Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
122. Kesabaranku Ada Batasnya


__ADS_3

Biarpun Astrid sembuh dari sakitnya, namun aneh rasanya bila mualnya masih saja muncul. Sudah berhari-hari Astrid merasa mual. Astrid sampai harus bulak-balik ke kamar mandi untuk muntah. Dan terkadang, suasana hatinya sering kali berubah-ubah. Sampai-sampai Mira dan Eli di buat khawatir dengan majikannya itu.


"Bu, apa mau saya buatkan teh jahe supaya perutnya mendingan," ucap Eli.


Astrid mengangguk. "Iya buatkan saja." Lalu beranjak ke kamarnya.


Beberapa menit Astrid menunggu, Eli datang membawakan teh jahe untuk Astrid. Ia meletakan teh tersebut di atas meja sebelah tempat tidur.


"Silahkan di minum. Hm bu, apa ibu sudah mengecek tanggal kapan ibu terakhir kali menstruasi."


"Memangnya kenapa?"


"Soalnya ibu terus merasa mual dan muntah, bisa jadi itu pertanda kehamilan."


Setelah itu, Eli pun beranjak pergi dari kamar. Sementara Astrid, ia langsung saja mengecek tanggal di ponselnya. Astrid tersadar, bahwa sudah dua minggu ini ia telat menstruasi. Astrid memang telat menstruasi, bukan berarti mual yang terus di rasanya itu pertanda kehamilan. Astrid perlu mengeceknya lebih jelas dengan alat tes kehamilan. Astrid pergi ke apotek untuk membeli tespack.


Ia kembali dan langsung saja mentesnya. Hanya butuh lima menit Astrid mengecek urinnya, tespacknya menunjukan dua garis biru. Astrid sangat terkejut dengan dua garis biru di tespacknya itu. Astrid sampai-sampai tak di buat menyangka, bahwa ia benar-benar tengah mengandung sebuah janin di rahimnya. Harapan Astrid yang sudah lama di nanti akhirnya terwujud.


Biarpun masih marah, Astrid perlu mengabari kabar bahagia tersebut kepada Janus. Astrid meraih ponselnya, lalu segera menghubungi Janus.


Namun, saat telepon di angkat, bukan suara Janus yang terdengar, melainkan suara dari perempuan yang jadi penyebab pertengkarannya selama ini.


"Di mana suamiku?"


"Hm, dia sedang tertidur di apartemen. Dia tadi habis pergi clubbing bersama teman-teman SMA, dan dia mabuk, jadi ku bawa kesini. Jika dia ku bangunkan, aku tak tega soalnya dia sudah tertidur pulas," jawab Luna.


Tanpa kembali berbicara, Astrid langsung saja menutup teleponnya. Astrid terburu-buru mengambil tas, lalu beranjak pergi untuk menyusul Janus.


Sesampai di sana, Astrid langsung menerobos masuk tanpa terlebih dahulu menekan tombol bel. karena memang, apartemen yang di tempati Luna merupakan apartemen yang dulu pernah di tinggali Astrid dan Janus, jadi Astrid sudah mengetahui pasword pintunya.


"Astrid, kamu datang untuk menjemput. Walau di bangunkan, Janus tak mungkin sadar dari mabuknya. Lebih baik dia menginap di sini saja."


Astrid mengerutkan alisnya, ia menatap Luna dengan raut wajah masam. Ia kesal dengan ucapan Luna yang sangat tak tahu malu, meminta Astrid membiarkan suaminya menginap di apartemen. Terlebih lagi, Astrid juga kesal melihat pakaian yang di kenakan Luna merupakan pakaian tipis yang terbuka. Sementara di apartemen, hanya ada dia dan Janus.


Jika hanya berdiam diri menatap kesal Luna, itu tak ada gunanya, Astrid harus secepatnya membawa Janus pulang. Ia menerobos masuk ke dalam kamar tanpa ijin.


Tiba di kamar, Astrid sampai di buat tak berkata-kata melihat Janus yang tengah tertidur bertelanjang dada. Perasaan Astrid hancur setelah melihatnya, terlebih lagi ia mendapati Luna memakai pakaian tipis yang terbuka.


Seorang pria mabuk berdua dengan wanita di apartemen, dan mengenakan pakaian yang tak senonoh. Sampai-sampai Astrid di buat menaruh curiga terhadap Janus dan Luna.


Astrid lalu pergi tanpa membangunkan Janus. Ia terisak, air matanya sudah tak dapat lagi di bendungnya. Ia berjalan sembari menangis, hingga sampai di halaman gedung apartemen, Astrid berjongkok dengan isak tangisnya.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba Titan datang menghampiri, karena melihat Astrid yang tengah berjongkok sambil menangis.


"Astrid, sedang apa kamu di sini, kamu kenapa menangis? Di mana si Janus suamimu, sampai membiarkanmu menangis di sini seorang diri."


"Dia sedang bersama kak Luna di apartemen."


Titan tak menyangka, ia sangat marah ketika mendengarnya. "Brengsek, biar ku susul dia kesana."


Astrid meraih lengan Titan dan menghentikan langkahnya. "Tidak perlu. Kamu bisa mengantarku pulang tidak?"


"Aku akan mengantarmu pulang setelah menghabisinya."


"Ku bilang tidak perlu, antar pulang aku saja."


