Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 25 Dinner Mewah Dua Keluarga


__ADS_3

Rafael dan Ayana menoleh ke belakang, di mana kedua anak kembar mereka sedang berdiri tepat di belakang mereka. Rafael bergerak mendekati istrinya, agar keluarga yang berada di depannya bisa melihat Adelia dan Adelio.


"Perkenalkan, mereka adalah anak kami, Adelia dan Adelio," ucap Rafael sambil tersenyum memperkenalkan kedua anak kembarnya.


"Sudah lama sekali saya tidak bertemu mereka. Sekarang mereka berdua tumbuh menjadi sangat rupawan dan luar biasa. Mereka cantik dan tampan, sama seperti mama dan papanya," ujar pria tersebut memandang kagum pada Adelia dan Adelio.


Seperti biasanya, Ayana tersipu malu mendengar pujian yang ditujukan untuknya. Sedangkan Rafael, dia terkekeh mendengar pujian dari pria tersebut.


Berbeda dengan Adelia dan Adelio yang sangat percaya diri mendengar pujian yang ditujukan pada mereka. Semenjak kecil mereka memang sudah sangar kenyang dengan pujian. Bahkan mereka, di usia yang masih sangat kecil, sudah memperlihatkan kecerdasan mereka untuk memecahkan beberapa soal yang berhubungan dengan angka.


Oleh karena itulah mereka disebut dengan 'Duo Luar Biasa' oleh orang sekitar mereka. Bukan hanya itu saja, prestasi yang mereka dapatkan pun sangat membanggakan kedua orang tua mereka dan keluarga besar mereka.


Pria tersebut mempersilahkan Rafael sekeluarga untuk duduk bersama dengan mereka, tepatnya duduk di kursi yang berhadapan dengan mereka, keluarga pria tersebut.


"Terima kasih Pak Danu telah mengundang makan malam kami sekeluarga," ucap Rafael mengawali perbincangan mereka.


"Sudah lama kita tidak makan bersama, Pak. Mumpung kita lagi ada waktu, sebaiknya kita sering-sering melakukannya, agar keluarga kita jadi lebih saling mengenal dan lebih akrab lagi nantinya," tukas Danu sambil terkekeh menanggapi ucapan Rafael.


Adelia mendekat ke arah Adelio yang duduk di sampingnya. Dia mendekatkan kepalanya di belakang Adelio, sehingga bibirnya berada di dekat telinga kakaknya itu. Kemudian dia berkata,


"Lebih dekat? Kenapa mereka ingin lebih dekat dengan keluarga kita? Apa mereka sedang merencanakan sesuatu?"


Setelah mengatakan hal itu, Adelia segera kembali pada posisi duduknya semula. Dia duduk dengan tegak menghadap ke depan.


Namun, seketika dia menggerutu dalam hatinya ketika melihat putra Danu, yang sedang menatapnya penuh minat, sambil tersenyum manis padanya.


Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku? Atau mungkin make up ku terlalu tebal?


Pemuda tampan yang berpenampilan sangat berkelas itu terlihat tertarik pada Adelia. Hanya saja Adelia tidak pernah bisa membaca orang yang ada di sekitarnya. Oleh karena itulah sang kakak selalu menjaganya, meskipun tidak berada di dekatnya, Adelio bertanggung jawab penuh untuk menjaga saudara kembarnya itu.


Lain halnya dengan Adelio. Saudara kembar Adelia ini sangatlah peka dan pandai membaca karakter seseorang. Hanya dengan melihatnya saja, dia tahu jika pemuda tampan yang ada di hadapan Adelia, merasa tertarik dengannya.


Adelio mengambil ponsel dari dalam kantong jasnya. Dia menuliskan sesuatu dan mengirimkannya dalam bentuk pesan pada saudara kembarnya, yang sedang duduk di sampingnya.

__ADS_1


Sepertinya dia menyukaimu.


Getaran ponsel yang berasal dari dalam tas branded Adelia, seketika menyadarkannya. Dengan segera Adelia membuka tas branded keluaran terbaru yang ada di pangkuannya. Diambilnya ponsel dari dalam tasnya itu dan dibacanya pesan yang baru saja diterimanya.


Jemari lentiknya bergerak menuliskan sesuatu untuk membalas pesan tersebut. Setelah itu dia mengirimkannya kembali pada sang pengirim pesan.


Dia siapa? Apa dia yang sedang duduk di depanku?


Ponsel Adelio yang diletakkannya di atas meja, kini bergetar karena menerima pesan dari seseorang. Diraihnya ponsel tersebut dan dibacanya. Dia tersenyum dan jarinya bergerak membalas pesan tersebut.


