Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 42 Sakit Gigi


__ADS_3

Seketika Adelia terkesiap mendengar suara lelaki yang kini sudah berada di depannya, sambil tersenyum padanya.


"Arion?!" celetuk Adelia sambil mengerjapkan matanya, sehingga bulu matanya yang lentik bergerak naik turun.


"Kenapa, Sayang?" tanya laki-laki yang ada di depan Adelia.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Adelia tanpa bergerak dari tempatnya saat ini.


"Aku jaga malam hari ini. Maaf aku tidak bisa mengantarkan kamu pulang. Padahal hari ini aku berencana untuk mengajakmu jalan, sepulang kita bekerja," jawab laki-laki tersebut dengan memperlihatkan wajah menyesalnya.


Tiba-tiba terdengar suara mobil yang mendekati mereka. Tidak hanya itu saja, mobil itu membunyikan klaksonnya, ketika berhenti tepat di hadapan mereka.


Sontak saja Adelia sadar akan posisinya saat ini. Dia segera meninggalkan Arion yang berdiri tepat di hadapannya, dan berjalan masuk ke dalam mobil tersebut.


"Sayang! Kamu mau ke mana?" tanya Arion ketika Adelia hendak masuk ke dalam mobil tersebut.


Namun, Adelia lebih memilih untuk berpura-pura tidak mendengarnya. Dia lebih memilih untuk segera pergi dari tempat tersebut, dan meninggalkan Arion yang masih berdiri di tempatnya.


"Siapa laki-laki itu?" tanya pengemudi mobil pada Adelia, yang sudah duduk dalam mobil tersebut


"Dia salah satu security di sini," jawab Adelia sambil memakai sabuk pengamannya.


Laki-laki yang mengendalikan kemudi mobil tersebut mengernyitkan dahinya. Dia menatap kesal pada Arion yang sedang berjalan ke arahnya. Dengan cepatnya dia menjalankan mobil tersebut, sehingga Arion tidak bisa menggapai pintu mobil tersebut.


Arion menatap nanar mobil tersebut, yang membawa kekasih hatinya pergi dari hadapannya. Dalam hatinya mengutuk pengemudi mobil tersebut, yang diyakininya adalah laki-laki perebut kekasihnya.


"Sialan! Laki-laki itu, dia yang membuat Adelia berubah! Dia yang membuat Adelia ingin menjauh dariku!" umpat Arion dengan mengeratkan gigi-giginya.


"Arion! Ada apa?!" seru seorang laki-laki memakai seragam yang sama dengan Arion.

__ADS_1


"Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku tadi hanya mengobrol dengan Mbak Adelia," jawab Arion sambil tersenyum kaku.


Setelah mengatakan itu, Arion segera berjalan menuju pos keamanannya, melewati rekan kerjanya yang berdiri menatap heran padanya.


Kesal dan marah menjadi satu dalam hati Arion. Ingin sekali dia mengejar mobil tersebut dan membawa kekasih hatinya kembali bersamanya.


Namun, hal itu tidak mungkin terjadi. Dia sedang bekerja saat ini. Tidak mungkin jika dia bisa mengejar gadis yang dicintainya itu, dan mengantarkannya pulang bersamanya.


"Aneh. Apa benar dia hanya menyapa dan mengobrol biasa dengan Mbak Adelia? Sepertinya tadi aku mendengar ada panggilan sayang untuk Mbak Adelia. Apa itu tadi suara orang yang menjemput Mbak Adelia ya?" gerutu rekan kerja Arion, yang sedang menatap heran padanya.


Di dalam pos keamanan, Arion sedang sibuk mengutak-atik ponselnya. Terlihat jelas sekali jika dia sedang marah dan kesal saat ini.


"Ke mana dia? Apa yang dia lakukan saat ini? Aku yakin jika pengemudi tadi adalah laki-laki yang waktu itu. Sebenarnya ke mana mereka sekarang?" ucap Arion dengan geram sambil mengirim pesan pada Adelia.


Beberapa pesan telah dikirimkannya, tapi tidak ada yang dibalasnya. Bahkan dia telah menghubungi gadis tercintanya itu, dan tetap saja, tidak ada satu pun panggilan teleponnya yang dijawab oleh Adelia.


