Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
100. Menghilangnya Luna menimbulkan kekacauan.


__ADS_3

Pagi sekali seseorang mengetuk pintu rumah sangat keras, hingga membuat Janus dan Astrid terbangun dari tidurnya. Astrid dan Janus pun harus buru-buru beranjak dari kamar menuju pintu depan.


Saat pintu terbuka, ternyata itu adalah Bayu dan Yeni. Mereka menerobos masuk ke dalam rumah, padahal Janus dan Astrid belum mempersilahkannya masuk. Mereka masuk sembari berteriak memanggil Luna.


"Luna... di mana kamu."


Seketika Bayu menarik leher Baju Janus, ketika Luna yang beberapa kali di panggilnya tak kunjung juga keluar menghampiri suami dan mertuanya itu.


"Di mana kamu menyembunyikan istriku."


Sekuat tenaga Janus pun melepaskan tangan Bayu dari leher bajunya. "Datang-datang manerobos masuk, lalu tidak sopan kepada tuan rumah."


"Kami tidak akan sopan, bila kamu tidak menyembunyikan istri orang," sosor Yeni dengan ekspresi marahnya.


"Asal anda tahu saja, kami tidak menyembunyikan kak Luna, justru kami melindunginya dari putra anda yang hobinya melukai istrinya sendiri," lontar Astrid.


"Kalian tidak perlu ikut campur soal urusan rumah tanggaku dengan Luna. Cepat bawakan dia kepada kami," ucap Bayu meninggikan suaranya.


"Saya tidak akan membawa kak Luna kepada kalian, jika kak Bayu hanya datang menjemputnya untuk membuatnya terluka lagi. Bukankah lebih baik, jika kita mengantarnya ke rumah orang tuanya di bandingkan harus di bawa kepada monster seperti kalian," ucap Astrid sembari mendorong Bayu dengan jari tulunjuknya.


"Jaga mulutmu ya, dasar tidak punya sopan santun," ucap Maya meninggikan suaranya.


"Bukankah kalian yang duluan tidak sopan kepada kami. Kenapa aku harus sopan, kalian saja tidak sopan kepada kami," ucap Astrid sembari memiringkan senyumnya.


"Cukup sudah! Trid, bawa Luna kemari," ucap Janus.


"Tapi kak," ucap Astrid yang seketika di potong oleh Janus. "Bawa dia kepada mereka, dia bukan urusan kita," tegasnya.


Astrid pun terpaksa harus beranjak pergi ke kamar yang di tempati Luna. Namun, saat Astrid kembali dari kamar, Astrid hanya kembali seorang diri.

__ADS_1


"Kak Luna tidak ada di kamarnya, aku juga sudah mencari ke setiap ruangan, tapi dia tidak ada di manapun," ucap Astrid dengan panik.


Seketika Bayupun terkejut dengan ucapan Astrid tersebut. "Kamu tidak perlu membohongi kami, cepat katakan di mana kamu sembunyikan Luna" ucap Bayu membentak.


Janus meraih lengan Bayu. "Dia bilang tidak ada, kamu tidak perlu membentaknya seperti itu."


"Lepaskan aku." Bayu menghempaskan tangan Janus dari lengannya, lalu ia berteriak kembali memanggil istrinya. "Luna di mana kamu."


Di ikuti oleh Yeni yang juga berteriak memanggil sembari mencari ke setiap ruangan di rumah Janus Dan Astrid.


Menyebalkan, sudah pasti mereka sangat menyebalkan bagi Janus dan Astrid. Sudah mengganggu, mereka pun berbuat tak sopan kepada tuan rumah. Biarpun mereka adalah kakak dan ibu sambung Janus, tapi bagi Janus mereka sudah benar-benar keterlaluan mencari ke setiap ruangan tanpa di persilahkan terlebih dahulu oleh pemilik rumah. Janus sampai menggelengkan kepalanya atas tingkah laku kedua orang yang sangat menyebalkan tersebut. Mereka mencari di setiap ruangan, sedangkan pemilik rumahnya masih diam di tempatnya berdiri.


"Kak, apa aku terlihat berbohong. Sudah jelas ku beritahu bahwa kak Luna sudah tidak ada di rumah ini," ucap Astrid.


Janus menghela nafasnya. "Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, kelakuan mereka memang seperti itu, apa lagi terhadapku. Mereka akan berbuat seenaknya karena ini merupakan rumahku."


Setiap ruangan sudah di datangi mereka, namun mereka yang tak percaya kembali tanpa menemukan orang di carinya itu.


