
"Hah?!" celetuk Adelia setelah mendengar pertanyaan dari Arion.
"Eh, bukan apa-apa. Mau makan siang ya?" tanya Arion untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
Adelia menganggukkan kepalanya. Dia masih saja menatap heran pada Arion saat ini. Gadis ini tahu dan mendengar apa yang dikatakan oleh Arion.
Namun, dia tidak menanyakannya kembali pada Arion. Dia hanya mencari tahu sendiri apa sebenarnya maksud dari pertanyaan Arion tadi.
"Iya. Kan udah waktunya makan siang," jawab Adelia yang masih mencari jawaban dari wajah serta sikap Arion saat ini.
Arion terlihat salah tingkah ditatap seperti itu oleh Adelia. Dia merasa jika tatapan Adelia padanya penuh dengan tanda tanya.
Sayangnya pembicaraan mereka terganggu oleh suara klakson yang mengalihkan perhatian mereka. Saat itu juga, keduanya menoleh ke arah sumber suara.
Seorang laki-laki dengan memakai helm full face, jaket kulit dan celana jeans duduk di sebuah motor sport berwarna hitam sambil melambaikan tangannya pada Adelia.
Dengan senyum riangnya Adelia membalas lambaian tangan laki-laki tersebut. Dia sangat kenal dengan laki-laki yang ada di motor itu, meskipun seluruh mukanya ditutup oleh helm yang digunakannya.
Laki-laki tersebut melepas helmnya. Dia tersenyum manis pada Adelia yang berjarak beberapa meter darinya.
Adelia berlari ke arah laki-laki tersebut tanpa mengatakan apa pun pada Arion. Dia telah lupa segalanya ketika bertemu dengan laki-laki ini, laki-laki yang selalu bersamanya.
"Hai My Princess kesayangan," sapa laki-laki tersebut sambil tersenyum manis menyambut kedatangan Adelia.
"Kita mau makan siang di mana Kak?" tanya Adelia sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya pada saudara kembarnya.
Adelio terkekeh ketika melihat saudara kembarnya sudah mengganti seragam roknya dengan celana yang dipakainya ketika berangkat tadi. Kemudian dia berkata,
"Terserah kamu. Bukankah ini termasuk hukuman buatku karena batal menjemputmu tempo hari?"
__ADS_1
Adelia tersenyum lebar mendengar pertanyaan dari kakaknya. Dia merasa seperti sedang memanfaatkan keadaan. Memang benar itu selalu terjadi ketika Adelio melakukan kesalahan dan meminta maaf disertai dengan janji yang akan melakukan apa pun sesuai keinginan Adelia.
Gadis yang berstatus saudara kembar Adelio itu naik di boncengan belakang Adelio. Dia memegang erat pinggang kakaknya itu meskipun tidak diminta olehnya.
Arion hanya menatap sedih pada kedua saudara kembar yang terlihat sangat dekat dan bahagia itu. Bahkan dia merasa cemburu pada kedekatan mereka yang terlihat seperti sepasang kekasih. Serta ada rasa iri yang menyertainya ketika melihat Fastan, motor sport kesayangan Adelio.
"Apa kamu sudah mengerti sekarang?"
Tiba-tiba ada suara seorang laki-laki yang mengagetkan Arion. Dia menoleh ke arah sampingnya, di mana seorang laki-laki berpenampilan rapi sedang berdiri di sampingnya.
"Apa kamu masih berani membandingkan dirimu dengan laki-laki yang mengantar jemput Adelia tadi?" tanya laki-laki itu kembali pada Arion yang sedang menatapnya sambil mengernyitkan dahinya.
Laki-laki yang berpenampilan rapi itu masih menggunakan name tag nya yang bernama Dion, sehingga orang awam pun tahu jika dia merupakan seorang karyawan bank tersebut dengan nama yang tertera pada name tag tersebut.
"Bahkan motor kamu saja tidak sebanding dengan motornya," sambung kembali laki-laki yang bernama Dion tersebut sambil melihat motor Arion seolah merendahkannya.
"Dan yang membuat perbedaan kalian mencolok adalah dia seorang polisi dan kamu seorang security," ledek Dion sambil terkekeh menatap Arion.
"Apa Mas Dion tau siapa dia yang sebenarnya?"
