
"Bagaimana tadi? Apa sudah berhasil?" tanya Adelio dengan pandangan lurus ke depan, fokus pada kemudi dan jalanan.
Adelia menoleh ke arah saudara kembarnya yang duduk di sampingnya, dan berkata,
"Apanya?"
"Ck! Pura-pura lupa. Pagi tadi bukannya kamu akan menjelaskan pada Arion tentang keinginanmu untuk membatalkan perjanjian kalian?" tanya Adelio tanpa menoleh ke arah adiknya.
"Oh itu. Iya, aku sudah mengatakan padanya," jawab Adelia sambil menganggukkan kepalanya.
"Lalu, bagaimana hasilnya?" tanya Adelio kembali.
Adelia mengalihkan pandangannya pada jalanan yang ada di hadapannya. Dia menghela nafasnya dan berkata,
"Aku sudah mengatakan semua keinginanku. Tentang hubungan kami yang berlandaskan pada perjanjian itu, dan tentang keinginanku untuk mengakhirinya."
Tiba-tiba mobil tersebut menepi dan berhenti. Adelia menoleh ke arah kakaknya dan berkata,
"Kenapa berhenti di sini, Kak?"
"Apa yang dikatakan oleh Arion?" tanya Adelio menyelidik.
Adelia menghela nafasnya. Dia menatap kakaknya seraya berkata,
"Sepertinya dia tadi kaget ketika aku mengatakan itu."
"Sepertinya? Apa kamu langsung pergi begitu saja setelah mengatakan keinginanmu tadi?" tanya Adelio kembali.
Adelia menganggukkan kepalanya secara perlahan, seolah dia sedang ketakutan saat ini.
"Apa? Lia ... Adelia kamu ini ... Kenapa kamu tidak melihat reaksi dia dan mendengarkan perkataannya?" tanya Adelio disertai helaan nafasnya.
"Tadi sudah waktunya jam masuk kantor, Kak. Jadi, Lia langsung saja masuk ke dalam kantor, tanpa mendengar perkataannya," jawab Adelia sambil memaksakan senyumnya.
Adelio tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar penjelasan saudara kembarnya. Kemudian dia kembali mengemudikan mobilnya sambil terkekeh, menertawakan adiknya.
"Apa ada yang lucu?" tanya Adelia sambil mengerutkan dahinya.
"Kamu yang lucu. Kamu meninggalkan dia begitu saja tanpa tahu apa keputusannya. Entah dia menerima keputusanmu atau tidak," jawab Adelio di sela kekehannya.
Seketika Adelia menghadap ke arah kakaknya. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Apa itu penting, Kak? Bukannya yang terpenting adalah aku sudah mengatakan semua keinginanku padanya?"
"Berarti kamu gak peduli apa pun keputusan dia?" tanya Adelio tanpa menoleh ke arah Adelia.
"Enggak. Aku gak peduli, meskipun dia menolak keputusanku. Aku tetap mengakhirinya," jawab Adelia dengan tegas, seolah tidak takut dengan apa pun.
"Semoga saja Arion menerima keputusanmu dan tidak akan berbuat hal buruk padamu," tukas Adelio dengan serius.
Adelia memajukan badannya, lebih mendekati kakaknya. Kemudian dia berkata,
"Apa mungkin dia tidak terima dan akan membalas dendam padaku?"
"Mungkin saja. Gak ada hal yang gak mungkin di dunia ini jika menyangkut hati," jawab Adelio dengan entengnya.
Seketika Adelia tercengang mendengar penuturan Adelio. Jujur saja, Adelia tidak pernah mempunyai pikiran sedikit pun seperti itu. Dia hanya berpikir jika Arion mau menerima keputusannya.
"Serius, Kak?" tanya Adelia, seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Semoga saja gak seperti yang aku pikirkan. Sebaiknya kamu harus tetap waspada dan hati-hati saja. Jangan sampai kamu pergi ke mana pun sendirian," tutur Adelio pada saudara kembarnya.
Adelia menganggukkan kepalanya dengan enggan. Saat ini dia merasa was-was jika Arion tidak bisa menerima keputusannya.
Adelio sedikit melirik ke arah adiknya, karena adiknya terdiam saat ini, tidak seperti biasanya yang sangat ceria dan bisa menghidupkan suasana.
"Gak ada. Aku hanya sedang berpikir," jawab Adelia dengan lemas.
Sontak saja Adelio tertawa mendengar jawaban dari Adelia. Di sela tawanya itu, dia berkata,
"Gak usah dipikirkan. Kasihan otak cantikmu itu, jika memikirkan hal-hal yang gak berguna."
