Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
38. Hanya Bersamamulah Aku Bahagia


__ADS_3

Bukan saatnya Bintang mengajak Astrid, karena tepat hari ini kakek mertuanya akan berkunjung ke apartemennya. Tidak mungkin ia menolak dengan beralasan bahwa kakek mertuanya akan datang berkunjung. Tentu saja Astrid perlu kebohongan yang logis untuk menolak ajakan Bintang tersebut.


Ini benar-benar telah membuat Astrid kebingungan saja. Di hari keduanya ia menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, ia malah harus menolak permintaan sang pacar.


"Sepertinya hari ini tidak bisa deh," ucap Astrid sembari menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.


"Kenapa?" tanya Bintang heran.


Seketika suara bel pertanda masuk berbunyi.


"Kring...


"Sepertinya sudah bel, aku masuk sekarang ya," ucap Astrid yang seketika mengalihkan pembicaraan.


"Ok sana masuk, tapi sebelum masuk kamu harus..." Bintang menunjuk-nunjuk pipi sebelah kanannya.


Kedua alis Astrid saling bertautan menatap Bintang yang tengah menunjuk-nunjuk pipinya.


"Pipi kamu gatal, mau aku garukin," ucap Astrid yang terpaku menatap pipi Bintang.


Kode rahasia gagal di pahami, dengan cepat Bintang pun mengecup pipi Astrid.


"Dasar ga peka, satu kecupan bisa memberi semangat belajar loh." Bintang tersenyum sembari mengusap-ngusap kepala Astrid.


Astrid menghembuskan nafasnya, pipinya memerah di barengi dengan degupan Jantung hampir meledak.


"Kenapa kamu menciumku, aku benar-benar sangat malu. Bagaimana jika ada yang melihat," ucap Astrid tampak kebingungan.


Bintang tersenyum, menertawakan sikap polos dari perempuan yang tengah tersipu malu itu

__ADS_1


"Kenapa harus malu, bukankah memang biasa orang berpacaran melakukan hal itu."


"Tapi tidak harus di tempat terbuka seperti ini," ucap Astrid sembari menghindari tatapan Bintang.


Bintang memicingkan matanya, menundukan kepala, lalu menekukan lututnya untuk menyamakan tinggi dengan sang pacar. Yang kemudian tersenyum sembari menatap mata perempuan yang tengah menghindari tatapannya itu.


"Oh jadi kamu mau kita melakukannya di tempat tertutup." Bintang kemudian berbisik ke arah telinga Astrid. "Aku sangat menantikannya."


Wajah Astrid semakin memerah saja, ini benar-benar membuat Astrid sangat malu setengah mati. Ia kemudian mendorong Bintang menjauhkannya dari tubuhnya.


"Soal ajakan kamu yang tadi, sepertinya hari ini tidak bisa. Karena sepertinya aku ada acara keluarga yang tidak bisa di hindari. Mungkin kapan-kapan saja aku ke rumahmu," ucap Astrid yang lalu melangkah pergi terburu-buru memasuki kelasnya.


Bintang benar-benar telah membuat Astrid berdebar cukup kencang. Yang entah mengapa, debaran yang di rasanya bukanlah perasaan yang biasa ia rasakan ketika saat bersama Janus. Melainkan perasaan malu yang entah mengapa perasaan itu, benar-benar sangat berbeda. Jika di bandingkan dengan perasaan yang di rasakan saat bersama Janus. Nyaman, gugup, menyenangkan bila di rasa, dan juga terasa membingungkan ketika bersama pria yang jadi suaminya itu. Lain halnya dengan debaran yang saat ini ia rasakan ketika Bintang mengecup dan juga berbisik ke telinganya. Debaran ini memang sudah biasa ia rasakan ketika saat tersipu malu.


...****************...


Singkat cerita, sesaat Astrid pulang sekolah Janus yang telah lebih dulu berada di apartemen, telah menyiapkan beberapa belanjaan bahan mentah untuk di masaknya. Ya, mungkin ia akan menyambut kakek semata wayang dengan makanan lezat yang akan di masaknya spesial untuk kakeknya.


"Biar aku saja yang memasak, bukankah memasak adalah tugasku," ucap Astrid yang tengah berdiri di depan kicthen counter.


"Kita harus memasak makanan yang benar-benar enak. Karena ini untuk sambutan kakekku yang pertama kali berkunjung ke apartemen kita."


