Ternyata Mereka Duo Luar Biasa

Ternyata Mereka Duo Luar Biasa
Bab 98 Menguak Masa Lalu


__ADS_3

Fabian pulang ke rumahnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Dalam pikirannya saat ini tidak bisa memikirkan kebenaran dari semua yang didengarnya. Dia berharap jika Intan, istri yang selama ini menemani hidupnya, bisa berkata dengan jujur padanya.


Sebenarnya jauh dari dalam hatinya sangat berat untuk tidak mempercayai semua perkataan Arion. Bukan karena dia putra kandungnya, lantas dia percaya begitu saja. Akan tetapi, dia sudah sangat mengenal putranya, sehingga dia sulit untuk tidak percaya padanya.


"Arion tidak pernah bersikap seperti ini. Aku yakin jika dia terlalu kecewa dan marah, sehingga sikapnya jadi seperti ini," ucap lirih Fabian sambil mengemudikan motornya, ketika terngiang kembali perkataan putranya.


Sekilas terlintas di benaknya, hari-harinya bersama dengan Intan. Senyumannya dan semua kebaikannya pada Arion, membuatnya sangat menyayangi istrinya.


"Aku harap semua ini hanya salah paham, karena aku tidak tahu harus bagaimana, jika semua tuduhan yang diberikan pada Intan adalah kebenaran," sambungnya kembali.


Tanpa sadar, Fabian mempercepat laju motornya. Hati dan pikirannya ingin segera sampai di rumah, dan bertemu dengan istrinya. Tentunya dia akan berusaha mencari tahu kebenaran dari masa lalu istrinya, dan keterlibatannya dengan kejadian tersebut.


Sesampainya di rumah, Fabian bergegas masuk ke dalam rumahnya, seraya berseru,


"Bu! Intan! Di mana kamu?!"


Terdengar gelak tawa Intan yang berada di dalam rumah, membuat langkah Fabian dengan sendirinya mengarah menuju sumber suara.


Langkahnya terhenti, ketika melihat istrinya yang sedang tertawa bahagia menikmati acara di televisi. Batinnya bergejolak ingin segera menanyakan semua yang ada dihatinya. Semua pertanyaan itu sudah tertulis dalam pikirannya.


Merasa ada yang sedang memperhatikannya, Intan segera menoleh ke arah tersebut. Dia tersenyum, dan berkata,


"Sudah pulang, Mas?"


Senyuman manis yang disuguhkan oleh Intan selalu bisa membuat Fabian terpesona. Sejak awal perkenalan mereka, Fabian tidak pernah menemukan sikap buruk Intan padanya dan Arion. Terlebih lagi Intan terlihat sangat menyayangi Arion seperti anaknya sendiri, sehingga Fabian sangat senang dan bersyukur telah menjadikannya sebagai ibu sambung Arion.


"Kenapa melamun, Mas? Ada masalah? Oh iya, mana Arion?" tanya Intan sambil matanya mencari keberadaan Arion di sekitar Fabian.


Fabian menghela nafasnya. Dia berjalan ke menghampiri istrinya, dan duduk di sebelahnya. Dia menatap istrinya dengan serius, dan berkata,

__ADS_1


"Sayang, apa benar Arion tadi menanyakan tentang Bundanya padamu?"


"Iya. Kenapa sih orang-orang memberitahukan pada Arion? Lagian orang yang sudah meninggal tidak akan bisa kembali, meskipun diomongin terus-menerus," jawab Intan dengan entengnya.


"Bu! Kenapa kamu berbicara seperti itu? Meskipun Bunda Arion sudah tidak ada di dunia ini, dia akan tetap ada di hati kita. Jadi, kita harus mendoakannya agar tenang di sana," tukas Fabian dengan tegas, berusaha meluruskan pikiran istrinya.


Intan tersenyum kesal pada suaminya. Dia melipat kedua tangannya di depan dadanya, seraya berkata,


"Bilang saja kalau Mas Fabian masih mencintainya. Tidak perlu mengatakan hal seperti itu. Tenang saja, aku tidak akan cemburu pada orang yang hanya tinggal namanya saja."


Fabian kembali menghela nafasnya mendengar perkataan istrinya. Memang benar jika selama ini sikap Intan baik sebagai istri dan ibu, tapi keras kepalanya itu selalu saja membuat Fabian harus mengalah padanya.


