
Dalam meeting kali ini, Adelia tidak bisa berpikir dengan jernih. Pikirannya hanya tertuju pada Kenzo. Dalam hatinya berkata,
Sepertinya Kenzo tahu. Lalu, bagaimana dia bisa tahu?
Gadis cantik itu menghembuskan nafasnya yang terasa sangat berat dalam dadanya. Kemudian dia berkata dalam hatinya,
Bagaimana nanti aku bisa menghadapi Kenzo? Apa yang harus aku katakan padanya?
Sepanjang jam meeting, dihabiskan Adelia untuk memikirkan hal itu. Hingga meeting itu pun selesai, Adelia masih saja memikirkan tentang hal itu.
Langkah kakinya terasa lemas, sehingga dia berpegangan pada dinding di setiap jalan menuju ruangannya.
"Kamu kenapa Lia? Apa kamu sakit?" tanya Mia yang sedang berada tidak jauh dari tempatnya.
"Tiba-tiba saja aku mendadak pusing. Nafasku terasa sesak, dan rasanya aku mau pingsan," jawab Adelia sambil memegang dadanya.
Seketika Mia berlari kecil menuju Adelia, seraya berkata,
"Kamu baik-baik saja Lia? Apanya yang sakit? Aku harus bagaimana?"
Adelia menatap Mia dengan tatapan penuh permintaan dan berkata,
"Tolong belikan aku makan. Sepertinya aku butuh asupan gizi sekarang."
Saat itu juga Mia melepas tangannya dari tubuh Adelia, seraya berkata dengan kesalnya,
"Bilang saja jika kamu kelaparan dan menyuruhku untuk membelikan kamu makan siang, karena kamu malas keluar kantor."
"Ternyata kamu pintar juga Mia. Lebih baik hilangkan semua lemot yang ada di pikiranmu. Jadilah Mia yang pintar. Aku dukung sepenuh hati," ucap Adelia dengan bangganya, mencoba untuk meyakinkan Mia agar percaya padanya.
"Malas! Kamu selalu tidak menepati janjimu," tukas Mia sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatap kesal pada Adelia.
Gadis cantik yang ada di hadapan Mia itu, kini mendekati Mia dan meletakkan kedua tangan di pundaknya, seraya berkata,
"Janji apa? Perasaan aku tidak mempunyai janji padamu."
"Memperkenalkan aku dengan cowok ganteng," jawab Mia dengan tegasnya.
Seketika mata Adelia terbelalak. Dia sadar jika memang telah melupakan janjinya pada Mia. Adelia tersenyum lebar dan berkata,
"Nanti aku akan perkenalkan kamu dengan laki-laki yang sudah pasti membuatmu tidak berkedip."
__ADS_1
"Siapa?" tanya Mia dengan mata yang berbinar.
"Nanti akan aku perkenalkan, tanpa memberitahumu terlebih dahulu, siapa orangnya," jawab Adelia sambil tersenyum lebar.
"Ck! Kamu selalu seperti itu. Setelah itu kamu pasti melupakannya," ujar Mia dengan ketusnya.
Senyum lebar Adelia pun pudar. Dia baru sadar jika selama ini sering melupakan janjinya pada Mia.
"Mia, aku minta maaf. Aku benar-benar lupa. Sekarang aku gak akan lupa. Nanti kamu akan aku pertemukan sama dia. Percayalah padaku, Mia," ujar Adelia dengan memperlihatkan puppy eyes nya.
"Dia? Siapa?" tanya Mia menyelidik.
"Laki-laki. Ganteng. Pasti kamu suka," ucap Adelia sambil menggerak-gerakkan naik turun bulu matanya.
"Beneran ganteng?" tanya Mia dengan mata yang berbinar.
Adelia menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias. Dan dia tersenyum seraya berkata dalam hatinya,
Maaf Mia. Semoga kamu bisa senang nantinya.
"Ya sudah, kamu sekarang mau makan apa? Aku akan membelikannya sekarang, sekalian aku juga sudah sangat lapar sekali," tanya Mia dengan mata yang berbinar.
"Tolong belikan siomay batagor saja ya, Mia. Aku lagi pengen makan itu," jawab Adelia dengan tatapan memohonnya.
"Ok. Nanti aku akan belikan di tempat biasanya. Aku pergi makan siang dulu dengan yang lainnya," ujar Mia dengan riangnya.
