
Intan panik ketika melihat Arion terbaring di atas tempat tidurnya dengan bantal yang menutupi kepalanya. Dia reflek berseru memanggil nama Arion, sambil berjalan cepat menghampirinya.
"Arion!" seru Intan seraya tangannya mengambil bantal yang menutupi wajah Arion.
Namun, tangan Arion bergerak untuk mengambil kembali bantal tersebut, kemudian dia meletakkannya kembali untuk menutupi telinga dan wajahnya.
Intan meletakkan piring yang dibawanya, di atas meja yang berada di dekat tempat tidur tersebut. Setelah itu, dia segera mengambil kembali bantal yang digunakan Arion untuk menutupi wajahnya, seraya berkata,
"Arion, kamu bukan anak kecil lagi! Katakan, apa yang terjadi denganmu?"
Bentakan Intan membuat Arion membuka matanya. Dia beranjak dari tidurnya, mencari bantal yang diambil oleh ibunya. Dia mengambil kembali bantal yang ada di tangan ibunya, sayangnya gerakannya dapat dibaca oleh Intan, sehingga bantal itu tidak bisa diraihnya.
Merasa usahanya sia-sia untuk bisa mengambil bantal tersebut, Arion kembali merebahkan tubuhnya dan menutupi wajahnya menggunakan guling.
"Arion! Bangunlah! Ceritakan pada Ibu, apa yang terjadi padamu. Cepat bangunlah!" seru Intan sambil berusaha membangunkan Arion dari tidurnya.
Namun, Arion masih saja bertahan dengan posisi tidurnya. Dia enggan untuk bangun saat ini. Bahkan untuk berbicara pun rasanya sangat malas sekali.
"Arion! Kamu berani melawan Ibu?!" seru Intan kembali, sambil menarik tangan Arion.
Arion pun terpaksa menuruti perintah ibunya. Dia tidak lagi mencoba bertahan. Sehingga badannya dengan mudahnya bisa ditarik oleh ibunya.
"Katakan, apa yang terjadi denganmu?" tanya Intan sambil menatap tegas pada Arion, yang sudah duduk menghadap ke arahnya.
"Aku baik-baik saja, Bu. Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir. Aku hanya lelah saja," jawab Arion dengan malas.
Intan tidak menyerah. Dia masih saja ingin mencari tahu dari Arion saat ini. Kedua tangannya memegang pundak Arion, seraya berkata,
"Tidak. Ibu tidak percaya. Pasti ada sesuatu yang terjadi padamu. Katakan pada Ibu, apa yang terjadi sebenarnya."
Arion menghela nafasnya yang terasa sangat berat dan memenuhi dadanya. Apa lagi melihat ibunya yang semakin mendesaknya.
"Maaf Bu, bukannya aku tidak ingin mengatakannya pada Ayah dan Ibu, hanya saja aku ingin sebentar saja menyendiri. Aku hanya ingin menenangkan diri saja, Bu. Badanku juga sangat lelah, Bu. Jadi, aku ingin beristirahat," ujar Arion sambil merebahkan kembali tubuhnya.
Namun, dengan cepatnya Intan menarik kembali tangan Arion, sehingga dia kembali terduduk.
"Bu, Aku mohon. Biarkan aku sendiri. Aku ingin tidur," ucap Arion dengan tatapan memohon pada ibunya.
Intan mengambil piring yang diletakkan di atas meja tadi. Kemudian dia memberikannya pada Arion, seraya berkata,
__ADS_1
"Ibu akan keluar setelah kamu menghabiskan makanan yang ibu bawakan untukmu."
Arion menatap piring yang berisi makanan itu, kemudian dia beralih menatap ke arah ibunya. Dia menghela nafasnya, seolah enggan menerimanya.
"Cepat makan. Jangan biarkan kamu sakit hanya karena suatu masalah.
Benar apa kata Ibu. Aku harus makan agar mempunyai tenaga untuk menjalankan rencanaku. Aku harus berhasil. Bagaimanapun caranya, Arion berkata dalam hatinya.
Arion menerima piring tersebut dan mulai memakannya. Makanan itu terasa hambar di lidahnya. Rasa galau yang sedang menyelimutinya, membuat Arion semakin terasa tidak bersemangat.
Hanya beberapa sendok saja yang berhasil ditelannya. Dia meletakkan sendok tersebut di atas piringnya, seraya berkata,
"Aku sudah kenyang, Bu."
