
Saat Astrid tiba di apartemen, Janus dengan cemas menghampiri Astrid yang masih berdiri di depan pintu sembari membuka sepatunya. Janus menarik lengan Astrid. "Ayo sini biar ku obati lukamu," ucapnya membawa Astrid duduk di ruang tengah.
Janus mengambil beberapa obat di dalam kotak P3K yang sedari tadi sudah ia siapkan di meja. Luka lebam dan sedikit berdarah nampak jelas di sikut Astrid. Pertama-tama Janus membasuh luka menggunakan alkhol, yang kemudian mengoleskan salep luka lalu membalutnya menggunakan perban. Hanya luka kecil saja, Astrid sudah membuat Janus cemas setengah mati. Raut wajahnya yang serius mengobati luka Astrid, namun nampak jelas terlihat bahwa Janus sangat mencemaskan Astrid.
"Kenapa kamu harus terlibat dengan pria brengsek seperti Bintang. Apa di dunia ini hanya Bintang saja pria yang menurutmu baik dan tampan. Kenapa kamu harus berpacaran dengan pria seperti dia. Apa kamu tidak bisa menilai mana pria baik dan mana pria brengsek," ucap Janus mengomeli Astrid dengan raut wajahnya yang penuh ke khawatiran.
Astrid terdiam membisu dengan kedua mata yang tenggelam oleh air. Ia menundukan kepalanya, memalingkan pandangannya dari Janus. Dan dengan perlahan kedua matanya mulai mengeluarkan bulir air, membasahi kedua pipinya. Omelan Janus membuat Astrid kembali teringat dengan perlakuan buruk Bintang padanya. Ia yang selama ini percaya bahwa Bintang merupakan pria baik. Namun kenyataannya Bintang bukanlah pria yang selama ini ia pikirkan. Ia pikir bahwa hanya Astridlah yang hanya mempermainkan perasaan Bintang, hanya karena ingin menghilangkan perasaannya terhadap suami yang hanya mengganggapnya sebagai istri yang akan bertahan dalam dua tahun itu. Namun kenyataannya bahwa dirinyalah yang di permainkan sesungguhnya. Astrid memang tak merasa patah hati, karena ia memang tak memiliki perasaan terhadap Bintang. Namun, ia merasa sakit dengan ucapan kasar dan juga niat buruk dari pria yang di anggapnya pacar.
Janus panik seketika saat menatap istrinya berurai air mata. Janus pun langsung saja mendekap erat tubuhnya, lalu mengusap punggung Astrid untuk menenangkannya.
"Sttt, kamu tak perlu menangisi pria brengsek seperti dia. Dia tak pantas untuk di tangisi, karena air matamu mahal untuk di keluarkan hanya untuk pria gila seperti dia," ucap Janus.
"Aku tak menangisi dia hanya karena di tinggalkan. Aku hanya menangis karena ucapan kasar dia padaku. Dia menyebutku perempuan jelek dan nora yang memakai kaus kaki panjang selutut. Dia juga menyebutku perempuan yang tak pernah melepaskan ikatan kucir kuda... hiksss," ucap Astrid sembari menangis sesegukan.
"Perkataan Bintang memang benar sih. Kamu selalu merawat kulitmu dengan beberapa produk skin care, tapi kamu tak bisa mempercantik tampilanmu. Padahal aku sudah memberi uang bulanan lebih," omel kembali Janus.
Seketika Astrid pun semakin kencang menangis akibat dari omelan suaminya itu. "Hiks... kamu sama saja seperti Bintang. Dasar brengsek, apa aku sejelek itu," ucapnya sembari berulang memukul dada bidang milik Janus.
"Kamu tidak jelek, kamu hanya perlu sedikit mengubah penampilanmu. Kamu tahu saat kita pergi ke pernikahannya kak Bayu, aku sampai terpukau melihat penampilanmu yang sangat cantik. Wajahmu tidak jelek, hanya tampilanmu saja yang kurang di enak di pandang," ucap Janus yang panik seketika saat Astrid menangis kencang.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya benar, jadi berhentilah menangis. Masa tuan putri yang cantik dan juga kuat, menangis karena di katain jelek sama pria brengsek seperti Bintang." Janus menyeka air mata di kedua pipi Astrid.
Perlakuan dan ucapan Janus sedikit membuat Astrid tenang, ia pun perlahan berhenti menangis.