"Oh jadi jika aku memasak sendiri makanannya ga enak. Jadi selama ini kamu menyantap masakanku hanya berpura-pura menikmatinya," ucap Astrid memasang ekspresi cemberutnya.


"Tidak, bukan begitu. Masakanmu benar-benar enak, tapi untuk hari ini saja aku ingin memasak makanan spesial untuk kakekku."


"Oh gitu, ya sudah kalau begitu aku ganti baju dulu." Astrid melangkahkan kakinya memasuki kamar.


Sesaat Astrid berganti pakaian, ia kembali ke dapur untuk membantu suaminya memasak. Ketika ia berada di dapur, ia di buat tak berkedip menatap suami tampannya. Yang menggulung lengan kemejanya, hingga memperlihatkan tangannya yang tampak kekar dengan urat yang menonjol. Tak hentinya ia menatap, hingga senyumanpun terpancar membentuk lengkungan di kedua sudut bibirnya. Ini baru debaran yang benar-benar membuat perasaanya senang.

__ADS_1


"Benar-benar mirip aktor korea," gumam Astrid.


Janus seketika menengok ke arah Astrid. "Hah, siapa yang mirip aktor korea."


"Hm, kamu." Astrid seketika menelan salivanya, mengalihkan pandangannya yang kemudian berkata, "Eh... bukan-bukan, itu Bintang yang mirip aktor korea."


"Hampir saja aku percaya diri." Janus menghela nafasnya dengan raut wajah cemberut. Kemudian menyodorkan bawang bombai kepada Astrid.


"Cepat potong ini, yang rapih potongnya jangan sampai bengkok sedikitpun."


"Hah, di kira mau potong apa. Ini cuma bawang bombai kenapa harus rapih kaya yang mau di pajang." Astrid kesal seketika mengiris bawang bombai dengan gerakan yang cepat.


"Yang bener motongnya, muji Bintang aja bener-bener pakai hati. Masa ngiris bawang tidak menggunakan hati, lembut dikit jadi cewek," sindir Janus yang juga tengah sibuk memotong beberapa sayuran.


Satu bawang bombai telah di iris oleh Astrid, saat melakukan irisan untuk bawang bombai yang kedua. Tiba-tiba matanya perih akibat dari aroma bawang bombai yang menyengat. Hingga akhirnya matanya mengeluarkan bulir air.


"Perih banget."


Janus pun di buat panik, menatap kedua mata Astrid yang memerah sembari mengeluarkan bulir air.


"Ga apa-apa kan, sini aku bantu obatin mata kamu." Janus menyeka air mata yang menempel di kedua pipi istrinya itu. Lalu dengan perlahan ia meniup kedua matanya.


Astrid pun tersenyum seketika menatap Janus yang tengah meniup kedua matanya. Menatap dengan jelas wajah tampan yang di miliki suaminya membuat perasaannya benar-benar bahagia.


Lalu Janus yang melihat Astrid menatapanya sembari tersenyum lebar. Membuat Janus merasa gemas menatap wajah imut yang di miliki istrinya itu. Hingga membuatnya menyentil kening dari wanita yang jadi istrinya tersebut.


"Malah senyum-senyum."


"Huh dasar pria kasar, malah nyentil jidat dih." Astrid kembali mengiris bawang bombai yang masih belum selesai ia kerjakan itu.

__ADS_1


Sesaat kemudian beberapa bahan masakan telah di potong Janus dan Astrid. Kali ini yang akan memimpin memasak ialah Janus. Sebagai seorang yang baru-baru ini bisa memasak, Astrid hanya bisa sedikit membantu.


Janus tampak lihai memasak layaknya seorang profesional. Skill memasak Janus benar-benar telah membuat Astrid terpukau. Pria tampan yang tengah memasak itu telah mengguncang hebat hati Astrid. Ini memang bukan kali pertama bagi Astrid melihat suaminya memasak. Namun, ini merupakan kali pertama baginya memasak bersama dengan suaminya. Siapa sangka kebersamaan yang sederhana ini bisa membuat Astrid merasa bahwa pernikahannya tampak terasa nyata. Hingga membuatnya berandai bahwa ia dan suaminya akan segera mengakui pernikahannya dan merobek kertas yang berisi perjanjian yang telah di buatnya bersama suaminya itu.


__ADS_2