
"Ya... kok ngadat sih?" ucap Adelia ketika berusaha menyalakan mesin mobilnya.
Gadis cantik itu masih saja berusaha untuk menyalakan mesin mobilnya. Sayangnya mesin mobil tersebut masih saja tidak mau menyala.
"Ini kenapa sih?!" ujar Adelia dengan kesalnya.
"Kenapa Princess kesayangannya Kakak? Lagi butuh bantuan ya?" tanya Adelio sambil terkekeh.
"Ih Kak Lio nih... sudah tau mobil Lia ngadat, malah diketawain," rengek Adelia sambil mengerucutkan bibirnya.
Tawa Adelio semakin pecah melihat ekspresi saudara kembarnya yang seperti biasanya, menggemaskan. Bukan hanya Adelio saja yang berpendapat seperti itu. Bahkan semua orang yang mengenal Adelia pun selalu mengatakan yang sama.
Adelio membuka pintu mobil tersebut dan berkata,
"Keluarlah Princess, Kakakmu yang sangat perhatian ini akan mengantarkan kamu berangkat bekerja."
"Terus mobilnya gimana Kak?" tanya Adelia sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Biar diambil sama orang bengkel. Nanti Kakak yang akan menghubungi mereka," jawab Adelio sambil mengulurkan tangannya untuk membantu saudara kembarnya itu, keluar dari mobilnya.
Adelia pun menerima uluran tangan kakaknya yang selalu memperlakukannya seperti itu. Dia masuk ke dalam mobil kakaknya, setelah dibukakan pintu oleh Adelio.
"Kenapa kamu gak minta jemput pacarmu?" tanya Adelio sambil terkekeh.
Adelia menoleh ke arah kakaknya yang sedang mengemudi. Kemudian dia berkata,
"Pacar? Pacar yang mana?"
Tawa Adelio pecah setelah mendengar pertanyaan dari Adelia. Pasalnya, pertanyaan dari saudara kembarnya yang merupakan adiknya itu, terdengar seperti tidak mengakui Arion sebagai pacarnya.
Adelio menghentikan tawanya. Pandangannya masih lurus ke depan dan dia berkata,
"Kamu lupa tentang Arion? Atau kamu sudah menyingkirkan nama Arion dari isi kepalamu, dan digantikan dengan nama Kenzo?"
Adelia terkesiap mendengar nama Arion disebut oleh saudara kembarnya. Dalam hatinya berkata,
Bukannya aku menyingkirkan namanya dari kepalaku, tapi aku memang benar-benar lupa jika Arion masih berstatus sebagai pacarku dalam waktu satu bulan ini. Ah... sialnya dia masih bisa membuatku iba pada saat akan memutuskannya.
__ADS_1
"Sayang, kok diam? Benar kan yang aku katakan?" tanya Adelio kembali.
"Ck! Bukan begitu. Lebih tepatnya, aku sedang amnesia sesaat," jawab Adelia dengan sewotnya.
Tawa Adelio kembali pecah. Konsentrasinya terbagi antara mengemudi dengan memperhatikan jalanan yang ada di depannya, serta ingin mencubit gemas pipi Adelia. Sayangnya dia tidak bisa melakukan itu kepada saudara kembarnya, ketika sedang mengemudi.
"Amnesia sesaat...," ucap Adelio sambil terkekeh.
"Lalu, apa sekarang kamu sudah ingat dia?" tanya Adelio tanpa menoleh ke arah saudara kembarnya.
"Mendadak ingat gara-gara Kak Lio menyebut namanya," jawab Adelia dengan entengnya.
Adelio kembali tertawa mendengar jawaban dari adiknya. Dari semua jawaban yang diberikan oleh saudara kembarnya itu, membuat Adelio semakin yakin jika Adelia benar-benar tidak menyukai laki-laki yang bernama Arion.
"Lia... Princess kesayangannya Kakak, sepertinya kamu tidak mencintai Arion. Benar gak?" tanya Adelio yang masih fokus pada kemudinya.
Sontak saja Adelia menoleh ke arah kakaknya, seraya berkata,
"Dari mana Kak Lio tahu?"
"Kok bisa Kak Lio tahu kata hatiku?" tanya Adelia sambil mengernyitkan dahinya.
"Kamu lupa, jika kita saudara kembar selalu bisa merasakan apa yang terjadi satu sama lain?" tanya balik Adelio sambil mengemudi.
