
Di mulai dari unjung keningnya hingga ke pipi, Janus membelai lembut setiap inci dari wajah istrinya. Astrid pun nampak gugup sekali, jantungnya mulai berdetak tak karuan. Saat ia menatap fokus wajah dari kekasih halalnya itu.
Pada saat jari jemari Janus mulai menyentuh lembut bibirnya, spontan mata Astrid pun terpejam dengan kening yang mengernyit. Hangat, itulah yang di rasa Astrid saat nafas suaminya mulai menyentuh kulit wajahnya. Pada jarak yang hanya bisa hitung beberapa centi meter, nafas Janus semakin kesini semakin terasa hangat.
Apa yang terjadi dengan Astrid, padahal berciuman dengan Janus bukanlah kali pertama baginya. Entah mengapa Astrid sangat gugup sekali hingga membuat seluruh tubuhnya di banjiri oleh keringat. Dalam hatinya, Astrid berhitung di mulai dari satu, dua, tiga. Hembusan nafas Janus bukan lagi terasa hangat melainkan sedikit terasa panas. Itu artinya bibirnya akan segera mendaratkan diri. Namun, pada saat hitungan telah mencapai ke lima, suara ketukan pintu sangat nyaring terdengar. Sontak mata Astrid pun terbuka seketika.
Janus menghela nafasnya, hanya sedikit lagi bibirnya akan mendarat. Gara-gara seseorang mengetuk pintu kamarnya, Janus harus berhenti dari jarak yang hanya berukuran mili meter.
"Ya tuhan, bukan saatnya mengetuk pintu," gerutu Janus sembari menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah buka, siapa tahu ada hal penting yang akan di tanyakan kepada kita," ucap Astrid.
Janus pun beranjak dari ranjang menuju pintu kamarnya. Di saat pintu kamar di bukanya, seseorang yang sangat ia benci tengah berdiri di kamarnya, siapa lagi kalau bukan Titan. Janus memegang pingang sembari menghebuskan nafasnya dengan cepat.
"Ada apa kamu mengetuk pintu kamar?" tanya Janus dengan wajah yang di tekuk kesal.
"Kita di sana tadi membuat jus. Sayang jika hanya kita saja yang meminumnya. Aku ingin kamu dan Astrid juga mencicipi jus ini," ucap Titan menyodorkan dua gelas jus yang di pegangnya.
Janus pun meraih jus yang di pegang Titan dengan cepat. "Aku ambil, kamu sekarang boleh pergi." Lalu kembali menutup rapat pintu kamarnya.
"Siapa yang mengantar jus itu?" tanya Astrid sembari menatap dua gelas jus yang di pegang suaminya.
"Si bocah tengil," jawab Janus sembari meletakan dua gelas jus di meja yang berada di samping tempat tidurnya.
Janus kembali naik ke ranjang, ia mulai dari awal lagi. Kali ini ia bergerak cepat, ia langsung saja mencium bibir mungil milik istrinya itu. Namun, hanya beberapa detik ia mencium bibir istrinya. Suara orang yang mengetuk pintu kembali terdengar. Spontan Astrid pun langsung saja mendorong tubuh Janus, hingga membuat ciumannya terhenti.
__ADS_1
Astrid menghela nafasnya. "Sana, buka dulu pintunya."
"Untuk malam ini saja, bisakah tidak ada yang menggangguku," gerutu Janus sembari beranjak dari tempat tidur menuju ke pintu.
Pintu kembali di bukanya, kali ini yang berdiri di depan pintu kamarnya bukan lagi Titan melainkan temannya, Wandi.
"Kata Titan kamu menyuruhku mengambilkan selimut," ucap Wandi sembari menyodorkan selimut.
Janus menghela nafasnya. "Aku tidak pernah menyuruh siapapun mengambilkan selimut. Lagi pula selimut yang ada di kamar sudah cukup besar untukku pakai bersama Astrid."
Tanpa mengambil selimut yang di sodorkan Wandi, Janus kembali menutup pintunya dengan cepat. Kesal, sudah pasti kesal hanya demi mengganggu Janus mengapa Titan sampai berbohong. Jika saja Titan bukanlah adik Bianca, Janus sudah pasti akan menghajar pria yang selalu di sebutnya bocah tengil. Meski kesal, Janus harus meredakan kekesalannya itu. Karena malam ini merupakan momen penting baginya. Ia harus melanjutkan hal yang belum di selesaikannya. Janus kembali menaiki tempat tidurnya dan mendekat diri ke tubuh istrinya.
