
Sejak saat itu, yang bisa menenangkan Adelia selain Adelio, Ayana dan Rafael, adalah Aksa. Laki-laki penyelamatnya itu, menjadi tempat berlindung Adelia saat ini. Dalam setiap ingatan akan Arion yang seolah menerkamnya pada saat itu, Adelia selalu mencari Aksa, dan selalu memeluknya untuk mendapatkan perlindungan darinya.
Kenzo, dia sama sekali tidak datang untuk menemui Adelia sejak saat dia tidak bisa menemukannya di kantor ketika menjemputnya. Ada berbagai alasan yang membuatnya tidak bisa menemui calon istrinya.
Bahkan keluarga Kenzo pun tidak pernah tahu kejadian yang menimpa Adelia saat ini. Keluarga Atmaja merahasiakan semuanya, demi kesehatan psikis dan mental putrinya.
Hari demi hari berlalu. Adelia masih saja dengan ketakutannya. Dia masih teringat akan semuanya. Terutama perlakuan Arion padanya. Adelia mengusap-usap lengan, kaki dan badannya, seraya menangis dan mengatakan hal yang sama berulang kali.
"Aku kotor! Aku hina! Tidak ada laki-laki yang mau padaku! Aku harus mati! Aku tidak bisa hidup dengan menahan malu dan aib ini! Aku benci diriku! Benci! Kotor! Hina!"
Ayana menangis melihat putri tersayangnya sedang mengalami trauma, hingga mendapatkan perawatan dari seorang dokter psikolog. Semua orang yang berada di sekitar Adelia, diminta untuk selalu bisa membuatnya nyaman dan dilindungi.
...****************...
"Tante, Om, saya berniat untuk melamar Adelia, dan segera menikahinya jika lamaran saya diterima," tutur Aksa di hadapan Rafael, Ayana dan Adelio.
Sontak saja mereka bertiga menatap Aksa dengan tatapan tidak percaya. Bahkan mereka hanya menatap Aksa, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk bertanya, atau pun menjawab niat baik Aksa.
"Om, Tante, Lio. Kenapa kalian semua menatap saya seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapan saya?" tanya Aksa dengan tatapan heran pada mereka bertiga.
"Apa kamu serius?" tanya Rafael dengan menatap serius pada Aksa.
"Saya serius, Om. Saya ingin menikah dengan Adelia," jawab Aksa dengan tegas dan terlihat serius.
Ayana tersenyum bahagia. Dia tidak lagi mengharapkan Kenzo untuk menjadi suami Adelia, karena Ayana yakin jika keluarga Kenzo akan membatalkan rencana pernikahan Adelia dengan Kenzo, hanya karena kejadian yang menimpa Adelia. Bukan hanya itu saja, Ayana juga sangat yakin jika Adelia saat ini hanya membutuhkan Aksa untuk menjadi pendamping dan suami yang bisa selalu menjaganya.
Adelio menatap serius pada sahabatnya. Sungguh dia sangat senang mendengar perkataan Aksa tentang keinginannya menikahi Adelia. Hanya saja Adelio ingin mengetahui alasan dari keputusan Aksa yang sangat penting bagi keluarga mereka.
"Apa kamu serius?" tanya Adelio dengan tatapan menyelidik pada Aksa.
__ADS_1
"Apa aku pernah berbohong padamu? Lagi pula ini tentang pernikahan, Lio. Apa aku bisa main-main dengan pernikahan?" tanya balik Aksa pada Adelio untuk memberinya jawaban atas pertanyaannya.
"Apa alasanmu, sehingga ingin menikahi Adelia? Kamu bisa lihat sendiri keadaannya saat ini, bukan?" tanya kembali Adelio dengan serius pada sahabatnya.
Aksa menatap serius pada Adelio. Dia tersenyum tipis, dan berkata,
"Dia perempuan yang pertama kali membuatku nyaman dengan pelukannya. Di samping itu, keadaan Adelia saat ini benar-benar membutuhkanku. Aku ingin membantunya, mengembalikan Adelia seperti sedia kala."
"Apa kamu serius?" tanya Rafael dengan tatapan seriusnya pada Aksa.
"Apa kamu mencintainya?" tanya Adelio yang juga menatapnya serius.
Aksa menatap Rafael dan Adelio secara bergantian. Dia menganggukkan kepalanya pada mereka, dan tersenyum, seraya berkata,
"Saya serius dengan niat saya untuk menikahi Adelia. Saya juga yakin bahwa saya telah jatuh cinta padanya."
