Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 100 Fakta yang Terkuak


__ADS_3

"Intan!" seru Fabian dengan jelas memperkenalkan nama istrinya.


Sontak saja Ayana dan Rafael saling menatap, dan serentak berkata lirih,


"Intan?"


"Silahkan duduk di sebelah sini Pak Fabian, Bu Intan," tutur Aksa, sambil menunjuk kursi yang ada di hadapan orang tua Adelia, untuk mempersilahkan orang tua Arion duduk.


Fabian menarik tangan istrinya dan memaksanya untuk duduk bersamanya di tempat tersebut. Tentu saja dia tidak serta merta mau mengikuti suaminya. Kakinya tidak mau bergerak, dia tetap mempertahankan posisinya saat ini.


Namun, tenaganya tidak bisa mengalahkan tenaga Fabian sebagai seorang pria, sehingga kakinya bisa berpindah begitu saja ketika ditarik oleh Fabian.


Semua orang yang melihat tingkah sepasang suami istri itu, hanya bisa menahan tawanya. Tentu saja Fabian menyadarinya. Dia malu, tapi tidak ada cara lain yang bisa dilakukannya saat ini. Berbeda dengan Intan yang membuang malunya sejauh mungkin, demi menghindari bertatap muka dengan polisi.


Kini, dua pasang suami istri itu sedang duduk berhadap-hadapan. Mereka berempat saling menatap. Rafael dan Ayana menatap Intan dengan tatapan yang seolah ingin menanyakan banyak pertanyaan. Sedangkan Intan, menatap sepasang suami istri yang ada di hadapannya itu dengan tatapan kebencian. Berbeda dengan mereka, Fabian menatap mereka bertiga dengan tatapan heran dan bingung.


Aksa duduk di kursi yang berada di pojok, sehingga bisa melihat keempat orang tersebut. Dia sebagai pihak kepolisian yang bertugas sebagai penengah di antara kedua keluarga tersebut. Sedangkan Adelio, dia harus menemani Adelia di rumahnya.


"Begini Pak, Bu. Kami menemukan saudari Adelia tadi sore di sebuah gudang tua, sebagai tawanan dari sebuah kelompok penjahat yang sudah lama kami cari. Kebetulan sekali, pada saat itu kami menyaksikan saudara Arion sedang mencoba melakukan tindakan tidak senonoh pada saudari Adelia. Kami sudah menangkap--"


"Apa?! Arion melakukan itu?!" seru Intan dengan memperlihatkan ekspresi wajah terkejutnya.


"Adelia!" seru Ayana yang tidak kalah kaget dengan Intan.


"Pa, Adelia, Pa. Putri kita," ucap Ayana dengan mata yang berkaca-kaca.


Rafael memegang kedua tangan istrinya, mencoba untuk menenangkannya. Kemudian dia menghadap ke arah Aksa, dan berkata,

__ADS_1


"Mana mereka semua yang berani berbuat kurang ajar pada putriku?! Aku bersumpah akan menghancurkan mereka!"


"Tenang, Pak. Kami sudah menangkapnya. Mereka semua sedang kami proses. Bapak dan Ibu tenang saja, kami akan bertindak adil dan menghukum mereka sesuai dengan hukum," tutur Aksa dengan tegas, dan memandang Ayana serta Rafael dengan sangat yakin.


Fabian merasa lemas mendengar apa yang dikatakan oleh Aksa. Dia seolah tidak mempunyai tenaga untuk menanyakan apa pun tentang putranya.


"Tidak! Tidak mungkin Arion melakukan itu! Pasti penjahat itu yang melakukannya, bukan Arion!" seru Intan sambil memelototkan matanya, sehingga terlihat jelas kemarahan yang terpancar dari mata itu.


"Tenang Bu! Kita bisa membuktikannya dari bukti yang kita temukan dan dari kesaksian mereka semua yang berada di sana, termasuk saya. Bahkan saya sendiri yang melihat saudara Arion sedang mencoba melakukan tindakan tidak senonoh pada saudari Adelia. Bukan hanya itu saja. Arion menghalangi saya ketika akan menolong saudari Adelia, sehingga saya harus menghadapinya, dan semuanya berhasil kami lumpuhkan," ujar Aksa dengan tegas pada Intan.


"Sialan! Kami selalu bersikap baik padanya. Berani-beraninya dia melakukan itu pada putriku!" seru Rafael dengan amarahnya yang menggebu.


