Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
115. Duka


__ADS_3

Janus pulang, tertunduk lesu memasuki kamar tidurnya. Rasa bersalah menyelimuti dirinya, kematian Bayu merupakan penyesalan bagi Janus. Andai saja waktu bisa terulang kembali, mungkin Janus tak akan pernah membuat laporan yang membuat Bayu mendekam di jeruji besi.


Kata-kata terakhir dari Bayu terus melintas dalam pikirannya, begitupun penglihatan terakhir mengenai Bayu yang terus membayanginya. Janus tenggelam dalam lamunannya, sembari duduk di samping tempat tidurnya dengan kepala yang menelengkup di atas lutut. Janus teramat sangat bersalah, hingga larut dalam kesedihannya.


Berandaipun sudah tak mungkin, Bayu yang pergi tak mungkin bisa kembali. Dia yang pergi meninggalkan duka untuknya yang sangat bersalah atas sebuah kepergian yang tak bisa di sangkanya.


Terlalu lama Janus tenggelam dalam lamunannya, sampai Astrid pulang ia masih saja menelengkupan kepala di atas lututnya.


Astrid dengan panik menghampiri Janus. "Kak, kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya sembari menepuk lengan Janus.


Janus mendongkak, menatap Astrid sembari memaksakan senyumannya. "Kamu sudah pulang? Maaf aku tidak sempat menjemputmu, padahal tadi aku pulang lebih dulu."


"Iya tidak apa-apa." Tangan Astrid menyentuh pipi Janus, lalu mengusap sisa air mata yang tersisa di bawah mata Janus dengan jari tangannya. "Apa yang terjadi padamu, hingga membuatmu menyembunyikan tangisannmu."


Janus melepaskan tangan Astrid dari wajahnya, lalu memalingkan pandanganya. "Aku pria jahat Trid."


Seketika Astrid mendekap tubuh Janus. "Jika kamu pria jahat, mungkin sudah dari dulu aku meninggalkanmu."


Mata Janus kembali tergenang, tangannya melingkari tubuh Astrid, dan mendekapnya dengan sangat erat. "Aku pria jahat Trid, tak seharusnya aku melaporkan Bayu kepada pihak kepolisian. Jika saja aku tak melaporkannya, Bayu tak akan pernah mengakhiri hidupnya."


Astrid cukup terkejut mendengar ucapan Janus.


"Apa maksud dari perkataanmu? "

__ADS_1


"Bayu di temukan meninggal dalam keadaan gantung diri."


Astrid sampai di buat syok dengan ucapan suaminya tersebut, dan tak menyangka bahwa Bayu meninggal dengan cara yang tidak wajar. Meninggalkan duka yang teramat sangat bagi suaminya, kepergian Bayu juga merupakan hal yang membuat Astrid sama merasa bersalahnya seperti Janus. Astrid yang sangat ingin melindungi Luna, sampai membuat Janus tak bisa tinggal diam ketika Bayu terus mengusik Astrid. Dan penyebab Janus melaporkan Bayu kepada pihak kepolisian, salah satu penyebabnya adalah karena Astrid juga.


...****************...


Setelah hasil otopsi keluar, semua pihak yang dekat dengan Bayu di mintai keterangan oleh pihak kepolisian, termasuk juga Janus, orang yang terakhir kali bertemu dengan Bayu. Semua teman dan keluarganya di mintai keterangan, agar kepolisian tahu penyebab dari kematian Bayu.


Begitu jasad sudah di serahkan kepada pihak keluarga, Bayu di makamkan. Semua orang yang hadir dalam proses pemakaman, terisak tangis mengiringi pemakaman. Dia yang pergi meninggalkan duka bagi orang-orang yang di tinggalkannya. Terutama bagi ibunya yang hatinya teramat sakit ketika melihat tubuh dari anaknya harus di tutupi oleh tanah. Anak semata wayangnya harus pergi lebih dulu darinya, yang ia pikir bahwa anaknya akan berumur panjang, namun nyatanya ia malah pergi pada usia muda.


Dua hari setelah Bayu di makamkan, polisi memberi keterangan yang menyatakan bahwa Bayu meninggal dunia karena bunuh diri. Sesuai hasil dari penyelidikan dan hasil otopsi.


Perginya Bayu, meninggalkan duka dan luka bagi Janus, hingga membuatnya larut berhari-hari dalam kesedihan. Terutama rasa bersalah dan penyesalan terus menyelimutinya.