"Dia seorang polisi. Aku tau itu. Aku pernah bertemu dengannya ketika dia menggunakan seragam. Kenapa? Apa kamu meragukan aku? Bahkan aku sudah menanyakannya pada kawanku yang juga menjadi seorang polisi. Laki-laki itu benar-benar polisi dan memiliki prestasi yang luar biasa," jawab Dion dengan sewotnya.
Arion tersenyum getir mendengar kenyataan yang membuatnya semakin berbeda jauh dengan saudara kembar Adelia. Dalam hatinya berkata,
Apa aku bisa mendapatkan hati Adelia jika aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan saudara kembarnya itu? Bahkan latar belakang keluarga kita saja berbeda. Apa mungkin keluarga Adelia bisa merestui hubungan kami nantinya jika kita berpacaran? Aku ragu. Sepertinya akan sangat sulit.
"Sepertinya kamu sudah mengerti sekarang," ucap Dion sambil terkekeh.
Setelah mengatakan itu, Dion meninggalkan Arion yang masih berdiri dengan perasaan sakit hatinya. Dia merasa sangat terhina dengan semua yamg dikatakan oleh Dion padanya.
__ADS_1
Ingin rasanya dia mengatakan jika dia pasti bisa mendapatkan hati Adelia dan menjadikan gadis itu sebagai pacarnya. Akan tetapi dia sadar jika dirinya tidak akan bisa berada sejajar dengan keluarga Adelia.
Arion menghela nafasnya melihat motornya yang tak kunjung menyala meskipun dia sudah berusaha memperbaikinya.
"Sepertinya aku harus membawanya ke bengkel sekarang," gerutu Arion sambil membersihkan tangannya.
Arion meminta ijin pada temannya untuk membawa motornya ke bengkel yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Dia pun berangkat menuju bengkel dengan berjalan kaki setelah mendapatkan ijin dari temannya.
Jam makan siangnya digunakan untuk membawa motornya ke bengkel. Berkali-kali dia menghela nafasnya seolah memperlihatkan kegelisahan yang ada dalam hatinya.
Tepat saat itu, di sebelah bengkel tersebut ada sebuah motor sport yang membuat perhatian Arion tertuju padanya. Dalam hati dia berkata,
Apa aku menukar motorku dengan motor sport seperti itu saja?
"Mas, sepertinya motornya banyak yang perlu diganti onderdilnya. Kenapa gak dijual saja sih Mas, ganti yang baru?" tanya montir yang sedang menyervis motor Arion.
"Sepertinya memang saya harus menjualnya dan menukarnya dengan motor yang lain," tukas Arion tanpa sadar.
"Apa Mas berminat mau tukar tambah? Langsung ke sebelah saja Mas. Kebetulan yang punya showroom itu saudara saya. Mas bisa tukar tambah motor Mas dengan yang lainnya. Dijamin murah deh Mas harganya dibanding dengan tempat lainnya," tutur montir tersebut pada Arion yang terlihat sudah tergoda dengan tawarannya.
Arion beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju showroom jual beli motor bekas yang ada tepat di samping bengkel tersebut. Dia bertanya-tanya pada pemilik showroom tersebut dan melakukan penawaran dengan menukar tambah motornya.
Setelah pembicaraan yang lumayan lama, akhirnya Arion berhasil membeli motor sport bekas yang mencuri perhatiannya sejak tadi ketika dia berada di bengkel tersebut secara kredit. Bahkan dia tidak mempedulikan besarnya jumlah cicilan yang dibayarnya untuk tiap bulannya. Yang ada di kepalanya hanya menginginkan motor itu bagaimanapun caranya.
Senyum Arion tak pernah pudar ketika membawa motor tersebut kembali ke tempat kerjanya. Dengan rasa percaya dirinya, dia membawa motor tersebut seolah sedang memamerkannya ketika banyak karyawan bank tersebut kembali ke kantor setelah jam makan siangnya.
"Woi... Pinjam di mana motor itu?" seru Dion sambil terkekeh seolah merendahkan Arion.
Arion tidak menjawabnya. Dia malu meladeni Dion di hadapan orang yang sedang berlalu lalang setelah pulang dari makan siang mereka.
__ADS_1
Tepat saat itu Adelia baru saja turun dari motor Adelio. Mereka berdua melihat ke arah Arion yang dengan bangganya duduk di atas motornya. Adelio menyeringai di dalam helm full face nya. Sedangkan Adelia berkata dalam hatinya,
Sepertinya aku tau maksud dari pertanyaannya tadi. Apa ini semua karena aku?