Siapa lagi laki-laki muda yang ada di meja ini? Tidak mungkin aku, bukan? Kita sudah menjadi satu kesatuan sejak dalam kandungan Mama.


Adelia segera membaca pesan yang diterimanya, setelah ponsel yang sedang dipegangnya bergetar, menerima pesan yang dikirimkan oleh orang yang sama. Gadis cantik itu pun tersenyum membaca pesan tersebut. Jari lentiknya kembali bergerak lincah membalas pesan tersebut.


Apa kami akan dijodohkan?


Adelio segera membaca pesan balasan dari saudara kembarnya. Dia pun segera membalasnya.


Sepertinya benar. Apa yang akan kamu lakukan?


Sepertinya dia tidak buruk. Apa aku harus menerimanya?


Adelio menyeringai membaca pesan balasan dari saudara kembarnya. Kemudian dia membalasnya.


Bagaimana dengan Arion?


Adelia menghela nafasnya ketika membaca pesam dari Adelio. Dengan cepatnya jemari lentiknya bergerak membalas pesan tersebut, seolah tanpa memikirkan apa yang sedang ditulisnya.


I don't know. Aku tidak tahu dengan apa yang dirasakan oleh hatiku.


Saudara kembar Adelia pun tersenyum membaca balasan pesan darinya. Dia pun segera membalas pesan tersebut.


Dasar bodoh!

__ADS_1


Seketika Adelia menoleh ke arah samping, di mana Adelio sedang duduk dan tersenyum padanya. Gadis cantik itu menatap tajam pada saudara kembarnya, yang telah mengatainya melalui pesan yang dikirimkan olehnya.


Adelio terkekeh melihat reaksi kemarahan saudara kembarnya, yang tidak bisa dilampiaskan dengan bebas saat ini.


Tanpa saudara kembar itu sadari, pemuda tampan yang ada di depan Adelia, sedang memperhatikan mereka berdua sejak tadi mereka berkirim pesan. Dia tersenyum tipis melihatnya. Dia merasa iri melihat kedekatan saudara kembar itu. Posisinya menjadi anak tunggal dan pewaris tunggal, membuatnya kesepian dan menginginkan seseorang yang dekat dengannya dan tulus padanya.


Para orang tua sedari tadi sedang asik membicarakan pekerjaan mereka. Bahkan kini Rafael dan Danu sedang membicarakan proyek kerja sama mereka, seolah mereka sedang lupa dengan kehadiran keluarga mereka.


"Pa, apa tidak ada bahasan selain pekerjaan?" bisik Ayana di belakang telinga Rafael.


Sontak saja Rafael tersadar jika dia dan Danu sedang bersama keluarga masing-masing. Dia meraih tangan Ayana yang berada di pangkuan istrinya dan berkata,


"Maaf Pak Danu. Sepertinya kita terlaku asik membicarakan tentang pekerjaan kita."


Danu pun terkekeh dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Benar. Kita berdua selalu kebablasan setiap membicarakan tentang pekerjaan, sampai-sampai kita lupa akan kehadiran yang lainnya di sini."


"Untungnya kita berdua sangat pengertian. Benar kan Bu Ayana?" tanya Sonya, istri Danu, meminta dukungan pada Ayana.


"Benar Bu. Coba saja kalau kita tidak pengertian pada suami kita, sudah sejak tadi kita meninggalkan mereka," jawab Ayana sambil terkekeh.


Sonya pun terkekeh mendengar jawaban dari Ayana. Rafael dan Danu pun ikut terkekeh mendengarnya.


Rafael menoleh ke arah pemuda tampan yang duduk sejajar dengan Danu. Kemudian dia bertanya,


"Apa dia putra Bapak yang waktu itu masih kecil ketika bertemu dengan saya?"


"Benar Pak Rafael. Dia Kenzo, putra kami satu-satunya. Maaf, saya lupa memperkenalkannya pada kalian," jawab Danu sambil melihat ke arah putranya.


"Lebih baik kita mulai saja makan malamnya sekarang Pa," tutur Sonya sambil memberi kode pada waitress yang ada tidak jauh dari meja tersebut.


"Pak Rafael dan Bu Ayana, apa tidak lebih baik jika kita lebih mempererat hubungan keluarga kita untuk ke depannya?" tanya Danu sambil menatap Rafael dan Ayana secara bergantian.

__ADS_1


Ayana dan Rafael mengernyitkan dahinya. Mereka berdua saling menatap, seolah saling bertanya melalui tatapan mata mereka. Kemudian Rafael mengalihkan tatapannya pada Danu, dia tersenyum seraya berkata,


"Maaf Pak, saya tidak mengerti maksud dari perkataannya Pak Danu."


__ADS_2