Rafael dan Adelio saling menatap, seolah mereka saling bertanya melalui mata mereka. Sedangkan Aksa, dia menunggu jawaban dari ayah dan anak itu, dengan sangat percaya diri.
"Setidaknya kamu harus tahu terlebih dahulu tentang Adelia."
"Ah benar. Maaf, aku kira kita bisa mengenal secara perlahan setelah kita menikah," ucap Aksa sambil tersenyum malu.
"Apa kamu gak merasa menyesal nantinya, jika seandainya kamu baru mengetahui tentang keburukan Adelia pada saat kalian sudah menikah?" tanya Adelio menyelidik.
"Jika memang itu benar, mungkin penyesalan itu akan ada, tapi itu akan segera hilang, karena menikah dengan Adelia adalah pilihan saya sendiri. Selain itu, saya sudah berniat untuk menikah dengannya. Jadi, saya yakin apa pun yang terjadi nanti, pasti tidak akan ada penyesalan yang berlarut-larut," jawab Aksa dengan serius.
Ayana memegang tangan Rafael, dan dia menganggukkan kepalanya ketika suaminya melihat ke arahnya. Rafael pun menganggukkan kepalanya. Dia mengetahui arti dari tatapan mata dan anggukan kepala istrinya.
"Begini Nak Aksa, sebenarnya Adelia sudah mempunyai calon suami, tapi sampai detik ini dia tidak datang menemui Adelia setelah kejadian penculikan itu. Jika memang Nak Aksa memang berniat tulus dan sungguh-sungguh menikahi Adelia atas dasar cinta, kami akan menerima niat baik Nak Aksa. Dengan catatan Nak Aksa tidak keberatan dengan status Adelia yang menjadi calon istri laki-laki lain," tutur Rafael dengan hati-hati.
__ADS_1
Seketika ekspresi wajah Aksa berubah serius mendengar penuturan dari Rafael. Kemudian dia berkata,
"Maksud Om, apa Adelia akan tetap menjadi calon istri laki-laki lain?"
"Tidak. Bukan itu. Maksud saya, Nak Aksa harus tahu status Adelia saat ini, tapi kami akan membatalkan rencana pernikahan mereka dengan alasan yang sebenarnya. Kami sadar, yang dibutuhkan Adelia saat ini adalah kamu, bukan calon suaminya yang entah mengapa dia tidak datang menemui calon istrinya, padahal dia sendiri yang mengabarkan pada Adelio tentang hilangnya Adelia," jawab Rafael dengan sejelas-jelasnya.
Aksa tersenyum, dan menghela nafasnya dengan lega. Kemudian dia berkata,
"Niat saya tulus, Om. Saya akan menikahi Adelia jika lamaran saya diterima."
Rafael memandang ke arah istrinya. Ayana menganggukkan kepalanya, sebagai tanda dia menyetujui lamaran Aksa. Kemudian Rafael memandang ke arah Adelio. Putranya itu pun memberi jawaban yang sama seperti mamanya.
"Begini Nak Rafael, kami semua menyetujui dan menerima niat baik kamu, tapi itu juga kembali pada Adelia. Sebaiknya kita tanyakan saja pada Adelia sekarang," tutur Rafael pada Aksa dengan bijaknya.
"Silahkan, Pak," ujar Aksa sambil tersenyum pada Rafael.
Adelio segera beranjak dari duduknya, dan berkata,
"Lio saja yang memanggil Adelia, Pa."
Perlahan Adelio membuka pintu kamar Adelia. Dia meninggalkan adiknya setelah menemaninya hingga tertidur nyenyak. Duduklah dia di samping Adelia. Tangannya mengusap lembut pipi adiknya, seraya berkata,
"Sayang, bangunlah. Ada Kak Aksa yang ingin menemui mu. Dia sedang menunggu di ruang tamu bersama Mama dan Papa."
Perlahan mata Adelia terbuka. Dia tersenyum, dan berkata lirih,
"Kak Lio."
"Ayo kita ke ruang tamu. Ada Kak Aksa sedang menunggumu. Dia ingin bertemu denganmu," tutur Adelio sambil tersenyum, dan berusaha membantu Adelia bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Mereka berdua menuruni tangga dari kamar tersebut dengan saling bergandengan. Adelio menuntunnya menuju ke ruang tamu, di mana kedua orang tua mereka bersama dengan Aksa sedang menunggu mereka.
"Kak Aksa!" seru Adelia sambil berlari, dan memeluk Aksa.