Adelia tersenyum melihat Mia yang pergi meninggalkannya dengan suasana hati riangnya. Setelah itu dia masuk ke dalam ruangannya dan memulai kembali pekerjaannya.
Tak ingin melupakan kembali janjinya pada Mia, dia segera mengirim pesan pada laki-laki yang akan dikenalkannya dengan Mia.
"Beres. Semoga mereka saling suka," ucap Adelia sambil terkekeh.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan Adelia terbuka tanpa diawali ketukan pintu terlebih dahulu.
"Lia! Ini cepat makan. Aku beli ini spesial buat kamu di tempat yang biasanya. Jangan sampai maag kamu kambuh. Kamu kan punya janji denganku nanti. Jadi, kamu harus makan ini de--"
"Aku ingat, Mia. Aku sudah mengatur janji pertemuan kita," sahut Adelia sambil mengulurkan tangannya, meminta box makanan yang di dalamnya sudah ada siomay dan batagor kesukaan Adelia.
Mia tersenyum lebar mendengar perkataan dari Adelia. Dia duduk di kursi yang berada tepat di depan sahabatnya itu, dan berkata,
"Lia, bisa kamu perlihatkan foto laki-laki itu?"
__ADS_1
Tatapan mata Mia mengatakan bahwa dia sangat mengharapkannya. Sayangnya keinginannya itu hanya direspon Adelia dengan senyuman lebarnya, sehingga terlihat deretan gigi Adelia yang berbaris dengan rapinya.
"Ck! Kamu gak pernah mudah dibujuk. Sudahlah, lebih baik aku keluar saja," ucap Mia dengan sewotnya.
Adelia tertawa mengiringi kepergian Mia, keluar dari ruangannya. Dia semakin gencar menggoda Mia sebelum mempertemukannya dengan laki-laki tersebut.
Setelah Adelia menyantap makanannya, dia kembali mengerjakan pekerjaannya. Suara Kenzo yang terngiang di telinganya, membuatnya teringat kembali akan pertanyaan Kenzo yang harus dijawabnya nanti.
Gadis cantik itu hanya bisa menghela nafasnya. Terlihat jelas dari wajahnya kegelisahan dalam hatinya.
Dia melihat jam yang melilit di tangan kanannya. Helaan nafasnya kembali terdengar berat saat ini.
"Bagaimanapun juga aku harus menghadapinya," ucap Adelia sambil menata mejanya dan memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas miliknya.
Setelah itu, dia beranjak dari duduknya, seraya berkata,
"Ayo Lia, waktunya untuk menyelesaikan semuanya."
Kaki Adelia terasa enggan melangkah. Dia memaksakan kakinya yang terasa berat, sehingga langkahnya terasa membebaninya.
Tepat ketika Adelia akan keluar dari kantornya, ada seorang laki-laki yang menghadangnya dan berkata,
"Adelia, apa kita bisa berbicara? Aku ingin kita membicarakan tentang tadi pagi."
"Maaf Arion, aku rasa semuanya sudah jelas. Aku harap hubungan kita sama seperti dulu. Seperti pada saat belum terjadi perjanjian itu," jawab Adelia sambil melihat ke arah kakinya.
Gadis cantik itu telah mempraktekan apa yang dikatakan oleh Adelio. Dia melihat ke arah lain, agar tidak melihat wajah Arion yang sedang mengiba padanya. Ternyata cara itu berhasil membuat Adelia bisa mengatakan keinginannya, tanpa merasa kasihan pada Arion.
"Tunggu! Tolong dengarkan aku," ujar Arion sambil meraih tangan Adelia, berusaha untuk menahannya.
Adelia berusaha melepaskan tangan Arion, tapi tenaga Arion begitu kuat, sehingga Adelia tidak bisa melepaskannya.
"Aku mohon, Adelia. Aku mohon, Sayang. Dengarkan aku terlebih dahulu. Aku--"
"Lepaskan dia!"
Seruan tegas dari arah belakang Arion, membuat mereka berdua mengalihkan perhatian mereka pada sumber suara.
"Kak Lio?!" celetuk Adelia kaget, ketika melihat saudara kembarnya berdiri di belakang Arion.
Adelia mencoba kembali melepaskan tangannya, tapi Arion masih memegang kuat tangan lemah yang memiliki kulit putih tersebut. Semakin Adelia berusaha untuk melepasnya, semakin kuat Arion memegangnya.
__ADS_1
"Sialan! Lepaskan dia!"