Arion menatap ke arah motornya. Kemudian dia berkata,


Tanpa berpikir panjang lagi, Arion segera keluar dari pos keamanannya, dan berjalan menuju motor sport miliknya.


"Arion! Kamu mau ke mana?" teriak rekan kerja Arion dari tempatnya berada.


"Aku mau pergi sebentar saja, tolong kamu jaga semuanya dengan baik," jawab Arion dengan lantangnya, sambil memakai helmnya.


"Mau ke mana? Jangan menyalahi aturan. Lebih baik kamu tetap di sini, atau mungkin kamu ingin di berhentikan nanti!" seru rekan Arion kembali.


Seketika Arion melepas kembali helmnya. Dia sadar jika apa yang akan dilakukannya saat ini, menyalahi aturan. Dia berjalan gontai meninggalkan motornya, dan kembali masuk ke dalam pos keamanannya.


Tangannya kembali mengambil ponsel dalam saku celananya. Dia memperhatikan baik-baik semua pesan yang dikirimkan n pada Adelia. Sayangnya, semua pesan itu masih sama. Tidak ada satu pun pesan uang dikirimkannya dibaca oleh Adelia. Dan semua panggilan teleponnya hanya menjadi panggilan tak terjawab.

__ADS_1


Pemuda yang sedang sakit hati itu, menghela nafasnya yang terasa berat di dalam dadanya. Dia memikirkan tentang kekasih hatinya saat ini. Pasalnya, laki-laki mana yang rela jika gadis yang dicintainya, sedang bersama dengan laki-laki lain. Arion pun tidak akan merelakannya.


Merasa sangat marah dan terbakar api cemburu, Arion segera mengambil sebotol air mineral water yang disediakan di sebelah dispenser yang ada dalam pos penjagaan. Tangannya mencengkeram kuat botol tersebut dan berkata,


"Sialan! Akan aku cari cara lainnya, agar dia tetap menjadi milikku, dan agar para lelaki di luaran sana tidak akan mengganggunya lagi."


Di lain tempat, tepatnya di dalam mobil Kenzo, Adelia memikirkan kejadian tadi, saat di mana dia dihadang oleh Arion. Dia hanya diam dan larut dalam pikirannya.


Kenzo pun demikian. Dia tidak ingin membuat Adelia merasa tidak nyaman baginya. Sesekali dia melirik Adelia, dengan posisi yang sama seperti tadi. Dia menghargai Adelia, dan dia harap jika gadis cantik yang duduk di sebelahnya itu akan ceria dan terkesan cerewet seperti biasanya.


Namun, akhirnya Kenzo memberanikan diri untuk bertanya padanya,


"Adelia, Sayang. Apa kamu sedang tidak enak hati?"


Sontak saja Adelia terkesiap. Dia tersadar dari lamunannya tentang Arion yang berada di tempat kerjanya. Kemudian dia berkata,


"Ada apa Ken? Apa ada yang kamu ingin bicarakan?"


"Apa yang sedang mengganggu pikiranmu, sehingga kamu diam semenjak tadi?" tanya Kenzo tanpa menoleh ke arah Adelia.


"Emmm... Aku... Aku sedang sakit gigi," jawab Adelia sedikit gugup, tanpa menoleh ke arah Kenzo.


Adelia masih menatap lurus ke depan. Dia tidak berani menghadap ke arah Kenzo, meskipun pemuda tampan yang merupakan calon tunangannya itu, sedang menyetir.


"Sakit gigi? Apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya Kenzo sambil mengemudi, dan dengan sedikit panik.


"Tidak! Tidak perlu," seru Adelia dengan cepatnya menanggapi pertanyaan dari Kenzo.


"Kenapa? Apa kita ke klinik saja?" tanya Kenzo kembali dengan mengernyitkan dahinya, dan tetap fokus pada kemudinya.

__ADS_1


"Tidak! Tidak usah. Aku sudah terbiasa dengan sakit gigi ini. Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan sakit gigiku ini," jawab Adelia sambil tersenyum lebar, untuk menutupi kegugupannya dan kegelisahan hatinya.


"Mmm... Sayang, apa aku boleh bertanya sesuatu? Siapa sebenarnya laki-laki tadi? Sepertinya kalian dekat sekali," tanya Kenzo dengan penasarannya.


__ADS_2