Seketika bibir Adelia melengkung ke atas. Dia tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya. Kemudian dia berkata,
"Kan sudah Lia bilang, kadang Lia suka amnesia sesaat."
Adelio terkekeh dan menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari saudara kembarnya. Perjalanan mereka Diisi dengan tawa Adelio yang selalu pecah karena mendengar jawaban dari adiknya, sehingga waktu pun berlalu begitu saja, tanpa ada keheningan dalam mobil tersebut.
Kini mobil Adelio masuk ke dalam parkiran gedung yang bertuliskan nama salah satu bank swasta. Gadis cantik kembaran Adelio itu, turun dari mobil setelah Adelio membukakan pintu untuknya.
"Bye Princess kesayangan," ucap Adelio seraya melambaikan tangannya, setelah mencium kedua pipi Adelia.
Adelia pun melambaikan tangannya dan tersenyum lebar mengiringi kepergian kakaknya. Dia segera masuk ke dalam kantornya setelah melihat mobil kakaknya sudah tidak terlihat lagi.
Senyuman Adelia tidak pernah pudar dari bibirnya. Selama seharian ini dia terlihat sangat bahagia. Mia yang memperhatikannya seharian ini merasa heran padanya. Dia mencari tahu apa yang membuat hati Adelia terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
Namun, Mia tidak bisa menemukannya. Setiap dia bertanya pada Adelia, gadis cantik yang ditanyainya itu hanya tersenyum padanya, tanpa menjawab pertanyaan darinya.
Seperti saat ini, Mia sedang berada di dalam ruangan Adelia. Dia duduk di depan Adelia dan bertanya banyak hal padanya,
"Sudahlah, aku menyerah saja. Awas saja kamu Lia, jika kamu membutuhkan bantuanku," ucap Mia kesal sambil beranjak keluar ruangan Adelia.
"Mia! Jangan marah dong! Nanti jika waktunya sudah tepat, kamu pasti akan tahu semua," ujar Adelia sambil terkekeh, mengiringi kepergian Mia dari ruangannya.
Adelia tertawa dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya, yang selalu bisa menghibur dirinya.
"Kurang satu jam lagi. Gak kerasa, akhirnya hari ini akan selesai juga pekerjaanku," ucap Adelia sambil tersenyum melihat jam yang melingkar pada tangan kanannya.
Bibirnya melengkung ke atas ketika mendengar suara notifikasi yang berasal dari ponselnya. Segera tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, seolah dia tidak sabar untuk membacanya.
Senyumnya kembali merekah ketika membaca pesan tersebut. Kemudian dia bergegas membalas pesan tersebut dan tersenyum, seraya berkata,
"Ayo Lia, kita selesaikan semuanya. Setelah itu, kita pulang dan... Ah, aku jadi tidak sabar menantikannya."
Hati Adelia terasa berbunga-bunga. Terlihat jelas dari ekspresinya saat ini. Bahkan dia bersenandung riang mengiringi pekerjaannya saat ini.
Setelah beberapa saat, ponsel Adelia kembali mengeluarkan bunyi notifikasi pesan. Secepat kilat dia menyambar ponsel tersebut dan membaca pesan yang baru saja diterimanya.
Matanya mengarah pada jam yang ada pada layar ponselnya. Dia tersenyum dan dengan riangnya dia berkata,
"Sudah saatnya kita pulang Adelia!"
Tangannya meraih barang-barang pribadinya, dan memasukkannya pada tas miliknya. Setelah itu dia bergegas beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya.
Langkah kaki Adelia terasa sangat ringan. Bahkan dia bersenandung dengan riangnya berjalan keluar dari kantornya.
Namun, langkah kakinya seketika berhenti, saat sosok laki-laki yang sedang tersenyum, berdiri tepat di depan pintu kantornya.
Gadis cantik itu tidak bisa menggerakkan kakinya. Dia merasa kakinya berat dan tidak bisa berkata-kata. Bahkan tangannya merasa kaku, sehingga tidak bisa bergerak saat ini.
Laki-laki tersebut berjalan menghampiri Adelia. Dia tersenyum manis pada gadis cantik tersebut. Sedangkan gadis cantik tersebut hanya bisa menggerakkan bulu mata lentiknya saja, tanpa bisa berkata-kata.
"Sudah mau pulang, Sayang?"
__ADS_1