Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 76 Cemas


__ADS_3

Diam. Adelio masih memikirkan tentang pertanyaan yang diajukan oleh saudara kembarnya. Dia memang merasa senang jika bersama dengan Mia, tapi dia belum bisa menentukan pilihan hatinya. Dia juga belum bertemu dengan putri dari teman bisnis papanya, sehingga dia tidak bisa memutuskan perempuan mana yang dipilih oleh hatinya.


Suasana dalam mobil menjadi hening sejak Adelia bertanya pada kakaknya tentang perempuan mana yang akan dipilihnya. Adik kembar dari Adelio ini, tidak berani menanyakannya kembali. Dia memilih diam dan beberapa saat kemudian, dia menyalakan lagu, agar suasana menjadi lebih rileks.


Adelio tersenyum tipis mendengar senandung lirih dari saudara kembarnya. Dia tahu jika Adelia sedang mengalihkan pembicaraan mereka, dan berusaha membuat suasana lebih menyenangkan.


Setelah beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai oleh Adelio, masuk ke dalam lingkungan rumah mereka. Seperti biasa, saudara kembar itu berjalan layaknya sepasang kekasih yang saling mengasihi. Adelio merangkul pundak Adelia dengan erat, dan mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah.


"Syukurlah, kalian sudah pulang," ujar Ayana yang menunggu sedari tadi di ruang tamu bersama dengan suaminya.


"Loh, kenapa Mama dan Papa di sini?" tanya Adelio sedikit terkejut mendapati mama dan papanya berada di sana.


"Kami sedang menunggu kalian berdua," jawab Rafael yang berdiri di samping Ayana.


"Kenapa Mama dan Papa tidak beristirahat saja? Mama dan Papa pasti lelah," ucap Adelio sambil berjalan bersama dengan Adelia menghampiri kedua orang tua mereka.


Adelia masuk dalam pelukan mamanya dan bermanja-manja di sana. Ayana tersenyum dan mengusap perlahan punggung putri kesayangannya, seraya berkata,


"Mama dan Papa khawatir pada kalian. Jadi, mana mungkin kami bisa tidur tanpa tahu keadaan kalian terlebih dahulu."


"Mama dan Papa harus percaya pada kami. Anak-anak Mama dan Papa ini, pasti bisa menjaga diri dan pulang ke rumah dengan selamat," tukas Adelio dengan percaya dirinya.


"Papa percaya, Boy. Mama juga percaya. Akan tetapi tidak ada salahnya jika kami memastikan kedatangan kalian dengan mata kepala kami sendiri," tutur Rafael sambil menepuk lembut pundak putranya.


"Benar. Memang beginilah orang tua. Mereka tidak akan lega, jika belum melihat keadaan anaknya," timpal Ayana sambil tersenyum, dan membawa tubuh kedua anaknya dalam pelukannya.


Adelio dan Adelia membalas pelukan mamanya. Sedangkan Rafael, dia tidak mau kalah. Sang Papa memeluk ketiga orang yang merupakan harta paling berharganya itu. Mereka saling menyatakan perasaan mereka melalui pelukan itu.


Setelah beberapa saat, Rafael melepas pelukan tersebut dan berkata,

__ADS_1


"Bagaimana tadi? Apa dia sudah menerima perjanjian kalian dengan lapang dada?"


Adelia menghela nafasnya mendengar pertanyaan yang diberikan oleh papanya. Kemudian dia berkata,


"Kami tidak jadi makan malam, Pa."


"Tidak jadi makan malam? Kenapa? Apa dia sudah sadar dan akhirnya menyerah?" tanya Rafael sambil mengernyitkan dahinya.


Adelia menggelengkan kepalanya, dan menghela nafasnya yang terdengar berat di telinga orang yang mendengarnya.


"Ada apa? Apa ada hal buruk yang terjadi?" tanya Rafael kembali sambil menatap Adelia dan Adelio secara bergantian.


"Sepertinya laki-laki itu tidak akan menyerah, Pa. Mulai sekarang, Princess kesayangan kita ini, tidak boleh ke mana-mana seorang diri. Harus ada yang menemaninya, atau pun mengantar jemputnya ketika kerja atau ke mana pun," tukas Adelio dengan tegas.