"Hari ini aku yang akan memasak untuk makan malam kita. Jadi, kamu segera ganti pakaianmu. Oh ya, sembari menungguku menyiapkan makan malam, kamu bisa sambil belajar. Karena ujianmu sebentar lagi kan," ucap Janus berdiri dari duduknya.
"Iya ujianku sebentar lagi. Tapi aku sedang tidak mood belajar," ucap Astrid.
"Ingat ya, nilaimu harus bagus agar bisa masuk ke universitas terbaik. Masa istri dari seorang pria tampan dan juga pintar sepertiku, harus memiliki nilai jelek."
"Aku tak pernah merasa jadi istrimu yang sesuguhnya. Tapi, jika kamu mau menganggapku sebagai istri beneran, aku bakal berusaha keras belajar dan mendapatkan hasil yang memuaskan."
Astrid menggelengkan kepalanya, lalu segera beranjak pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Usai berganti pakaian, ia membawa beberapa buku pelajaran ke meja makan. Saat di meja makan bukannya belajar, Astrid malah di sibukan memperhatikan Janus yang tengah memasak. Rasa malasnya meronta saat melihat tulisan di buku. Karena bagi Astrid melihat suami tampannya memasak, dapat menghilangkan stress dan juga bisa mencuci matanya setelah seharian ini ia di buat sakit hati oleh Bintang.
Hanya bersama Janus, sejenak Astrid bisa melupakan semua masalah yang terjadi saat ini. Baik masalah dengan Bintang, maupun masalah yang terjadi dengan suaminya kemarin.
"Apa kamu bisa membantuku membawa piring-piring ini ke meja," ucap Janus ketika semua masakannya usai di buat.
"Baik akan ku bantu." Astrid beranjak untuk membantu Janus membawakan piring-piring yang berisikan masakan yang di buat suaminya tersebut.
Lalu di tatanya di atas meja makan. Selesai membawakan piring-piring. Astrid dan Janus pun mulai menyantap hidangan yang sangat mengunggah selera itu. Mood Astrid kembali baik saat ia menyantap makanan lezat. Janus yang melihatnya pun merasa lega, ketika dengan lahap Astrid menyantap makanan.
__ADS_1
"Soal tadi pagi dan kemarin, aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal sudah menyalahkanmu," ucap Janus tanpa menatap Astrid.
"Iya aku maafkan. Tapi aku ingin bertanya satu hal padamu," ucap Astrid yang masih di sibukan menyantap makanan.
"Bertanya apa?" tanya Janus.
"Hm, Apa kamu masih memiliki perasaan terhadap Luna?" tanya balik Astrid.
"Hm, tidak mungkin aku memiliki perasaan kepada wanita yang sudah meninggalkanku," tegas Janus.
"Lalu mengapa kemarin kamu tak henti menatapnya. Bahkan kamu sampai memarahiku hanya karena aku berkata buruk padanya," tanya kembali Astrid.
"Saat menatapnya, aku hanya teringat dengan kenangan bersamanya. Dan dengan bodohnya mengapa aku merasa sedih hingga membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku," jawab Janus.
Seketika Astrid meletakan sendok dan garpunya di atas piring. "Itu karena kamu masih menyimpan rasa padanya," ucapnya dengan raut wajah yang tampak sedih.
"Mana mungkin aku masih memendam perasan kepada wanita yang telah menyakitu. Itu tidak mungkin terjadi," ucap Janus menggelengkan kepalanya.
"Aku bisa dengan jelas melihat, bahwa kamu masih ada sedikit perasaan terhadapnya. Jika kamu ingin menghapus perasaanmu sepenuhnya, maka kamu harus bisa membuka hatimu untuk wanita lain. Setidaknya kamu bisa mencoba membuka hatimu untukku," ucap Astrid memaksakan senyuman untuk menutupi kesedihannya.
Seketika Janus pun di buat diam membisu dengan ucapan Astrid itu. Ia pun mengalihkan pandangannya dari Astrid. Dan kembali menyantap makanan tanpa membalas ucapan istrinya tersebut. Hingga ia pun sempat berpikir untuk mencoba apa yang di ucapkan Astrid padanya. Namun, pikiran bercampur aduk saat ketakutan untuk di tinggalkan, masih saja terlintas jelas di pikirannya. Hingga membuatnya ragu untuk membuka pintu hatinya.
__ADS_1