"Sayang, sepertinya kita harus menceritakan yang sebenarnya pada Arion. Semua hal tentang bundanya, kematiannya, dan hubungan kita yang tidak ada hubungannya dengan kematian bunda Arion," tutur Fabian sambil memegang pundak Intan.


"Kenapa harus diceritakan? Aku ibunya Arion. Dia hanya perlu tahu itu saja. Tidak usah menambah beban pikirannya," ujar Intan dengan kesalnya.


Fabian melepaskan kedua tangan Intan dari dadanya, dan memegangnya dengan erat. Kemudian dia pun berkata,


"Ck! Sudahlah, terserah Mas saja. Jika ada apa-apa, jangan salahkan aku karena tidak mencegah mu untuk mengatakan hal ini padanya," ucap Intan dengan kesalnya, sambil melepaskan genggaman tangan Fabian dari tangannya.


Fabian diam. Dia tidak berkomentar apa pun. Hanya saja dalam hatinya bergejolak, antara keinginannya untuk bertanya atau menganggapnya hanya seperti angin lalu saja.


Namun, bayangan Arion yang sedang memakai benda milik polisi yang dikaitkan pada kedua tangannya, membuat Fabian harus bertanya pada istrinya.


Tangannya kembali memegang kedua pundak Intan, sedangkan matanya menatapnya dengan intens untuk mencari tahu kebenaran dari jawabannya.


"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Arion bisa terlibat dengan penculikan Adelia?" tanya Fabian dengan tatapan serius pada istrinya.


Seketika mata Intan terbelalak mendengar pertanyaan dari suaminya. Dengan gugupnya dia bertanya,

__ADS_1


"Apa? Arion terlibat dalam penculikan itu? Kenapa bisa? Bukannya Arion ada di rumah ketika mereka menculiknya?"


"Kenapa kamu bisa tahu persis kapan Adelia diculik? Apa benar kamu dalang dari semua ini?" tanya Fabian sambil mengernyitkan dahinya.


Mampus! Kenapa aku bisa keceplosan? Tidak bisa, aku harus bisa keluar dari masalah ini, Intan berkata dalam hatinya.


"Sayang! Intan! Cepat jelaskan semuanya padaku!" ujar Fabian dengan tegasnya.


Intan menatap lekat mata suaminya, dan dia berkata,


"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini. Penculikan? Tahu apa aku tentang acara culik menculik? Aku hanya ibu rumah tangga biasa yang hanya berada di rumah. Bahkan aku tidak pernah bepergian sama sekali. Lalu, dari mana aku bisa mengenal penculik-penculik itu?"


"Bagaimana kamu bisa tahu kapan terjadinya penculikan itu?" tanya Fabian yang seolah tidak percaya dengan penjelasan istrinya.


Intan berteriak dalam hatinya, memaki dan mengumpat suaminya. Akan tetapi, dia tersenyum pada suaminya, dan berusaha menjelaskannya.


"Mana aku tahu Mas, kapan mereka menculiknya, tapi aku tahu jika Arion baru saja meninggalkan rumah ini. Jadi, apa benar dia ada waktu untuk menculik Adelia?"


"Bagaimana dengan Ruby? Apa hubungannya Ruby dengan kedua orang tua Adelia?" tanya Fabian menyelidik.


Sialan! Dari mana dia mengetahui nama Ruby? Kenapa dia juga bisa tahu jika Ruby mempunyai hubungan dengan kedua orang tua Adelia? Gawat! Sepertinya aku sedikit kesulitan untuk membuatnya percaya padaku, Intan berkata dalam hatinya.


"Kenapa kamu diam? Apa kamu tahu tentang mereka?" tanya Fabian kembali dengan tidak sabarnya.


Intan mencebik kesal, dan membuang pandangannya dari wajah suaminya, seraya berkata,


"Bagaimana aku bisa tahu, Mas? Lagi pula, aku tidak kenal mereka. Jadi, bagaimana aku bisa menjawabnya?"


"Benarkah? Apa tidak ada yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Fabian sambil menatapnya dengan tatapan curiga.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Mas? Apa yang aku sembunyikan?" tanya Intan dengan kesalnya, seolah dia tidak terima telah dituduh oleh suaminya.


"Masa lalu mu. Ceritakan padaku masa lalu mu," ujar Fabian dengan tegasnya.


__ADS_2