Bayu kembali menarik leher baju Janus. "Kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu. Kalian pasti menyembunyikannya."


Sekuat tenaga, Astrid pun melepaskan tangan Bayu dari leher baju suaminya. "Dia pergi kami pun tidak tahu, bahkan kami baru saja terbangun setelah kalian menggedor pintu rumah kami."


Tiba-tiba suara dering ponsel dari tas Yeni berbunyi. Yeni pun segera mengambil ponsel dari dalam tasnya, lalu pergi menjauh untuk mengangkat panggilan dari ponselnya tersebut.


Sementara Janus terus beradu argumen dengan Bayu yang masih saja tak percaya walau ia sudah di jelaskan secara detail. Lain halnya dengan Astrid, ia malah memperhatikan mertuanya yang tengah berteleponan dari tempatnya berdiri. Astrid merasa heran dengan mertuanya yang nampak marah-marah saat berteleponan. Bukan hanya marah-marah saja, tapi ekspresinyapun seperti nampak cemas.


Ketika sepuluh menit bertelponan, Yeni kembali menghampiri putra sulungnya. "Lebih baik kita pergi saja, sepertinya Luna memang tidak ada. Bukankah kamu akan pergi bekerja hari ini, dari pada telat, lebih baik kamu pergi bekerja terlebih dahulu."


"Aku tidak bisa pergi bila belum menemukan Luna," tegas Bayu.

__ADS_1


"Kamu pergi bekerja dulu, biar ibu yang mencarinya."


Akhirnya Bayu dan Yeni pun beranjak pergi dari rumah Janus dan Astrid.


"Menyebalkan sekali, bukannya meminta maaf terlebih dahulu, mereka malah pergi begitu saja setelah melakukan kekacauan di rumah ini," gerutu Astrid.


"Sudahlah Trid, lebih baik kita segera siap-siap pergi bekerja," ucap Janus sembari beranjak pergi dari tempatnya berdiri.


***


Satu jam setelah siap-siap dan sarapan, Janus dan Astrid segera beranjak pergi menggunakan mobilnya ke restoran. Selama perjalanan, Astrid tenggelam dalam lamunannya. Ia masih saja tak henti-hentinya memikirkan mertuanya, terlebih lagi kemarin Yeni datang bersama pria yang bernama Bima ke restoran. Semakin mencurigakan saja, ketika tadi berteleponan yang entah siapa yang menelponnya itu. Hingga mengharuskannya pergi jauh untuk mengangkat telepon. Bahkan ketika ia selesai bertelponan, Yeni nampak gelisah. Bukankah terlalu mencurigakan, apa lagi kemarin Bima meminta Astrid dan Janus untuk menjaganya.


Yang selalu menjadi pertanyaan bagi Astrid maupun Janus, tentang siapa sosok Bima bagi Yeni. Baik Janus ataupun Astrid, keduanya sama-sama tak mengenali Bima. Janus mungkin akan tahu bila Bima merupakan kerabat dari pihak Yeni ataupun Adit, tapi Janus sama sekali tak mengenalinya.


Astrid terus berusaha mengingat beberapa kerabat yang hadir di pernikahannya saat itu. Hingga membuatnya tak bisa fokus ketika Janus berbicara padanya.


"Trid, kamu sedang melamuni apa?" seru Janus.


"Bukan apa-apa," jawab Astrid.


Lima belas menit di perjalanan, tiba-tiba Janus dan Astrid mendapati Yeni tengah bersama Bima di pinggir jalan.


"Bukankah itu bu Yeni bersama dengan pria yang kemarin," tunjuk Astrid ke arah Yeni dan Bima berada. Lalu pandangan Janus beralih ke arah Astrid menunjuk.


"Iya memang mereka." Janus menggeleng. Mereka sangat mencurigakan."


"Memang benar mereka sangat mencurigakan. Oh ya, tadi yang menelponnya berarti pak Bima dong," ucap Astrid.


Janus mengerutkan alisnya. "Eh tunggu-tunggu, jadi kamu dari tadi melamun memikirkan orang yang menelpon ibu."

__ADS_1


"Iya, gelagat bu Yeni sangat mencurigakan. Apa lagi kemarin sewaktu di restoran, bukankah sangat mencurigakan sekali. Bu Yeni seperti merahasiakan sesuatu dari kita. Apa kamu tidak mau mencari tahu tentang pak Bima."


"Aku memang sangat penasaran dengan rahasia yang di sembunyikan ibu. Tapi, aku tak mau mencari tahu dan ikut campur tentang urusan mereka. Sangat ribet bila harus menghadapi ibu dan Bayu."


__ADS_2