Bila saja Astrid tak menahannya, Titan sudah pasti melabrak dan memukuli Janus habis-habisan. Titan pun mengurungkan niatnya memukili Janus, dan memilih untuk mengantarkan Astrid pulang, walau ia sangat marah.


Astrid pulang, duduk di tempat tidur dengan tangis yang tak mau berhenti. Yang seharusnya ia berbahagia setelah mengetahui kehamilannya, malah berakhir dengan tangisan. Hatinya sudah benar-benar sakit, Janus sudah tak dapat lagi di maafkan.


...****************...


Esoknya, Janus terbangun dengan mata yang setengah terbuka. Mendapati Luna tengah berdiri di samping tempat tidurnya.


"Sedang apa kamu di sini?" Tanya Janus.


Janus mengerutkan alisnya, dan ia tersadar, bahwa ia hanya memakai celana tanpa memakai atasannya.


"Di mana bajuku?"


"Semalam kamu muntah, aku sudah mencuci dan mengeringkannya. Biar ku ambilkan terlebih dahulu." Luna lalu beranjak pergi untuk mengambil kemeja Janus.


Luna kembali, ia mengulurkan kemeja kepada Janus.


"Oh ya, semalam Astrid kesini. Dia ku suruh tak membangunkanmu, karena saat itu kamu tertidur pulas, biarpun terbangun kamu pasti masih mabuk. Dan tak mungkin bila Astrid harus membawamu pulang seorang diri."


Janus terkejut setelah mendengarnya. "Apa maksudmu? Gila ya, seharusnya kamu membangunkanku. Dia pasti akan salah paham dengan kita." Dengan paniknya, Janus terburu-buru mengenakan kemeja lalu beranjak pulang.


Sesampainya di rumah, Janus mendapati Astrid tengah duduk di ruang tamu dengan kepala yang tertunduk. Janus lalu berjongkok di depan Astrid sembari memegang tangannya.


"Astrid, maaf aku tak pulang dan menginap di apartemen. Aku harap kamu tidak salah paham, saat itu aku mabuk dan Luna membawaku pergi ke apartemennya."


"Iya aku tahu. Lebih baik kamu sarapan terlebih dahulu, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu." Astrid lalu beranjak pergi ke meja makan, dengan langkah yang di ikuti Janus.

__ADS_1


Janus heran, mengapa Astrid tak marah setelah ia bertatap muka dengannya. Ia malah menyuruhnya makan tanpa memarahi Janus seperti biasa.


Astrid mengambilkan nasi dan lauk ke piring Janus, setelah itu ia beranjak.


"Mau kemana, Kenapa tidak ikut sarapan?" Tanya Janus heran.


"Aku pergi ke kamar sebentar, nanti aku akan kembali lagi," ucap Astrid dengan raut wajah yang masam.


Tak berselang lama, Astrid kembali ke meja makan sembari menggerek koper. Ia duduk di meja makan, dengan koper yang ia letakan di sampingnya. Janus pun semakin terheran-heran dengan Astrid yang membawa koper ke meja makan.


"Kenapa kamu membawa kopermu, kamu mau pergi kemana?"


"Mulai hari ini aku akan kembali tinggal di rumah orang tuaku."


Seketika Janus meletakan sendoknya di atas piring. "Mana bisa begitu, kamu ini istriku. Tak seharusnya kamu tinggal bersama mereka. Aku tidak setuju bila kamu tinggal di sana."


"Kenapa tidak setuju aku tinggal di sana. Kamu saja tidak bisa menjaga perasaanku."


"Astrid, kamu hanya salah paham. Kemarin itu aku mabuk, dan Luna membawaku pulang ke apartemen karena teman-teman tidak ada yang bisa mengantarku pulang."


"Setelah pulang dari sana, aku sampai tak bisa berpikiran jernih, dan bahkan semalaman aku tak bisa tidur."


"Aku di sana tidak melakukan apapun, dan hanya tidur saja," terang Janus dengan panik.


"Tidak melakukan apapun, tapi aku mendapati kak Luna mengenakan pakaian tipis yang terbuka dan mendapati kamu bertelanjang dada. Karena kamu mabuk, mungkin saja kamu lupa."


Janus lalu meraih tangan Astrid. "Aku yakin tak melakukan apapun, aku bertelanjang dada karena semalam aku muntah."


Lalu tiba-tiba papanya Astrid datang dengan raut wajah yang seakan-akan menunjukan kemarahannya.


Johan meraih koper milik putrinya, lalu menarik lengan putrinya tersebut.


"Ayo Astrid kita pulang sekarang."


Janus pun terburu-buru menghentikan langkah istri dan mertuanya.


"Tunggu pah, jangan membawa Astrid pergi. Astrid hanya salah paham terhadapku."


"Saya lebih mempercayai anak saya di bandingkan kamu. Mana ada seorang pria beristri pergi mabuk-mabukan dan tidur di tempat lain dengan seorang wanita. Apa kamu masih bisa di sebut seorang suami?"


"Maaf pah, semalam aku mabuk dan dia membawaku ke apartemennya. Karena saat itu klub malam dengan rumah jauh. Ku mohon percayalah, kami di sana tidak melakukan apapun," terang Janus dengan raut wajahnya yang gelisah.

__ADS_1


Johan menghiraukannya, ia kembali melangkahkan kakinya, sembari menggerek koper dan menarik lengan Astrid. Biarpun Janus terus memohon untuk tak membawa Astrid pergi. Johan tetap membawa pergi putrinya kembali pulang ke rumahnya.


__ADS_2