Pada jarak satu centi meter bibir akan kembali mendaratkan diri ke bibir istrinya. Lagi-lagi suara orang mengetuk pintu kamarnya kembali terdengar.
"Gila ya, siapa lagi yang mengetuk pintu," gerutu Janus yang dengan cepat ia kembali beranjak menuju pintu.
"Aku ingin berbicara dengan Astrid," ucap Rio celingak-celinguk menatap ke dalam kamar.
"Ada hal apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Janus dengan raut wajah yang tekuk kesal.
"Aku ingin saran dari Astrid, supaya aku bisa cepat mendekati Hilda," ucap Rio tersenyum.
Sembari memegang pinggangnya, Janus sampai menggelengkan kepala atas ucapan Rio tersebut. Janus pun beranjak keluar dari kamarnya, lalu segera menutup pintu kamar.
"Kamu pasti di minta oleh Titan kan," ucap Janus sembari melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Kenapa bisa tahu kalau itu saran dari Titan?" tanya Rio sembari mengikuti langkah Janus dari belakang.
Janus tak menjawab, ia sudah sangat kesal terhadap orang yang sudah membuat marahnya memuncak. Ia melangkah dengan cepat menuju ke tempat Titan dan teman-temannya berada.
"Untuk saat ini kalian jangan pernah menggangguku," ucap Janus yang kemudian menatap sinis ke arah Titan. "Dan kamu Titan, mau kamu apa sih. Kamu terus saja menggangguku, hanya demi menggangguku kamu sampai berbohong kepada Wandi bahwa aku memintanya mengambilkan selimut. Dan sekarang kamu menyuruh Rio untuk menemui Astrid," ucap Janus meninggikan suaranya
"Janus, apa-apaan sih kamu ini. Kamu sampai membentak adikku karena hal sepele seperti ini," tegur Bianca.
"Sepele? kamu bilang ini sepele, dia terus-terusan menggangguku. Dia bahkan sampai berani berbohong kepada pacaramu, bahwa aku memintanya mengambilkan selimut padahal tidak. Dan sekarang dia meminta Rio untuk menemui Astrid. Kamu tahu tidak, karena ulah adikmu waktuku sudah terbuang sia-sia," ucap Janus dengan raut wajah yang di tekuk kesal.
"Sudahlah Nus, mungkin Titan itu kekanakan. Itu wajar, karena Titan yang saat ini umurnya masih labil. Dan aku sebagai pacar dari kakaknya Titan, aku minta maaf atas ulah adiknya," ucap Wandi sembari memegang pundak sebelah kanan dari pria yang marahnya tengah memuncak itu.
Janus menyingkirkan tangan Wandi dari pundaknya, lalu ia berkata. "Pokoknya apapun yang di ucapkan Titan dengan beralasan datang ke kamarku, kalian jangan menurutinya. Dan untuk kalian semua jangan pernah datang ke kamarku sampai nanti pagi. Siapapun yang datang mengetuk pintu kamarku, aku akan langsung mengusir kalian semua dari vila ini," tegas Janus.
Dengan raut wajah yang masih di tekuk kesal, Janus terburu-buru pergi menuju kamarnya. Ia kembali masuk ke kamar, dan mendapati Astrid yang tengah berbaring sembari menyelimuti diri dengan selimut.
"Trid kita lanjut lagi yuk," ucap Janus tersenyum menggoda.
Astrid menghela nafasnya. "Aku sudah tidak mood, saat ini aku hanya ingin tidur."
"Masa lagi-lagi kita akan melewati malam pertama," ucap Janus di tekuk kesal.
"Apa kamu pikir ini bulan madu, kita akan melakukan hal tak senonoh di belakang teman-teman kita," ucap Astrid sembari memunggungi Janus.
"Selain merayakan ulang tahunmu, kita kesini kan memang untuk berbulan madu juga."
__ADS_1
"Ini bukan bulan madu namanya, tapi acara liburan bersama teman-teman. Bulan madu itu hanya di lakukan berdua tanpa mengajak siapapun. Pokoknya aku tidak akan melakukan malam pertama sebelum pergi bulan madu berdua," tegas Astrid yang kemudian ia mengerumuni diri dengan selimut.
Sudah kesal karena ulah Titan, Janus harus mengurung niatnya yang sudah lama di nantinya. Yang ia pikir malam ini akan menjadi momen spesial malah jadi hancur berantakan gara-gara Titan. Gagal sudah rencana yang sudah di siapkan secara matang. Malam ini tak akan menjadi sebuah malam indah, karena malam ini yang akan di lakukan Janus hanyalah tidur seperti malam-malam lainnya.