"Apa dia mengancam putri cantik Mama?" tanya Ayana dengan menatap cemas pada wajah cantik putrinya.


"Tidak, Ma. Malah Lia tadi yang berkata sangat pedas padanya. Lia takut jika dia tidak terima dan berakhir dendam pada Lia," jawab Adelia lemah, terlihat sekali raut kegelisahan dalam hatinya.


"Princess kesayangan kita ini, hebat loh Ma, Pa. Baru kali ini Lio melihat Lia jadi cewek jutek. Kata-katanya sangat pedas. Seharusnya Mama dan Papa tadi melihat bagaimana ekspresi wajah laki-laki sialan itu ketika mendapatkan perlakuan itu dari Lia," ujar Adelio dengan bangganya.


"Benarkah? Apa ada rekaman videonya?" tanya Ayana dengan sangat antusias.


"Mama iiiih. Kenapa malah menanyakan videonya?" rengek Adelia sambil mengerucutkan bibirnya.


"Mama penasaran. Mama ingin tahu bagaimana aksi putri kesayangan Mama jika marah pada seseorang," ujar Ayana sambil tersenyum lebar.


Sontak saja Rafael dan Adelio tertawa menanggapi perkataan Ayana. Berbeda dengan Adelia yang justru terlihat ngambek karena menjadi bahan pembahasan mereka.


"Lalu, bagaimana ceritanya, hingga bisa terjadi seperti itu?" tanya Rafael dengan rasa ingin tahunya.

__ADS_1


Adelio duduk di kursi yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Setelah itu dia berkata,


"Ceritanya sambil duduk saja ya, Ma, Pa."


"Eh iya, sampai lupa kalau kita masih berdiri," ucap Ayana sambil terkekeh.


Ayana dan Rafael duduk di kursi yang ada di belakang mereka. Sedangkan Adelia, dia duduk di kursi yang berada di sebelah Adelio. Setalah itu, Adelio menceritakan semua kejadian yang terjadi di sana.


Tangan Ayana mencengkeram tangan suaminya. Rafael yang mengerti kegelisahan hati istrinya, segera memegang tangan istrinya dan mengusapnya dengan sangat lembut. Kemudian dia berbisik di telinga istrinya,


"Tenanglah, Sayang. Tidak akan terjadi apa pun pada anak-anak kita."


Ayana menganggukkan kepalanya perlahan dan tersenyum tipis menanggapi perkataan suaminya. Dalam hatinya merasakan kekhawatiran yang teramat sangat pada kedua anaknya. Tidak dapat dipungkiri jika Adelio, putra mereka sangat hebat dalam menjaga dirinya sendiri dan adiknya. Akan tetapi, entah mengapa firasat seorang ibu mengatakan lain. Dia khawatir jika dalam kelengahan atau ketidakberdayaan anaknya itu, Arion akan memanfaatkan peluang tersebut.


"Mama dan Papa tenang saja. Lio pasti akan melindungi Lia. Tanpa di minta siapa pun, Lio pasti akan melindunginya. Jadi, Mama dan Papa tidak usah khawatir," tutur Adelio dengan tegas, mencoba meyakinkan mama dan papanya.


"Tentu saja Mama dan Papa percaya padamu. Kamu adalah jagoan kami, Boy. Jadi kami tidak akan khawatir lagi. Jagalah baik-baik adikmu," tutur Rafael dengan bijaknya.


"Pasti Pa," jawab Adelio dengan mantap.


Adelio beranjak dari tempat duduknya dan berkata,


"Sebaiknya Mama dan Papa beristirahat sekarang. Ini sudah malam. Jangan sampai Mama dan Papa sakit. Kami berdua pasti akan sangat sedih."


"Baiklah, kami akan beristirahat sekarang," tukas Rafael sambil beranjak dari kursinya.


Adelia pun beranjak dari kursinya. Dia meraih tangan Adelio yang terulur di hadapannya, untuk berjalan bersama menuju kamar mereka masing-masing.


Namun, langkah mereka berhasil dihentikan oleh suara Rafael yang memanggil nama Adelio.

__ADS_1


"Boy, Papa lupa menanyakan tentang acara pertemuan kamu dengan putri teman bisnis Papa. Kapan kamu bisa bertemu dengannya?" tanya Rafael pada putranya.


__ADS_2