perlengkapan makan yang kotor tadi dicuci bersama oleh mereka berdua.


"Sudah selesai semua. Ayo kita pergi sekarang," ucap Fabian sambil merangkul pundak istrinya dan mengajaknya berjalan keluar dari dapur.


Selang beberapa saat kemudian, mereka berdua keluar dari dalam kamar dengan berpakaian rapi. Intan mengetuk pintu kamar Arion dan berseru,


"Arion! Ayah dan Ibu akan pergi keluar sebentar. Kamu dengar kan?"


Intan menoleh ke arah suaminya yang ada di sampingnya. Fabian hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seolah mengatakan jika mereka harus berangkat dan membiarkan Arion sendirian, tanpa mengganggunya lagi saat ini.


Intan menganggukkan kepalanya dan menuruti suaminya untuk berjalan pergi meninggalkan kamar Arion. Sesampainya di teras rumah, Fabian memberikan helm pada Intan.


"Pakaikan dong, Mas," ucap Intan dengan manja pada suaminya.


Fabian tersenyum geli melihat tingkah manja istrinya. Akan tetapi dia tetap menurutinya. Helm tersebut dipakaikan oleh Fabian dengan sangat hati-hati. Intan tersenyum sambil melirik ke arah beberapa orang yang sedang memperhatikan mereka. Dalam hati dia berkata,


Kenapa? Kalian iri? Lihat saja keromantisan kami. Kalian semua pasti iri melihat Mas Fabian nurut banget sama aku. Biar saja, akan aku buat kalian lebih iri lagi dengan kami.


"Sudah pas kan?" tanya Fabian pada istrinya.


Intan tersenyum malu-malu dan menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban dari pertanyaan suaminya.


"Ayo kita berangkat," ujar Fabian sambil menaiki motornya.


Intan duduk menyamping di boncengan motor tersebut, sambil melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya dengan sangat erat.


"Mari, Bu," sapa Fabian pada beberapa ibu-ibu yang sedang dilewatinya.

__ADS_1


Para ibu-ibu itu hanya menatap dengan ekspresi kesal pada Intan yang sedang menyeringai pada mereka, seolah-olah dia menyatakan kemenangannya pada mereka.


"Lihat itu Bu Intan, dia berlagak seperti istri kesayangan saja."


"Dia memang istri kesayangannya Pak Fabian."


"Iya, benar. Perlakuan Pak Fabian berbeda dengan istrinya yang dulu."


"Bukannya Pak Fabian memang suami yang romantis? Dulu sama istrinya juga romantis."


"Huuusss kamu salah. Pak Fabian memang romantis dengan istrinya yang dulu, tapi berbeda dengan istrinya yang sekarang. Pak Fabian yang sekarang lebih penurut dan sepertinya dia juga tidak bisa lepas dari istrinya."


"Jadi, apa benar gosip tentang kematian istrinya waktu itu?"


"Gosip tentang Bu Intan ada hubungan dengan Pak Fabian sebelum istrinya meninggal?"


"Iya, benar. Bahkan gosipnya, Bu Intan penyebab kematian ibu Arion."


"Apa itu benar?"


"Entahlah. Jika dipikir-pikir, bisa juga sih itu penyebabnya. Karena pada saat ibu Arion meninggal, Bu Intan tinggal di rumah itu. Dia menggantikan ibu Arion untuk mengasuh Arion."


"Pada akhirnya dinikahin juga."


Terdengar suara tawa mereka semua. Para ibu-ibu yang bergosip tentang Intan dan Fabian itu, dengan santainya mengeluarkan pendapat mereka, tanpa melihat di sekitarnya. Bahkan saat itu ada anak mereka yang berada tidak jauh dari kumpulan ibu-ibu itu.


Seorang pemuda yang ada di sana mendengar jelas semuanya. Dalam hatinya berkata,


Apa benar semua yang dikatakan oleh ibu-ibu itu? Apa aku harus mencari tahu?


Di tempat lain, tepatnya di salah satu konter terbesar dalam Mall, Intan memilih salah satu ponsel keluaran terbaru. Terlihat dengan jelas binar kebahagiaan dari wajahnya saat ini. Bibir Fabian melengkung ke atas melihat wajah bahagia istrinya.


"Yang ini Mas. Saya pilih yang ini," ujar Intan sambil menunjuk salah satu ponsel keluaran terbaru yang terkenal sangat canggih.


Penjaga toko tersebut mengambilkan ponsel itu dan berkata,


"Apa mau yang ini Bu? Saya akan membuka segelnya jika Ibu sudah membayarnya."


"Iya, Mas. Saya mau yang itu," jawab Intan dengan mata yang berbinar.


"Sayang, ayo cepat bayar," tukas Intan sambil menggandeng manja lengan Fabian.


Fabian tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pada istrinya. Kemudian dia menoleh ke arah penjaga toko tersebut, seraya berkata,


"Berapa Mas?"

__ADS_1


"Empat belas juta Pak," jawab penjaga toko tersebut.


"Apa?! Empat belas juta?!" tanya Fabian dengan memperlihatkan wajah terkejutnya.


__ADS_2