"Ih Kak Lio. Lia jadi agak ketakutan nih. Bagaimana jika dia memang gak terima dengan keputusan yang Lia buat?" tanya Adelia yang terdengar cemas di telinga Adelio.
Adelio tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari saudara kembarnya. Kemudian dia berkata,
"Kamu gak perlu cemas, Sayang. Kakak pasti akan tetap menjagamu dan melindungi mu. Kamu sangat berharga untuk keluarga kita. Apa lagi untuk Kakak, karena kita adalah saudara kembar. Benar, bukan?"
"Kak Lio memang kesayangan Lia," ucap Adelia sambil tersenyum lebar dan tangannya mencoba meraih tubuh kakaknya yang sedang mengemudi.
Adelio terkekeh mendengar perkataan dari adiknya. Kemudian dia berkata,
"Nanti saja meluknya. Jangan sampai mobil kita oleng karena pelukanmu."
__ADS_1
"Eh iya, lupa," ucap Adelia sambil tersenyum lebar.
Gadis cantik kembaran Adelio itu, kembali duduk dengan tenang. Dia berusaha untuk tetap tenang dan tersenyum di hadapan kakaknya, meskipun hatinya sedang cemas saat ini.
Adelio merasakan kegundahan hati saudara kembarnya. Tangan kirinya meraih tangan Adelia dan menggenggamnya, seraya berkata,
"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Aku akan selalu ada bersamamu."
Adelia menoleh ke arah kakaknya dan tersenyum padanya. Sedikit ada rasa lega dalam hatinya. Laki-laki yang menjadi saudara kembarnya itu, selalu ada untuknya dan selalu siap melindunginya.
Selang beberapa menit kemudian, mobil mereka memasuki sebuah halaman rumah yang sangat luas. Mereka berdua keluar dari dalam mobil, dan masuk bersama ke dalam rumah tersebut, dengan Adelio yang merangkul pundak Adelia.
Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara klakson mobil dari arah belakang. Sontak saja mereka menoleh ke arah belakang. Bibir Adelia melengkung ke atas melihat mobil Kenzo yang sudah berhenti di belakang mereka.
"Selamat malam. Kalian gak melupakan aku kan?" tanya Kenzo sambil tersenyum, berjalan keluar dari mobilnya, menghampiri Adelia.
Adelio terkekeh menanggapi perkataan Kenzo. Kemudian dia berkata,
"Bagaimana bisa melupakanmu jika ada yang senang dengan kehadiranmu?"
Kenzo tersenyum senang mendengar perkataan dari Adelio. Sedangkan Adelia, seketika wajahnya bersemu merah mendengar ledekan dari kakaknya.
Gadis cantik itu menundukkan kepalanya karena malu pada Kenzo yang sudah berdiri di hadapannya.
"Lio, apa kita berdua boleh berbicara berdua saja?" tanya Kenzo pada Adelio, untuk meminta ijin padanya.
"Tentu saja. Silahkan jika memang kalian ingin berdua saja. Aku akan masuk duluan," jawab Adelio sambil tersenyum dan berjalan masuk, meninggalkan mereka berdua.
Adelio merasa tenang jika Adelia bersama dengan Kenzo, dibandingkan dengan Arion. Bukan karena background ekonomi dan keluarga mereka, hanya saja perasaan Adelio mengatakan hal itu.
Kini, Adelia dan Kenzo duduk di kursi taman. Mereka berdua ditemani oleh cahaya bulan dan gemerlap bintang yang terlihat indah malam itu.
Kenzo meraih dengan lembut tangan Adelia dan melihatnya. Dia menghela nafasnya melihat pergelangan tangan Adelia berwarna merah, karena cengkraman tangan Arion yang sangat erat. Kemudian dia berkata,
"Lia, bagaimana keadaan tanganmu? Apa sangat menyakitkan?"
Adelia menarik tangannya, tapi Kenzo tidak mengijinkannya. Dia tetap mempertahankan tangan Adelia dan meniup pergelangan tangan gadis cantik itu. Diusapnya perlahan pergelangan tangannya, seraya berkata,
"Aku gak terima jika kamu disakiti oleh siapa pun. Lihat saja, aku pasti akan membalasnya."
"Sudahlah Ken, aku baik-baik saja. Gak perlu diperpanjang lagi," ujar Adelia dengan lembut.
__ADS_1
Kenzo menatap dengan intens manik mata Adelia, seraya bertanya,
"Kenapa? Apa dia sangat berarti bagimu?"