Penyesalan dan perasaan sedih Janus, membuat Astrid jauh lebih merasa bersalah. Ia menyalahkan diri lebih dari Janus yang menyalahkan dirinya sendiri. Yang Astrid pikir ini semua berawal dari ia yang egois, menyembunyikan Luna dari Bayu dan Janus. Astrid pikir dengan ia yang menyembunyikan Luna adalah pilihan terbaik untuk melindunginya, namun, malah berdampak negatif dari niat baiknya itu. Terutama di saat Astrid terluka karena ulah Bayu, suaminya jadi tidak bisa tinggal diam. Hanya karena ingin melindungi Astrid, Janus terpakasa harus mengungkapkan identitas Bayu dan juga melaporkan Bayu kepada pihak kepolisian atas tindak kejahatan dan penyalahgunaan obat terlarang.


Bila saja ada cara lain untuk melindungi Luna, mungkin saja Bayu tak akan pernah meningalkan penyesalan bagi Janus.


**


Astrid duduk di tempat tidurnya dengan lamunan yang tak kunjung usai. Janus belum pulang dari kantornya, Astrid menunggunya walau jam sudah menunjukan pukul 23.00.


Tak biasanya Janus belum pulang, padahal jam kerja di kantornya sudah berakhir. Bila telat pulang, paling hanya pukul delapan malam, tapi sudah hampir tengah malam Janus masih belum pulang ke rumah. Astrid menunggunya, walau rasa kantuk sudah sangat terasa berat.

__ADS_1


Dan tak biasanya, Janus pulang telat tak menghubungi Astrid terlebih dahulu. Bahkan di saat Astrid menghubunginya, ponsel Janus tak dapat di hubungi.


Hingga membuatnya timbul rasa khawatir, terlebih lagi Janus baru-baru ini di tinggalkan oleh Bayu. Astrid khawatir bila Janus akan berbuat hal yang tak wajar, karena rasa bersalahnya terhadap kakaknya itu.


Untuk memastikan keberadaan Janus adalah dengan menghubungi pak Andy yang sebagai sekertarisnya. Astrid menghubungi pak Andy, namun pak Andy menjawab bahwa atasanya itu sudah pulang dari kantor pukul enam sore.


Setelah menghubungi pak Andy, Astrid juga menghubungi kedua teman Janus yang baru-baru ini menjadi karyawan baru di perusahaan milik mertuanya itu. Astrid menghubungi Rio, jawaban Rio sama seperti pak Andy. Begitupun ketika Astrid menghubungi Wandi, yang jawabannya masih sama seperti jawaban Rio dan pak Andy.


Astrid di buat gelisah dengan Janus yang tak kunjung pulang. Ia beranjak berdiri dari duduknya, mengambil jaket, dan tasnya, untuk bergegas pergi mencari Janus. Namun, di saat pintu kamar di bukanya, tiba-tiba Janus sudah berada di depan pintu kamarnya.


Sontak Astrid pun langsung saja mendekap tubuhnya. "Dari mana saja kamu, ponselmu mengapa tak bisa di hubungi?"


"Maaf Trid ponselku habis baterai, dan aku pulang telat karena tadi aku habis menjenguk Luna di rumah sakit. Luna habis keguguran, dan akupun baru tahu bahwa Luna sedang mengandung anak Bayu."


Janus melepas dekapannya lalu memegang kedua pundak Astrid sembari tersenyum menatapnya. "Ku harap kamu mengerti ya, kamu tahu kan bahwa Bayu menitipkan Luna padaku. Karena kebangkrutan perusahaan ayahnya, semua aset milik keluarga Luna di jual termasuk juga rumahnya. Ibunya harus tinggal di rumah pamannya di luar negeri, sementara Luna harus tinggal di sini untuk menyelesaikan pendidikan yang tinggal satu tahun lagi akan selesai. Dan setelah Luna keluar dari rumah sakit, sementara ini Luna akan tinggal bersama kita. Apa kamu mengijinkannya?


Astrid mengangguk. "Tentu saja aku mengijinkannya.


Namun, tiba-tiba saja Astrid menitikan air matanya, ia menunduk dengan isak tangisnya. "Maaf kak, karena aku, kamu jadi harus menanggung penyesalan yang mungkin sulit di lupakan. Karena aku juga yang menyebabkan kamu harus melaporkan kak Bayu."


Sontak Januspun memeluk erat tubuh istrinya. "Sttt, ini bukan salahmu, tapi ini salahku. Seharusnya saat itu aku tak terlalu emosi, hingga tak memiliki cara lain selain melaporkan Bayu."


"Jika bukan karena aku, kamu tak mungkin bertindak seperti itu."

__ADS_1


Janus melepaskan pelukannya, lalu menyeka air mata di kedua pipi Astrid. "Jika kamu menangis dan merasa bersalah, justru aku akan lebih merasa bersalah lagi. Jadi berhentilah menangis." Janus lalu menggendong tubuh Astrid dan membawanya memasuki kamar. "Lebih baik kita tidur saja, jangan pikirkan hal lain supaya tidurmu nyenyak."


__ADS_2