Intan menatap kesal pada Rafael. Dalam hatinya berkata,


Lihat saja, aku akan melakukan apa saja untuk bisa membebaskan Arion. Anak kalian sudah hancur, sekarang giliran kalian. Sebentar lagi aku juga akan menghancurkan kalian.


Air mata Ayana tidak bisa dibendung lagi. Dia terisak dalam pelukan suaminya. Sedangkan Fabian, dia mencoba menguatkan dirinya untuk bisa berbicara pada Aksa.


"Tentu saja. Tunggu sebentar," jawab Aksa dengan tegas.


Aksa beranjak dari duduknya, dan memerintahkan pada seorang polisi yang berada di sana.


"Bawa saudara Arion ke sini!"


"Siap. Laksanakan!" ucap polisi tersebut dengan tegas.


Hanya dalam beberapa saat saja, Arion berhasil dibawa polisi tersebut menemui mereka. Dia berdiri di samping polisi tersebut, dengan kedua tangannya yang terkait dengan alat penahan milik polisi.

__ADS_1


"Arion!" ujar Fabian dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Dasar laki-laki kurang ajar!" seru Rafael sambil menatap Arion dengan penuh kemarahan.


"Lepaskan anak saya! Lepaskan Arion sekarang juga! Dia tidak bersalah! Lepaskan!" seru Intan tepat di hadapan Aksa.


Arion menyeringai melihat Intan yang terlihat seperti seorang ibu yang sedang mati-matian berusaha membela anaknya. Kemudian dia berkata,


"Benar, saya tidak bersalah. Ibulah yang menyuruh para penjahat itu untuk menculik dan bertindak tidak senonoh pada Adelia, untuk pembalasan dendam Ibu di masa lalu sebagai Ruby."


Sontak saja Rafael dan Ayana melihat ke arah Intan. Mata sepasang suami istri itu berkabut amarah dan emosi, sehingga mereka membuat ketakutan orang yang melihatnya.


"Ruby! Ternyata kamu memang benar Ruby si rubah betina!" seru Ayana dengan penuh kemurkaan dan menatap marah padanya.


Intan terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Arion. Dia tidak mengira jika Arion yang dianggap sebagai putranya sendiri, dan dibelanya saat ini di hadapan polisi, ternyata tega mengatakan kebenaran tentangnya.


"Tangkap dia Pak! Hukum dia seberat-beratnya, karena dari dulu wanita ini selalu mengancam nyawa kami! Jika perlu, hukum dia seumur hidup!" ujar Rafael pada Aksa, sambil menunjuk Intan.


Fabian terduduk lemas. Dia merasa sedang menerima serangan demi serangan yang tidak bisa dielak lagi olehnya.


"Tidak! Tidak ada seorang pun yang bisa menangkap aku. Tidak ada bukti dan saksi yang mengarah padaku," seru Intan dengan tegas dan penuh percaya diri.


"Tenang! Tenang Bu! Kami sudah menginterogasi semuanya. Dari semua pelaku yang kami tahan, mereka semua mengatakan jika Bu Intan alias Ruby merupakan dalang dari penculikan saudari Adelia," tutur Aksa dengan tegas, dan secepat kilat tangannya berhasil menahan tangan Intan menggunakan alat penahan miliknya.


Intan memberontak. Dia berusaha melepaskan diri dari Aksa. Akan tetapi, semuanya pun berakhir sia-sia. Dia digiring masuk ke dalam untuk melakukan interogasi terkait kasus tersebut.


Fabian tidak bisa membelanya. Bahkan ketika Intan memanggil-manggil namanya untuk meminta tolong padanya, Fabian hanya duduk dan menatapnya dengan iba. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya saat ini. Seketika dunia Fabian terasa hancur berantakan. Anak dan istrinya menginap di kantor polisi dengan tuduhan kejahatan.

__ADS_1


Arion pun kembali dibawa masuk oleh polisi yang menjaganya. Dia hanya bisa memandang iba pada ayahnya yang terlihat sangat hancur saat ini.


"Maaf Pak, Bu. Apa saya boleh tahu tentang hubungan kalian dengan istri saya di masa lalu?" tanya Fabian dengan harapan tinggi bisa mengetahui jati diri istrinya yang sebenarnya.


__ADS_2