Setelah itu dia memberikan piring tersebut pada Intan yang sedari tadi masih menunggunya dan menatapnya ketika sedang makan. Intan menerima piring tersebut dan menghela nafasnya, melihat Arion yang tidak menghabiskan makanannya.
Intan menyendok makanan yang masih tersisa. Kemudian dia meletakkan sendok yang berisi makanan itu, tepat di depan mulut Arion dan berkata,
"Cepat makan dan habiskan semua makanan ini, jika kamu masih menyayangi Ibu."
Arion pun terpaksa membuka mulutnya. Dia mengunyah makanan dengan terpaksa dan segera menelannya. Intan menyuapinya hingga makanan dalam piring itu habis tidak bersisa.
Arion tersenyum tipis mendengar penuturan ibunya. Dia menelan makanan tersebut dan berkata,
"Terima kasih Bu. Ibu selalu ada untuk Arion."
Intan tersenyum menanggapi ucapan Arion. Diletakkannya piring tersebut di atas meja dan dia berkata,
"Sekarang coba ceritakan pada Ibu, apa yang sebenarnya terjadi padamu."
Arion kembali menghela nafasnya. Bagaimanapun juga dia tidak bisa menolak permintaan ibunya, meskipun dia sangat berat untuk bercerita.
"Arion, ceritakan pada Ibu," ujar Intan sambil menggoyang-goyangkan lengan Arion.
"Adelia ingin mengakhiri hubungan kami," ucap Arion dengan berat hati.
"Apa?! Putus?!" tanya Intan seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Arion menganggukkan kepalanya dengan lesu. Dia tidak mengira jika efek kehilangan Adelia bisa berimbas seburuk itu pada mood nya.
__ADS_1
"Kenapa kalian bisa putus? Bukankah kalian saling mencintai?" tanya Intan menyelidik.
Arion tersenyum kecut, seolah dia menertawakan dirinya sendiri. Kemudian dia berkata,
"Sepertinya dia sudah tidak menjadi dirinya sendiri."
"Maksudnya? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Intan dengan rasa.ingin tahunya.
"Entahlah Bu. Tiba-tiba saja Adelia menginginkan putus dariku, padahal sebelumnya hubungan kami baik-baik saja. Hanya saja ada seorang laki-laki kaya yang sering berkunjung ke rumahnya. Mungkin dia--"
"Dijodohkan?" sahut Intan dengan tatapan menyelidik.
Arion menggelengkan kepalanya, seraya berkata,
"Aku tidak tahu Bu. Entah apa yang terjadi di keluarganya. Adelia tidak menjelaskannya. Dia hanya mengatakan jika dia tidak ingin melanjutkan hubungan kami."
"Kenapa kamu tidak bertanya padanya? Harusnya kamu bertanya hingga jelas duduk persoalannya," tukas Intan dengan sedikit kesal.
"Arion sudah bertanya Bu, tapi Adelia tidak menjawabnya. Pas sekali saat itu jam masuk kerja, sehingga pembicaraan kami terhenti," jawab Arion disertai helaan nafasnya mengingat kembali perkataan Adelia.
Intan menatap iba pada Arion. Dalam hati dia berkata,
Kenapa kamu selemah ini Arion? Andai saja kamu anak kandungku, pasti kamu tidak akan selemah ini. Pasti kamu akan sepertiku, berani membalas dendam pada mereka.
"Sekarang apa rencanamu?" tanya Intan penasaran.
"Arion akan mendapatkan Adelia, bagaimanapun caranya," jawab Arion dengan penuh keyakinan dan dengan rasa percaya diri yang sangat berlebihan.
"Bagus. Ibu harap kamu tidak akan mengalah begitu saja. Jangan menjadi laki-laki lemah yang hanya bisa diinjak-injak oleh siapa pun," tutur Intan yang seolah sedang memberikan semangat dan pengarahan untuk Arion.
Arion menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis, seraya berkata,
"Iya Bu, Arion mengerti."
"Ya sudah, Ibu keluar dulu. Istirahatlah yang cukup. Besok jalankan rencanamu dengan baik," tutur Intan sambil beranjak dari duduknya.
"Sialan! Sepertinya aku harus mempercepat rencanaku," ucap lirih Intan sambil berjalan menuju dapur.
Setelah meletakkan piring bekas makan Arion di atas meja dapur, Intan mengambil ponsel dari dalam saku dasternya. Jari lentiknya dengan lincah menekan tombol-tombol huruf pada layar ponsel tersebut. Kemudian dia mengirim pesan itu pada seseorang.
__ADS_1
"Kita tunggu saja tanggal mainnya," ujar Intan sambil menyeringai.